Logo Tarbiya Nabawiya Tarbiya Nabawiya Menumbuhkan Generasi dengan Iman dan Adab
← Kembali ke daftar cerita
Series Keluarga Muslim Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1) · Episode 9 8 menit

Di Sini, Pagi Tidak Menunggu Aku Siap

Aku baru tidur sebentar ketika suara bel membuat seluruh kamar bergerak sebelum aku sempat mengerti apa yang.

Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1) Najwa datang ke pesantren putri dengan hati yang belum selesai. Ia merasa pondok adalah tempat pembuangan, tempat orang tuanya menjauhkan dirinya karena ia terlalu sulit diatur. Di hari-hari awalnya, Najwa harus menghadapi kamar bersama, jadwal yang padat, hafalan yang tersangkut, teman-teman baru, dan rasa rindu rumah yang sering datang bersama marah. Musim pertama ini mengikuti perjalanan kecil Najwa: dari merasa dibuang, menuju keberanian untuk jujur sedikit, bertahan satu hari lagi, dan mulai melihat bahwa pondok bukan tempat ia disingkirkan.

Membaca Series

Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)

Lihat semua episode
Episode 9 dari 25 Baca berurutan agar alurnya terasa utuh.

Sebelum Membaca

Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.

series keluarga adab

Aku baru tidur sebentar ketika suara bel membuat seluruh kamar bergerak sebelum aku sempat mengerti apa yang terjadi.

Awalnya, suara itu masuk ke mimpiku seperti bunyi dari tempat yang jauh. Lalu tiba-tiba lampu kamar menyala. Ada suara ranjang berderit, lemari kecil dibuka, botol minum jatuh pelan ke lantai, dan seseorang di ranjang atas menguap panjang.

Aku membuka mata.

Beberapa detik pertama, aku lupa sedang berada di mana.

Langit-langit di atasku bukan langit-langit kamarku. Dinding di sampingku bukan dinding kamarku. Di bawah bantal, tidak ada HP. Di dekat ranjang, tidak ada meja kecil tempat biasa aku menaruh air minum.

Bacaan lanjutan

Lanjutkan cerita ini

Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.

Komentar Ayah Bunda

Ruang berbagi setelah membaca.

Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.

Memuat komentar...