Mereka Membawaku ke Pondok dengan Terlalu Tenang
Aku baru tahu seseorang bisa merasa dibuang tanpa ada yang benar-benar.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku baru tahu seseorang bisa merasa dibuang tanpa ada yang benar-benar mengusirnya.
Pagi itu, aku duduk di kursi belakang mobil Ayah dengan satu koper besar menempel di sisi paha dan dua kantong plastik perlengkapan pondok di lantai. Setiap kali mobil melewati jalan yang tidak rata, gagang ember mandi di dalam plastik beradu pelan dengan botol sabun dan kotak sandal baru.
Bunyinya kecil. Tapi sejak keluar dari rumah, suara itu seperti tidak berhenti mengingatkanku bahwa aku benar-benar sedang dibawa pergi.
Bunda duduk di kursi depan sambil membuka catatan di ponselnya. Sesekali ia menoleh ke tas-tas di belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Seprai sudah masuk, kan?” tanyanya.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Sudah.”
“Mukena?”
“Sudah.”
“Buku tulis?”
Aku mengangguk, lalu sadar Bunda sedang melihat layar ponselnya. “Sudah.”
Ayah menyetir dengan kedua tangan di kemudi. Sejak tadi matanya lurus ke jalan. Radio tidak dinyalakan. Biasanya Ayah suka memutar berita pagi atau lagu lama dari flashdisk. Hari itu, mobil kami hanya berisi suara mesin, plastik yang bergesek, dan daftar barang yang Bunda baca seperti sedang menyelesaikan urusan pindahan.
Aku menunggu ada yang bertanya, “Kamu takut?”
Atau, “Nanti kalau belum betah, bilang ke Bunda.”
Tidak ada.
Yang ada hanya kalimat-kalimat pendek.
“Nanti dengarkan arahan pengurus.”
“Jangan susah diatur lagi.”
“Kalau ada aturan soal ponsel, ikuti.”
Aku menatap keluar jendela. Toko roti di tikungan besar baru saja membuka rolling door. Di trotoar, seorang ibu menggandeng anak berseragam TK yang masih mengunyah pisang. Mereka berjalan pelan. Anak itu hampir tersandung tali sepatunya sendiri, lalu ibunya tertawa kecil sambil membetulkan langkahnya.
Aku melihat mereka sampai mobil kami menjauh.
Entah kenapa, dadaku terasa makin penuh.
Aku tidak terlalu takut pada kamar baru atau aturan pondok. Aku hanya tidak siap melihat Ayah dan Bunda membawaku ke sana setenang ini, seperti sedang membereskan masalah yang sudah terlalu lama mengganggu.
Aku tahu kenapa semua ini terjadi.
Aku tidak akan berpura-pura tidak tahu.
Beberapa bulan terakhir, aku lebih sering pulang ketika meja makan sudah kosong dan lampu ruang tengah tinggal satu yang menyala. Awalnya Bunda masih menunggu di sofa dengan wajah cemas. Lama-lama ia menunggu sambil membuka ponsel. Lalu pada malam-malam berikutnya, ia hanya mengirim pesan singkat.
"Kamu di mana?"
"Jam berapa pulang?"
"Jangan lewat dari jam sepuluh."
Kadang kubalas. Kadang tidak.
Aku juga mulai pandai berbohong dengan kalimat yang sama.
“Kerja kelompok.”
“Teman ulang tahun.”
“Lagi di rumah Nisa.”
Padahal pernah juga aku duduk berlama-lama di kafe dekat jalan utama bersama teman-teman yang Bunda tidak kenal. Pernah ikut jalan ke tempat yang sejak awal tidak kuceritakan pada siapa pun di rumah. Pernah menunggu pesan dari seorang laki-laki sampai lewat tengah malam, lalu buru-buru menghapus percakapan ketika mendengar langkah Bunda di depan kamar.
Aku tahu itu salah.
Aku tahu betul.
Tapi waktu itu, rasanya lebih mudah pulang larut daripada pulang cepat lalu duduk di rumah yang setiap obrolannya terasa seperti penilaian.
Nilai ulangan turun, Bunda kecewa.
Aku menolak ikut acara keluarga, Ayah bilang aku tidak tahu terima kasih.
Aku minta waktu sendiri, Bunda menghela napas dan berkata, “Bunda ini kurang apa lagi sama kamu?”
Kalimat itu sering sekali keluar.
Kurang apa.
Aku punya kamar sendiri. Baju yang layak. Uang jajan tidak pernah kurang. Ketika laptopku mulai lambat, Ayah menggantinya tanpa banyak bicara. Saat aku merengek ingin sepatu yang sedang ramai dipakai teman-teman, Bunda membelikannya dua minggu kemudian, lalu berkata, “Jangan bilang Bunda tidak perhatian.”
Aku tidak pernah bilang begitu.
Tapi setiap kali mereka menyebut semua yang sudah diberikan, aku selalu merasa sedang ditagih sesuatu.
Nilai bagus. Sikap manis. Pulang tepat waktu. Tidak memalukan saat diajak bertemu kolega Ayah.
Mungkin itu yang mereka tunggu dariku.
Dan beberapa bulan terakhir, aku justru semakin jauh dari semuanya.
Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Ayah menghela napas, lalu melirik jam di dashboard.
“Kita masih sempat sebelum registrasi ramai,” katanya.
Bunda mengangguk. “Nanti setelah barang beres, kita langsung pulang. Sore Ayah ada janji, kan?”
“Ada.”
Aku memalingkan wajah ke jendela lagi.
Sore Ayah ada janji.
Hari ini bagiku terasa besar. Sejak bangun tadi perutku mual. Tapi rupanya keberangkatanku masih bisa disusun rapi di antara agenda lain.
Aku ingin bilang, tidak bisakah satu hari ini saja mereka tidak terburu-buru?
Tapi aku diam.
Aku sudah terlalu sering dianggap menjawab dengan nada tinggi. Hari itu, bahkan untuk marah pun aku merasa lelah.
Seminggu sebelumnya, keputusan itu dibicarakan di ruang keluarga.
Bukan di hadapanku pada awalnya.
Aku baru tahu setelah mendengar namaku disebut dari balik pintu kamar. Waktu itu aku sedang pura-pura belajar, meski layar ponselku menyala di balik buku.
“Kalau terus begini, Bunda tidak sanggup,” suara Bunda terdengar kecil, tapi tegang. “Setiap hari bikin cemas. Sudah dinasihati, tetap saja begitu.”
Ayah tidak langsung menjawab.
Lalu terdengar suara Bibi Rania, kakak Bunda, yang datang sore itu.
“Coba pondok yang kemarin Bibi ceritakan. Bukan karena Najwa anak rusak. Tapi dia perlu dijauhkan dulu dari lingkungan yang sekarang. Perlu tempat yang lebih menjaga.”
Aku berdiri di balik pintu kamar, menahan napas.
Pondok?
Untukku?
Bunda lama tidak menjawab. Lalu ia berkata pelan, “Kalau memang itu jalan terbaik…”
Ayah menyambung, “Yang penting dia berhenti bikin masalah. Di rumah, apa-apa sudah selalu jadi ribut.”
Aku tidak mendengar kelanjutan kalimat mereka. Dadaku keburu panas.
Bukan karena pondoknya saja.
Tapi karena tidak satu pun dari mereka masuk ke kamarku setelah itu untuk bertanya apa yang kurasakan. Keputusan itu seperti berjalan sendiri. Bunda mulai mencari daftar kebutuhan. Ayah mengurus biaya. Bibi Rania menghubungi seseorang.
Aku hanya diminta ikut mengukur gamis seragam dan menyiapkan berkas.
Selebihnya, semuanya sudah diputuskan.
“Najwa.”
Suara Bunda membuatku kembali ke dalam mobil.
“Hm?”
“Nanti sampai sana, jangan pasang wajah seperti itu. Orang akan mengira kamu dipaksa.”
Aku hampir tertawa, tapi yang keluar hanya embusan napas pendek.
“Aku memang dipaksa,” jawabku pelan.
Bunda menoleh cepat. “Jangan mulai.”
Ayah tidak ikut menoleh, tapi rahangnya mengeras. Aku melihatnya dari kaca spion.
“Bunda dan Ayah melakukan ini karena kamu sudah terlalu jauh,” katanya. Suaranya datar, tidak tinggi. “Kamu tahu itu.”
Aku menatap punggung kursinya.
Aku tahu aku salah.
Aku tahu beberapa hal sudah melewati batas. Aku tahu Bunda pernah menangis setelah melihat isi ponselku. Aku tahu Ayah pernah duduk lama di teras malam-malam karena tidak bisa langsung bicara setelah aku pulang hampir tengah malam.
Aku tahu.
Tapi tak satu pun dari mereka pernah benar-benar bertanya kenapa aku lebih betah di luar. Kenapa aku bisa menunggu pesan orang lain sampai larut, tapi tidak pernah ingin duduk lama di meja makan. Kenapa rumah yang lengkap itu sering membuatku ingin cepat-cepat masuk kamar.
Aku sendiri belum bisa menjelaskan semuanya dengan baik. Yang kutahu, setiap kali mencoba bicara, ujungnya selalu kembali pada salahku.
Akhirnya aku cuma berkata, “Iya.”
Satu kata. Cukup untuk membuat mobil kembali sunyi.
Jalan mulai mengecil ketika kami memasuki daerah pondok. Di kanan kiri, bangunan toko berganti rumah-rumah sederhana, kebun kecil, dan warung dengan kursi plastik di depan. Dari kejauhan, aku melihat papan nama besar berdiri di dekat gerbang berwarna hijau tua.
Mobil melambat.
Jantungku ikut terasa berat.
Di halaman depan pondok, beberapa mobil sudah parkir. Ada ayah-ayah menurunkan koper dari bagasi. Ada ibu yang membetulkan jilbab anaknya berkali-kali, padahal sudah rapi. Ada seorang gadis lebih muda dariku memeluk ibunya sambil menangis tanpa suara.
Aku cepat-cepat memalingkan wajah.
Ayah mematikan mesin.
“Kita sudah sampai,” katanya.
Seolah aku tidak melihatnya sendiri.
Bunda turun lebih dulu. Ia membuka pintu belakang, lalu mengangkat salah satu kantong plastik. “Bantu bawa yang ringan dulu.”
Aku turun perlahan.
Udara di luar lebih hangat daripada di dalam mobil. Dari dalam area pondok terdengar suara beberapa santri mengulang hafalan. Tidak terlalu keras. Hanya samar, seperti aliran suara yang terbawa angin.
Aku berdiri sebentar di samping koper.
Begini rupanya tempat yang akan menyimpan hari-hariku setelah ini.
Ayah memanggil petugas untuk membantu barang. Bunda membenahi ujung kerudungku yang sedikit terlipat karena terlalu lama duduk. Gerakannya cepat, terbiasa, seperti saat dulu ia merapikan kerah seragamku sebelum berangkat sekolah.
Untuk sesaat, aku hampir ingin menangis.
Tapi Bunda sudah menarik tangannya lagi.
“Nanti jaga barang baik-baik,” katanya. “Kalau ada apa-apa, bilang ke pengurus. Jangan diam saja sampai nanti jadi masalah.”
Aku mengangguk.
Di kantor penerimaan, semuanya berjalan cepat. Namaku dicek. Berkas diserahkan. Aturan awal dijelaskan. Jadwal kunjungan disebutkan. Aku duduk di kursi plastik biru sambil menatap meja yang penuh map.
Ayah beberapa kali bertanya soal administrasi. Bunda mencatat nomor penting di ponselnya.
Tidak ada yang benar-benar bicara padaku kecuali saat petugas meminta aku menandatangani formulir.
Setelah semuanya selesai, seorang kakak pengurus tersenyum padaku. Namanya Kak Salma, kalau aku tidak salah dengar.
“Barang Najwa nanti kakak bantu antar ke kamar, ya,” katanya ramah.
Aku mengangguk.
Lalu tibalah bagian yang sejak tadi kutunda-tunda di dalam kepala.
Perpisahan.
Bunda berdiri di depanku. Wajahnya tidak setegang di mobil. Mungkin karena urusan pendaftaran sudah selesai. Mungkin karena ia baru sadar setelah ini aku benar-benar tidak ikut pulang.
Ia memelukku.
Pelukannya hangat. Aku mengenal bau parfumnya. Aroma yang sering menempel di rumah setiap Bunda baru selesai bersiap pergi.
“Baik-baik di sini,” bisiknya.
Aku tidak langsung menjawab.
Ada banyak kalimat naik ke tenggorokanku. Jangan tinggalin aku. Bunda sebenarnya masih mau aku di rumah, kan? Bunda sedih, kan? Jangan cuma bilang baik-baik seperti aku sedang berangkat lomba tiga hari.
Tidak ada yang keluar.
“Iya,” jawabku akhirnya.
Ayah menepuk bahuku. Tidak memeluk, hanya menepuk sekali. “Jaga diri. Dengarkan ustazah.”
Aku menatapnya sebentar, lalu menunduk. “Iya, Yah.”
Bunda mengusap lenganku. “Nanti kalau sudah mulai kegiatan, jangan terus murung.”
Aku hampir menjawab, Bunda bahkan sudah membayangkan aku murung sebelum benar-benar pergi.
Tapi aku menahan diri.
Mereka lalu berpamitan pada pengurus. Ayah berjalan lebih dulu menuju mobil. Bunda masih menoleh sekali, lalu sekali lagi. Aku berdiri di dekat tangga kantor dengan kedua tangan menggenggam ujung tas selempang.
Saat mobil mulai mundur, Bunda mengangkat tangan dari balik kaca.
Aku membalas, tapi gerakanku terlambat. Mobil sudah berbelok perlahan menuju gerbang.
Aku terus melihat sampai warnanya hilang di antara kendaraan yang lewat di depan jalan.
Kak Salma berdiri di sampingku sambil memegang gagang koper.
“Pertama kali mondok memang berat,” katanya lembut. “Nanti pelan-pelan terbiasa.”
Aku mengangguk.
Tapi yang kutakuti saat itu bukan tidak terbiasa tinggal di pondok.
Aku takut terbiasa tidak dirindukan.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.