Sedikit Saja Dulu
Gagang telepon masih kutempelkan ke telinga. Tanganku memegangnya dengan dua tangan, seperti benda itu bisa lepas sewaktu-waktu kalau aku tidak.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Bunda memanggil namaku dua kali.
Pada panggilan yang kedua, aku tetap belum menjawab.
Lalu Bunda bertanya lebih pelan, “Suara Bunda kedengaran?”
Yang keluar dari mulutku bukan kalimat yang kusiapkan sejak sore.
Hanya jawaban pendek yang nyaris tersangkut.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Kedengaran, Bun.”
Setelah mengucapkannya, aku baru sadar napasku tertahan cukup lama.
Gagang telepon masih kutempelkan ke telinga. Tanganku memegangnya dengan dua tangan, seperti benda itu bisa lepas sewaktu-waktu kalau aku tidak berhati-hati.
Di seberang sana, Bunda tidak langsung bicara lagi.
Jeda itu pendek.
Tapi bagiku, rasanya cukup lama untuk membuat ujung jariku terasa dingin.
Bunda menghela napas kecil.
Aku menelan ludah.
Suara Bunda terdengar lebih dekat daripada telepon sebelumnya. Tidak terlalu keras. Tidak terlalu pelan. Hanya dekat. Dan justru karena dekat, aku tidak tahu harus meletakkan hatiku di mana.
Kak Salma masih duduk di sisi meja. Ia tidak menatapku terus. Tangannya memegang bolpoin, sesekali menulis sesuatu di buku daftar. Kipas kecil di pojok meja terus berputar, membuat ujung kertas di dekat telepon bergerak sedikit.
Bunda bertanya, “Najwa sehat?”
“Sehat.”
“Makan?”
“Makan.”
“Makannya cukup?”
Aku melihat ujung meja. Ada bekas tinta kecil dekat bolpoin bertali.
“Cukup.”
Aku hampir menambahkan, “Nggak apa-apa.”
Tapi kalimat itu berhenti sebelum keluar.
Bunda diam sebentar.
“Tidurnya gimana?”
Pertanyaan itu membuatku tidak langsung menjawab.
Kalau aku menjawab “nyenyak”, itu tidak benar.
Kalau aku menjawab “susah”, nanti Bunda mungkin khawatir.
Kalau aku diam terlalu lama, Bunda mungkin juga khawatir.
Aku memindahkan posisi duduk sedikit. Kursi plastik di bawahku berbunyi pelan.
“Beberapa malam agak susah,” kataku akhirnya.
Di ujung telepon, Bunda tidak langsung menyahut.
Aku menunggu.
Jantungku berdetak terlalu jelas.
“Kalau susah tidur, bilang Kak Salma, ya,” kata Bunda.
Aku melihat Kak Salma dari sudut mata. Ia masih menulis, seolah tidak mendengar. Padahal tentu saja ia mungkin mendengar sebagian.
“Iya, Bun.”
“Jangan disimpan sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kalimat itu sederhana. Tapi dari Bunda, malam itu, terdengar berbeda. Bukan karena ia tiba-tiba tahu semuanya. Mungkin justru karena ia belum tahu banyak, tapi mulai bertanya dengan lebih pelan.
“Iya,” kataku.
Bunda menarik napas kecil.
“Di sana berat, ya?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu tidak panjang. Tidak memakai suara marah. Tidak seperti sedang memeriksa. Tapi justru karena itu, dadaku terasa penuh lagi.
Di sana berat, ya?
Aku bisa menjawab tidak.
Aku bisa menjawab biasa saja.
Aku bisa menjawab “nggak apa-apa” seperti dulu.
Kalimat itu sudah sangat hafal tempatnya di mulutku.
Tapi wajah Hana muncul sebentar di kepalaku.
Kalau memang nggak apa-apa.
Lalu suara Risa.
Kalau belum bisa bilang semuanya, bilang sedikit juga nggak apa-apa.
Aku menunduk. Kabel telepon melengkung di belakang meja. Kakiku menapak lantai, tapi lututku terasa kaku.
“Nggak semuanya, Bun,” kataku pelan.
Setelah kalimat itu keluar, aku langsung takut.
Takut Bunda bertanya bagian mana.
Takut Bunda menjelaskan panjang.
Takut Bunda bilang aku harus kuat.
Takut Bunda bilang semua ini untuk kebaikanku.
Aku menunggu.
Bunda diam.
Di seberang sana ada suara kecil, mungkin piring, mungkin gelas.
Lalu tidak ada lagi.
“Iya, Nak,” kata Bunda akhirnya.
Suaranya pelan.
Jeda sebentar.
“Bunda dengar.”
Aku menggenggam gagang telepon lebih erat.
Mataku panas. Aku menunduk lebih dalam, takut suaraku berubah kalau aku langsung bicara.
Selama ini, aku terlalu sering menutup semuanya sebelum sempat didengar.
Malam itu aku tidak bisa bersembunyi di kamar.
Aku sedang duduk di kantor asrama dengan gagang telepon di tangan.
Dan Bunda sedang menunggu di ujung sana.
“Bun,” kataku.
“Iya?”
Suaraku mengecil.
“Najwa kangen Bunda.”
Kalimat itu pendek.
Tapi setelah keluar, rasanya seperti aku baru meletakkan sesuatu yang terlalu lama kubawa sendirian.
Aku tidak berkata bahwa aku masih kesal.
Aku tidak berkata bahwa aku belum betah.
Aku juga tidak berkata bahwa kadang aku masih ingin pulang.
Semua itu masih ada.
Tapi malam itu, yang bisa keluar hanya satu.
Najwa kangen Bunda.
Di ujung telepon, Bunda menarik napas.
“Bunda juga kangen.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Bukan lama.
Hanya sebentar saja.
Kalau aku memejamkan mata terlalu lama, mungkin air mataku benar-benar jatuh. Aku tidak ingin Kak Salma melihat. Aku tidak ingin setelah kembali ke kamar, Risa langsung tahu hanya dari wajahku.
Bunda berkata lagi, “Waktu telepon sebelumnya, Bunda banyak tanya, ya?”
Aku membuka mata.
“Iya.”
Bunda diam sebentar.
“Maaf ya, Nak. Waktu itu Bunda juga bingung harus ngomong apa.”
Aku tidak menyangka Bunda akan mengatakan itu.
Bukan karena kalimatnya besar.
Justru karena kalimatnya tidak besar.
Bunda tidak berkata semua sudah benar.
Bunda tidak berkata aku harus langsung paham.
Bunda hanya mengakui bahwa ia juga bingung.
Aku menatap meja.
Di dekat telepon, ada bayangan kecil dari lampu kantor. Bayangan itu bergerak sedikit setiap kali kipas menggeser kertas di dekatnya.
“Aku juga bingung,” kataku.
Suara itu keluar sebelum sempat kutahan.
Bunda tidak langsung menjawab.
Aku hampir menyesal.
Lalu Bunda berkata, “Iya, Nak.”
Hanya itu.
Tapi kali ini, aku tidak merasa kalimat itu kosong.
Dari sisi meja, Kak Salma mengangkat satu jari pelan. Waktuku hampir habis.
Aku mengangguk kecil, meski Bunda tidak bisa melihat. Kak Salma menurunkan tangannya lagi.
Bunda seperti tahu ada jeda di ruanganku.
“Waktunya sudah hampir habis?”
“Iya,” jawabku.
“Besok makan yang cukup, ya.”
Aku hampir tersenyum.
Bunda tetap Bunda.
Setelah semua kalimat yang membuat dadaku berat, ia tetap kembali ke makan.
Tapi kali ini aku tidak kesal.
“Iya, Bun.”
“Kalau ada yang berat, bilang Kak Salma.”
“Iya.”
“Kalau berat, pelan-pelan cerita.”
Aku menunduk.
“Iya, Bun.”
Aku tahu aku belum tentu bisa langsung melakukannya.
Besok mungkin aku tetap menahan banyak hal.
Besok mungkin aku tetap menjawab pendek.
Besok mungkin aku tetap kesal kalau ada yang bertanya terlalu dalam.
Tapi malam itu, aku tidak membantah.
“Bun,” kataku lagi.
“Iya?”
Aku melihat gagang telepon di tanganku. Warnanya hitam, sedikit mengilap di bagian yang sering dipegang orang.
“Kalau jadwal telepon lagi, Bunda angkat, ya?”
Di ujung sana, Bunda diam.
Diamnya tidak lama, tapi cukup membuatku takut aku sudah meminta terlalu banyak.
Lalu Bunda menjawab, “InsyaAllah, Bunda angkat.”
Aku menahan napas sebentar.
“Iya.”
“Najwa.”
“Iya, Bun?”
“Bunda doakan Najwa.”
Aku mengangguk lagi.
Kali ini, aku tahu Bunda tidak bisa melihat. Tapi kepalaku tetap bergerak.
“Iya.”
Kak Salma memberi isyarat pelan dari meja. Kali ini waktunya benar-benar selesai.
Aku menarik napas.
“Assalamu’alaikum, Bun.”
“Wa’alaikumussalam, Nak.”
Aku menunggu sebentar sebelum meletakkan gagang telepon.
Entah kenapa, aku tidak ingin menutup terlalu cepat.
Seperti kalau gagang itu kutaruh, suara Bunda akan langsung menjadi jauh lagi.
Tapi akhirnya aku meletakkannya pelan-pelan ke tempatnya.
Klik kecil terdengar.
Ruangan kantor kembali menjadi ruangan kantor.
Kipas kecil.
Buku daftar.
Bolpoin bertali.
Kertas yang bergerak sedikit.
Kak Salma menutup bukunya pelan.
“Sudah?”
Aku mengangguk.
“Sudah, Kak.”
“Mau duduk sebentar?”
Aku melihat kursi yang kududuki. Lalu melihat pintu kantor yang terbuka ke arah lorong.
Beberapa anak lewat di luar. Suara mereka kecil, tertahan, seperti malam sudah meminta semua orang bicara lebih pelan.
Aku menggeleng.
“Aku ke kamar, Kak.”
Kak Salma mengangguk.
“Iya. Pelan-pelan.”
Aku berdiri.
Kakiku masih terasa agak kaku, tapi tidak seperti tadi saat masuk. Tanganku masih dingin. Mataku panas, tapi belum ada air mata yang jatuh.
Aku keluar dari kantor.
Lorong asrama terasa lebih panjang daripada biasanya. Lampu-lampu menyala redup. Di dekat rak sandal, beberapa pasang sandal sudah tidak rapi lagi. Mungkin besok pagi ada yang akan merapikannya. Mungkin bukan aku. Mungkin iya.
Saat melewati papan kecil, kertas daftar telepon masih tertempel di sana.
Najwa A.
Namaku masih ada.
Tapi giliran itu sudah lewat.
Aku berhenti sebentar.
Bukan lama.
Hanya cukup untuk melihat bahwa kertas itu masih sama, padahal langkahku tidak seberat saat aku masuk kantor tadi.
Lalu aku berjalan ke kamar.
Risa dan Hana masih terjaga.
Risa duduk di lantai dengan botol minumnya. Hana duduk di ranjang sambil memegang buku catatan. Buku hafalanku masih terbuka di atas kasur, persis seperti saat kutinggalkan.
Begitu aku masuk, Risa langsung menoleh.
“Tersambung?”
Aku mengangguk.
“Tersambung.”
Risa melihat wajahku. Matanya bergerak cepat, seperti sedang memeriksa apakah aku menangis, marah, atau baik-baik saja.
“Kamu nangis?”
Aku diam sebentar.
“Hampir.”
Risa mengangguk.
Tidak ada candaan.
Itu membuatku lega.
Hana melihat ke arah kasurku.
“Buku hafalanmu masih kebuka.”
Aku menoleh.
Benar.
Halaman itu masih terbuka. Baris yang tadi kubaca masih di sana. Tidak ada yang berubah dari kertasnya. Tidak ada yang menunggu aku selesai menangis atau selesai bingung. Buku itu tetap buku. Jadwal besok tetap jadwal.
Aku duduk di ranjang.
“Belum dibaca lagi?” tanya Hana.
“Belum.”
Hana mengangguk.
“Besok.”
Risa menoleh kepadanya. “Kamu bisa membuat satu kata terasa seperti jadwal resmi.”
Hana menjawab datar, “Karena memang besok masih ada jadwal.”
Risa membuka mulut, mungkin ingin membalas. Tapi ia melihatku, lalu menutup mulutnya lagi.
Aku hampir tersenyum.
Kali ini sedikit lebih mudah.
Aku mengambil buku hafalan di atas kasur. Tanganku menyentuh halaman yang terbuka. Kertasnya terasa halus di bawah jari.
Aku belum membaca.
Aku hanya menatapnya.
Besok pagi, mungkin lidahku masih tersangkut.
Mungkin aku tetap malu.
Mungkin Risa akan bicara terlalu banyak.
Mungkin Hana akan berkata sesuatu yang benar tapi membuatku ingin mendengus.
Mungkin lemariku akan berantakan lagi kalau aku terburu-buru.
Mungkin aku masih kangen rumah.
Mungkin aku masih kesal pada Bunda.
Semua itu belum hilang.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menyelesaikan semuanya sebelum tidur.
Aku menutup buku hafalan pelan-pelan.
Di luar kamar, langkah santri mulai berkurang. Satu per satu suara mengecil. Ada yang menguap. Ada yang berbisik meminta pinjam sesuatu. Ada pintu lemari yang ditutup pelan, seperti semua orang akhirnya ingat bahwa ini sudah malam.
Risa naik ke ranjangnya.
Hana merapikan buku catatannya.
Aku meletakkan buku hafalan di dekat bantal, lalu menarik selimut tipis sampai ke pinggang.
Lampu kamar belum sepenuhnya dipadamkan.
Aku menatap langit-langit sebentar.
Aku belum betah di pondok.
Kalimat itu masih benar.
Aku belum ingin tinggal lama-lama.
Itu juga masih benar.
Tapi malam itu, saat suara kamar mulai pelan, aku tidak lagi memikirkan jalan pulang lebih dulu.
Aku memikirkan satu hal kecil.
Besok, aku akan coba bangun sebelum Risa membangunkanku.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.