Buku Setoranku Sudah Siap, tapi Aku Belum
Setelah Subuh, kamar bergerak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa anak baru selesai melipat mukena. Ada yang masih mengantuk sambil merapikan sajadah..
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Pagi itu, aku tidak kehilangan kerudung.
Aku juga tidak kehilangan buku setoran.
Yang hampir hilang justru kendali atas mulutku.
Setelah Subuh, kamar bergerak lebih cepat daripada biasanya. Beberapa anak baru selesai melipat mukena. Ada yang masih mengantuk sambil merapikan sajadah. Ada yang duduk di tepi ranjang dengan buku terbuka, tapi matanya lebih sering tertutup daripada membaca.
Aku membuka lemari pelan-pelan.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Kerudung putih ada di depan.
Buku setoran hafalan juga ada di tempatnya.
Tidak ada yang jatuh.
Tidak ada yang perlu kucari di bawah tumpukan baju.
Untuk sesaat, aku merasa sedikit menang.
Sedikit saja.
“Wa,” suara Risa terdengar dari ranjangnya.
Aku menoleh.
Ia duduk sambil memegang buku setoran. Jilbabnya sudah rapi, tapi wajahnya masih seperti orang yang belum sepenuhnya kembali ke dunia.
“Menurutmu,” katanya pelan, “hafalan bisa masuk kalau dibaca sambil setengah tidur?”
Hana yang sedang merapikan mukena menoleh. “Nggak.”
Risa menghela napas. “Jawabanmu cepat sekali.”
“Karena gampang.”
Aku mengambil kerudung, lalu menutup lemari.
Risa melihat ke arah tanganku. “Eh, kamu cepat hari ini.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk lemariku dengan dagu. “Lemarinya sudah nggak ngajak ribut?”
“Belum tahu. Baru pagi.”
“Semoga hubungan kalian awet.”
Aku memakai kerudung di depan cermin kecil yang tergantung di dekat pintu lemari. Lipatannya tidak terlalu sempurna, tapi cukup rapi. Buku setoran kutaruh di atas kasur, bersama pensil dan buku kecil lain.
Hana berjalan ke arah pintu.
“Ayo. Kak Salma tadi bilang jangan telat.”
Risa berdiri sambil memeluk buku setoran ke dada. “Setelah Subuh tuh harusnya ada waktu buat sadar dulu. Jangan langsung setoran.”
Hana membuka pintu. “Kamu bisa sadar sambil jalan.”
Aku mengambil buku setoran, lalu mengikuti mereka keluar.
Lorong asrama masih terasa dingin. Beberapa santri berjalan menuju serambi mushala dengan langkah pelan. Ada yang mengulang hafalan sambil menunduk. Ada yang berbisik kepada temannya. Ada yang memegang buku terlalu dekat ke wajah, seperti berharap kalimat di dalamnya masuk sendiri ke kepala.
Aku berjalan di belakang Hana.
Buku setoran ada di tanganku.
Kerudungku rapi.
Sandalku tidak tertukar.
Semua yang kemarin kusiapkan ternyata benar-benar membantu.
Tapi begitu kami sampai di serambi mushala, rasa lega itu mulai mengecil.
Serambi sudah cukup ramai. Tikar digelar memanjang. Anak-anak duduk berbaris sesuai kelompok kecil. Ustazah Laila duduk di dekat tiang, dengan buku catatan di pangkuannya. Kak Salma berdiri di sisi serambi sambil mengatur anak-anak yang masih mencari tempat.
“Yang sudah siap, duduk sesuai kelompoknya,” kata Kak Salma. “Buku setoran jangan ditaruh jauh-jauh.”
Aku duduk di antara Hana dan Risa.
Lantai terasa dingin di bawah telapak kakiku. Angin pagi masuk dari sisi serambi. Dari halaman, terdengar sapu lidi diseret pelan. Di kejauhan, suara dapur mulai ramai lagi.
Anak pertama maju.
Suaranya pelan, tapi lancar.
Ustazah Laila mendengarkan sambil sesekali menandai sesuatu di buku. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada suara tinggi. Tapi tetap saja, setiap anak yang mendapat giliran terlihat duduk lebih tegak dari biasanya.
Aku membuka buku setoran.
Bagian yang harus kubaca tidak panjang.
Semalam aku sudah membukanya.
Tadi sebelum berangkat, aku juga sempat melihatnya lagi.
Seharusnya bisa.
Seharusnya.
Risa berbisik sangat pelan, “Wa, kalau aku tiba-tiba lupa, pura-pura batuk boleh nggak?”
Hana langsung menatapnya.
Risa mengangkat tangan sedikit. “Bercanda. Aku tahu batuk palsu nggak diterima di sini.”
Aku tidak ikut tersenyum.
Mataku tetap pada baris hafalan.
Ada anak yang berhenti di tengah. Ustazah Laila berkata pelan, “Ulangi dari sebelumnya.”
Anak itu mengulang.
Tidak ada yang menertawakan.
Tapi aku ikut menahan napas.
Giliran berjalan pelan, tapi anehnya terasa cepat. Satu anak maju. Satu anak kembali. Buku dibuka. Buku ditutup. Suara-suara kecil berputar di serambi.
Lalu namaku dipanggil.
“Najwa.”
Aku berdiri.
Tanganku memegang buku setoran agak terlalu kuat. Aku duduk di hadapan Ustazah Laila, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
“Mulai dari bagian yang sudah ditandai, ya,” kata Ustazah.
Aku mengangguk.
Aku membaca ta’awudz pelan, lalu mulai.
Awalnya lancar.
Satu kalimat.
Lalu kalimat berikutnya.
Aku tahu bagian itu.
Aku yakin tahu.
Tapi di tengah kalimat, lidahku tiba-tiba berhenti lebih cepat dari pikiranku. Kata berikutnya seperti ada, tapi tidak mau muncul. Aku melihat titik di tikar. Aku mencoba mengingat dari awal potongan itu.
Diamku berlangsung mungkin hanya beberapa detik.
Tapi rasanya lama sekali.
Dari belakang, suara anak lain yang mengulang hafalan terdengar samar. Ada sandal bergeser. Ada batuk kecil. Ada angin yang menggerakkan ujung tirai.
Aku menelan ludah.
Ustazah Laila tidak mengerutkan kening. Tidak juga membuat wajah kasihan.
“Pelan-pelan,” katanya. “Ulang dari kalimat sebelumnya.”
Aku mengangguk.
Wajahku panas.
Aku mengulang.
Kali ini bisa.
Tapi suaraku lebih kecil.
Setelah selesai, Ustazah Laila memberi tanda di buku setoran.
“Bisa dilancarkan lagi nanti sebelum Dzuhur,” katanya. “Jangan tunggu malam.”
“Iya, Ustazah.”
Aku kembali ke tempat duduk.
Tidak ada yang terjadi.
Tidak ada yang menertawakan.
Tidak ada yang berkata aku buruk.
Tapi aku tetap merasa semua orang melihatku, padahal mungkin tidak.
Aku duduk lagi di samping Risa. Tanganku masih memegang buku setoran.
Risa mendekat sedikit, lalu berbisik, “Wa, tadi kamu berhenti lama banget. Aku sampai ikut nahan napas.”
Ia bicara pelan.
Mungkin ingin membuatku tidak terlalu tegang.
Mungkin memang Risa saja yang tidak tahan diam.
Tapi saat itu, telingaku tidak menerimanya seperti candaan.
Rahangku mengeras.
Tanganku menekan sampul buku.
Kalimat itu naik terlalu cepat.
“Nggak semua harus kamu...”
Aku berhenti.
Risa menatapku.
Matanya tidak membesar. Tidak marah. Tapi wajahnya berubah sedikit, seperti ia baru sadar bahwa komentarnya masuk ke tempat yang salah.
Aku menunduk ke buku setoran.
Ujung kalimat itu masih terasa di mulutku.
Nggak semua harus kamu komentari, Ris.
Kalau keluar sampai selesai, mungkin Risa akan tertawa sebentar, lalu diam lebih lama. Atau mungkin ia akan pura-pura tidak tersinggung. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, aku hampir mengatakannya.
Hana tidak menoleh penuh. Ia hanya menggeser bukunya sedikit, seperti memberi ruang antara aku dan Risa.
Ustazah Laila memanggil nama anak berikutnya.
Setoran berlanjut.
Aku duduk dengan wajah menunduk, membaca halaman yang sama tanpa benar-benar melihat hurufnya.
Setelah semua selesai, Kak Salma mengingatkan jadwal pagi. Sarapan lebih cepat. Setelah itu bersih-bersih area depan asrama. Lalu ada kegiatan di ruang serbaguna.
Risa biasanya akan mengeluh pelan kalau mendengar jadwal panjang seperti itu.
Pagi itu, ia hanya memasukkan bukunya ke tas kecil.
Aku melihatnya dari samping.
Ia tidak marah.
Setidaknya tidak terlihat begitu.
Tapi ia juga tidak langsung bercanda kepadaku.
Kami berjalan kembali ke asrama dalam barisan kecil. Matahari mulai naik, tapi udara masih terasa sisa pagi. Beberapa anak bicara pelan tentang hafalan. Ada yang lega. Ada yang mengeluh karena harus mengulang sebelum Dzuhur.
Aku berjalan di sebelah Hana.
Risa berjalan sedikit di depan kami.
Hana tidak langsung bicara.
Aku tahu ia tahu.
Aku jadi agak kesal karena Hana tahu.
Bukan salah Hana. Tapi saat itu, semua hal terasa seperti menempel di kulitku.
Di ruang makan, aku mengambil nasi dan lauk. Piring stainless terasa dingin di tangan.
Risa duduk di depanku. Biasanya itu tidak berarti apa-apa. Pagi itu, entah kenapa, aku memperhatikannya.
Ia masih bicara dengan anak lain. Masih menjawab candaan. Masih Risa.
Tapi kepadaku, ia hanya bertanya satu kali.
“Wa, sambalnya mau?”
Aku menggeleng. “Nggak.”
“Ya udah.”
Itu saja.
Tidak ada komentar tambahan.
Harusnya aku senang karena ia tidak banyak bicara.
Tapi justru itu membuatku tidak nyaman.
Setelah sarapan, kami membersihkan area depan asrama. Aku menyapu bagian dekat rak sandal. Debu halus berkumpul di ujung sapu. Sandal-sandal harus digeser sedikit agar lantai di bawahnya bisa dibersihkan.
Risa bertugas mengelap rak.
Ia berdiri tidak jauh dariku, tapi kami tidak banyak bicara.
Sekali, kain lapnya jatuh.
Biasanya ia akan berkata sesuatu seperti, “Dia lelah juga.” Tapi kali ini ia hanya mengambilnya lagi.
Aku menyapu lebih cepat.
Terlalu cepat.
Debu justru menyebar sedikit.
“Pelan-pelan, Wa,” kata Hana dari belakangku.
“Aku tahu.”
Suaraku keluar pendek.
Hana diam.
Aku langsung sadar nadaku tidak enak.
Tapi kalimat sudah keluar.
Aku menggenggam gagang sapu lebih kuat.
Kak Salma yang sedang lewat berhenti sebentar. Ia tidak menegur di depan anak-anak lain. Ia hanya menatapku, lalu berkata pelan, “Najwa, nanti Kakak bicara sebentar, ya.”
Aku mengangguk.
Tidak lama setelah pekerjaan selesai, anak-anak masuk untuk bersiap ke ruang serbaguna. Aku menaruh sapu di tempatnya. Tanganku masih terasa kaku.
Kak Salma berdiri di dekat tiang lorong, tidak jauh dari pintu kamar.
“Najwa.”
Aku mendekat.
“Iya, Kak.”
Kak Salma tidak langsung bicara. Ia menunggu dua anak lewat dulu. Setelah lorong agak sepi, ia baru berkata, “Capek?”
Aku ingin menjawab tidak.
Tapi rasanya percuma.
“Sedikit.”
Kak Salma mengangguk.
“Kalau lagi panas, diam dulu sebentar. Nanti baru jawab.”
Aku menatap ujung lantai.
Kalimat itu tidak panjang.
Tidak juga keras.
Tapi tetap membuat wajahku terasa panas.
“Aku nggak marah,” kataku pelan.
Kak Salma memandangku.
Aku sendiri tahu kalimat itu tidak terlalu benar.
Mungkin aku tidak marah besar.
Tapi aku kesal. Malu. Lelah. Dan semua itu sejak pagi mencari jalan keluar lewat nada.
Kak Salma tidak mendebatku.
“Kalau belum mau bilang marah, nggak apa-apa,” katanya. “Tapi tadi nadanya sudah kedengaran duluan.”
Aku diam.
Dari arah kamar, terdengar Risa memanggil seseorang. Bukan aku.
Kak Salma melihat ke arah suara itu sebentar, lalu kembali menatapku.
“Kamu boleh capek,” katanya pelan. “Tapi Risa nggak tahu kamu masih malu karena setoran tadi.”
Aku menunduk.
Rasanya tidak enak didengar.
Bukan karena Kak Salma salah.
Justru karena ia benar.
Aku mengangguk kecil.
“Iya, Kak.”
Jawaban itu belum lembut.
Tapi setidaknya bukan bantahan.
Kak Salma melihatku sebentar, lalu berkata, “Ambil minum dulu. Setelah itu ikut ke ruang serbaguna.”
Aku mengangguk lagi.
Di kamar, Hana sedang mengambil buku. Risa duduk di ranjangnya sambil memasukkan sesuatu ke tas kecil. Aku mengambil botol minum dari rak, lalu berdiri beberapa detik tanpa tahu harus melakukan apa.
Hana melirikku.
Tidak bertanya.
Risa menutup tas kecilnya.
Aku memegang botol minum terlalu lama.
“Ris,” panggilku.
Risa menoleh. “Apa?”
Aku menelan ludah.
“Tadi aku lagi kesal.”
Risa menatapku.
Aku menambahkan cepat, “Bukan karena kamu.”
Risa diam sebentar.
Lalu ia berkata, “Aku tahu.”
Aku tidak yakin harus lega atau tambah malu.
Risa memasukkan buku setoran ke tasnya. “Tapi lain kali jangan lihat aku kayak aku yang bikin jadwal.”
Hana menunduk, pura-pura merapikan buku.
Aku menatap Risa.
Ia tidak tersenyum lebar.
Tapi wajahnya tidak sebeku tadi.
“Aku nggak lihat kamu begitu,” kataku.
“Wa.”
“Iya?”
“Kamu tadi lihat aku kayak aku pengumuman tambahan.”
Aku menunduk.
Kali ini aku hampir tersenyum.
Hampir.
“Maaf,” kataku pelan.
Kata itu keluar pendek.
Tidak rapi.
Tidak terlalu jelas.
Tapi keluar.
Risa mengangkat bahu kecil. “Ya udah. Aku juga tadi ngomongnya kurang pas.”
Hana akhirnya menoleh. “Bagus. Sekarang dua-duanya ambil buku. Nanti kita yang telat.”
Risa berdiri. “Hana ini kalau jadi penengah tetap ujungnya jadwal.”
“Karena jadwalnya tetap jalan,” kata Hana.
Aku mengambil buku dari kasur.
Kami keluar bersama.
Hari belum selesai. Kegiatan di ruang serbaguna masih menunggu. Hafalanku masih harus kuulang sebelum Dzuhur. Catatan Ustazah Laila masih ada di buku setoran. Dan tubuhku masih terasa lelah, seperti pagi itu berjalan lebih panjang dari biasanya.
Tapi langkahku sedikit lebih ringan daripada tadi.
Tidak banyak.
Sedikit saja.
Kegiatan berikutnya berjalan dengan suara-suara biasa. Kak Salma menjelaskan tugas. Beberapa anak mencatat. Ada yang bertanya. Risa kembali berbisik sesekali, tapi tidak sebanyak biasanya. Hana beberapa kali mengingatkan halaman buku.
Aku berusaha menjawab seperlunya.
Tidak selalu berhasil terdengar lembut.
Tapi aku mencoba tidak menjawab terlalu cepat.
Menjelang siang, setelah kegiatan selesai, aku berjalan ke arah kamar untuk menaruh buku setoran. Lorong dekat kantor asrama lebih sepi. Pintu kantor sedikit terbuka.
Aku tidak sengaja melihat telepon hitam di atas meja.
Telepon itu diam.
Kabelnya melingkar seperti biasa.
Tiba-tiba aku berhenti.
Aku tidak ingin menelepon.
Atau mungkin ingin.
Aku sendiri tidak tahu.
Yang jelas, sejak pagi mulutku seperti penuh. Ada jawaban untuk Risa yang hampir keluar. Ada nada pendek untuk Hana yang sudah telanjur terdengar. Ada bantahan kecil untuk Kak Salma yang kutahan karena aku sendiri tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Lalu saat melihat telepon itu, tiba-tiba ada satu kalimat lain yang naik pelan-pelan.
Bun, hari ini berat.
Tapi kalau Bunda bertanya berat karena apa, mungkin aku juga tidak bisa menjawab dengan benar.
Berat karena hafalanku tadi berhenti di tengah.
Karena Risa jadi lebih diam setelah aku hampir membentaknya.
Karena aku ingin pulang sebentar, tapi kalau ditanya pulang untuk apa, aku juga tidak tahu.
Aku berdiri di dekat pintu kantor, memegang buku setoran di tangan.
“Najwa?”
Aku menoleh.
Kak Salma berdiri di ujung lorong dengan beberapa buku di tangannya. Mungkin ia baru kembali dari ruang serbaguna.
“Kenapa di situ?” tanyanya.
Aku melihat telepon sebentar, lalu menunduk.
“Nggak apa-apa, Kak.”
Kak Salma berjalan mendekat. Ia tidak langsung melihat ke arah telepon. Tidak juga bertanya apakah aku ingin menghubungi rumah.
Ia hanya melihat wajahku sebentar.
“Mau duduk dulu?”
Aku menatap kursi plastik di dekat pintu kantor.
Kursi itu kosong.
Aku bisa duduk.
Aku bisa bilang aku capek.
Atau aku bisa bilang hafalanku tadi tersendat dan sejak itu dadaku terasa tidak enak.
Bisa juga aku bilang soal Risa. Soal kalimat yang hampir keluar.
Tapi yang paling dekat ke mulutku justru kalimat yang tidak berani kuucapkan.
Aku ingin pulang sebentar.
Kak Salma masih menunggu.
“Najwa?” panggilnya lagi, lebih pelan.
Aku menggenggam buku setoran lebih erat.
Sejak pagi, aku berhasil menahan beberapa kalimat.
Tapi aku belum tahu, diamku hari itu sedang menjaga orang lain, atau hanya membuatku makin penuh.
Aku membuka mulut.
Kali ini, aku tidak yakin ingin menjawab apa.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.