Bukan Hanya Aku
Hari pertamaku belum selesai, tapi rasanya tubuhku sudah dipakai untuk beberapa hari sekaligus. Setelah beberapa kegiatan yang namanya masih bercampur di.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku kira anak-anak yang sudah lama di pondok tidak pernah ingin pulang.
Aku tahu aku salah.
Hari pertamaku belum selesai, tapi rasanya tubuhku sudah dipakai untuk beberapa hari sekaligus. Setelah beberapa kegiatan yang namanya masih bercampur di kepalaku, aku kembali ke kamar dengan langkah pelan.
Kamar tidak kosong seperti tadi pagi.
Ada handuk yang tergantung di dekat jendela. Ada mukena terlipat di ujung ranjang. Ada buku-buku terbuka di atas kasur. Dari rak sandal dekat pintu, beberapa sandal terlihat tidak benar-benar rapi, tapi juga tidak berantakan. Suara anak-anak dari kamar sebelah masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku meletakkan tas di dekat lemari kecilku.
Yang kuinginkan hanya duduk diam.
Tidak ditanya.
Tidak diarahkan.
Tidak mendengar bel sebentar saja.
Baru beberapa menit aku duduk di tepi ranjang, Risa masuk sambil membawa buku hafalan dan botol minum.
“Aduh,” katanya sambil menjatuhkan diri ke kasur bawah milik Hana. “Kalau hari pertama kamu sudah pusing, besok siap-siap. Nanti jadwalnya mulai terasa punya gigi.”
Aku menoleh sebentar. “Punya gigi?”
“Iya. Menggigit.”
Hana yang sedang melipat baju tersenyum kecil. “Ris.”
“Apa? Aku cuma kasih gambaran.”
Aku membuka buku panduan hijau yang tadi kutemukan di lemari. Halaman pertamanya masih bersih. Aku belum sempat benar-benar membaca. Jari-jariku menyusuri pinggir kertas tanpa tujuan.
Risa memiringkan kepala melihatku.
“Kamu kalau diam lama, capek nggak?” tanyanya.
Aku mengangkat wajah. “Nggak.”
“Aku yang lihat jadi capek.”
Hana menoleh cepat. “Risa.”
Risa mengangkat bahu. “Bercanda.”
Aku menutup buku pelan.
Tidak keras. Tidak sampai membuat suara.
Tapi cukup untuk membuat diriku sendiri tahu bahwa aku tersinggung.
“Aku memang tidak harus banyak ngomong, kan?” kataku.
Kamar jadi sedikit diam.
Risa menatapku sebentar, lalu menunduk ke buku hafalannya.
“Ya nggak,” katanya lebih pelan. “Aku cuma bercanda.”
Hana meletakkan baju yang baru dilipat ke dalam lemari.
“Risa memang begitu,” kata Hana. “Kalau sudah capek, dia malah makin banyak ngomong.”
Aku menjawab tanpa menatapnya.
“Aku nggak tanya.”
Hana diam.
Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung tahu suaraku terlalu dingin.
Tapi aku tidak menariknya kembali.
Rasanya sejak pagi semua orang melihat bagian diriku yang tidak siap. Aku salah membawa buku. Aku tidak tahu jawaban. Aku harus mengikuti Hana. Harus mendengar Risa mengingatkan. Harus mengangguk ketika ustazah berkata besok tas harus dicek lagi.
Aku lelah merasa kecil.
Waktu ada kalimat yang bisa membuat orang berhenti mendekat, mulutku mengucapkannya duluan.
Hana tidak membalas. Ia hanya melanjutkan melipat baju.
Risa juga tidak bercanda lagi.
Sore itu, kamar terasa lebih sepi daripada sebelumnya.
Menjelang Maghrib, kami bersiap ke mushala. Risa yang biasanya bicara sambil mencari sandal, hari itu lebih banyak diam. Ia duduk di tepi ranjang sambil membuka buku hafalan, tapi matanya tidak bergerak mengikuti baris.
Hana memperhatikannya beberapa kali.
“Ris,” panggil Hana pelan.
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
Jawaban itu pendek.
Terlalu pendek untuk Risa.
Aku pura-pura merapikan kerudung di depan cermin kecil yang menempel di sisi lemari. Padahal dari pantulan cermin, aku bisa melihat Risa menutup bukunya tanpa benar-benar membaca.
Belum sempat Hana bertanya lagi, seorang kakak kamar mengetuk pintu.
“Risa, dipanggil ke kantor asrama sebentar. Ada telepon dari rumah.”
Risa langsung berdiri.
Wajahnya berubah sedikit. Tidak banyak. Tapi cukup untuk terlihat.
“Sekarang, Kak?”
“Iya. Sebentar saja sebelum Maghrib.”
Risa mengangguk, lalu mengambil kerudungnya yang lebih rapi dari gantungan.
Saat berjalan melewati kami, ia masih sempat berkata, “Kalau aku lama, jangan habiskan udara kamar.”
Tidak ada yang tertawa keras.
Hana hanya tersenyum kecil.
Aku juga hampir tersenyum, tapi tidak jadi.
Setelah Risa pergi, kamar terasa lebih sepi.
Hana memasukkan buku hafalannya ke tas kecil.
“Tadi aku nggak bermaksud ikut campur,” katanya tiba-tiba.
Aku tahu ia sedang membicarakan ucapannya tentang Risa.
Aku duduk di tepi ranjang dan pura-pura membetulkan lipatan mukena.
“Aku juga nggak bermaksud kasar,” kataku pelan.
Kalimat itu keluar lebih cepat daripada keberanianku menatap wajahnya.
Hana diam sebentar.
“Nggak apa-apa,” jawabnya.
Jawaban itu membuatku makin tidak enak.
Hana tidak membalas dingin. Itu justru membuatku makin tidak enak, karena aku tidak punya alasan untuk terus kesal.
Kami pergi ke mushala tanpa banyak bicara.
Risa menyusul beberapa menit sebelum iqamah. Wajahnya sudah biasa lagi, setidaknya dari jauh. Ia berdiri di samping Hana, merapikan ujung mukenanya, lalu ikut shalat seperti yang lain.
Tapi setelah shalat, ia tidak banyak bicara.
Saat makan malam, ia menghabiskan nasi lebih pelan. Saat belajar malam, ia membuka buku, menulis beberapa baris, lalu berhenti lama sambil memutar pulpen di antara jarinya. Tidak ada lelucon tentang bel. Tidak ada komentar tentang anak baru yang kebanyakan bingung.
Aneh.
Ternyata kamar terasa berbeda ketika Risa diam.
Malamnya, setelah kegiatan selesai, lampu lorong diredupkan. Dari kamar lain terdengar, beberapa anak mulai naik ke ranjang masing-masing. Ada yang masih berbisik pelan, ada yang menutup lemari, ada yang masih mengobrol dengan suara hampir tidak terdengar.
Aku berbaring menghadap dinding.
Mataku belum mengantuk.
Dari ranjang atas, suara Risa terdengar pelan.
“Han.”
“Hm?” jawab Hana dari ranjang sebelah.
“Adikku tadi nyari aku.”
Hana tidak langsung menjawab.
Aku tetap menghadap dinding.
Tanganku diam di bawah selimut.
“Yang kecil?” tanya Hana.
“Iya.”
“Dia bilang apa?”
“Nggak banyak. Ibu yang ngomong. Katanya dia nanya kenapa aku belum pulang-pulang.”
Suara Risa berbeda.
Masih suara Risa, tapi tidak membawa tawa di belakangnya.
Hana bertanya pelan, “Kamu kangen?”
Risa tidak menjawab beberapa saat.
Lalu ia berkata, “Kalau aku bilang kangen, nanti aku pengin pulang.”
Kamar hening.
Aku menatap dinding di depanku.
Tiba-tiba, aku merasa tidak enak mengingat semua jawabanku siang tadi. Cara aku menutup buku. Cara aku berkata aku tidak harus banyak bicara. Cara aku menjawab Hana dengan dingin.
Aku kira Risa hanya anak yang terlalu banyak bercanda.
Aku kira Hana hanya anak baik yang selalu tahu harus bersikap bagaimana.
Ternyata mereka juga membawa sesuatu yang tidak langsung terlihat.
Hana berkata pelan, “Aku dulu juga begitu.”
Risa bergerak sedikit di ranjang atas. Ranjangnya berderit halus.
“Dulu?”
“Tahun pertama,” kata Hana. “Aku sering pura-pura sibuk. Biar nggak terlalu ingat rumah.”
“Sekarang?”
“Sekarang masih kangen,” jawab Hana. “Tapi biasanya aku ambil wudhu, atau baca sedikit. Kadang nulis juga. Biar nggak makin penuh.”
Risa tidak menjawab.
Aku tidak tahu kenapa dadaku ikut terasa berat.
Tidak ada tangis besar. Risa hanya bilang adiknya mencarinya. Tapi itu yang membuat dadaku terasa berat.
Selama ini, aku merasa hanya aku yang datang ke pondok sambil ingin pulang.
Malam itu, aku mulai ragu.
Jangan-jangan, anak-anak di kamar ini juga masih sering ingat rumah, hanya saja mereka tidak selalu mengatakannya.
Aku bergerak sedikit tanpa sadar.
Kasurku berbunyi pelan.
Dari ranjang atas, suara Risa terdengar lagi.
“Wa, kamu belum tidur?”
Aku menahan napas sebentar.
Aku sudah hampir menjawab, “Belum.”
Tapi kata itu tertahan di tenggorokan, bersama pertanyaan lain yang belum berani kutanyakan.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.