Surat Itu Sudah Tidak Bisa Kutahan Lagi
Kak Salma berdiri di depan ruang serbaguna sambil membawa map cokelat. Satu per satu anak menyerahkan amplop putih mereka. Ada yang langsung berlari.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku kira setelah surat itu kulipat, semuanya selesai.
Ternyata justru setelah diserahkan, dadaku mulai tidak tenang.
Kak Salma berdiri di depan ruang serbaguna sambil membawa map cokelat. Satu per satu anak menyerahkan amplop putih mereka. Ada yang langsung berlari kembali ke tempat duduknya. Ada yang masih menekan-nekan ujung amplop agar lipatannya rapi. Ada juga yang bertanya apakah namanya harus ditulis di luar.
Aku menunggu giliran dengan amplop di tangan.
Amplopku tidak dilem. Hanya kulipat bagian penutupnya, lalu kutahan dengan jari. Di sudut kiri, aku menulis namaku kecil-kecil.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Najwa.
Hurufnya rapi, padahal isi suratku belum terasa selesai.
“Sudah?” tanya Kak Salma ketika aku berdiri di depannya.
Aku mengangguk.
“Sudah, Kak.”
Padahal aku tidak yakin itu bisa disebut sudah.
Kak Salma menerima amplopku tanpa membuka apa pun. Ia hanya melihat namaku, lalu meletakkannya di atas tumpukan surat santri baru.
Amplopku berada paling atas selama beberapa detik.
Lalu anak di belakangku menyerahkan suratnya, dan amplopku tertutup.
Aku kembali ke tempat duduk, tapi mataku masih melihat ke meja depan.
Tumpukan itu tidak besar. Hanya beberapa amplop putih. Tapi setelah suratku masuk ke sana, rasanya seperti ada sesuatu yang sudah terlanjur pergi dari tanganku.
Aku duduk sambil merapikan ujung jilbab, padahal tidak ada yang perlu dirapikan.
Mungkin aku bisa minta ganti kertas.
Mungkin aku bisa bilang ada yang salah.
Mungkin aku bisa mengambilnya sebentar, menambahkan satu kalimat, lalu mengembalikannya lagi.
Tapi kalimat apa?
Aku sendiri tidak tahu.
Yang kutakutkan bukan salah tulis. Bukan juga karena surat itu terlalu pendek.
Aku takut Ayah dan Bunda membaca kalimat-kalimat sopan itu, lalu merasa semuanya sudah cukup.
“Wa.”
Aku menoleh.
Risa sedang memperhatikanku dengan dagu bertumpu di punggung tangannya.
“Suratmu ketinggalan sesuatu sampai kamu lihat terus?” bisiknya.
Aku mengerutkan kening. “Nggak.”
“Nggak apa?”
“Nggak lihat terus.”
Risa melirik meja depan, lalu kembali melihatku.
“Iya, nggak. Cuma matamu saja yang dari tadi bolak-balik ke sana.”
Aku diam.
Risa menggeser duduknya sedikit. “Kalau mau ambil lagi, bilang saja. Tapi nanti Kak Salma tanya kenapa.”
Aku menunduk ke meja.
Itu masalahnya.
Kalau Kak Salma bertanya kenapa, aku juga tidak tahu harus menjawab apa.
Hana yang duduk di depanku menoleh pelan.
“Kalau ada yang belum ketulis, nanti bisa tulis lagi,” katanya.
“Kapan?” tanyaku.
“Nanti kalau ada waktu surat lagi.”
“Kalau terlambat?”
Hana diam sebentar.
“Surat kan nggak cuma sekali,” katanya akhirnya.
Aku mengangguk kecil.
Tapi rasanya belum ikut tenang.
Di depan, Kak Salma merapikan semua amplop, lalu memasukkannya ke dalam map cokelat.
“Suratnya Kakak simpan dulu, ya,” katanya kepada kami. “Nanti dititipkan bersama surat santri baru yang lain. Yang belum selesai, lain kali bisa menulis lagi. Sekarang persiapan Maghrib.”
Map itu ditutup.
Suaranya pelan.
Tapi bagiku, suara itu seperti tanda bahwa aku tidak bisa mengambil suratku lagi.
Kami keluar dari ruang serbaguna. Beberapa anak langsung menuju kamar untuk mengambil mukena. Ada yang masih membicarakan suratnya.
“Aku lupa nulis salam buat adikku.”
“Aku tulis banyak banget. Ibuku pasti nangis.”
“Ayahku paling cuma baca sebentar.”
“Aku tulisanku jelek. Semoga kebaca.”
Risa berjalan di sampingku sambil membawa buku di dada.
“Aku nulis surat sopan sekali,” katanya. “Ibuku pasti curiga.”
Hana tersenyum kecil. “Kenapa?”
“Karena biasanya aku kalau nulis, banyak tanda serunya.”
“Di surat tadi ada tanda serunya?”
“Ada. Satu. Aku tahan diri.”
Hana tertawa pelan.
Aku mendengar mereka, tapi pikiranku masih tertinggal di map cokelat Kak Salma.
Aku membayangkan Bunda membuka amplop itu.
Mungkin beliau akan duduk di ruang tengah. Mungkin tangannya masih membawa gelas teh. Mungkin beliau akan membaca pelan, lalu menghela napas lega saat melihat kalimat pertama.
Ayah, Bunda, Najwa sehat.
Aku membayangkan Ayah membacanya setelah pulang kerja. Mungkin dasinya sudah dilepas. Mungkin beliau berdiri sebentar di dekat meja makan, membaca suratku sambil berkata, “Bagus. Dia sudah mulai ikut aturan.”
Kalau itu terjadi, seharusnya aku lega.
Aku memang menulis bahwa aku sehat. Aku juga menulis bahwa aku sudah ikut kegiatan. Tidak ada satu kalimat pun yang akan membuat mereka khawatir.
Tapi justru itu yang membuatku takut.
Aku bukan takut surat itu dibaca.
Aku takut setelah membacanya, Ayah dan Bunda merasa sudah mengerti.
Sore itu sampai Maghrib, aku menjalani kegiatan seperti biasa. Aku mengambil mukena, pergi ke mushala, duduk di saf, lalu menjawab pelan ketika Risa bertanya apakah aku mau ikut mengambil minum.
Aku melakukan semuanya.
Tapi di kepalaku, amplop putih itu masih ada.
Setelah Isya dan kegiatan malam selesai, kamar mulai tenang. Risa sibuk mencari karet rambutnya yang katanya hilang padahal ada di pergelangan tangannya sendiri. Hana melipat mukena dengan rapi. Beberapa anak sudah naik ke ranjang masing-masing.
Aku membuka buku panduan hijau.
Di bagian belakangnya, kertas kecil dari Ustazah Laila masih terselip.
Aku mengeluarkannya pelan-pelan.
Tulisan semalam masih ada di sana.
Aku marah.
Aku membacanya sekali.
Lalu dua kali.
Kali ini dadaku tidak sepanas semalam. Tapi juga belum ringan.
Aku mengambil pulpen.
Di bawah tulisan itu, aku menulis pelan-pelan.
Tapi aku tidak tahu cara mengatakannya.
Aku menatap dua kalimat itu.
Aku marah.
Tapi aku tidak tahu cara mengatakannya.
Setelah itu, aku menutup buku panduan hijau sebelum mataku sempat panas.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.