Lemari Kecil yang Tidak Bisa Berbohong
Tapi pagi itu, saat aku membuka lemari untuk mengambil kerudung putih, satu gulungan kerudung jatuh tepat ke.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Sepraiku sudah bersih.
Kasurku juga sudah rapi sebisanya.
Tapi pagi itu, saat aku membuka lemari untuk mengambil kerudung putih, satu gulungan kerudung jatuh tepat ke kakiku.
Aku menatapnya sebentar.
Dari belakangku, suara Risa terdengar masih serak karena baru bangun.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Wa, kerudungmu kabur.”
Aku menunduk mengambilnya. “Jatuh.”
“Iya. Kabur dengan cara jatuh.”
Aku tidak menjawab.
Aku menarik napas, lalu membuka pintu lemari lebih lebar. Seharusnya aku tinggal mengambil kerudung, menutup lemari, lalu bersiap seperti biasa. Tapi begitu pintunya terbuka, isi lemari kecil itu memperlihatkan keadaan yang selama beberapa hari terakhir pura-pura tidak kulihat.
Kerudung putih tercampur dengan baju harian.
Handuk cadangan terlipat miring, hampir menyentuh tempat sabun.
Vitamin yang Bunda kirim terselip di antara kaus kaki.
Buku panduan hijau terjepit di bawah plastik bekas pembungkus sandal.
Buku setoran hafalan miring di samping tumpukan baju.
Satu peniti tersangkut di ujung gamis.
Aku mengerutkan kening.
Seingatku, kemarin lemari ini belum seperti itu.
Atau mungkin sudah.
Aku saja yang tidak benar-benar melihat.
“Anak-anak,” suara Kak Salma terdengar dari depan kamar.
Beberapa anak langsung bergerak lebih cepat. Ada yang menarik mukena dari jemuran kecil. Ada yang mencari kaus kaki. Ada yang menutup buku dengan terburu-buru.
Kak Salma berdiri di ambang pintu sambil memegang catatan kecil.
“Habis sarapan, kamar dicek ringan, ya. Nggak lama. Pastikan lemari tertutup rapi, barang mandi di tempatnya, makanan jangan disimpan sembarangan.”
Risa yang sedang mencari peniti jilbabnya di bawah bantal langsung berhenti.
“Kak, dicek ringan itu seberapa ringan?”
Kak Salma menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Seringan kalian merapikannya dari sekarang.”
Risa menoleh ke arahku.
Aku menutup pintu lemari sedikit, tapi terlambat. Ia sudah melihat bagian dalamnya.
Matanya membesar sedikit.
“Wa.”
“Apa?”
“Lemari kamu...” Ia berhenti sebentar, seperti sedang mencari kalimat yang tidak terlalu menyakitkan. “...lagi butuh ditolong.”
Aku menutup pintunya lebih cepat.
“Punyamu juga berantakan.”
“Punyaku memang dari awal nggak menjanjikan apa-apa.”
Hana yang sedang melipat jilbab menoleh. “Ris, peniti jilbabmu udah ketemu?”
Risa mengangkat bantal. “Belum.”
“Berarti jangan komentari lemari orang dulu.”
“Aku cuma bantu komentar.”
“Komentarmu nggak bikin penitinya ketemu.”
Risa menunduk lagi sambil menggumam, “Baiklah. Dunia memang keras untuk orang yang peduli.”
Aku menatap pintu lemari yang baru saja kututup.
Di luar, santri-santri mulai bersiap. Suara sandal bergeser. Suara pintu kamar mandi dibuka. Ada yang memanggil temannya dari lorong. Dari arah dapur, terdengar piring stainless ditumpuk.
Pondok bergerak seperti biasa.
Lemariku juga tetap seperti tadi.
Kecil.
Penuh.
Sebentar lagi akan dicek.
Aku membuka pintunya lagi pelan-pelan.
Kerudung yang tadi jatuh sudah kupegang, tapi sekarang aku tidak tahu harus menaruhnya di mana. Kalau kutaruh di atas, tumpukan baju akan makin tinggi. Kalau kuselipkan di samping, nanti kusut. Kalau kumasukkan asal, mungkin sore nanti akan jatuh lagi.
Di rumah, kerudungku punya satu bagian sendiri di lemari besar. Baju sekolah punya gantungan sendiri. Baju rumah punya laci sendiri. Perlengkapan mandi tidak pernah dekat dengan buku. Vitamin biasanya ada di meja kecil, bukan di antara kaus kaki.
Di sini, semuanya harus masuk ke ruang kecil yang dulu mungkin hanya cukup untuk sebagian kerudungku di rumah.
Aku menatap isi lemari itu dengan napas yang mulai pendek.
“Kenapa lemarinya kecil sekali,” gumamku.
Risa langsung menjawab dari lantai. “Karena kalau besar, namanya kamar.”
Aku meliriknya.
Ia masih meraba-raba bawah ranjang dengan satu tangan. “Aku cuma bilang, Wa. Lemari kecil itu kalau salah lipat satu baju aja, langsung penuh.”
Hana berdiri dari ranjangnya, membawa tumpukan jilbab yang sudah rapi.
“Boleh lihat?” tanyanya.
Aku hampir menjawab tidak.
Entah kenapa, pertanyaan sesederhana itu membuatku merasa seperti isi lemariku adalah isi kepalaku sendiri. Kalau ada yang melihat, mereka akan tahu aku belum seberes yang terlihat dari luar.
Tapi Kak Salma tadi sudah bilang kamar akan dicek.
Aku menggeser tubuh sedikit.
Hana tidak langsung menyentuh barang-barangku. Ia hanya melihat sebentar.
“Barang mandi jangan dekat buku,” katanya.
“Aku tahu.”
“Vitamin juga jangan di antara kaus kaki.”
“Aku juga tahu.”
Hana mengangguk pelan. “Kalau begitu tinggal dipindah.”
Kalimat itu biasa saja. Tidak menyindir. Tidak menggurui.
Tapi tetap membuat wajahku panas.
Karena benar.
Ada hal-hal yang sebenarnya aku tahu, tapi tidak kulakukan. Bukan karena tidak bisa. Hanya karena aku menunda. Lalu menunda lagi. Lalu tiba-tiba semuanya jatuh ke kakiku dalam bentuk kerudung putih.
Risa akhirnya menemukan peniti jilbabnya. Ia mengangkatnya seperti baru menemukan barang berharga.
“Alhamdulillah. Dia masih hidup.”
Hana menoleh. “Cepat pakai.”
Risa berdiri, lalu mendekat ke arah lemariku. “Aku bantu juga, ya. Tapi jangan berharap banyak. Aku lebih cocok jadi saksi.”
Aku ingin menolak.
Tapi tangan Hana sudah menunjuk bagian bawah lemari.
“Yang sering dipakai taruh depan. Yang jarang dipakai belakang. Barang mandi di kotak ini aja. Buku jangan di bawah handuk, nanti lembap.”
Aku menarik napas, lalu mulai mengeluarkan barang satu per satu.
Baju harian.
Kerudung putih.
Gamis rumahan.
Handuk cadangan.
Vitamin.
Tempat sabun.
Buku panduan hijau.
Buku setoran hafalan.
Plastik bekas.
Beberapa peniti.
Satu kaus kaki yang pasangannya entah di mana.
Risa duduk bersila di lantai, menatap barang-barang itu.
“Ini bukan berantakan,” katanya. “Ini barang-barangnya cuma belum tahu mau diam di mana.”
Aku tidak menanggapi.
Aku terlalu sibuk memisahkan baju dan kerudung. Beberapa lipatan sudah tidak berbentuk. Ada baju yang setengah terlipat, setengah tergulung. Ada kerudung yang ujungnya kusut. Aku baru sadar selama ini aku sering memasukkan barang dengan pikiran, nanti saja kurapikan.
Nanti.
Kata itu ternyata bisa memenuhi lemari juga.
Hana mengambil plastik bekas pembungkus sandal.
“Ini masih dipakai?”
Aku melihatnya. “Nggak.”
“Dibuang saja?”
Aku mengangguk.
Hana menyerahkannya kepada Risa.
Risa menerimanya dengan wajah serius. “Aku bagian buang-buang?”
“Kamu bagian jangan ganggu.”
“Itu tugas berat.”
Aku hampir tersenyum, tapi hanya sebentar.
Tanganku berhenti saat menyentuh gamis rumahan dari Bunda.
Gamis itu dulu datang dalam paket. Lipatannya rapi. Wanginya seperti lemari rumah. Waktu pertama kali kubuka, aroma itu langsung membuat napasku tertahan, seperti rumah masuk ke kamar pondok lewat kain.
Sekarang wanginya tinggal sedikit.
Tidak hilang sepenuhnya.
Tapi tidak sekuat dulu.
Aku mengangkat gamis itu dan meletakkannya di pangkuan. Ada label kecil di bagian dalam. Namaku tertulis di sana dengan spidol hitam.
Najwa A.
Tulisan Bunda.
Huruf N-nya masih lebih besar dari huruf lain, miring sedikit ke kanan. Tinta di ujung huruf mulai pudar karena dicuci.
Aku mengusap bagian label itu dengan ibu jari.
Tidak ada yang bicara.
Risa yang biasanya cepat mengisi diam, kali ini hanya memegang plastik bekas di tangannya. Hana melipat satu kerudung putih tanpa melihat terlalu lama ke arahku.
Aku tidak tahu apakah mereka sengaja diam atau kebetulan.
Tapi aku tidak keberatan.
Gamis itu tidak salah. Label itu juga tidak salah.
Bunda menulis namaku di sana supaya barangku tidak tertukar. Supaya aku punya cukup pakaian. Supaya kalau ada yang hilang, orang tahu itu milikku.
Bunda sering begitu.
Mengurus sesuatu sebelum aku sempat memintanya.
Kadang itu membuatku merasa dijaga.
Kadang membuatku merasa diatur.
Kadang dua-duanya bercampur sampai aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.
“Wa,” kata Hana pelan.
Aku mengangkat wajah.
“Yang itu mau ditaruh depan atau belakang?”
Aku melihat gamis di tanganku.
Kalau kutaruh depan, setiap membuka lemari aku akan melihatnya.
Mungkin itu baik.
Mungkin juga tidak.
Karena kadang, melihat barang dari rumah membuatku ingin pulang sebentar. Bukan pulang sungguhan. Hanya pulang di dalam kepala. Membuka pintu kamar sendiri. Menjatuhkan tas di kasur. Mendengar Bunda bicara dari dapur. Melihat lampu ruang tengah yang masih menyala.
Lalu setelah itu aku sadar aku masih di sini.
Di kamar pondok.
Dengan lemari kecil.
Dengan jadwal yang tidak menunggu hatiku siap.
Aku melipat gamis itu pelan-pelan. Tidak serapi Bunda. Tapi lebih rapi daripada tadi.
“Belakang saja,” kataku.
Risa menoleh sedikit.
Aku cepat menambahkan, “Jarang dipakai.”
Tidak ada yang membantah.
Hana hanya mengangguk, lalu memberi ruang di bagian belakang lemari.
Aku memasukkan gamis itu ke sana.
Sebentar saja tanganku tertahan.
Lalu kulepaskan.
Bukan karena aku tidak ingin melihatnya.
Aku hanya tidak ingin setiap membuka lemari, napasku tertahan lagi.
Setelah itu, barang-barang lain terasa sedikit lebih mudah dipindahkan.
Kerudung harian kutaruh di depan.
Baju harian di bawahnya.
Vitamin di sudut kecil yang tidak dekat dengan kaus kaki.
Tempat sabun masuk ke kotak mandi.
Handuk cadangan kulipat ulang, lalu kutaruh di sisi kanan.
Buku panduan hijau sempat kupegang lebih lama.
Buku itu dulu terasa seperti bukti bahwa hidupku diatur dari halaman ke halaman. Aturan bangun. Aturan makan. Aturan telepon. Aturan barang. Aturan diam di tempat yang tepat.
Aku pernah ingin menyelipkannya sedalam mungkin.
Tapi selama beberapa hari terakhir, aku justru sering mencarinya.
Untuk jadwal.
Untuk aturan surat.
Untuk hal-hal kecil yang membuatku tidak terlalu tampak bingung.
Aku menaruh buku itu di bagian depan lemari.
Tidak paling atas.
Tapi mudah diambil.
Buku setoran hafalan kutaruh di sampingnya. Tadi buku itu hampir terlipat karena tertindih baju. Aku merapikan sampulnya sebentar dengan telapak tangan, lalu menyelipkannya di tempat yang lebih aman.
Risa memperhatikan.
“Buku panduan naik pangkat.”
Aku menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Dulu dia kayak disembunyikan. Sekarang dikasih tempat resmi.”
Aku menahan jawaban sebentar, lalu pura-pura sibuk merapikan kerudung.
“Biar nggak hilang.”
“Iya,” kata Risa. “Aman banget jawabannya.”
Hana menahan senyum.
Aku menyusun peniti dalam kotak kecil. Tiga peniti. Satu jarum pentul. Satu karet rambut yang entah kenapa ada di sana. Kaus kaki tanpa pasangan kutaruh di samping, menunggu pasangannya ditemukan atau dinyatakan hilang dengan terhormat oleh Risa.
“Kalau semuanya mau kelihatan, ya penuh,” kata Hana sambil memindahkan handukku sedikit lebih ke kanan. “Yang dipakai tiap hari taruh depan saja.”
Aku diam.
Kalimat itu sebenarnya tentang lemari.
Seharusnya hanya tentang lemari.
Tapi entah kenapa, aku mendengarnya lebih lama dari yang diperlukan.
Risa melirik Hana. “Itu tadi tentang lemari, kan?”
Hana menjawab datar, “Iya. Lemari.”
Aku menatap tumpukan baju di depanku.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Ada banyak hal yang rasanya ingin kupikirkan sekaligus. Rumah. Pondok. Bunda. Ayah. Surat pendek itu. Telepon yang belum selesai.
Tapi kalau semuanya muncul bersamaan, kepalaku terasa penuh.
Aku mengambil catatan kecil dari Bunda yang dulu kuselipkan di buku panduan. Kertasnya masih ada. Lipatannya mulai tidak terlalu rapi karena beberapa kali kubuka dan kututup.
Najwa, Bunda kirim beberapa keperluan tambahan. Kalau kurang, bilang lewat Kak Salma. Jaga kesehatan. Ikuti aturan pondok baik-baik.
Bunda.
Aku membacanya sekali.
Tidak ada kalimat baru.
Tentu saja tidak ada. Kertas tidak bisa menambah kalimat sendiri hanya karena aku berharap.
Aku melipatnya kembali.
Dulu aku menyimpannya di bagian depan buku panduan, seperti sesuatu yang mungkin akan kubaca lagi sewaktu-waktu. Pagi itu, aku menyelipkannya di bagian dalam sampul buku, lebih rapi dari sebelumnya.
Tidak terlalu terlihat.
Tapi tidak hilang.
Risa sudah mulai membereskan plastik bekas yang tadi ia pegang.
“Wa, ini dibuang semua?”
Aku melihatnya. “Iya.”
“Yakin? Nggak ada nilai sejarah?”
“Buang, Ris.”
“Baik. Plastik ini pensiun hari ini.”
Hana menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya bergerak.
Aku menutup lemari.
Lalu membukanya lagi.
Risa menatapku. “Kenapa dibuka lagi?”
“Mau lihat.”
“Takut dia berubah pikiran?”
Aku tidak menjawab.
Isi lemari itu masih belum sempurna. Tumpukan kerudung agak miring. Baju harian tidak serapi milik Hana. Handuk cadangan sedikit menonjol di sisi kanan. Tapi saat pintunya dibuka, tidak ada barang yang jatuh.
Itu saja sudah terasa cukup.
Untuk pagi itu.
Aku mengambil kerudung putih dari tumpukan depan. Kali ini mudah. Tidak menarik barang lain. Tidak membuat vitamin ikut bergeser. Tidak membuat buku panduan tertekuk.
“Lumayan,” kata Risa.
Aku menoleh.
Ia mengangguk seolah sedang memberi penilaian penting. “Kalau dibuka, dia nggak langsung nyerang.”
“Terima kasih atas penilaiannya.”
“Sama-sama. Aku siap dipanggil kapan saja untuk menilai lemari berikutnya.”
Hana berkata, “Nilai lemarimu sendiri dulu.”
Risa pura-pura tidak mendengar.
Setelah sarapan, Kak Salma benar-benar mengecek kamar. Tidak lama. Ia hanya melihat apakah barang-barang tertata, lantai bersih, perlengkapan mandi tidak tercecer, dan tidak ada makanan yang disimpan sembarangan.
Saat sampai di lemariku, aku berdiri agak kaku.
Kak Salma berhenti sebentar.
“Najwa, boleh Kakak lihat?”
Aku mengangguk.
Kak Salma membuka pintunya sedikit, hanya cukup untuk memastikan barang-barang tidak tercecer.
Aku menahan napas.
Padahal tidak ada yang aneh.
Lemari itu hanya lemari.
Kecil, penuh, tapi cukup rapi.
Kak Salma melihat sebentar, lalu menutupnya kembali.
“Sudah lebih mudah dipakai, ya,” katanya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku hanya mengangguk.
Kak Salma tidak memuji panjang. Tidak bertanya siapa yang membantu. Tidak membuatku malu. Ia hanya mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu berpindah ke lemari anak lain.
Entah kenapa, itu membuatku lega.
Kadang aku tidak butuh disebut berhasil.
Aku hanya butuh tidak dianggap gagal.
Siang harinya, lemariku beberapa kali kubuka.
Mengambil buku.
Mengambil vitamin.
Menyimpan kerudung yang sudah kupakai.
Setiap kali pintunya terbuka, aku tidak langsung merasa berat seperti sebelumnya. Gamis Bunda tetap ada di belakang. Catatan Bunda tetap ada di dalam buku. Label nama tetap tertulis di kerudungku.
Semuanya masih ada.
Hanya tidak semuanya berada di depan.
Menjelang malam, setelah kegiatan selesai, kamar mulai tenang. Beberapa anak sudah duduk di ranjang masing-masing. Ada yang mengulang hafalan pelan. Ada yang merapikan buku. Risa sedang mencoba melipat kaus kaki dengan cara yang menurut Hana tidak perlu disebut melipat.
Aku duduk di depan lemari.
Bukan karena ada yang harus diambil.
Hanya duduk sebentar.
Hana menoleh dari ranjangnya. “Kenapa?”
“Nggak.”
Risa langsung menyahut, “Dia lagi baikan sama lemarinya.”
Aku mengambil satu peniti dari kotak kecil, lalu meletakkannya di kasur Risa.
“Nih. Cadangan. Kalau besok hilang lagi.”
Risa memungutnya.
“Masya Allah. Aku terselamatkan.”
“Itu punyaku.”
“Sudah masuk wilayahku.”
“Hapus saja dari daftar kepemilikan,” kata Hana tanpa menoleh.
Aku menunduk, dan kali ini aku benar-benar tersenyum sedikit.
Tidak lama.
Tapi cukup.
Kak Salma muncul di pintu kamar ketika kami mulai bersiap tidur.
“Anak-anak,” katanya, “malam ini siapkan buku setoran dari sekarang, ya. Besok setelah Subuh jadwalnya agak padat. Jangan sampai ada yang tertinggal.”
Suasana kamar berubah sedikit.
Ada yang langsung mencari buku.
Ada yang bertanya jadwal setoran apa.
Risa menatap langit-langit ranjang. “Besok padat setelah Subuh? Padahal setelah Subuh itu tubuh masih proses nerima kenyataan.”
Hana sudah mengambil bukunya. “Makanya siapkan sekarang.”
Aku membuka lemari pelan-pelan.
Buku panduan hijau ada di depan.
Di sampingnya, buku setoran hafalan yang tadi kupindahkan juga terlihat. Kali ini, aku tidak perlu membongkar tumpukan baju untuk mengambilnya.
Aku mengambil buku setoran itu, lalu meletakkannya di atas kasur bersama kerudung untuk besok pagi.
Semuanya lebih siap daripada biasanya.
Seharusnya itu membuatku tenang.
Tapi saat mendengar kata jadwal padat, rasa tidak enak tetap muncul.
Aku menatap buku setoran di atas kasur.
Besok pagi, mungkin aku tidak akan kehilangan kerudung.
Mungkin aku tidak akan mencari buku.
Mungkin lemariku tidak akan membuatku panik.
Tapi aku tahu, ada hal lain yang lebih sulit dijaga daripada barang.
Mulutku.
Nadaku.
Keinginanku untuk menjawab cepat saat ditegur.
Keinginanku untuk menyerah saat satu hari terasa terlalu penuh.
Aku menutup lemari pelan-pelan.
Malam itu, barang-barangku akhirnya punya tempat.
Besok pagi, aku belum tahu apakah mulutku bisa serapi itu juga.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.