Kiriman dari Rumah Tidak Membuatku Pulang
Di rumah, Bunda sering membelikan sesuatu ketika tidak tahu harus mengatakan.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Di rumah, Bunda sering membelikan sesuatu ketika tidak tahu harus mengatakan apa.
Hari itu, sebuah paket datang ke pondok atas namaku.
Sore itu, setelah kegiatan santri baru selesai, Kak Salma masuk ke kamar sambil membawa daftar kecil di tangannya. Beberapa anak langsung menoleh.
Di depan kantor asrama, ada beberapa kantong besar dan plastik titipan dari keluarga santri.
“Yang namanya Kakak panggil, nanti ikut ke depan sebentar, ya,” kata Kak Salma. “Ada titipan dari rumah.”
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Risa yang sedang melipat baju langsung mengangkat kepala.
“Titipan?”
“Bukan untuk kamu semua,” kata Kak Salma sambil tersenyum kecil.
“Belum tentu, Kak. Bisa jadi ada yang mau berbagi.”
Hana menepuk pelan lengan Risa. “Dengarkan dulu.”
Kak Salma membaca beberapa nama. Ada anak dari ranjang dekat pintu. Ada santri baru dari kamar sebelah yang kebetulan sedang duduk di kamar kami. Lalu namaku disebut.
“Najwa.”
Tanganku berhenti di atas buku panduan hijau.
“Iya, Kak.”
“Ada titipan dari rumah.”
Kata rumah membuat dadaku terasa penuh sebelum aku melihat barangnya.
Aku mengikuti Kak Salma ke depan kamar. Di dekat pintu, ada satu kantong besar dari toko perlengkapan harian. Di sampingnya ada plastik bening berisi beberapa barang yang masih baru. Di bagian atas, tertempel kertas kecil dengan namaku.
Najwa.
Tulisan Bunda.
Aku langsung mengenalinya.
Rapi. Miring sedikit ke kanan. Huruf N-nya selalu lebih besar daripada huruf lain.
“Ini dari keluarga Najwa,” kata Kak Salma. “Kakak cek sebentar, ya. Aturan titipan memang begitu.”
Aku mengangguk.
Di rumah, barang-barangku biasanya langsung masuk kamar. Tas belanja, kotak sepatu, paket dari kurir, semua bisa kubuka sendiri. Kalau ada yang datang untukku, artinya itu milikku.
Di sini, bahkan barang yang dikirim untukku harus diperiksa dulu oleh Kak Salma.
Kak Salma membuka kantong besar itu dengan hati-hati. Tidak mengacak-acak. Tidak membuatku malu. Ia hanya mengeluarkan barang satu per satu, lalu meletakkannya di atas meja kecil.
Ada dua kerudung polos. Satu handuk baru. Sabun. Sampo. Pembalut. Sikat gigi cadangan. Vitamin. Beberapa susu kotak. Dua bungkus biskuit. Sandal cadangan. Satu gamis rumahan yang sudah dicuci dan dilipat rapi.
Aroma rumah keluar dari lipatan kain itu.
Bukan aroma yang besar.
Hanya wangi pelembut pakaian yang biasa dipakai Bunda.
Aku menelan ludah.
“Ini semua boleh dibawa ke kamar,” kata Kak Salma. “Snack-nya jangan disimpan sendiri terlalu banyak, ya. Sebagian bisa dimakan bareng teman kamar atau ditaruh di tempat bersama. Kalau ada uang atau barang elektronik, nanti disimpan di kantor dulu.”
“Tidak ada, Kak,” jawabku pelan.
Kak Salma mengangguk. “Baik.”
Ia mengambil satu amplop kecil dari sela lipatan gamis.
“Ini ada catatan.”
Tanganku menerima amplop itu lebih cepat daripada yang kurencanakan.
Amplopnya kecil. Tidak tertutup rapat. Di dalamnya ada kertas putih yang dilipat dua.
Aku membukanya.
Tulisan Bunda ada di sana.
Najwa, Bunda kirim beberapa keperluan tambahan. Kalau kurang, bilang lewat Kak Salma. Jaga kesehatan. Ikuti aturan pondok baik-baik.
Bunda.
Aku membaca catatan itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Tidak ada yang salah.
Bunda mengirim barang yang memang kubutuhkan. Bunda ingat pembalut. Bunda ingat vitamin. Bunda bahkan mengirim handuk baru, mungkin karena handuk yang kubawa dari rumah hanya satu.
Catatan itu juga tidak kasar.
Aku membaca catatan itu lagi, seperti mungkin ada kalimat yang terlewat.
Tapi tetap saja, isinya sama.
Hanya jaga kesehatan.
Aku melipat kembali kertas itu pelan-pelan.
“Wa.”
Risa sudah berdiri tidak jauh dariku, matanya melihat tumpukan barang di meja.
“Ini kamu dikirim persediaan buat sebulan atau buka warung?”
“Bawel,” kataku.
Risa menunjuk biskuit dengan dagunya. “Kalau biskuitnya kebanyakan, aku siap membantu.”
Hana yang berdiri di belakangnya menghela napas kecil. “Ris.”
“Apa? Membantu teman itu baik.”
Kak Salma tersenyum sedikit sambil merapikan kantong plastik. “Kalau Najwa mau berbagi, boleh. Tapi jangan dipaksa.”
“Nggak dipaksa, Kak,” kata Risa cepat. “Aku cuma menyiapkan diri.”
Untuk pertama kalinya sore itu, aku hampir tertawa.
Hampir.
Aku mengambil satu bungkus biskuit, lalu memberikannya kepada Risa dan Hana untuk dibagi.
“Bagi saja,” kataku.
Risa menerimanya dengan wajah pura-pura terharu. “Masya Allah, santri dermawan.”
“Jangan berlebihan,” kata Hana, tapi ia juga tersenyum.
Aku mengangkat sisa barangku. Hana membantu membawa handuk dan gamis. Risa membawa biskuit sambil berkata bahwa tugas membawa makanan ringan harus diberikan kepada orang yang ahli.
Kamar terasa sedikit ramai ketika kami masuk. Beberapa anak melihat sekilas, lalu kembali pada urusan masing-masing. Tidak ada yang terlalu heboh. Di pondok, titipan dari rumah rupanya bukan kejadian besar. Hanya bagian dari hari yang berjalan.
Aku membuka lemari kecilku.
Kerudung baru kutaruh di tumpukan atas. Sabun dan sampo kusimpan di wadah perlengkapan mandi. Vitamin kutaruh di sudut lemari. Handuk baru kulipat lagi, meski sebenarnya sudah rapi.
Catatan Bunda masih ada di tanganku.
Aku belum tahu harus menyimpannya di mana.
Kalau dibuang, rasanya salah.
Kalau diletakkan begitu saja, aku takut hilang.
Akhirnya, aku menyelipkannya di dalam buku panduan hijau.
Belum terlalu dalam.
Hanya di bagian depan, seperti sesuatu yang mungkin masih ingin kubaca lagi.
Malamnya, setelah kegiatan selesai dan kamar mulai tenang, aku membuka lemari untuk mengambil sikat gigi. Aroma pelembut pakaian dari gamis kiriman Bunda masih terasa samar.
Risa sedang membuka biskuit dengan hati-hati agar tidak bersuara terlalu keras.
“Ini halal dimakan sekarang, kan?” bisiknya.
“Risa,” Hana memperingatkan dari ranjangnya.
“Aku tanya hukum kamar, bukan hukum fikih.”
Aku menoleh sebentar. “Makan saja. Tapi jangan berisik.”
Risa tersenyum menang. “Siap.”
Aku kembali melihat lemari.
Barang-barang itu lengkap.
Tidak ada yang kurang.
Justru itu yang membuatku diam lebih lama.
Bunda tahu apa yang harus kukenakan. Bunda tahu sabunku mungkin habis lebih cepat. Bunda tahu aku butuh vitamin. Bunda tahu mengirim barang lewat siapa.
Tapi ada yang kubutuhkan dan tidak ada di dalam kantong itu.
Aku mengambil buku panduan hijau dari bawah bantal.
Catatan Bunda kuselipkan di sana tadi sore. Di bagian belakang buku itu, masih ada kertas kecil dari Ustazah Laila.
Aku membuka keduanya.
Kertas kecil dari Ustazah Laila sudah berisi dua kalimat.
Aku marah.
Tapi aku tidak tahu cara mengatakannya.
Catatan Bunda hanya berisi beberapa baris pendek.
Jaga kesehatan.
Ikuti aturan pondok baik-baik.
Aku meletakkan dua kertas itu berdampingan di atas buku panduan hijau.
Lama aku melihatnya.
Yang satu berisi kalimat yang belum berani kukirim ke siapa-siapa.
Yang satu lagi berisi kalimat pendek dari Bunda: jaga kesehatan.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.