Logo Tarbiya Nabawiya Tarbiya Nabawiya Menumbuhkan Generasi dengan Iman dan Adab

Series Tarbiya

Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)

Najwa datang ke pesantren putri dengan hati yang belum selesai. Ia merasa pondok adalah tempat pembuangan, tempat orang tuanya menjauhkan dirinya karena ia terlalu sulit diatur. Di hari-hari awalnya, Najwa harus menghadapi kamar bersama, jadwal yang padat, hafalan yang tersangkut, teman-teman baru, dan rasa rindu rumah yang sering datang bersama marah. Musim pertama ini mengikuti perjalanan kecil Najwa: dari merasa dibuang, menuju keberanian untuk jujur sedikit, bertahan satu hari lagi, dan mulai melihat bahwa pondok bukan tempat ia disingkirkan.

25 episode tersedia Mulai dari episode 1 Terbaru: episode 25

Daftar episode

Baca sesuai urutan cerita

Mulai dari episode pertama agar perjalanan tokoh dan konflik keluarganya terasa utuh.

Episode 3 Series Keluarga Muslim

Malam Itu Tidak Lagi Biasa

Lampu meja masih menyala. Buku matematika terbuka di samping bantal, persis di halaman yang sejak sore tidak benar-benar kubaca. AC berdengung pelan. Dari.

Episode 4 Series Keluarga Muslim

Aku Dijaga, tapi Tidak Dipahami

HP-ku dipegang Ayah. Laptop hanya boleh kupakai di ruang tengah. Pulang sekolah harus langsung pulang. Tidak boleh mampir. Tidak boleh ikut teman-teman.

Episode 11 Series Keluarga Muslim

Bukan Hanya Aku

Hari pertamaku belum selesai, tapi rasanya tubuhku sudah dipakai untuk beberapa hari sekaligus. Setelah beberapa kegiatan yang namanya masih bercampur di.

Episode 23 Series Keluarga Muslim

Kertas Baru setelah Ashar

Setiap kali ada langkah mendekat ke kantor, aku merasa seperti ikut berhenti. Setiap kali ada suara anak-anak di lorong, aku menoleh sedikit. Dan setiap.

Episode 24 Series Keluarga Muslim

Sebelum Bunda Bicara

Kak Salma mempersilakanku masuk dengan gerakan tangan yang pelan. Aku melangkah melewati ambang pintu kantor. Lantai di dalam terasa lebih dingin daripada.

Episode 25 Series Keluarga Muslim

Sedikit Saja Dulu

Gagang telepon masih kutempelkan ke telinga. Tanganku memegangnya dengan dua tangan, seperti benda itu bisa lepas sewaktu-waktu kalau aku tidak.