Logo Tarbiya Nabawiya Tarbiya Nabawiya Menumbuhkan Generasi dengan Iman dan Adab
← Kembali ke daftar cerita
Series Keluarga Muslim Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1) · Episode 14 5 menit

Surat Itu Sudah Tidak Bisa Kutahan Lagi

Kak Salma berdiri di depan ruang serbaguna sambil membawa map cokelat. Satu per satu anak menyerahkan amplop putih mereka. Ada yang langsung berlari.

Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1) Najwa datang ke pesantren putri dengan hati yang belum selesai. Ia merasa pondok adalah tempat pembuangan, tempat orang tuanya menjauhkan dirinya karena ia terlalu sulit diatur. Di hari-hari awalnya, Najwa harus menghadapi kamar bersama, jadwal yang padat, hafalan yang tersangkut, teman-teman baru, dan rasa rindu rumah yang sering datang bersama marah. Musim pertama ini mengikuti perjalanan kecil Najwa: dari merasa dibuang, menuju keberanian untuk jujur sedikit, bertahan satu hari lagi, dan mulai melihat bahwa pondok bukan tempat ia disingkirkan.

Membaca Series

Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)

Lihat semua episode
Episode 14 dari 25 Baca berurutan agar alurnya terasa utuh.

Sebelum Membaca

Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.

series keluarga adab

Aku kira setelah surat itu kulipat, semuanya selesai.

Ternyata justru setelah diserahkan, dadaku mulai tidak tenang.

Kak Salma berdiri di depan ruang serbaguna sambil membawa map cokelat. Satu per satu anak menyerahkan amplop putih mereka. Ada yang langsung berlari kembali ke tempat duduknya. Ada yang masih menekan-nekan ujung amplop agar lipatannya rapi. Ada juga yang bertanya apakah namanya harus ditulis di luar.

Aku menunggu giliran dengan amplop di tangan.

Amplopku tidak dilem. Hanya kulipat bagian penutupnya, lalu kutahan dengan jari. Di sudut kiri, aku menulis namaku kecil-kecil.

Bacaan lanjutan

Lanjutkan cerita ini

Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.

Komentar Ayah Bunda

Ruang berbagi setelah membaca.

Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.

Memuat komentar...