Saat Semua Orang Sudah Tahu Caranya
Aku pikir setelah berhasil melewati pagi pertama, hari itu akan sedikit lebih.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku pikir setelah berhasil melewati pagi pertama, hari itu akan sedikit lebih mudah.
Ternyata aku salah bahkan sebelum membuka buku.
Setelah sarapan, Hana mengajakku ke ruang belajar di dekat kantor asrama. Risa berjalan di belakang kami sambil memegang buku kecil dan botol minum. Wajahnya sudah tidak sekusut tadi, tapi langkahnya masih malas.
“Kalau pengarahan pertama biasanya lama nggak?” tanyaku pelan kepada Hana.
“Tergantung,” jawab Hana.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Tergantung apa?”
“Tergantung ustazahnya banyak pesan atau tidak.”
Risa menyelip dari belakang. “Dan tergantung anak barunya sudah tahu harus bawa apa belum.”
Aku menoleh.
Risa tersenyum sedikit. “Aku tidak bilang kamu.”
Aku tidak menjawab.
Ruang belajar itu tidak terlalu besar. Lantainya bersih dan dingin. Di depan ada papan tulis putih, rak kitab, dan meja kecil tempat beberapa buku ditumpuk rapi. Beberapa santri sudah duduk berbaris di atas karpet tipis. Ada yang membuka buku, ada yang merapikan kerudung, ada yang berbisik pelan sambil menunjuk halaman.
Aku duduk di samping Hana.
Tas kecilku kutaruh di pangkuan.
Seorang ustazah masuk tidak lama kemudian. Usianya mungkin belum terlalu tua. Wajahnya tenang, jilbabnya rapi, suaranya tidak keras ketika memberi salam.
“Anak-anak, buka buku panduan santri yang warna hijau, halaman lima,” katanya setelah kami menjawab salam.
Aku menatap tas di pangkuanku. Buku panduan. Warna hijau. Halaman lima.
Hana langsung membuka buku kecil berwarna hijau. Risa juga. Santri lain mengeluarkan buku yang sama dari tas mereka.
Aku membuka ritsleting tasku.
Di dalamnya ada buku tulis, pulpen, tempat pensil, dan satu buku kosong bersampul biru. Tidak ada buku kecil berwarna hijau.
Aku memasukkan tangan lebih dalam. Menggeser buku tulis. Mengangkat tempat pensil. Membuka kantong depan. Bunyi ritsleting terdengar terlalu keras di telingaku, padahal mungkin biasa saja.
Hana melirik pelan. “Yang hijau kecil, Wa.”
“Aku tahu,” jawabku cepat.
Padahal aku tidak tahu.
Aku mencari lagi. Tidak ada.
Risa mencondongkan badan sedikit dari sebelah Hana. “Kayaknya masih di kamar?”
Panas naik ke wajahku.
Aku ingin bilang tidak mungkin. Aku ingin bilang aku sudah memasukkan semuanya. Tapi aku bahkan tidak yakin apa saja yang tadi kumasukkan ke tas.
Ustazah berhenti menjelaskan sebentar.
“Najwa belum membawa bukunya?” tanyanya.
Semua orang tidak menoleh. Tidak semua. Hanya beberapa. Tapi rasanya cukup untuk membuatku ingin menghilang ke balik tas sendiri.
Aku menunduk.
“Tertinggal, Ustazah.”
Ustazah mengangguk pelan. Tidak tampak kesal.
“Tidak apa-apa untuk hari ini. Nanti setelah kegiatan, ambil dan simpan di tas, ya. Besok sebelum berangkat, dicek lagi.”
Aku mengangguk.
“Iya, Ustazah.”
Suaraku kecil.
Hana menggeser bukunya sedikit ke arahku. “Lihat sini dulu.”
Aku menatap halaman yang terbuka di antara kami.
Huruf-hurufnya jelas. Judulnya juga jelas. Tapi saat itu aku tidak benar-benar membaca. Aku hanya sibuk merasakan wajahku sendiri yang masih panas.
Ustazah melanjutkan penjelasan.
“Halaman ini tentang adab di ruang belajar. Sederhana saja. Kalau Ustazah sedang menjelaskan, bukunya ditutup dulu, ya. Nanti kalau perlu dicatat, Ustazah beri waktu.”
Beberapa santri menutup buku mereka.
Aku ikut menutup buku Hana yang sedang kugunakan bersama.
Hana menahan tanganku sebentar, lalu berbisik, “Pelan-pelan saja. Jangan sampai kertasnya terlipat.”
Aku langsung menarik tanganku.
“Maaf,” bisikku.
Hana menggeleng kecil. Tidak marah.
Tapi aku sudah telanjur merasa salah lagi.
Sebelum belajar, kami membaca doa bersama. Suara anak-anak mengalun pelan. Ada bagian yang kukenal, ada bagian yang hanya bisa kuikuti dari gerak bibir Hana. Aku mengucapkannya sepelan mungkin, takut salah terdengar.
Di rumah, kalau aku tidak tahu sesuatu, aku bisa diam dan berharap tidak ada yang bertanya.
Di sini, diam pun rasanya tetap kelihatan.
Setelah doa, ustazah meminta kami memperkenalkan diri lagi secara singkat. Nama, asal sekolah, dan satu kebiasaan yang ingin dilatih selama di pondok.
Satu per satu santri menjawab.
“Aisyah, dari SMA Islam Nurul Falah. Ingin lebih tepat waktu.”
“Dina, dari sekolah umum. Ingin memperbaiki hafalan.”
“Salsa. Ingin lebih sabar sama adik.”
Beberapa anak tertawa kecil. Ustazah ikut tersenyum.
Lalu giliran itu sampai kepadaku.
“Najwa,” kata ustazah lembut. “Silakan.”
Aku memegang pulpen di atas pangkuan. Pulpen itu belum kupakai, tapi jariku menekannya terlalu kuat.
“Najwa,” kataku pelan. “Dari sekolah umum.”
Ustazah menunggu.
Aku tahu bagian berikutnya.
Satu hal yang ingin diperbaiki.
Aku bisa saja menjawab seperti anak-anak lain. Lebih tepat waktu. Lebih rajin. Lebih sabar. Lebih patuh. Jawaban-jawaban itu terdengar aman.
Tapi mulutku tidak mau mengucapkannya.
Bukan karena aku merasa tidak punya salah.
Aku tahu aku punya banyak.
Hanya saja aku tidak suka harus memilih satu di depan orang-orang yang baru kukenal.
“Apa yang ingin Najwa perbaiki?” tanya ustazah sekali lagi.
Aku menelan ludah.
“Saya belum tahu, Ustazah.”
Ruang itu hening sebentar.
Aku menunduk lebih dalam.
Ustazah tidak langsung menjawab. Lalu suaranya terdengar lagi, tetap pelan.
“Tidak apa-apa. Simpan dulu jawabannya. Nanti kalau sudah tahu, boleh kamu tulis.”
Aku mengangguk.
Tapi kalimat itu tidak langsung membuatku lega.
Aku justru merasa seperti semua orang sudah tahu apa yang harus mereka siapkan, sementara aku bahkan belum tahu buku yang benar ada di mana.
Pengarahan berlanjut. Ustazah menjelaskan jadwal belajar, aturan keluar masuk ruang kelas, cara izin ke kamar mandi, tempat menyimpan buku, dan apa yang harus dilakukan kalau tertinggal kegiatan. Semua disampaikan pelan dan rapi.
Aku mendengar.
Setidaknya aku berusaha mendengar.
Tapi setiap kali ustazah menyebut aturan baru, kepalaku terasa makin penuh. Aku mencoba mendengar, tapi tanganku mulai kaku memegang pulpen.
Setelah kegiatan selesai, anak-anak mulai berdiri. Ada yang menyalami ustazah, ada yang menutup buku, ada yang langsung berjalan ke luar karena ada jadwal berikutnya.
Hana menoleh kepadaku.
“Mau aku temani ambil buku panduan?” tanyanya.
Aku langsung menggeleng.
“Aku bisa sendiri.”
Nada suaraku lebih cepat dari yang kuinginkan.
Hana diam sebentar. “Oh. Iya.”
Risa yang sedang memasukkan buku ke tas menatapku sekilas. “Ya sudah. Tapi kalau salah belok, teriak aja.”
Hana menepuk pelan lengan Risa.
Risa mengatupkan bibir.
Aku berdiri, meraih tas, lalu keluar lebih dulu.
Aku tahu Hana hanya ingin membantu. Tapi setelah salah membawa buku dan tidak bisa menjawab seperti anak-anak lain, aku sedang tidak ingin dibantu. Dibantu malah membuatku makin merasa tidak tahu apa-apa.
Aku berjalan kembali ke kamar dengan langkah cepat.
Di dalam kamar, suasananya lebih sepi. Beberapa ranjang kosong. Ada handuk yang masih tergantung, mukena yang terlipat rapi, dan sandal-sandal di bawah rak. Dari luar terdengar suara anak-anak berjalan menuju kegiatan berikutnya.
Aku membuka lemari kecilku.
Buku panduan itu ternyata ada di sana.
Buku kecil berwarna hijau, terselip di bawah tumpukan seragam. Sampulnya masih bersih. Di sudut kanan atas ada label kecil bertuliskan namaku.
Aku mengambilnya, lalu duduk di tepi ranjang.
Rasanya menyebalkan.
Bukan karena bukunya jauh.
Bukan karena aku tidak mampu mengambilnya.
Semua terasa datang terlalu cepat: jadwal, aturan, pertanyaan, bahkan buku kecil yang seharusnya kubawa tadi.
Aku membuka halaman pertama.
Di sana tertulis: Adab Santri di Kamar, Kelas, dan Lingkungan Pondok.
Aku baru membaca judulnya ketika bel berikutnya berbunyi lagi.
Buku itu masih terbuka di pangkuanku.
Dari luar kamar, suara Risa terdengar memanggil.
“Najwa, sudah mulai.”
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.