Doa yang Berhenti Sebentar
Tapi sebelum aku sempat menunduk terlalu lama, Kak Salma berkata pelan, “Nggak aneh,.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Kak Salma tidak langsung menjawab.
Aku hampir menyesal sudah bertanya.
Tapi sebelum aku sempat menunduk terlalu lama, Kak Salma berkata pelan, “Nggak aneh, Najwa.”
Aku mengangkat wajah sedikit.
Kak Salma masih duduk di kursi plastik di dekatku. Beberapa buku ada di pangkuannya. Dari tempatku duduk, telepon hitam di dalam kantor masih terlihat sebagian, diam di atas meja.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Nggak aneh?” tanyaku.
Kak Salma menggeleng pelan.
“Kalau kamu kangen, bukan berarti kesalnya langsung hilang,” katanya. “Kalau kamu kesal, bukan berarti kamu nggak sayang.”
Aku diam.
Jawaban itu tidak panjang.
Tidak juga membuat dadaku langsung ringan.
Tapi entah kenapa, kalimat itu seperti menahan sesuatu yang sejak tadi hampir tumpah.
Aku menatap buku setoran di pangkuanku. Ujung sampulnya masih kutekan dengan ibu jari.
Selama ini, lebih mudah kalau yang kuingat dari Bunda hanya hal-hal yang membuatku marah.
Saat aku tahu aku harus tinggal di pondok.
Saat Bunda tidak menahanku.
Saat suaranya di telepon terdengar jauh.
Kalau yang kupegang hanya itu, aku bisa marah lebih mudah.
Tapi ternyata aku juga kangen.
Dan itu membuat semuanya lebih sulit.
“Berarti...” Aku berhenti sebentar. “Berarti aku boleh ngerasa begitu?”
Kak Salma menatapku.
“Boleh,” katanya. “Yang dijaga itu cara keluarnya. Jangan sampai jadi ucapan yang menyakiti orang.”
Aku langsung teringat Risa.
Kalimatku yang hampir keluar tadi pagi.
Nggak semua harus kamu...
Aku menunduk.
Rasanya masih tidak enak.
Bahkan setelah Risa bilang ya sudah. Bahkan setelah ia mengingatkan buku setoran tadi. Bahkan setelah ia tidak lagi kelihatan marah.
Aku mengangguk kecil.
Belum sepenuhnya paham.
Tapi tidak menolak.
Dari arah mushala, suara anak-anak mulai terdengar lebih jelas. Ada yang memanggil temannya. Ada suara sandal bergeser. Ada yang membaca sesuatu pelan-pelan, mungkin mengulang hafalan sambil menunggu waktu.
Kak Salma melihat ke arah lorong.
“Kita ke mushala dulu,” katanya. “Nanti kalau masih berat, kamu boleh duduk sebentar lagi.”
Aku melihat kursi plastik yang kududuki.
Sebentar lagi kursi itu kosong.
Sebentar lagi aku harus berdiri.
Aku harus masuk ke barisan anak-anak lain, seperti tidak ada pertanyaan besar yang baru saja keluar dari mulutku.
Aku mengangguk.
“Iya, Kak.”
Aku berdiri pelan. Kursi plastik itu berbunyi sedikit saat tubuhku terangkat. Kak Salma mengambil gelas kosong dari dekat kaki kursi, lalu membawanya masuk ke kantor.
Aku masih memegang buku setoran.
Telepon hitam tetap diam.
Tidak ada yang berubah di dalam kantor.
Tapi saat aku melewati pintunya, langkahku tidak sekaku tadi. Bukan karena semuanya selesai. Mungkin hanya karena aku baru saja berani mengakui bahwa aku kangen dan kesal pada orang yang sama.
Kami berjalan menuju mushala.
Kak Salma berjalan tidak terlalu cepat. Aku di sampingnya, dengan buku setoran dipegang di depan dada. Beberapa anak mendahului kami. Ada yang membetulkan jilbab sambil berjalan. Ada yang membawa sajadah kecil. Ada yang masih menguap, lalu cepat-cepat menutup mulut ketika melihat Kak Salma.
Di depan mushala, Risa sudah duduk bersama Hana.
Risa melihatku lebih dulu.
“Wa,” bisiknya sambil menggeser sedikit tempat. “Sini.”
Aku duduk di sampingnya.
Hana melirik kami. “Shafnya rapat.”
Risa langsung menggeser duduknya sedikit. “Iya, iya.”
Hana menatapnya.
Risa menunduk. “Sudah rapat.”
Aku duduk di antara mereka.
Tidak ada yang bertanya kenapa aku lama di depan kantor.
Tidak ada yang bertanya apa yang dibicarakan Kak Salma.
Risa hanya menggeser bukunya sedikit agar tidak menyentuh kakiku.
Hana meluruskan ujung sajadah.
Aku menaruh buku setoran di sisi sajadah, dekat lututku.
Mushala mulai lebih tenang.
Saat shalat dimulai, aku berusaha mengikuti seperti biasa. Berdiri. Rukuk. Sujud. Duduk. Semua gerakan itu sudah kulakukan berkali-kali, tapi siang itu aku masih memikirkan percakapan di depan kantor. Kursi plastiknya. Gelas beningnya. Telepon hitam yang tidak berbunyi.
Setelah salam, beberapa anak langsung merapikan sajadah. Beberapa masih duduk. Ada yang berdzikir pelan. Ada yang menunduk dengan tangan terangkat. Ada yang membuka buku kecil.
Aku biasanya mengikuti saja.
Membaca apa yang biasa dibaca.
Mengangkat tangan.
Berdoa secukupnya.
Kadang pikiranku pergi ke mana-mana, lalu kembali ketika anak lain mulai berdiri.
Siang itu, aku juga mengangkat tangan.
Awalnya biasa.
Sampai aku hendak menyebut Ayah dan Bunda.
Lidahku berhenti sebentar.
Bukan karena aku lupa.
Bukan karena doanya sulit.
Hanya saja, nama Bunda terasa berbeda setelah pertanyaan tadi.
Kalau aku masih kesal, apakah doaku jadi pura-pura?
Aku menatap telapak tanganku sendiri.
Ada garis-garis halus di sana. Ada sedikit bekas tekanan dari buku setoran. Aku menggosok ibu jari ke telapak tangan pelan-pelan.
Di sampingku, Risa berdoa dengan kepala menunduk. Biasanya ia mudah sekali bicara. Tapi saat berdoa, ia diam. Hana juga diam. Anak-anak lain di sekitarku menunduk dengan cara masing-masing.
Aku menelan ludah.
Kalimat Kak Salma kembali pelan-pelan.
Kalau kamu kangen, bukan berarti kesalnya langsung hilang.
Aku menarik napas.
Pelan.
Aku belum merasa baik-baik saja.
Aku belum tahu apakah aku sudah memaafkan.
Aku juga belum tahu apakah kalau Bunda berdiri di depanku, aku bisa bicara tanpa nada yang buruk.
Tapi siang itu, aku tetap menyebut Bunda dalam doa.
Pelan sekali.
Hampir tidak terdengar oleh diriku sendiri.
Ya Allah, jaga Bunda.
Kalimat itu pendek.
Tidak membuat semua rasa di dadaku selesai.
Tidak membuatku tiba-tiba ingin berlari ke telepon dan bercerita panjang.
Tapi setelah mengucapkannya, aku tidak merasa seperti sedang berbohong.
Mungkin doaku belum rapi.
Mungkin hatiku juga belum.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu semua kesalku hilang dulu hanya untuk meminta Bunda dijaga.
Aku menurunkan tangan pelan-pelan.
Risa di sampingku sudah selesai lebih dulu. Ia menoleh sedikit, lalu cepat-cepat melihat ke depan lagi, seperti takut mengganggu.
Hana merapikan ujung mukenanya.
“Buku setoranmu,” bisik Hana.
Aku menoleh.
Buku setoran masih ada di sisi sajadah, dekat lututku.
Aku mengambilnya.
“Jangan sampai ketinggalan, Wa,” bisik Risa.
“Iya.”
Hana berbisik, “Kalian bisa bicara nanti.”
Risa langsung menunduk. “Siap.”
Aku hampir tersenyum.
Hampir saja.
Setelah beberapa anak mulai keluar, kami masih duduk sebentar di serambi. Belum ada arahan berikutnya. Ada jeda pendek sebelum kami harus bergerak lagi.
Aku membuka buku setoran.
Bagian yang tadi pagi diberi tanda masih ada di sana.
Huruf-hurufnya terlihat sama. Barisnya sama. Tanda pensilnya juga sama. Tapi tanganku tidak menekan sampul sekuat tadi.
Aku membaca bagian itu pelan-pelan.
Satu kalimat.
Lalu kalimat berikutnya.
Saat sampai di tempat yang tadi membuatku berhenti, lidahku masih tersangkut sedikit.
Tidak lama.
Hanya sebentar.
Aku mengulang dari kata sebelumnya.
Kali ini, aku tidak langsung merasa semua orang melihatku.
Mungkin karena tidak ada yang sedang menunggu giliranku.
Mungkin karena Risa dan Hana sedang sibuk dengan buku masing-masing.
Mungkin karena setelah bertanya kepada Kak Salma tadi, aku sudah tidak terlalu sibuk pura-pura baik-baik saja.
Aku mengulang lagi.
Lebih pelan.
Lalu lewat.
Tidak lancar sekali.
Tapi lewat.
Risa melirik dari samping.
“Bagian yang tadi?”
Aku mengangguk.
“Masih macet?”
“Sedikit.”
Risa mengangguk dengan wajah serius. “Setidaknya nggak mundur sampai awal.”
Hana menoleh.
Risa cepat-cepat menambahkan, “Maksudku hafalannya.”
Aku menunduk ke buku.
Kali ini aku tersenyum sedikit.
Tidak lebar.
Tapi cukup untuk membuat Risa tahu aku tidak sedang marah.
“Baca lagi,” kata Hana pelan.
Aku mengikuti.
Bukan karena Hana menyuruh dengan keras.
Lebih karena kalau tidak sekarang, mungkin nanti aku akan menundanya lagi.
Aku membaca bagian itu sekali lagi.
Masih belum sempurna.
Tapi tidak semenakutkan pagi tadi.
Setelah kegiatan siang selesai, anak-anak mulai kembali ke asrama. Lorong dekat kantor lebih ramai daripada tadi. Ada yang berjalan cepat karena ingin mengambil botol minum. Ada yang membawa mukena. Ada yang bertanya apakah sore nanti ada setoran tambahan.
Aku berjalan bersama Risa dan Hana.
Risa bercerita tentang satu anak yang hampir membawa buku yang salah ke mushala. Hana mendengarkan sambil sesekali membetulkan informasinya.
“Bukan buku yang salah,” kata Hana. “Dia cuma salah sampul.”
“Itu tetap membuat panik,” kata Risa.
Aku berjalan di samping mereka sambil memegang buku setoran.
Saat kami melewati papan kecil dekat kantor, aku melihat Kak Salma sedang menempel kertas baru.
Kertas itu tidak besar.
Hanya selembar.
Ditempel dengan selotip di bagian atas.
Beberapa anak berhenti sebentar untuk melihat, lalu lanjut berjalan. Ada yang tampak biasa saja. Ada yang langsung memanggil temannya.
Aku tidak berniat berhenti.
Tapi mataku sudah lebih dulu membaca tulisan di kertas itu.
Giliran telepon santri putri akan ditempel setelah Ashar.
Langkahku melambat.
Risa masih bicara. “Kalau salah sampul itu bahaya, Han. Bisa bikin orang merasa sudah siap padahal belum.”
Hana berkata, “Kamu sedang membicarakan buku atau dirimu sendiri?”
Risa menjawab sesuatu, tapi suaranya seperti menjauh.
Aku membaca kertas itu lagi.
Giliran telepon santri putri akan ditempel setelah Ashar.
Setelah Ashar.
Bukan sekarang.
Belum ada nama.
Belum ada jadwal.
Belum ada suara Bunda.
Tapi tiba-tiba telepon hitam yang tadi diam di kantor terasa tidak lagi jauh.
“Wa?”
Aku menoleh.
Risa dan Hana sudah berhenti beberapa langkah di depan. Risa melihat ke arah papan, lalu melihatku lagi.
“Ada apa?”
Aku membuka mulut.
Tidak langsung menjawab.
Hana ikut melihat papan itu. Wajahnya tetap tenang, tapi ia tidak buru-buru menyuruhku jalan.
“Jadwal telepon,” kata Hana pelan.
Aku mengangguk.
“Iya.”
Risa berjalan kembali satu langkah mendekat. Ia membaca kertas itu.
“Belum ada namanya,” kata Risa pelan.
“Aku tahu.”
Risa ikut menatap kertas itu sebentar, lalu diam.
Itu jarang terjadi.
Biasanya ia selalu punya tambahan. Satu komentar kecil. Satu kalimat yang membuat Hana menatapnya. Tapi kali ini, ia hanya berdiri di sampingku.
Anak-anak lain masih lewat di lorong.
Ada yang tidak peduli dengan kertas itu.
Ada yang membaca sebentar lalu pergi.
Ada yang langsung berbisik, “Semoga namaku hari ini.”
Aku menatap tulisan itu.
Belum tentu namaku ada di sana.
Belum tentu cepat.
Belum tentu Bunda yang mengangkat.
Belum tentu aku berani mengatakan apa pun selain, “Nggak apa-apa.”
Tapi sejak pertanyaanku keluar di depan Kak Salma, kalimat itu mulai terdengar lebih berat daripada biasanya.
Nggak apa-apa.
Dulu kalimat itu mudah.
Bisa kupakai untuk menutup telepon.
Bisa kupakai untuk menghindari pertanyaan.
Bisa kupakai agar orang dewasa tidak bertanya lebih jauh.
Tapi siang itu, setelah aku menyebut Bunda dalam doa dengan suara yang hampir tidak terdengar, kalimat itu tidak lagi terasa ringan.
Hana berkata pelan, “Kita jalan?”
Aku masih menatap kertas itu.
“Wa?” panggil Risa.
Aku menggenggam buku setoran lebih erat.
Untuk pertama kalinya, aku tidak yakin apakah aku lebih takut namaku tidak ada di daftar itu, atau justru ada.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.