Wangi Itu Ternyata Tidak Datang Sendiri
Pagi itu, setelah sarapan dan kegiatan kebersihan selesai, Kak Salma berdiri di depan kamar sambil memegang daftar jadwal. Beberapa anak masih merapikan.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku baru menyebut wangi seprai sebagai hal yang kurindukan.
Esoknya, aku baru tahu bahwa wangi itu ternyata tidak datang sendiri.
Pagi itu, setelah sarapan dan kegiatan kebersihan selesai, Kak Salma berdiri di depan kamar sambil memegang daftar jadwal. Beberapa anak masih merapikan lemari. Ada yang menggulung sajadah. Ada yang mencari kaus kaki yang entah masuk ke bawah ranjang siapa.
“Kamar tiga, hari ini cuci seprai, ya. Habis ini bawa seprai masing-masing ke tempat cuci belakang.”
Risa yang sedang mencari peniti langsung menoleh.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Seprai juga punya jadwal, Kak?”
“Punya,” jawab Kak Salma. “Kalau nggak dijadwalkan, nanti semua merasa seprai masih baik-baik saja.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Aku tidak ikut tertawa.
Kata seprai membuat tanganku berhenti di pintu lemari.
Semalam, di halaqah, aku baru saja menyebut wangi seprai yang baru diganti Bunda.
Sekarang, pagi ini, aku harus mencuci sepraiku sendiri.
“Jangan ditunda, ya,” kata Kak Salma lagi. “Mataharinya lagi bagus. Kalau dicuci sekarang, sore insya Allah sudah kering.”
Itu terdengar masuk akal.
Tapi tetap saja, aku berdiri beberapa detik lebih lama sebelum menarik seprai dari kasurku.
Seprai pondokku polos. Warnanya agak pudar, tapi bersih. Ujung jahitannya sedikit kasar. Semalam aku baru menariknya sampai rapi. Sekarang harus kulepas lagi.
Risa sudah lebih dulu menggulung seprai miliknya.
“Wa, jangan dilihatin terus,” katanya. “Dia nggak bakal jalan sendiri ke tempat cuci.”
Aku melipat sepraiku asal-asalan. “Aku tahu.”
“Nah. Berarti tinggal jalan.”
Hana mengambil ember dari bawah rak. “Sabunnya sedikit saja, Wa. Jangan kebanyakan.”
Risa menatap Hana. “Kamu ngomongnya kayak lagi kasih nasihat hidup.”
“Karena kamu biasanya menuang sabun seperti mau mencuci seprai sekamar.”
Risa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Aku hampir tersenyum.
Hampir.
Kami berjalan ke tempat cuci di belakang asrama. Tempat itu tidak terlalu luas. Ada beberapa keran berjajar, lantai semen yang basah, ember-ember warna-warni, dan tali jemuran panjang di sisi halaman. Matahari sudah naik, tapi belum terlalu panas. Dari arah dapur, masih terdengar suara panci dan air mengalir.
Beberapa santri sudah mulai mencuci. Ada yang membasahi seprai di ember besar. Ada yang menyikat bagian pinggirnya. Ada yang memeras kain sambil mengeluh pelan.
Aku meletakkan sepraiku di ember.
Awalnya, kukira mencuci seprai tidak akan terlalu sulit.
Seprai hanya kain besar.
Dibasahi. Diberi sabun. Dibilas. Diperas. Dijemur.
Kelihatannya sederhana.
Tapi setelah seprai itu basah, kainnya menjadi berat. Air memenuhi lipatan-lipatannya. Saat kuangkat sedikit, ujung satunya masih menempel di ember. Ketika kutarik, air menetes ke kakiku.
Risa melihatku.
“Wa, seprai itu jangan diajak debat. Diperas.”
“Aku lagi ngerapikan.”
“Dia basah. Dia nggak butuh dirapikan dulu.”
Aku menahan napas, lalu mencoba mengaduk seprai di dalam ember. Sabun yang kutuang ternyata terlalu banyak. Busa naik cepat sampai hampir melewati pinggir ember.
Hana melirik. “Kebanyakan sabun.”
Aku melihat busa itu. “Tadi sedikit kok.”
“Sedikit versi rumah atau sedikit versi pondok?”
Aku diam.
Risa tertawa pelan. “Tenang. Di pondok, semua orang pernah kebanyakan sabun.”
Hana mengambil gayung dan menuang air perlahan. “Nanti bilasnya agak lama. Nggak apa-apa. Pelan-pelan saja.”
Aku mengangguk.
Aku mencoba mengucek kain itu. Bukan karena kotor sekali, tapi karena semua anak melakukannya. Tanganku bergerak mengikuti lipatan kain. Air sabun terasa licin. Ujung seprai beberapa kali jatuh ke lantai semen yang basah, lalu harus kumasukkan lagi ke ember.
Di rumah, seprai tidak pernah terlihat seperti ini.
Di rumah, seprai muncul di kamarku sudah rapi. Kadang aku pulang sekolah, pintu kamar kubuka, dan kasur sudah bersih. Bantal sudah ditepuk. Selimut sudah dilipat di ujung. Wanginya lembut, seperti lemari Bunda dan kain yang dijemur lama di halaman.
Aku sering melempar tas di atasnya.
Kadang masih dengan seragam.
Kadang setelah makan camilan.
Kadang sambil membawa buku yang ujungnya kotor.
Aku tidak pernah memikirkan siapa yang melepas, mencuci, menjemur, lalu memasangnya lagi.
Di ember itu, kain basah di tanganku terasa berat.
“Sudah, sekarang bilas,” kata Hana.
Aku menuang air bersih. Busa masih banyak. Aku menuang lagi. Masih ada. Aku menekan-nekan kain itu dengan kedua tangan. Air berubah keruh sedikit, lalu kubuang.
Risa sudah selesai lebih dulu.
Aku tidak tahu bagaimana caranya.
“Kenapa punyamu cepat?” tanyaku.
“Pengalaman hidup.”
Hana berkata, “Karena tadi dia cuma pakai sabun sedikit.”
Risa mengangguk bangga. “Ilmu penting.”
Aku kembali membilas sepraiku.
Setelah beberapa kali, busanya mulai hilang. Tapi pekerjaan berikutnya ternyata lebih sulit.
Memeras seprai.
Aku mengangkat kain itu dengan dua tangan. Air langsung turun deras ke ember. Beratnya membuat bahuku ikut tertarik. Aku mencoba memelintirnya, tapi kainnya terlalu lebar. Satu bagian terputar, bagian lain masih menggantung.
Risa menatapku sebentar.
“Ini seprai, Wa. Memang sukanya melawan.”
“Aku bisa.”
“Aku belum bilang kamu nggak bisa.”
Hana mendekat. “Pegang dua ujungnya. Putar pelan saja. Jangan kencang-kencang, nanti malah susah dibuka.”
Aku mengikuti arahan Hana.
Dua ujung kain kupegang. Kupelintir pelan. Air menetes lebih banyak. Pergelangan tanganku terasa tegang. Setelah beberapa kali, kain itu memang jadi lebih ringan, tapi tanganku mulai kesat.
Tidak sakit.
Hanya tidak biasa.
Aku memeras lagi.
Di rumah, aku tidak pernah melihat tangan Bunda setelah mencuci seprai.
Aku hanya melihat hasilnya.
Kasur rapi.
Bantal mengembang.
Wangi yang membuat kamar terasa seperti kamar sendiri.
“Sudah cukup,” kata Hana. “Nanti sisanya kering di jemuran.”
Kami membawa seprai ke halaman belakang. Tali jemuran sudah mulai penuh. Seprai putih, biru, hijau muda, dan beberapa kain bermotif bunga tergantung berjejer. Angin membuat beberapa ujungnya bergerak pelan.
Aku mencari tempat kosong.
Risa sudah menggantung seprai miliknya, meski agak miring. Ia menepuknya dua kali seolah baru menyelesaikan pekerjaan besar.
“Lihat. Nggak rapi, tapi aman.”
“Itu miring,” kata Hana.
“Yang penting nggak jatuh.”
Aku membentangkan sepraiku. Ternyata lebih susah daripada kelihatannya. Saat satu sisi sudah naik ke tali, sisi lain melorot. Ketika kuangkat sisi yang melorot, bagian tengahnya menumpuk. Aku mencoba meratakannya, tapi ujung kanan malah menyentuh lantai.
“Eh, eh,” Risa cepat membantu mengangkat. “Jangan sampai dia mandi lagi.”
Aku menahan sisi kiri.
Hana memasang penjepit di bagian tengah. “Tarik dikit ke kanan. Nah, iya. Sekarang ujungnya.”
Aku mengikuti.
Akhirnya seprai itu tergantung juga.
Tidak serapi milik Hana.
Tidak seaneh milik Risa.
Cukup.
Air menetes dari ujung kain ke tanah. Satu tetes. Lalu tetes berikutnya.
Aku berdiri sebentar, menatap seprai itu.
Matahari mulai terasa hangat di punggung. Tanganku berbau sabun. Bukan wangi pelembut pakaian di rumah. Bukan wangi gamis yang Bunda kirim. Bukan wangi seprai yang kemarin kusebut di halaqah.
Ini bau sabun pondok.
Bau kain basah.
Bau matahari yang baru mulai bekerja.
“Kalau kena panas begini,” kata Hana sambil menata embernya, “nanti wanginya beda.”
“Beda gimana?” tanyaku.
“Wangi matahari. Wangi bersih.”
Risa menyela, “Yang penting bukan wangi kaki.”
Hana menatapnya.
“Aku cuma ngasih standar minimal.”
Aku menunduk, melihat tanganku sendiri. Telapak tanganku sedikit memerah. Jari-jariku terasa kesat karena sabun dan kain basah. Aku mengusapnya ke ujung jilbab, lalu berhenti karena sadar itu bukan ide yang baik.
Kami kembali ke kamar dengan ember masing-masing. Seprai ditinggal di jemuran sampai sore. Setelah Zuhur, aku sempat lewat ke belakang asrama dan melihat sepraiku masih tergantung di sana. Satu ujungnya terlipat sedikit karena angin. Aku hampir membetulkannya, tapi ada santri lain sedang menjemur pakaian, jadi aku hanya melihat sebentar lalu pergi.
Sore harinya, setelah Ashar, Kak Salma mengingatkan kami untuk mengangkat jemuran yang sudah kering.
Matahari hari itu memang cukup kuat. Sepraiku kering. Tidak selembut seprai rumah, tapi bersih. Saat kuangkat, baunya berbeda. Ada bau sabun yang tertinggal tipis. Ada bau panas matahari. Ada sedikit bau angin dari halaman belakang.
Aku melipatnya sebisaku.
Tidak terlalu rapi.
Tapi tidak berantakan.
Malamnya, setelah kegiatan selesai, aku memasang seprai itu di kasur. Sudut pertama masuk. Sudut kedua agak longgar. Sudut ketiga membuat sudut pertama tertarik lagi. Aku menarik napas, lalu mengulang dari awal.
Risa yang sudah naik ke ranjang atas melihatku dari pinggir kasurnya.
“Wa, kamu sedang pasang seprai atau menyusun strategi perang?”
“Diam.”
Risa tertawa kecil, lalu tidak menggangguku lagi.
Hana berkata dari ranjang sebelah, “Bawahnya dulu, Wa. Baru atasnya.”
Aku mengikuti.
Akhirnya seprai itu terpasang.
Tidak sekencang di rumah.
Tidak serapi kalau Bunda yang memasang.
Tapi cukup untuk kutiduri malam itu.
Aku duduk di tepi kasur. Tanganku menyentuh permukaan kain. Bersih. Agak kaku. Wanginya juga bukan wangi Bunda.
Aku teringat kamarku di rumah.
Teringat seprai yang sering sudah terganti tanpa pernah kuminta.
Teringat bantal yang kadang kutemukan sudah rapi lagi setelah kutinggal berantakan.
Teringat Bunda yang sering masuk kamarku tanpa banyak bicara, lalu keluar lagi sambil membawa pakaian kotor.
Dulu aku sering merasa terganggu kalau Bunda masuk kamar.
Sekarang aku melihat seprai pondok di bawah tanganku dan tidak tahu harus merasa apa.
Malam itu, aku berbaring di atas seprai yang kupasang sendiri. Sudutnya belum serapi di rumah. Wanginya juga bukan wangi Bunda.
Tapi sebelum tidur, aku melihat tanganku yang masih terasa kesat karena memeras kain tadi siang.
Baru kali itu aku bertanya-tanya, tangan Bunda dulu sering seperti ini juga atau tidak.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.