Aku Baru Berani Menyebut Satu Hal
Malam itu, aku duduk di halaqah dengan satu pertanyaan yang belum sempat kutanyakan kepada.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Malam itu, aku duduk di halaqah dengan satu pertanyaan yang belum sempat kutanyakan kepada Bunda.
Sejak aku keluar dari kantor asrama, pertanyaan itu masih ikut denganku.
Di rumah...
Kamar Najwa...
Sepi nggak?
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku tidak mengatakannya kepada siapa-siapa.
Saat kembali ke kamar, Risa sedang memasukkan buku ke dalam tas kecilnya. Hana duduk di tepi ranjang sambil merapikan jilbab.
“Teleponnya aman?” tanya Risa.
Aku meletakkan mukena di atas kasur.
“Aman.”
Risa menatapku sebentar.
“Aman itu jawaban paling aman, ya.”
Aku menoleh.
Risa langsung mengangkat dua tangannya.
“Sudah. Aku diam.”
Hana hanya melihat kami sebentar, lalu menutup bukunya. Ia tidak bertanya apa-apa. Entah kenapa, diamnya Hana terasa lebih mudah diterima daripada pertanyaan tambahan.
Tidak lama kemudian, kami berjalan menuju serambi mushala untuk halaqah malam.
Langit di luar sudah gelap. Lampu-lampu pondok menyala putih. Dari arah dapur, masih terdengar suara piring ditumpuk. Beberapa santri berjalan beriringan sambil membawa buku kecil dan mushaf.
Serambi mushala tidak terlalu luas. Lantainya dingin. Tikar tipis digelar memanjang. Kami duduk melingkar, tidak terlalu rapat, tapi cukup dekat untuk saling mendengar.
Ustazah Laila sudah duduk lebih dulu di dekat tiang serambi. Di pangkuannya ada buku catatan kecil. Tidak ada meja. Tidak ada pengeras suara. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan bisik-bisik santri yang perlahan berhenti.
“Assalamu’alaikum,” kata Ustazah Laila.
“Wa’alaikumussalam,” jawab kami hampir bersamaan.
Ustazah Laila memandang kami satu per satu. Tidak lama. Tidak membuat siapa pun merasa diperiksa.
“Malam ini tidak panjang,” katanya. “Ustazah hanya ingin kalian menyebut satu hal dari rumah yang masih sering teringat.”
Beberapa anak langsung saling melirik.
Ustazah Laila tersenyum kecil.
“Tidak harus cerita panjang. Satu hal saja. Kalau belum ingin menjawab, boleh bilang belum siap.”
Aku menunduk.
Satu hal dari rumah.
Di kepalaku, rumah tidak datang sebagai bentuk yang utuh.
Ia datang sepotong-sepotong.
Suara pintu mobil Ayah yang ditutup pagi-pagi.
Lampu ruang tengah yang sering masih menyala meski semua orang sudah masuk kamar.
Meja makan yang rapi, tapi jarang benar-benar ramai.
Kamar yang pintunya bisa kututup kapan saja.
Santri di sebelah kanan Ustazah Laila mendapat giliran pertama.
“Masakan Ibu,” katanya pelan.
Ustazah Laila mengangguk. “Apa yang paling sering teringat?”
“Sayur bening. Yang banyak jagungnya.”
Beberapa anak tersenyum.
Anak berikutnya menjawab, “Adik saya. Kalau tidur suka nendang.”
Giliran berputar pelan.
Ada yang menyebut suara motor Bapaknya pulang kerja.
Ada yang menyebut bau dapur pagi.
Ada yang menyebut kucing di rumah.
Ada yang menyebut kasur yang tidak berbunyi saat dipakai bergerak.
Jawaban mereka pendek-pendek.
Tidak ada yang terdengar seperti cerita besar.
Setelah beberapa jawaban, anak-anak mulai lebih pelan.
Tidak ada yang banyak bercanda lagi.
Saat giliran Risa tiba, ia duduk lebih tegak.
“Nasi goreng Ibu,” katanya.
Ustazah Laila mengangguk.
Risa menambahkan, “Yang agak gosong sedikit. Kalau gosongnya banyak, itu bukan rindu. Itu musibah.”
Beberapa anak tertawa pelan.
Ustazah Laila ikut tersenyum. “Baik. Nasi goreng Ibu yang agak gosong sedikit.”
Risa mengangguk puas, seolah jawabannya sangat resmi.
Giliran Hana setelah itu.
Hana menunduk sebentar.
“Suara Ibu membangunkan Subuh,” katanya.
Tidak ada yang tertawa.
Ustazah Laila mengangguk pelan.
“Masya Allah.”
Hana menutup jawabannya sampai di situ.
Lalu giliran itu mendekat kepadaku.
Aku merapikan ujung jilbab di pangkuan. Padahal tidak ada yang perlu dirapikan.
Aku sudah menyiapkan jawaban mudah.
Belum tahu.
Atau tidak ada.
Dua jawaban itu terasa aman. Tidak membuka apa-apa. Tidak membuat siapa pun bertanya lagi.
Tapi malam itu, dua jawaban itu juga terasa terlalu jauh dari yang sebenarnya.
“Najwa,” panggil Ustazah Laila lembut.
Aku mengangkat wajah.
“Kalau belum siap, tidak apa-apa.”
Aku hampir mengangguk.
Hampir memilih diam.
Tapi saat itu, aku teringat gamis rumahan yang Bunda kirim kemarin. Gamis itu sudah dicuci dan dilipat rapi. Dari lipatannya keluar wangi pelembut pakaian yang biasa kupakai di rumah.
Aku juga teringat kamarku.
Seprai yang biasanya diganti Bunda tanpa banyak bicara.
Kadang aku pulang sekolah dan seprai itu sudah rapi. Bantal sudah ditepuk. Selimut sudah dilipat di ujung kasur. Aku sering langsung menjatuhkan tas di atasnya tanpa berpikir apa-apa.
“Wangi seprai,” kataku pelan.
Ustazah Laila menunggu.
Aku menarik napas pendek.
“Wangi seprai yang baru diganti Bunda.”
Kalimat itu keluar kecil.
Tidak panjang.
Tidak menjelaskan apa-apa.
Setelah itu, tanganku berhenti meremas ujung jilbab.
Ustazah Laila tidak bertanya lagi.
Ia hanya mengangguk.
“Terima kasih, Najwa.”
Aku menunduk lagi.
Risa tidak bercanda.
Hana juga tidak menoleh terlalu lama.
Entah kenapa, itu membuatku lebih lega.
Halaqah berlanjut sampai semua anak mendapat giliran. Ustazah Laila menutup dengan doa pendek. Tidak ada nasihat panjang. Tidak ada yang diminta bercerita lebih jauh.
Setelah selesai, kami berjalan kembali ke kamar.
Risa berjalan di sampingku sambil memeluk buku kecilnya.
“Aku kira kamu mau jawab kasur empuk,” katanya pelan.
Aku meliriknya.
“Hampir.”
Risa mengangguk serius. “Itu juga jawaban penting.”
Aku tidak menjawab.
Aku tetap diam, tapi kali ini aku tidak langsung mempercepat langkah.
Di kamar, anak-anak mulai bersiap tidur. Ada yang mengantre kamar mandi. Ada yang mencari minyak kayu putih. Ada yang bertanya apakah besok jadwal olahraga atau bukan.
Aku duduk di tepi kasurku.
Seprai pondok terbentang di bawah tanganku. Warnanya polos. Bersih. Sedikit kasar di ujung jahitannya.
Aku menarik ujungnya sampai rapi.
Lalu merapikannya lagi, meski tidak banyak yang berubah.
Seprai itu bersih.
Tapi wanginya bukan wangi rumah.
Tadi di halaqah, aku bisa menyebutnya pelan.
Tapi aku belum tahu, kalau suatu hari Bunda sendiri yang bertanya, apakah aku akan tetap bisa menjawab.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.