Kursi Plastik di Depan Kantor
Hanya cukup agar aku tidak langsung terlihat oleh anak-anak yang lewat di.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku tidak jadi meminta pulang.
Tidak juga kembali ke kamar.
Kursi plastik itu Kak Salma tarik sedikit ke samping.
Tidak jauh.
Hanya cukup agar aku tidak langsung terlihat oleh anak-anak yang lewat di lorong.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Duduk dulu,” katanya.
Aku mengangguk.
Kakiku bergerak lebih dulu daripada mulutku. Aku duduk pelan-pelan. Kursinya agak goyah saat aku duduk. Buku setoran kutahan di pangkuan dengan dua tangan, seperti kalau buku itu tetap kupegang, aku tidak akan benar-benar terlihat ingin menyerah.
Pintu kantor asrama terbuka sedikit.
Dari tempatku duduk, aku masih bisa melihat sebagian meja di dalam. Ada buku tamu bersampul cokelat. Ada bolpoin yang diikat tali. Ada tumpukan kertas di pojok meja.
Dan ada telepon hitam itu.
Diam.
Tidak berbunyi.
Tapi tetap saja, mataku beberapa kali kembali ke sana.
Kak Salma masuk ke kantor sebentar. Aku mendengar suara laci dibuka, lalu ditutup. Tidak lama, ia keluar membawa gelas plastik bening berisi air.
“Minum dulu.”
Aku menatap gelas itu.
“Aku nggak sakit, Kak.”
Kak Salma tidak tersenyum mengejek. Ia juga tidak terlihat terganggu.
“Minum nggak harus nunggu sakit.”
Aku menerima gelas itu.
Airnya agak dingin, mungkin dari dispenser kantor. Aku memegangnya dengan dua tangan. Entah kenapa, gelas plastik itu terasa lebih mudah kupegang daripada jawaban apa pun yang sejak tadi berhenti di mulutku.
Kak Salma duduk di kursi lain, tidak terlalu dekat. Ia meletakkan beberapa buku di pangkuannya, lalu menatap lorong sebentar.
Ia tidak bertanya lagi.
Itu membuatku lega.
Sedikit.
Dari arah dapur, suara piring stainless masih terdengar, tapi tidak seramai tadi pagi. Ada anak yang berlari kecil di ujung lorong, lalu langsung melambat saat melihat Kak Salma.
“Jangan lari,” kata Kak Salma.
Anak itu tersenyum takut-takut. “Iya, Kak.”
Ia berjalan lebih pelan.
Aku menunduk ke buku setoran di pangkuanku. Sampulnya sudah agak tertekuk di ujung kanan. Tadi pagi aku memegangnya terlalu kuat. Ada bekas tekanan jariku di bagian sampul yang tipis.
Di dinding dekat kantor, jadwal harian tertempel rapi.
Bangun.
Shalat.
Setoran.
Sarapan.
Bersih-bersih.
Kegiatan.
Dzuhur.
Semuanya tertulis rapi. Kalau sudah ditempel di dinding, jadwal itu tetap jalan, siap atau tidak.
Aku membaca jadwal itu, lalu menunduk lagi.
Kak Salma membuka salah satu buku di pangkuannya. Ia membalik dua halaman, lalu berhenti cukup lama di halaman yang sama. Sesekali ia melihat ke lorong. Sesekali ia melihatku, lalu kembali ke bukunya.
Aku minum sedikit.
Airnya turun pelan ke tenggorokanku.
Ternyata aku memang haus.
“Kak,” kataku.
Suaraku lebih kecil dari yang kukira.
Kak Salma menoleh. “Iya?”
Aku menatap buku setoran. Ibu jariku mengusap ujung sampulnya.
“Tadi aku hampir ngomong jelek ke Risa.”
Kak Salma tidak langsung menjawab.
Ia menutup buku di pangkuannya pelan-pelan.
“Tapi kamu berhenti?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Bagus.”
Aku menggeleng sedikit. “Tapi tetap rasanya nggak enak.”
Kak Salma diam sebentar. Dari dalam kantor, jam dinding berdetak pelan. Aku baru sadar ada jam di sana.
“Kalau masih nggak enak, nanti bisa kamu bereskan lagi,” kata Kak Salma. “Nggak harus sekarang.”
Aku menatapnya sebentar.
“Kalau sekarang?”
“Kalau sekarang kamu masih panas, nanti kalimatnya bisa salah lagi.”
Aku diam.
Kalimat itu masuk akal. Terlalu masuk akal sampai aku tidak bisa membantah.
Aku minum lagi sedikit.
Lorong kembali ramai sebentar. Dua anak lewat sambil membawa buku. Salah satunya bertanya kepada Kak Salma tentang jadwal sebelum Dzuhur. Kak Salma menjawab singkat, lalu mereka pergi.
Aku memperhatikan sandal mereka bergeser di lantai.
Pondok tetap berjalan.
Anak-anak tetap punya jadwal.
Dapur tetap mencuci piring.
Mushala tetap menunggu.
Tidak ada yang berhenti hanya karena aku duduk di kursi plastik depan kantor.
Mungkin itu yang membuatku sedikit malu.
Mungkin juga sedikit tenang.
“Kak,” kataku lagi.
“Iya?”
“Aku malu tadi berhenti di tengah.”
Kak Salma mengangguk pelan, seperti ia sudah tahu aku akan kembali ke bagian itu.
“Setoran?”
Aku mengangguk.
“Berhenti di tengah itu biasa, Najwa.”
Aku menunduk. “Tapi rasanya semua orang lihat.”
“Mungkin ada yang lihat.”
Aku mengangkat wajah.
Jawaban itu tidak seperti yang kuharap.
Biasanya orang dewasa akan bilang, “Nggak ada yang lihat,” atau “Nggak apa-apa.” Kadang kalimat seperti itu membuat hati sedikit ringan. Kadang justru membuatku merasa sedang dibohongi baik-baik.
Kak Salma melanjutkan, “Tapi biasanya mereka juga sibuk takut giliran mereka sendiri.”
Aku tidak langsung menjawab.
Aku membayangkan anak-anak tadi. Yang menunduk ke buku. Yang mengulang hafalan pelan. Yang memegang halaman dengan jari kaku. Yang menelan ludah sebelum namanya dipanggil.
Mungkin benar.
Mungkin mereka tidak sempat memperhatikanku selama yang kupikirkan.
Atau mungkin ada yang melihat, lalu lupa setelah gilirannya sendiri dipanggil.
Aku mengusap sampul buku setoran lagi.
“Aku nggak suka kelihatan nggak bisa,” kataku.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Kak Salma menatapku.
Aku cepat menambahkan, “Maksudku... di rumah juga.”
“Kamu biasanya bisa?”
Aku hampir menjawab iya.
Lalu berhenti.
Di rumah, aku tidak selalu bisa. Aku hanya lebih mudah menyembunyikan bagian yang tidak bisa. Kalau nilai jelek, aku bisa diam dulu. Kalau dimarahi, aku bisa masuk kamar. Kalau kesal, aku bisa memegang ponsel dan pura-pura sibuk. Kalau tidak ingin bicara, pintu kamarku bisa kututup.
Di sini, kamarku bukan benar-benar milikku sendiri.
Jadwalku bukan milikku sendiri.
Malu pun seperti tidak punya tempat bersembunyi.
“Di rumah, kalau malu, aku bisa masuk kamar,” kataku pelan.
Kak Salma tidak langsung membalas.
Aku sendiri sedikit kaget mendengar jawabanku.
Kursi plastik di bawahku berbunyi pelan saat aku mengubah posisi. Aku menahan gelas agar tidak tumpah.
“Kak, aku harus ikut kegiatan lagi sebelum Dzuhur, kan?”
“Iya,” jawab Kak Salma. “Sebentar lagi.”
“Berarti aku nggak bisa lama-lama di sini.”
“Nggak lama juga nggak apa-apa.”
Aku melihatnya.
Kak Salma berkata biasa saja, seperti sedang membicarakan waktu menyapu atau antre mandi.
“Kadang duduk lima menit juga sudah beda,” katanya.
Aku menatap gelas di tanganku.
Lima menit.
Di rumah, lima menit bisa habis hanya untuk memilih baju. Membalas pesan. Berbaring sambil menatap langit-langit. Di sini, lima menit ternyata bisa terasa seperti ruang yang dipinjamkan.
Dari ujung lorong, suara Risa terdengar.
“Ada di tasmu, Han. Aku lihat tadi.”
“Aku sudah cek,” jawab Hana.
“Cek lagi. Kadang barang itu suka pura-pura nggak ada.”
Aku menoleh.
Risa dan Hana muncul di lorong. Hana membawa buku. Risa membawa botol minum dan tas kecilnya. Mereka berjalan tidak terlalu cepat.
Risa melihatku lebih dulu.
“Wa, kamu di sini?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Risa melihat Kak Salma, lalu sepertinya menahan komentar yang sudah hampir keluar. Mulutnya terbuka sedikit, lalu tertutup lagi.
Hana menatapku sebentar.
“Kami duluan ke mushala, ya.”
Aku mengangguk lagi.
Risa menunjuk buku setoran di pangkuanku. “Itu jangan ketinggalan.”
Aku melihat buku itu, lalu kembali ke Risa.
“Iya.”
Risa mengangguk sekali.
Tidak ada candaan tambahan.
Tidak ada pertanyaan kenapa aku duduk di sana.
Ia berjalan lagi bersama Hana. Sebelum belokan, Risa sempat menoleh sedikit, lalu cepat-cepat melihat ke depan lagi saat Hana mengatakan sesuatu.
Aku menunduk.
Entah kenapa, dadaku terasa sedikit lebih longgar.
Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja.
Hanya karena Risa masih mengingatkan buku setoran.
Itu kecil.
Tapi pagi itu, hal kecil seperti itu terasa cukup.
Kak Salma melihat ke arah mereka pergi, lalu kembali membuka buku di pangkuannya. Ia tidak memberi komentar tentang Risa. Mungkin sengaja. Mungkin memang tidak perlu.
Aku minum sisa air di gelas.
Kali ini lebih banyak.
Gelas itu hampir kosong.
“Kak.”
“Iya?”
“Kalau aku capek, itu berarti aku nggak kuat?”
Kak Salma menatapku. Ia tidak menjawab cepat.
Aku menunggu.
Di dalam kantor, telepon hitam tetap diam. Aku bisa melihatnya dari sudut mata. Kabelnya melingkar di atas meja. Benda itu terlihat biasa saja, padahal sejak tadi mataku beberapa kali kembali ke sana.
“Belum tentu,” kata Kak Salma akhirnya.
Aku menatapnya.
Ia menaruh bukunya di kursi sebelah.
“Kadang capek ya capek saja. Bukan berarti kamu gagal.”
Aku menggenggam gelas kosong.
“Tapi kalau sering capek?”
“Berarti perlu belajar tahu kapan harus berhenti sebentar.”
Aku menunduk.
Jawaban itu tidak membuat semuanya selesai.
Tapi tidak menyakitkan.
Aku menaruh gelas kosong di lantai dekat kaki kursi. Lalu aku memegang buku setoran lagi. Ujungnya kutekan pelan dengan ibu jari.
Sebenarnya ada pertanyaan lain.
Dari tadi ia tidak pergi.
Ia hanya menunggu di belakang pertanyaan-pertanyaan kecil.
Aku bisa membahas Risa.
Aku bisa membahas setoran.
Aku bisa membahas jadwal.
Tapi ada bagian lain yang lebih sulit kusebut, karena begitu kusebut, rasanya aku harus mengakui bahwa hatiku tidak serapi yang kuinginkan.
Aku melihat telepon hitam itu lagi.
Kali ini lebih lama.
Kak Salma mengikuti arah pandangku, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Kak Salma tidak menyebut telepon itu.
Aku baru sadar, itu membuatku lega.
Karena kalau ia bertanya, mungkin aku akan menjawab tidak, padahal aku sendiri belum yakin.
Aku takut kalau Bunda mengangkat, aku tetap tidak tahu harus mengatakan apa.
Kalau suaranya lembut, mungkin aku malah makin ingin pulang.
Kalau suaranya biasa saja, mungkin aku malah sakit hati.
Dan kalau ia bertanya, “Najwa kenapa?” mungkin aku tetap menjawab, “Nggak apa-apa,” seperti biasa.
“Kak,” kataku.
“Iya?”
Aku menatap buku setoran di pangkuanku.
“Kalau aku kangen Bunda...”
Kalimatku berhenti.
Kak Salma diam.
Ia tidak mengisi bagian yang kosong.
Aku menarik napas pelan.
“Kalau aku kangen Bunda, tapi masih kesal sama Bunda, itu aneh nggak, Kak?”
Setelah mengatakannya, aku langsung ingin menarik kalimat itu kembali.
Bukan karena kalimatnya salah.
Karena terlalu benar.
Lorong tiba-tiba terasa lebih sepi, padahal dari arah mushala suara anak-anak mulai terdengar lagi. Ada yang memanggil temannya. Ada yang membaca pelan. Ada sandal bergeser di dekat pintu.
Sebentar lagi Dzuhur.
Sebentar lagi aku harus berdiri.
Sebentar lagi aku harus kembali ke mushala bersama yang lain.
Tapi pertanyaanku sudah keluar.
Kak Salma tidak langsung menjawab.
Aku berani menatapnya hanya sebentar.
Wajahnya tidak kaget. Tidak juga terlihat kasihan. Ia hanya menatapku seperti sedang benar-benar mendengar, bukan sedang menunggu gilirannya bicara.
Telepon hitam di dalam kantor tetap diam.
Aku menelan ludah.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku berharap Kak Salma tidak menjawab terlalu cepat.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.