Aku Tidak Tahu Harus Menulis Apa untuk Mereka
Menulis “Aku marah” ternyata lebih mudah daripada menulis “Ayah dan Bunda yang Najwa.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Menulis “Aku marah” ternyata lebih mudah daripada menulis “Ayah dan Bunda yang Najwa sayangi.”
Malam itu, setelah dua kata itu ada di atas kertas, aku tidak langsung merasa lega.
Aku malah menatapnya lama.
Aku marah.
Tulisan itu pendek. Hanya dua kata. Tapi setelah kutulis, dadaku malah terasa lebih penuh.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Risa sudah diam di ranjang atas. Napasnya terdengar pelan, meski sesekali ia bergerak dan membuat kasur berderit kecil. Hana masih merapikan mukena di dekat lemarinya. Dari luar kamar, suara langkah santri mulai jarang terdengar.
Aku menutup kertas itu dengan buku panduan hijau.
Seolah-olah kalau tidak kulihat, kalimat itu tidak benar-benar ada.
Padahal aku tahu tetap ada.
Besok paginya, aku menyelipkan kertas itu di bagian belakang buku panduan. Aku tidak ingin Risa melihatnya. Aku juga tidak ingin Hana melihatnya.
Aku sendiri pun belum tentu ingin melihatnya lagi.
Kegiatan berjalan seperti biasa. Aku mengikuti arahan kakak pengurus, duduk ketika diminta duduk, berdiri ketika yang lain berdiri, dan menjawab jika namaku dipanggil.
Menjelang sore, setelah kegiatan santri baru selesai, Kak Salma masuk ke ruang serbaguna sambil membawa beberapa lembar kertas dan amplop putih.
Beberapa anak langsung berbisik.
“Surat?”
“Kita boleh kirim surat?”
“Kertasnya satu saja, Kak?”
Kak Salma tersenyum sambil meletakkan tumpukan kertas di meja depan.
“Hari ini kalian menulis kabar pendek untuk keluarga di rumah,” katanya. “Tidak harus panjang. Tulis bahwa kalian sehat, sudah mulai ikut kegiatan, dan apa yang ingin kalian sampaikan.”
Aku menatap tumpukan kertas itu.
Kertas lagi.
Rasanya baru semalam aku berhadapan dengan kertas kosong dari Ustazah Laila. Sekarang ada kertas lain yang harus diisi. Bedanya, kertas ini bukan untuk disimpan sendiri.
Kertas ini akan pulang lebih dulu daripada aku.
“Kak, boleh pakai pensil?” salah satu santri bertanya.
“Boleh. Tapi kalau sudah yakin, ditebalkan pakai pulpen, ya.”
“Kalau salah banyak?”
“Coret pelan saja. Tidak apa-apa. Ini surat, bukan ujian.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Aku tidak.
Kak Salma membagikan kertas satu per satu. Ketika sampai di mejaku, ia meletakkan satu lembar kertas dan satu amplop putih.
“Tulis sebisanya, Najwa,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
Di sebelahku, Risa sudah mengambil pulpen dengan wajah serius yang tidak bertahan lama.
“Aku mau tulis, ‘Adik jangan nangis. Kakak di sini cuma hampir mati karena jadwal,’” bisiknya.
Hana yang duduk di depannya langsung menoleh. “Ris.”
Risa menahan senyum. “Ya nggak jadi ditulis semua.”
“Jangan bikin ibumu tambah kepikiran,” kata Hana.
“Iya, iya. Aku tulis versi sopannya.”
Aku mendengar mereka, tapi mataku tetap ke kertas.
Bagian atasnya kosong.
Terlalu kosong.
Aku mengambil pulpen. Ujungnya menyentuh kertas, lalu berhenti.
Untuk Ayah dan Bunda,
Aku menatap sapaan itu.
Biasanya aku tidak sulit menulis pesan kepada Bunda. Kalau butuh dijemput, aku bisa menulis cepat. Kalau minta izin beli sesuatu, aku bisa menyusun kalimat manis. Kalau ingin menghindari pertanyaan, aku tahu harus menjawab pendek.
Tapi surat ini berbeda.
Surat ini bukan pesan singkat yang bisa kukirim lalu kutinggal.
Surat ini akan dibaca pelan-pelan.
Mungkin Bunda akan membacanya sambil duduk di ruang tengah. Mungkin Ayah akan membacanya setelah pulang kerja. Mungkin mereka akan berkata, “Alhamdulillah, Najwa baik-baik saja.”
Padahal aku belum tahu apakah aku baik-baik saja.
Aku menulis kalimat pertama.
Najwa baik-baik saja di sini.
Aku melihatnya lama.
Lalu mencoretnya pelan.
Tidak sampai kertasnya rusak. Hanya satu garis tipis. Tapi cukup untuk membuat kalimat itu tidak bisa pura-pura benar.
Risa melirik dari samping.
“Wa, kamu nulis surat atau nunggu suratnya nulis sendiri?”
“Bawel,” kataku.
“Aku serius. Kalau kelamaan, nanti kertasnya ikut mondok.”
Hana menoleh sedikit. “Tulis yang paling gampang dulu.”
“Apa?” tanyaku.
“Yang benar,” kata Hana. “Misalnya kamu sehat. Kalau memang sehat.”
Aku diam.
Sehat.
Aku tidak demam. Tidak batuk. Tidak pingsan. Aku makan. Aku mandi. Aku ikut kegiatan.
Mungkin itu cukup disebut sehat.
Aku menulis lagi di bawah coretan pertama.
Ayah, Bunda, Najwa sehat.
Aku berhenti.
Kalimat itu tidak hangat, tapi tidak bohong.
Aku melanjutkan.
Najwa sudah ikut kegiatan. Kamar Najwa ramai. Ada Risa dan Hana. Makanannya sederhana, tapi Najwa makan.
Aku membaca kalimat itu beberapa kali.
Tidak ada yang salah.
Tapi juga belum ada yang benar-benar ingin kukatakan.
Di depan, Kak Salma berjalan pelan di antara meja. Ia tidak melihat isi surat kami. Hanya memastikan semua anak mulai menulis.
“Tulis yang jujur, ya,” katanya kepada semua. “Tapi tetap pakai adab. Kalau ada yang berat, tulis baik-baik. Jangan sampai suratnya jadi tempat marah-marah.”
Pulpenku berhenti.
Tempat marah-marah.
Aku menatap kalimat yang sudah kutulis.
Ayah, Bunda, Najwa sehat.
Najwa sudah ikut kegiatan.
Kamar Najwa ramai.
Makanannya sederhana, tapi Najwa makan.
Semua itu benar.
Tapi ada kalimat lain yang sejak tadi ingin ikut kutulis.
Kenapa Ayah dan Bunda tidak bertanya dulu apakah Najwa sanggup?
Aku tidak menuliskannya.
Najwa masih kesal.
Itu juga tidak kutulis.
Tanganku bergerak sedikit.
Ujung pulpen menyentuh kertas.
Aku belum sempat membuat huruf pertama ketika terdengar suara Risa dari samping.
“Wa, amplopnya jangan dilem dulu. Nanti kalau masih mau nambah, repot.”
Aku menarik pulpenku.
“Siapa juga yang mau ngelem sekarang?” kataku pelan.
Risa mengangkat bahu. “Aku cuma mengingatkan. Aku pernah salah masukin kertas ulangan ke amplop sumbangan kelas. Sejak itu aku hati-hati sama amplop.”
Hana menahan tawa.
Aku hampir tersenyum, tapi mataku kembali ke surat.
Kak Salma bilang jujur.
Kak Salma juga bilang pakai adab.
Ternyata menulis jujur sambil tetap sopan tidak semudah yang kukira.
Aku mencoba menambah satu kalimat lain.
Najwa sedang belajar mengikuti aturan.
Kalimat itu terasa aman.
Terlalu aman.
Aku tidak mencoretnya.
Tapi setelah kalimat itu, tanganku berhenti lagi.
Di sebelahku, Risa sudah mulai melipat suratnya dengan bentuk yang kurang rapi. Hana membantunya merapikan ujung lipatan. Beberapa anak di meja depan meminta kertas tambahan. Ada yang menulis sambil tersenyum. Ada yang diam sambil menghapus bekas pensil.
Aku menatap suratku.
Surat itu pendek, sopan, dan tidak menyakiti. Tapi tetap terasa belum penuh.
Kak Salma mulai mengumpulkan surat dari barisan depan.
“Kalau belum selesai, boleh dilanjutkan sebentar lagi,” katanya. “Tapi jangan terlalu lama, setelah ini persiapan Maghrib.”
Aku menunduk.
Untuk Ayah dan Bunda,
Ayah, Bunda, Najwa sehat.
Najwa sudah ikut kegiatan. Kamar Najwa ramai. Ada Risa dan Hana. Makanannya sederhana, tapi Najwa makan.
Najwa sedang belajar mengikuti aturan.
Aku membaca semuanya dari awal.
Tidak ada kata kangen.
Tidak ada kata maaf.
Tidak ada kata marah.
Aku menatap surat itu lama. Belum selesai, tapi aku tetap melipatnya.
Seolah-olah kalau kertas itu tertutup, Ayah dan Bunda tidak akan tahu ada kalimat lain yang tidak jadi kutulis.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.