Ustadzah Tidak Bertanya untuk Menang
Malam sebelumnya, ketika Risa bertanya dari ranjang atas apakah aku belum tidur, aku tidak benar-benar menjawab. Aku hanya bergumam pelan, cukup untuk.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku sudah terbiasa ditanya dengan nada yang membuatku kalah sebelum menjawab.
Hari itu, Ustazah bertanya dengan cara yang berbeda.
Malam sebelumnya, ketika Risa bertanya dari ranjang atas apakah aku belum tidur, aku tidak benar-benar menjawab. Aku hanya bergumam pelan, cukup untuk membuatnya tahu aku mendengar, tapi tidak cukup untuk membuka percakapan.
Risa tidak memaksa.
Hana juga tidak bertanya apa-apa esok paginya.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Itu membuat kamar terasa sedikit aneh. Bukan canggung sepenuhnya. Hanya seperti ada sesuatu yang sama-sama kami tahu, tapi belum ada yang ingin menyebutnya.
Aku menjalani pagi seperti biasa, mengikuti satu kegiatan ke kegiatan lain sebelum sempat banyak berpikir.
Aku sudah tidak sekacau hari pertama. Setidaknya, aku tahu di mana harus meletakkan sandal dan buku mana yang perlu kubawa.
Tapi tahu urutan kegiatan tidak sama dengan merasa baik-baik saja.
Menjelang siang, setelah kegiatan di ruang belajar selesai, Kak Salma menghampiriku di depan kantor asrama.
“Najwa,” panggilnya.
Aku menoleh.
“Kak?”
“Nanti setelah kamu setor buku panduan, Ustazah Laila minta ketemu sebentar.”
Tanganku langsung lebih erat memegang buku hijau.
“Kenapa, Kak?”
Kak Salma tersenyum kecil. “Ngobrol saja. Santri baru biasanya memang dikenalkan dengan pembina asrama.”
Ngobrol saja.
Orang dewasa sering memakai kalimat itu sebelum bertanya hal-hal yang membuatku ingin menutup telinga.
Di rumah, “ngobrol sebentar” bisa berarti Ayah duduk di sofa dengan wajah lelah, Bunda membawa daftar kesalahanku, lalu aku diminta menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah mereka putuskan buruk sebelum aku membuka mulut.
Aku mengangguk.
“Iya, Kak.”
Setelah setor buku panduan, aku berjalan menuju ruang kecil di samping kantor asrama. Pintu ruangan itu terbuka sedikit. Dari luar terdengar suara beberapa santri lewat sambil membawa ember. Ada sandal-sandal tersusun di dekat tangga. Di dalam ruangan, aku melihat meja kayu, beberapa map santri, rak buku, papan jadwal, dan gelas air putih di sudut meja.
Tidak ada yang menakutkan dari ruangan itu.
Tapi tetap saja, aku duduk di ujung kursi seperti orang yang siap disalahkan.
Ustazah Laila duduk di seberang meja. Usianya mungkin lebih tua dari Ustazah yang memberi pengarahan kemarin, tapi wajahnya tidak kaku. Jilbabnya rapi, suaranya pelan ketika mempersilakanku duduk.
“Najwa sudah makan siang?” tanyanya.
Aku sedikit bingung.
“Sudah, Ustazah.”
“Makan apa tadi?”
Aku mencoba mengingat. “Nasi. Sayur. Tempe.”
“Habis?”
Aku mengangguk. “Habis.”
Ustazah Laila tersenyum sedikit. “Alhamdulillah.”
Aku menunggu pertanyaan berikutnya.
Pertanyaan yang biasanya datang setelah pembuka kecil seperti itu.
Kamu tahu kenapa kamu dikirim ke sini?
Kamu sadar kesalahanmu?
Kamu mau berubah atau tidak?
Tapi Ustazah Laila justru bertanya, “Tidurmu semalam bagaimana?”
Aku menunduk sedikit.
“Biasa.”
“Biasa itu cukup tidur, atau cuma berhasil memejamkan mata?”
Aku mengangkat wajah.
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti jebakan. Tapi aku tetap tidak tahu harus menjawab apa.
“Kurang tahu, Ustazah.”
“Masih sering terbangun?”
“Sedikit.”
“Karena kamar baru?”
Aku diam sebentar. “Mungkin.”
Ustazah Laila tidak langsung mencatat apa pun. Ia hanya mengangguk, seperti jawaban pendekku tidak membuatnya kesal.
“Apa yang paling berat sejak datang?” tanyanya.
Aku menarik napas pelan.
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Berat.
Banyak yang berat.
Bangun sebelum siap. Tidak tahu buku yang benar. Mendengar Risa bilang adiknya mencarinya. Mengingat Bunda melambaikan tangan dari balik kaca mobil.
Tapi semua itu terlalu banyak untuk dikeluarkan di depan orang yang baru kukenal.
“Tidak ada,” jawabku.
Ustazah Laila menatapku. Tidak tajam. Tidak juga seperti tidak percaya.
“Baik,” katanya.
Aku menunggu ia berkata, jangan bohong.
Tapi ia tidak mengatakannya.
“Kalau belum ingin cerita, tidak apa-apa.”
Aku menggenggam ujung jilbabku di pangkuan.
Biasanya, kalau aku menjawab tidak ada, orang dewasa akan mengejar. Mengulang pertanyaan. Meninggikan suara. Membuatku akhirnya bicara bukan karena siap, tapi karena lelah diburu.
Ustazah Laila tidak begitu.
Ia mengambil satu lembar kertas kecil dari map, lalu meletakkannya di atas meja. Tidak diberikan kepadaku dulu. Hanya diletakkan di sana.
“Najwa,” katanya, “di sini kamu tidak harus langsung betah.”
Aku menatap kertas itu.
“Tapi kamu tetap perlu belajar menjalani hari dengan adab.”
Aku mengangguk, meski belum tahu jawaban apa yang ia harapkan.
“Kalau marah, boleh merasa marah,” lanjutnya. “Tapi jangan jadikan semua orang di sini musuhmu.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa tidak nyaman.
Aku ingin langsung berkata bahwa aku tidak marah.
Aku ingin berkata bahwa aku hanya capek. Aku hanya tidak minta berada di sini. Aku hanya tidak suka semua orang bertindak seolah-olah aku harus segera mengerti.
Tapi kalau aku mengatakan semua itu, mungkin memang terdengar seperti marah.
“Saya tidak marah,” kataku akhirnya.
Ustazah Laila tidak tersenyum mengejek. Tidak juga membantah.
“Baik,” katanya. “Ustazah catat kamu belum marah.”
Aku hampir menatapnya dengan heran.
Belum.
Bukan tidak.
Belum.
Ustazah Laila mendorong kertas kecil itu sedikit ke arahku.
“Kalau belum bisa cerita, tulis dulu. Tidak perlu panjang. Satu kalimat juga cukup.”
Aku menatap kertas itu.
“Untuk dikumpulkan?”
“Tidak.”
“Dibaca Ustazah?”
“Kalau kamu mau. Kalau tidak, simpan saja.”
Aku diam.
Itu terdengar aneh.
Biasanya kalau orang dewasa menyuruhku menulis sesuatu, mereka ingin memeriksanya. Ingin tahu isinya. Ingin menemukan bukti bahwa aku sudah menyesal, sudah mengerti, sudah menjadi anak yang tidak memalukan lagi.
“Menulis untuk apa kalau tidak dibaca?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.
Ustazah Laila tidak tampak tersinggung.
“Supaya yang ramai di kepala bisa keluar sedikit.”
Aku tidak menjawab.
“Mulai dari yang paling pendek saja,” katanya. “Misalnya satu hal yang membuatmu berat. Atau satu hal yang membuatmu kesal. Tidak harus bagus. Tidak harus rapi.”
Aku mengambil kertas itu perlahan.
Kertas biasa. Putih. Tidak bergaris. Tidak ada nama pondok di atasnya.
“Kalau nanti tidak tahu harus menulis apa?” tanyaku.
“Berarti tulis itu.”
Aku mengerutkan kening sedikit.
Ustazah Laila berkata, “Tulis saja, aku belum tahu harus menulis apa.”
Untuk pertama kalinya sejak duduk di ruangan itu, aku hampir tersenyum.
Hampir.
Tapi tidak sampai jadi.
Percakapan itu tidak lama. Ustazah Laila tidak menanyakan kesalahanku di rumah. Tidak menanyakan HP. Tidak menanyakan teman laki-laki. Tidak menanyakan apakah aku sudah menyesal.
Sebelum aku keluar, ia hanya berkata, “Kalau belum nyaman, tidak apa-apa. Tapi nanti setelah ini tetap ikut jadwal satu-satu, ya.”
Aku mengangguk.
“Iya, Ustazah.”
Di luar ruangan, udara terasa lebih panas. Beberapa santri lewat sambil membawa buku. Dari arah halaman, terdengar suara seseorang memanggil teman satu kamarnya.
Aku menyelipkan kertas putih itu ke dalam buku panduan hijau.
Di dekat jemuran, Risa sedang menepuk-nepuk handuk agar cepat kering. Hana berdiri di sampingnya sambil membawa ember kecil.
Risa melihatku lebih dulu.
“Kena sidang?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Nggak.”
“Lama juga untuk nggak kena sidang.”
Hana menatap Risa.
Risa mengangkat bahu. “Apa? Aku nanya baik-baik.”
Aku tidak tahu kenapa, kali ini aku tidak terlalu tersinggung.
Mungkin karena nada Risa memang tidak tajam.
Mungkin karena tadi, untuk beberapa menit, ada orang dewasa yang tidak membuatku merasa sedang diperiksa.
“Nggak lama,” kataku.
Risa menepuk tumpukan baju di depannya. “Kalau begitu, nanti bantu lipat baju, ya. Biar kamu tahu ujian hidup yang sebenarnya.”
Hana tertawa pelan.
Aku tidak tertawa, tapi aku juga tidak pergi.
Malamnya, setelah lampu kamar diredupkan, aku duduk di ranjang dengan buku panduan hijau terbuka di pangkuanku. Kertas putih dari Ustazah Laila kuselipkan di halaman depan.
Anak-anak lain mulai bersiap tidur. Risa masih berbicara pelan dengan Hana tentang jemuran yang belum kering. Dari luar kamar, suara langkah santri terdengar semakin jarang.
Aku mengambil pulpen.
Ustazah bilang satu kalimat juga cukup.
Aku menatap kertas kosong itu lama.
Banyak kalimat datang, tapi tidak ada yang berani kutulis.
Aku capek.
Aku ingin pulang.
Aku tidak suka semua orang merasa berhak memutuskan hidupku.
Tanganku diam.
Lalu, setelah cukup lama memegang pulpen, aku baru berani menulis dua kata.
"Aku marah."
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.