Mereka Membawaku ke Pondok dengan Terlalu Tenang
Aku baru tahu seseorang bisa merasa dibuang tanpa ada yang benar-benar.
Series Tarbiya
Najwa datang ke pesantren putri dengan hati yang belum selesai. Ia merasa pondok adalah tempat pembuangan, tempat orang tuanya menjauhkan dirinya karena ia terlalu sulit diatur. Di hari-hari awalnya, Najwa harus menghadapi kamar bersama, jadwal yang padat, hafalan yang tersangkut, teman-teman baru, dan rasa rindu rumah yang sering datang bersama marah. Musim pertama ini mengikuti perjalanan kecil Najwa: dari merasa dibuang, menuju keberanian untuk jujur sedikit, bertahan satu hari lagi, dan mulai melihat bahwa pondok bukan tempat ia disingkirkan.
Daftar episode
Mulai dari episode pertama agar perjalanan tokoh dan konflik keluarganya terasa utuh.
Aku baru tahu seseorang bisa merasa dibuang tanpa ada yang benar-benar.
Sebelum semua orang bilang aku makin sulit diatur, rumah itu lebih dulu berhenti benar-benar.
Lampu meja masih menyala. Buku matematika terbuka di samping bantal, persis di halaman yang sejak sore tidak benar-benar kubaca. AC berdengung pelan. Dari.
HP-ku dipegang Ayah. Laptop hanya boleh kupakai di ruang tengah. Pulang sekolah harus langsung pulang. Tidak boleh mampir. Tidak boleh ikut teman-teman.
Malam itu, aku mendengar namaku disebut dari ruang tamu sebelum Bunda sempat.
Mereka bilang belum ada keputusan, tapi Bunda sudah menyimpan nomor pondok itu di.
Aku tahu keputusan itu sudah dibuat dari cara Bunda tidak menatapku saat memanggilku ke ruang.
Aku baru benar-benar merasa ditinggalkan ketika mobil Ayah sudah tidak terlihat.
Aku baru tidur sebentar ketika suara bel membuat seluruh kamar bergerak sebelum aku sempat mengerti apa yang.
Aku pikir setelah berhasil melewati pagi pertama, hari itu akan sedikit lebih.
Hari pertamaku belum selesai, tapi rasanya tubuhku sudah dipakai untuk beberapa hari sekaligus. Setelah beberapa kegiatan yang namanya masih bercampur di.
Malam sebelumnya, ketika Risa bertanya dari ranjang atas apakah aku belum tidur, aku tidak benar-benar menjawab. Aku hanya bergumam pelan, cukup untuk.
Menulis “Aku marah” ternyata lebih mudah daripada menulis “Ayah dan Bunda yang Najwa.
Kak Salma berdiri di depan ruang serbaguna sambil membawa map cokelat. Satu per satu anak menyerahkan amplop putih mereka. Ada yang langsung berlari.
Di rumah, Bunda sering membelikan sesuatu ketika tidak tahu harus mengatakan.
Sore itu, aku sedang merapikan mukena setelah Ashar ketika Kak Salma muncul di pintu kamar. Tangannya memegang buku kecil yang biasa dipakai untuk.
Malam itu, aku duduk di halaqah dengan satu pertanyaan yang belum sempat kutanyakan kepada.
Pagi itu, setelah sarapan dan kegiatan kebersihan selesai, Kak Salma berdiri di depan kamar sambil memegang daftar jadwal. Beberapa anak masih merapikan.
Tapi pagi itu, saat aku membuka lemari untuk mengambil kerudung putih, satu gulungan kerudung jatuh tepat ke.
Setelah Subuh, kamar bergerak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa anak baru selesai melipat mukena. Ada yang masih mengantuk sambil merapikan sajadah..
Hanya cukup agar aku tidak langsung terlihat oleh anak-anak yang lewat di.
Tapi sebelum aku sempat menunduk terlalu lama, Kak Salma berkata pelan, “Nggak aneh,.
Setiap kali ada langkah mendekat ke kantor, aku merasa seperti ikut berhenti. Setiap kali ada suara anak-anak di lorong, aku menoleh sedikit. Dan setiap.
Kak Salma mempersilakanku masuk dengan gerakan tangan yang pelan. Aku melangkah melewati ambang pintu kantor. Lantai di dalam terasa lebih dingin daripada.
Gagang telepon masih kutempelkan ke telinga. Tanganku memegangnya dengan dua tangan, seperti benda itu bisa lepas sewaktu-waktu kalau aku tidak.