Kertas Baru setelah Ashar
Setiap kali ada langkah mendekat ke kantor, aku merasa seperti ikut berhenti. Setiap kali ada suara anak-anak di lorong, aku menoleh sedikit. Dan setiap.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Setelah Ashar, aku tidak langsung pergi ke papan kecil itu.
Padahal sejak Dzuhur, pikiranku sudah berkali-kali berjalan ke sana lebih dulu.
Setiap kali ada langkah mendekat ke kantor, aku merasa seperti ikut berhenti. Setiap kali ada suara anak-anak di lorong, aku menoleh sedikit. Dan setiap kali aku ingat tulisan di kertas tadi siang, dadaku terasa sesak sebentar.
Giliran telepon santri putri akan ditempel setelah Ashar.
Sekarang sudah setelah Ashar.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Kertas itu seharusnya sudah ada.
Aku keluar dari mushala bersama Risa dan Hana. Anak-anak mulai bergerak ke arah asrama. Ada yang langsung menutup mukena sambil berjalan. Ada yang membawa botol minum. Ada yang saling bertanya apakah nama mereka sudah masuk daftar.
Risa berjalan di sebelahku, lalu menoleh.
“Wa, kamu mau lihat nggak?”
Aku menunduk ke buku setoran yang kupegang.
“Nanti saja.”
Risa berhenti setengah langkah. “Nanti?”
“Iya.”
Hana yang berjalan di sisi lain berkata pelan, “Nanti malah makin ramai.”
Aku membetulkan ujung jilbabku, padahal tidak ada yang salah. Lalu aku memindahkan buku setoran dari tangan kanan ke tangan kiri.
“Nanti,” kataku lagi.
Risa menatapku sebentar. Biasanya ia akan langsung memberi komentar. Mungkin tentang orang yang menunda melihat daftar padahal daftar itu tidak akan berubah. Atau mungkin tentang papan pengumuman yang tidak akan menggigit.
Tapi sore itu, ia hanya mengangguk.
“Aku lihat dulu, ya.”
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil.
Risa berjalan lebih dulu bersama Hana. Aku tetap berdiri di dekat rak sandal, pura-pura memperhatikan susunannya. Ada satu sandal yang miring. Aku menunduk dan merapikannya.
Satu pasang.
Lalu satu lagi.
Padahal bukan tugasku.
Padahal sandal itu juga tidak terlalu berantakan.
Tapi tanganku membutuhkan sesuatu untuk dilakukan.
Dari arah papan kecil, terdengar beberapa suara.
“Namaku ba’da Maghrib.”
“Aku nggak ada.”
“Coba lihat yang bawah.”
“Ada, itu.”
Suara-suara itu bercampur dengan langkah anak-anak yang lewat. Beberapa santri berhenti sebentar, lalu pergi. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang langsung memanggil temannya dari lorong.
Aku berdiri di dekat rak sandal, memegang buku setoran terlalu erat.
Aku tidak tahu apa yang lebih buruk.
Namaku tidak ada.
Atau namaku ada.
Risa kembali lebih pelan daripada biasanya.
Biasanya, Risa belum sampai pun suaranya sudah duluan. Sore itu, ia tidak langsung bicara.
“Wa.”
Aku mengangkat wajah. “Apa?”
Risa melihat Hana sebentar.
Hana berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang. Tapi ia tidak langsung bicara.
Dadaku terasa makin sempit.
“Apa?” tanyaku lagi.
Risa membuka mulut, lalu menutupnya.
Hana akhirnya berkata pelan, “Lihat sendiri aja.”
Aku menatap mereka bergantian.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang mengatakan namaku ada.
Tidak ada yang mengatakan namaku tidak ada.
Itu justru membuat kakiku terasa berat.
Aku berjalan ke arah papan kecil dekat kantor.
Pelan-pelan.
Di sana masih ada beberapa anak. Dua anak berdiri terlalu dekat ke papan, sampai anak lain di belakangnya harus memiringkan kepala. Kak Salma baru saja selesai menempel kertas dan sedang mengingatkan mereka agar tidak berkerumun terlalu lama.
“Baca bergantian,” kata Kak Salma. “Yang sudah lihat, kasih tempat untuk yang lain.”
Aku berhenti di belakang satu anak yang sedang membaca namanya. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu menoleh ke temannya.
“Aku ba’da Maghrib.”
Temannya menjawab, “Aku ba’da Isya.”
Mereka pergi sambil berbisik.
Tempat di depan papan terbuka.
Aku maju satu langkah.
Kertas itu sederhana. Hanya selembar, ditempel dengan selotip di bagian atas. Tulisan Kak Salma rapi, tidak terlalu besar, tapi cukup jelas.
Giliran telepon malam ini
Ba’da Maghrib
Aisyah R.
Farah N.
Laila H.
Ba’da Isya
Najwa A.
Rani M.
Salma N.
Aku membaca sampai bawah.
Lalu kembali ke tengah.
Ba’da Isya.
Najwa A.
Namaku ada di sana.
Aku membacanya sekali lagi.
Najwa A.
Huruf-huruf itu tidak bergerak. Tidak berubah. Tidak hilang ketika aku berkedip.
Tulisan itu membuatku teringat label kecil di gamis rumahku. Najwa A. Tulisan Bunda dengan spidol hitam, sedikit miring, supaya barangku tidak tertukar.
Tapi kali ini, nama itu bukan menandai barang.
Nama itu menandai giliran bicara.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di depan papan.
Mungkin hanya beberapa detik.
Mungkin terlalu lama sampai Kak Salma melihatku dari samping.
“Najwa,” katanya pelan, “sudah lihat?”
Aku mengangguk.
“Iya, Kak.”
“Ba’da Isya, ya.”
Aku mengangguk lagi.
Kak Salma tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya memberi ruang untuk anak lain membaca daftar.
Aku mundur dari papan.
Risa dan Hana masih menunggu beberapa langkah di belakang. Risa memegang botol minumnya. Hana membawa buku di depan dada.
Risa menatap wajahku.
“Wa, kamu nggak apa-apa?”
Kalimat itu datang cepat.
Biasanya jawabanku juga cepat.
Nggak apa-apa.
Mudah sekali.
Hampir saja keluar.
Aku sudah membuka mulut.
Tapi kalimat itu berhenti sebelum sampai ke suara.
Nggak apa-apa.
Setelah siang tadi, kalimat itu terasa seperti pintu yang terlalu sering kupakai untuk menutup sesuatu. Kalau kukatakan lagi, mungkin semua orang akan percaya. Risa mungkin akan mengangguk. Hana mungkin tidak bertanya lagi. Aku bisa berjalan ke kamar seperti biasa.
Tapi aku tidak yakin aku percaya.
“Aku...” Aku melihat lagi ke arah papan. “Aku nggak tahu.”
Risa diam.
Hana tidak terlihat kaget.
Entah kenapa, jawabanku sendiri membuatku sedikit malu. Seperti aku baru mengaku kalah pada pertanyaan yang sederhana.
Risa mengangguk pelan. “Ya udah.”
Aku menoleh kepadanya.
Ia mengangkat bahu kecil. “Nggak tahu juga jawaban.”
Hana menatap Risa sebentar, tapi kali ini tidak menegur.
Kak Salma menepuk tangan pelan di dekat papan.
“Anak-anak,” katanya, “giliran telepon sesuai daftar, ya. Yang belum giliran tetap ikut kegiatan. Jangan menunggu ramai-ramai di depan kantor.”
Beberapa anak yang masih berdiri di dekat papan mulai mundur.
Kak Salma melanjutkan, “Kalau belum tersambung, nanti dicoba sekali lagi. Kalau tetap belum tersambung, Kakak catat untuk jadwal ulang.”
Seorang anak bertanya, “Kak, kalau ayahnya nggak angkat tapi ibunya angkat boleh?”
“Boleh,” jawab Kak Salma. “Yang penting wali di rumah.”
Risa berbisik di sampingku, “Berarti nggak boleh jadi penonton?”
Hana menjawab tanpa menoleh, “Memang bukan pertunjukan.”
Risa langsung menutup mulutnya dengan buku.
Aku hampir tersenyum.
Tapi hanya hampir.
Setelah itu, sore terasa lebih panjang.
Aku kembali ke kamar bersama Risa dan Hana. Beberapa anak masih membicarakan daftar telepon. Ada yang senang karena namanya masuk. Ada yang kecewa karena harus menunggu hari lain. Ada yang terlihat biasa saja, seperti telepon dari rumah tidak membuatnya gugup sama sekali.
Aku membuka lemari untuk menyimpan buku setoran sebentar.
Kerudungku masih di tempatnya.
Buku panduan hijau masih di depan.
Gamis rumah dari Bunda tetap di bagian belakang.
Semuanya tidak berubah.
Tapi ketika aku menaruh buku setoran, tanganku berhenti sebentar di pintu lemari.
Ba’da Isya.
Najwa A.
Aku menutup lemari pelan-pelan. Tapi tulisan Najwa A. masih seperti tertinggal di kepalaku.
“Wa,” panggil Risa dari ranjangnya.
Aku menoleh.
Ia sedang membuka botol minum.
“Kalau bingung nanti, mulai dari salam. Itu paling aman.”
Aku menatapnya. “Aku tahu.”
“Iya, tapi kadang yang aman itu berguna.”
Hana yang sedang merapikan buku berkata, “Asal jangan semuanya dibuat aman.”
Risa menoleh. “Maksudnya?”
Hana tidak langsung menjawab. Ia menyusun dua buku di atas kasurnya, lalu berkata, “Kalau memang ada yang mau dikatakan, jangan semuanya ditutup pakai jawaban aman.”
Aku tahu Hana tidak sedang menasihatiku dengan sengaja.
Atau mungkin ia sengaja.
Dengan Hana, kadang sulit membedakan.
Aku duduk di pinggir kasur.
“Biasanya kalau Bunda tanya, aku jawab nggak apa-apa.”
Risa tidak bercanda.
Hana menatap bukunya.
“Kalau memang nggak apa-apa,” katanya.
Kamar terasa diam sebentar.
Di luar, ada anak yang tertawa karena sesuatu. Ada suara ember digeser. Ada pintu lemari ditutup terlalu keras dari kamar sebelah, lalu seseorang berkata, “Pelan-pelan!”
Aku menunduk ke tanganku.
Kalau memang nggak apa-apa.
Kalimat Hana sederhana. Tidak panjang. Tidak memakai nada orang yang merasa paling benar.
Tapi justru itu membuatnya tinggal di kepalaku.
Aku mencoba mengikuti kegiatan sore seperti biasa.
Aku mengambil air minum.
Aku membantu Hana memindahkan beberapa buku yang akan dibawa ke ruang serbaguna.
Aku mendengar Risa bercerita tentang sandalnya yang hampir tertukar di depan mushala.
Aku menjawab seperlunya.
Tapi pikiranku bolak-balik ke papan kecil.
Ba’da Isya.
Najwa A.
Saat makan malam, piringku berisi nasi lebih sedikit dari biasanya. Aku mengambil lauk yang sama seperti anak lain, lalu duduk bersama Risa dan Hana.
Risa bercerita dengan suara pelan tentang satu santri yang tadi menanyakan apakah boleh telepon lebih dari durasi kalau sedang “tanggung cerita”. Hana bilang aturan tetap aturan. Risa bilang cerita keluarga itu kadang tidak bisa dipotong seperti jadwal. Hana menjawab, “Makanya jangan mulai dari cerita yang terlalu panjang.”
Aku mendengar mereka.
Sesekali aku ikut tersenyum.
Tapi setiap kali seseorang menyebut kata telepon, sendokku berhenti sebentar.
Setelah makan, aku mengambil buku hafalan dari lemari.
Halaman yang tadi siang kubaca masih sama. Aku mencoba mengulang bagian yang sempat tersangkut. Kali ini lidahku bisa melewati bagian itu, tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana.
Assalamu’alaikum, Bun.
Kalimat itu muncul sendiri.
Aku menatap halaman.
Bunda sehat?
Aku baik.
Aku berhenti.
Aku baik.
Apakah itu termasuk bohong?
Aku tidak sakit. Aku tidak dihukum. Aku makan. Aku shalat. Aku mengikuti jadwal. Aku bahkan sudah bisa menata lemari sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
Tapi baik?
Aku tidak tahu.
Ada kalimat lain yang muncul pelan.
Najwa kangen.
Tanganku langsung menutup buku.
Risa yang duduk di lantai menoleh. “Kenapa?”
“Nggak.”
Aku sadar jawabanku terlalu cepat.
Risa mengangkat alis.
Aku menarik napas kecil. “Kepikiran.”
“Apa?”
Aku menatap buku yang tertutup.
“Kalimat pertama.”
Risa mengangguk, seperti itu masuk akal.
“Salam dulu.”
“Aku tahu, Ris.”
“Iya, aku cuma memastikan kamu tidak mulai dengan, ‘Bun, hidup ini berat.’”
Aku menatapnya.
Risa cepat-cepat menambahkan, “Walaupun mungkin benar.”
Hana yang sedang menulis sesuatu di buku kecil menoleh. “Risa.”
“Iya, iya. Salam dulu. Tanya kabar. Habis itu lihat keadaan.”
Aku tidak menjawab.
Risa menggeser duduknya sedikit lebih dekat, tapi tidak terlalu dekat.
“Wa.”
“Apa?”
“Kalau belum bisa bilang semuanya, bilang sedikit juga nggak apa-apa.”
Aku menatapnya.
Risa tampak seperti baru sadar ia mengatakan sesuatu yang agak serius. Ia langsung memegang bukunya dan pura-pura mencari halaman.
“Maksudku, biar nggak kebanyakan. Nanti waktunya habis.”
Hana menunduk lagi ke bukunya. Aku melihat sudut bibirnya bergerak sedikit.
Aku membuka buku hafalan lagi.
Kali ini, aku tidak langsung membaca.
Aku hanya melihat halaman.
Kalau belum bisa bilang semuanya, bilang sedikit juga nggak apa-apa.
Aku tidak tahu Risa sadar atau tidak, tapi kalimat itu lebih membantuku daripada saran tentang salam.
Setelah shalat Maghrib, suara Kak Salma mulai terdengar dari lorong, memanggil nama pertama di daftar.
“Aisyah R.”
Aisyah berjalan ke kantor sambil memegang ujung jilbabnya. Beberapa anak melirik, tapi tidak ada yang mengikuti.
Aturan Kak Salma jelas.
Yang belum giliran tidak boleh menunggu di depan kantor.
Sesudah itu, kegiatan berjalan seperti biasa. Tapi tidak benar-benar biasa. Setidaknya bagiku.
Satu anak kembali dari kantor dengan wajah lega. Ia masuk kamar sambil tersenyum kecil, lalu langsung ditanya teman-temannya. Ia hanya berkata, “Ibuku tadi lagi masak.”
Anak lain keluar dari kantor dengan mata sedikit merah. Ia berjalan cepat sambil menunduk, lalu temannya menyodorkan tisu tanpa banyak bicara.
Aku melihat itu dari ujung lorong.
Tidak lama.
Hanya sekilas.
Tapi cukup untuk membuat perutku terasa kosong.
Ternyata orang bisa keluar dari kantor dengan wajah yang berbeda-beda.
Ada yang seperti baru menerima kabar kecil dari rumah.
Ada yang seperti baru menahan sesuatu agar tidak tumpah di depan anak lain.
Aku tidak tahu nanti wajahku akan seperti apa.
Ba’da Maghrib berlalu pelan.
Setelah Isya, udara malam mulai masuk dari jendela kamar. Suara anak-anak lebih rendah daripada sore tadi. Ada yang membaca. Ada yang merapikan buku. Ada yang menunggu nama temannya dipanggil.
Aku duduk di ranjang dengan buku hafalan terbuka di pangkuan.
Risa duduk di lantai dekat ranjang, memutar tutup botol minumnya.
Hana duduk tidak jauh dari kami, membaca ulang catatan.
Aku mencoba melihat huruf-huruf di halaman.
Tapi yang terbaca hanya satu hal.
Ba’da Isya.
Najwa A.
Risa bicara pelan tentang sesuatu. Aku tidak benar-benar menangkap. Mungkin tentang jadwal besok. Mungkin tentang seseorang yang menukar tempat duduk. Suaranya ada, tapi jauh.
Lalu dari arah lorong, suara Kak Salma terdengar.
“Najwa A.”
Risa langsung berhenti bicara.
Hana menutup bukunya pelan.
Aku tidak langsung berdiri.
Suara itu masih terasa di kamar, padahal Kak Salma sudah selesai memanggil.
“Wa,” kata Risa pelan.
Aku menatap buku di pangkuanku.
Halaman itu terbuka, tapi tidak ada satu huruf pun yang masuk.
“Najwa A,” panggil Kak Salma lagi dari lorong. Suaranya tetap tenang, tidak terburu-buru.
Aku berdiri.
Lututku tidak lemas.
Tapi juga tidak benar-benar kuat.
Risa ikut berdiri sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya.
Hana berkata pelan, “Buku hafalanmu.”
Aku melihat buku di tanganku.
Benar.
Aku masih memegangnya.
Aku meletakkannya di atas kasur.
Tanganku terasa kosong setelah itu.
Terlalu kosong.
Risa melihat ujung kerudungku, lalu hampir mengangkat tangan seperti mau merapikannya. Tapi ia berhenti.
“Udah,” katanya pelan. “Jalan aja.”
Aku mengangguk.
Kali ini tidak ada candaan.
Aku berjalan ke pintu.
Setiap langkah terasa seperti memindahkan tubuh yang belum sepenuhnya setuju untuk pergi.
Di kepalaku, semua kalimat yang sejak sore kususun tiba-tiba seperti tidak mengenalku lagi.
Salam.
Tanya kabar.
Jangan terlalu lama diam.
Jangan langsung bilang ingin pulang.
Jangan jawab “nggak apa-apa” kalau memang tidak begitu.
Aku melangkah ke lorong.
Lampu kantor menyala dari pintu yang terbuka. Di dalam, suara kipas kecil terdengar pelan. Kak Salma berdiri di dekat meja, memegang buku daftar.
Telepon hitam itu terlihat di atas meja.
Diam seperti tadi.
Bedanya, sekarang namaku sudah dipanggil.
Aku berhenti sebentar di ambang pintu.
Kak Salma menoleh.
“Najwa,” katanya lembut, “sini.”
Aku mengangguk.
Tapi sebelum kakiku benar-benar masuk ke kantor, aku baru sadar satu hal.
Aku belum tahu apakah aku lebih takut Bunda tidak mengangkat, atau justru mendengar suaranya.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.