Suara Bunda Tidak Sedekat yang Kukira
Sore itu, aku sedang merapikan mukena setelah Ashar ketika Kak Salma muncul di pintu kamar. Tangannya memegang buku kecil yang biasa dipakai untuk.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku kira mendengar suara Bunda akan membuatku merasa pulang sebentar.
Ternyata, suara pun bisa terasa jauh.
Sore itu, aku sedang merapikan mukena setelah Ashar ketika Kak Salma muncul di pintu kamar. Tangannya memegang buku kecil yang biasa dipakai untuk mencatat keperluan santri.
“Najwa,” panggilnya.
Aku menoleh.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Iya, Kak?”
“Nanti ke kantor sebentar, ya. Ada telepon dari rumah.”
Tanganku berhenti di ujung lipatan mukena.
Dari rumah.
Dua kata itu membuat tanganku diam lebih lama di atas mukena.
Risa yang sedang mencari peniti di dekat lemarinya langsung menoleh.
“Angkat yang sopan,” katanya. “Jangan bilang pondok ini belum punya lift.”
Aku menatapnya. “Pondok memang nggak punya lift.”
“Nah, itu jangan dilaporkan.”
Hana tersenyum kecil sambil menyusun buku di ranjangnya.
Aku tidak ikut tersenyum. Bukan karena candaan Risa tidak lucu. Aku hanya sedang memikirkan kalimat pertama yang harus kuucapkan kepada Bunda.
Kak Salma menungguku di depan kamar.
“Sekarang, Kak?” tanyaku.
“Iya. Kalau sudah siap.”
Aku meletakkan mukena di atas kasur, lalu berdiri. Kakiku berjalan duluan sebelum dadaku sempat tenang.
Kantor asrama tidak jauh dari kamar. Ruangannya kecil, dengan satu meja kayu, dua kursi plastik, lemari arsip, dan jam dinding yang bunyinya terdengar lebih jelas ketika orang-orang sedang diam.
Di atas meja ada buku catatan telepon. Di sampingnya, telepon hitam dengan kabel melingkar.
Aku pernah melihat telepon itu beberapa kali dari luar. Biasanya ada santri yang duduk di kursi sambil bicara pelan, sementara santri lain menunggu di bangku dekat pintu.
Hari itu, kursi di depan meja kosong.
Kak Salma mengangkat gagang telepon, lalu menutup bagian bawahnya dengan tangan.
“Lima menit dulu, ya,” katanya pelan kepadaku. “Kalau masih ada waktu, nanti Kakak beri tanda.”
Aku mengangguk.
Aku melihat jam dinding di atas lemari arsip. Jarumnya bergerak pelan, tapi dadaku terasa lebih cepat.
Kak Salma menyerahkan gagang telepon kepadaku.
“Ini, dari Bunda.”
Aku menerima gagang itu dengan dua tangan.
“Assalamu’alaikum,” suaraku keluar kecil.
“Wa’alaikumussalam. Najwa?”
Suara Bunda.
Aku memejamkan mata sebentar.
“Iya, Bun.”
“Suaramu jelas?”
“Jelas.”
“Bunda dengarnya agak kecil.”
Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga. “Sekarang?”
“Sekarang lebih jelas.”
Ada jeda sebentar.
Aku diam, menunggu Bunda bicara lagi.
Tapi Bunda bertanya, “Paketnya sudah diterima?”
“Sudah.”
“Semuanya lengkap?”
“Iya.”
“Ada yang kurang?”
“Nggak.”
“Kerudungnya cocok?”
Aku menunduk, melihat ujung rok seragamku.
“Cocok.”
“Handuknya dipakai saja, ya. Yang lama kalau terlalu lembap jangan disimpan di lemari.”
“Iya.”
Bunda diam lagi sebentar.
Aku bisa mendengar suara samar dari rumah. Entah pintu lemari ditutup, entah gelas diletakkan di meja. Suara kecil yang dulu biasa kudengar tanpa kupikirkan.
“Makanmu cukup?” tanya Bunda.
“Cukup.”
“Tidur bisa?”
“Bisa.”
“Kegiatannya padat?”
“Lumayan.”
“Jangan lupa vitamin yang Bunda kirim.”
“Iya, Bun.”
Jawaban-jawabanku pendek. Setiap kali ada kalimat yang lebih panjang, tenggorokanku menahannya.
Bunda juga seperti berhati-hati.
Tidak marah.
Tidak banyak menasihati.
Tapi pertanyaannya berhenti di makan, tidur, dan barang-barangku.
“Di sana teman kamarmu baik?”
Aku teringat Risa yang tadi menyuruhku tidak melaporkan pondok tanpa lift. Aku teringat Hana yang sering bicara seperlunya tapi selalu tahu kapan harus membantu.
“Baik.”
“Alhamdulillah.”
Bunda menghela napas pelan. Suaranya tidak panjang, tapi cukup terdengar.
“Bunda cuma ingin dengar suaramu jelas,” katanya tiba-tiba.
Aku menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Iya.”
Setelah itu, kami diam lagi.
Jam dinding di kantor asrama terus berbunyi kecil. Kak Salma duduk agak jauh sambil menulis sesuatu di buku, tidak melihat ke arahku. Di luar pintu, ada suara sandal santri lewat menuju lorong.
“Bun,” panggilku pelan.
“Iya?”
Aku menelan ludah.
Di rumah...
Kamar Najwa...
Sepi nggak?
Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Aku hanya melihat kabel telepon yang melingkar di atas meja.
“Nggak,” kataku akhirnya.
Bunda tidak langsung menjawab.
“Mau bilang apa?” tanyanya.
Aku menggigit bagian dalam bibir.
“Nggak jadi.”
Ada jeda lagi.
Jeda yang tidak panjang, tapi cukup membuat tanganku terasa dingin.
“Ayah titip salam,” kata Bunda kemudian. “Tadi sebenarnya mau ikut bicara, tapi ada tamu.”
“Oh.”
“Ayah bilang, belajar baik-baik di sana.”
“Iya.”
“Tetap ikuti aturan, ya, Najwa.”
Kalimat itu tidak keras.
Bunda mengatakannya pelan, seperti nasihat biasa.
Tapi di telingaku, kalimat itu berhenti agak lama.
Aku melihat ujung meja kayu yang sedikit terkelupas.
“Iya, Bun.”
Kak Salma mengangkat tangannya sedikit dari meja, memberi tanda waktu hampir habis.
Aku mengangguk kecil meski Bunda tidak bisa melihatnya.
“Bun, waktunya hampir habis.”
“Oh. Ya sudah.”
Suara Bunda terdengar berubah sedikit. Bukan sedih sekali. Mungkin Bunda juga baru sadar, lima menit hampir habis dan kami baru membicarakan barang, makan, dan tidur.
“Jaga diri, ya.”
“Iya.”
“Kalau perlu sesuatu, bilang Kak Salma.”
“Iya.”
“Jangan lupa shalat tepat waktu.”
“Iya, Bun.”
Bunda diam sebentar.
Lalu berkata, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Aku menunggu suara di seberang hilang dulu sebelum meletakkan gagang telepon.
Klik.
Kecil sekali suaranya.
Tapi setelah itu kantor asrama terasa lebih sunyi.
Kak Salma mengambil gagang telepon dari tempatnya, lalu tersenyum pelan kepadaku.
“Sudah?”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama.”
Di luar, seorang santri lain sudah berdiri menunggu giliran. Wajahnya tegang dan senang sekaligus. Mungkin seperti wajahku beberapa menit lalu.
Aku keluar dari kantor asrama saat santri itu masuk.
Di belakangku, suara Kak Salma terdengar lembut.
“Halo, assalamu’alaikum. Ini dengan keluarga siapa?”
Aku berjalan pelan menuju kamar.
Di telingaku, suara Bunda masih ada.
Di tenggorokanku, pertanyaan yang tadi hampir keluar juga masih ada.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.