Di Sini, Pagi Tidak Menunggu Aku Siap
Aku baru tidur sebentar ketika suara bel membuat seluruh kamar bergerak sebelum aku sempat mengerti apa yang.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku baru tidur sebentar ketika suara bel membuat seluruh kamar bergerak sebelum aku sempat mengerti apa yang terjadi.
Awalnya, suara itu masuk ke mimpiku seperti bunyi dari tempat yang jauh. Lalu tiba-tiba lampu kamar menyala. Ada suara ranjang berderit, lemari kecil dibuka, botol minum jatuh pelan ke lantai, dan seseorang di ranjang atas menguap panjang.
Aku membuka mata.
Beberapa detik pertama, aku lupa sedang berada di mana.
Langit-langit di atasku bukan langit-langit kamarku. Dinding di sampingku bukan dinding kamarku. Di bawah bantal, tidak ada HP. Di dekat ranjang, tidak ada meja kecil tempat biasa aku menaruh air minum.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Lalu aku ingat.
Pondok.
Kamar asrama.
Hari pertama setelah malam yang hampir tidak bisa kusebut tidur.
“Bangun, bangun. Sudah mau Subuh,” suara musyrifah kamar terdengar dari dekat pintu.
Aku menoleh. Seorang santri yang sedikit lebih tua berdiri di sana sambil memegang buku kecil. Jilbabnya sudah rapi, wajahnya masih mengantuk, tapi suaranya jelas.
Hana yang tidur tidak jauh dariku sudah duduk dan melipat selimut.
Risa turun dari ranjang atas dengan gerakan malas. Jilbab tidurnya agak miring, wajahnya masih kusut karena mengantuk.
“Cepat, Wa,” kata Hana pelan ketika melihatku masih duduk. “Ambil handuk sama alat mandi. Nanti antre.”
Aku menatapnya sebentar.
Pagi bahkan belum benar-benar terasa seperti pagi, tapi aku sudah harus mengejar antrean.
Aku bangkit. Kaki menyentuh lantai yang dingin. Aku membuka lemari kecilku, lalu berhenti.
Handuk ada di mana?
Sabun yang semalam kusimpan di mana?
Kerudung putih yang harus kupakai setelah mandi ada di bagian mana?
Aku membuka satu lipatan baju, lalu menutupnya lagi. Membuka kantong perlengkapan, tapi yang kutemukan justru sisir, plastik kosong, dan tempat sabun yang belum kumasukkan apa-apa.
“Kalau kelamaan, antreannya tambah panjang,” kata Risa dari belakang sambil mencari sandalnya.
Aku menoleh cepat.
Risa mengangkat kedua tangannya sedikit. “Aku cuma ngingetin.”
Hana mendekat. “Sabunmu di tas kecil yang warna putih, kan? Semalam kamu taruh di bawah mukena.”
Aku menunduk dan mencari lagi. Benar. Tas kecil itu ada di bawah lipatan mukena. Aku mengambilnya cepat-cepat, lalu menyambar handuk.
“Ini kerudungmu,” kata Hana sambil menunjuk gantungan kecil di sisi lemari.
Aku mengambil kerudung putih itu tanpa banyak bicara.
Semua orang seperti tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang sudah membawa ember kecil ke luar kamar. Ada yang menggulung sajadah. Ada yang berjalan sambil menghafal pelan. Aku sendiri masih berusaha mengingat di mana meletakkan sabun.
Di depan kamar mandi, antrean sudah terbentuk.
Beberapa santri berdiri dengan handuk di bahu. Ada yang memegang gayung. Ada yang menahan kantuk sambil menyandar ke dinding. Dari dalam salah satu kamar mandi terdengar suara air disiram beberapa kali.
Udara pagi terasa dingin. Lantai di bawah sandalku sedikit basah.
Aku berdiri di belakang Hana.
“Kamar mandinya yang itu buat mandi, yang sebelah buat wudhu cepat,” bisik Hana sambil menunjuk.
Aku mengangguk.
Risa berdiri di belakangku. “Kalau mandi jangan sambil mikirin masa depan. Lima menit cukup.”
Beberapa anak di dekat kami tertawa kecil.
Aku tidak tertawa.
Anak-anak di dekat kami tertawa kecil.
Aku tidak.
Bukan karena Risa terdengar jahat. Aku hanya masih terlalu kaku untuk tahu kapan harus ikut tertawa.
Salah satu pintu kamar mandi terbuka.
“Berikutnya,” kata anak yang keluar sambil merapikan handuknya.
Hana masuk lebih dulu. Giliranku setelah itu.
Saat pintu kamar mandi tertutup, aku berdiri sebentar sambil melihat ember kecil di lantai. Ruangannya sempit, cukup untuk bergerak seperlunya. Tidak ada rak panjang atau air hangat seperti di rumah.
Aku buru-buru mandi.
Bukan karena sudah terbiasa, tapi karena takut ada yang mengetuk pintu.
Benar saja, sebelum aku selesai benar, terdengar suara dari luar.
“Sudah mau azan.”
Aku mempercepat gerakan. Sabun hampir jatuh. Handuk tersangkut sebentar di kait pintu. Saat keluar, aku merasa belum selesai rapi, tapi anak-anak lain sudah bergerak ke tempat wudhu.
Aku mencari sandalku.
Tidak ada.
Aku menatap lantai di depan kamar mandi. Ada banyak sandal. Beberapa warnanya mirip. Sandal baruku yang semalam masih bersih tidak terlihat di tempat aku melepasnya.
Dadaku langsung tegang.
“Sandalmu kenapa?” tanya Hana.
“Tidak ada.”
Risa yang baru selesai wudhu menoleh. “Yang putih garis biru?”
Aku mengangguk.
Risa menunjuk ke dekat pintu kamar mandi sebelah. “Itu kali. Tadi kebawa anak kamar sebelah. Sandal baru biasanya sering ketuker kalau belum hafal tempat.”
Aku mengambil sandal itu cepat-cepat. Di bagian sampingnya ada tulisan kecil namaku. Najwa A. Tulisan Bunda.
Entah kenapa, melihat nama itu di sandal yang hampir tertukar membuat tenggorokanku sakit.
Bunda sudah menulis namaku di sana supaya barang itu tidak hilang.
Tapi aku sendiri masih merasa belum tahu harus berdiri di mana.
“Ketemu, kan?” kata Risa.
Aku mengangguk.
“Makanya nanti taruhnya agak pinggir. Jangan di tengah-tengah, rawan kebawa.”
Nada Risa terdengar seperti orang yang memberi tips biasa. Bukan mengejek.
Aku memakai sandal tanpa menjawab.
Setelah wudhu, kami berjalan menuju mushala. Langit masih gelap, tapi tidak sepenuhnya hitam. Udara dingin menyentuh pipiku. Di sepanjang jalan kecil, suara sandal para santri terdengar bersahutan. Ada yang berjalan cepat, ada yang masih menahan kantuk, ada yang mengulang hafalan pendek dengan suara pelan.
Aku mengikuti Hana.
Bukan karena sudah ingin ikut, tapi karena aku tidak tahu harus berjalan ke mana kalau tidak mengikutinya.
Di mushala, shaf putri mulai terisi. Semua bergerak seperti sudah tahu tempatnya. Meletakkan mukena. Merapikan sajadah. Berdiri. Duduk. Bergeser sedikit agar lurus.
Aku meniru gerakan Hana.
Saat shalat dimulai, bacaan imam terdengar tenang dari pengeras suara. Aku berdiri di antara anak-anak yang tidak kukenal. Bahuku hampir bersentuhan dengan bahu santri lain.
Aku ikut shalat.
Tapi pikiranku masih berjalan ke mana-mana.
Ke kamar di rumah. Ke Bunda. Ke Ayah. Ke sandal yang hampir hilang sebelum pagi benar-benar dimulai.
Aku tidak menangis. Tidak juga merasa tiba-tiba tenang.
Aku hanya berdiri, rukuk, sujud, mengikuti gerakan orang-orang di sekitarku sambil berusaha tidak terlihat paling baru.
Setelah Subuh, aku kira kami akan kembali ke kamar dan tidur sebentar.
Ternyata tidak.
Di papan dekat asrama, ada jadwal piket pagi. Beberapa santri berdiri membaca nama masing-masing. Hana menarik lenganku pelan.
“Hari ini kamu ikut aku dulu,” katanya. “Namamu belum ada di jadwal tetap, tapi santri baru biasanya ikut kamar dulu biar tahu tempat.”
“Piket apa?” tanyaku.
“Rak sandal sama depan kamar.”
Aku menatapnya.
Menyapu.
Merapikan sandal.
Pagi-pagi.
Di rumah, lantai sudah bersih ketika aku keluar kamar. Sandal tidak pernah menjadi urusanku. Kalau ada yang berantakan, biasanya Mbak Sari yang merapikan tanpa banyak suara.
Di sini, Hana menyodorkan sapu kecil kepadaku.
“Bagian sini saja dulu.”
Aku memegang sapu itu dengan canggung.
Risa lewat sambil membawa kain pel. “Tenang. Semua anak baru pernah salah tempat sapu.”
Aku menatapnya. “Maksudnya?”
“Ya kadang nyapu debunya ke arah yang salah. Atau sandal yang harusnya kanan-kiri malah jadi kiri-kiri semua.”
Hana tertawa pelan.
Aku tidak ingin tertawa, tapi sudut bibirku bergerak sedikit.
Sedikit saja.
Aku mulai menyapu bagian depan kamar. Debu halus berkumpul di ujung sapu. Ada daun kecil kering terbawa angin ke teras. Hana merapikan sandal di rak. Risa mengepel bagian dekat pintu sambil sesekali mengeluh pelan karena masih mengantuk.
Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang memarahi.
Semua hanya bergerak karena memang begitulah pagi di tempat ini berjalan.
Setelah piket, kami sarapan.
Aku pikir sarapan akan terasa lebih mudah. Ternyata tidak juga.
Ruang makan sudah ramai. Anak-anak datang berkelompok, membawa piring masing-masing. Ada yang masih memakai wajah mengantuk, ada yang sudah bicara cepat tentang pelajaran hari itu, ada yang mengulang hafalan sambil menunggu antrean.
Menu pagi itu nasi, telur dadar yang dipotong kecil, dan sayur. Tidak buruk. Hanya saja semuanya terasa terlalu cepat.
Aku mengikuti Hana mengambil piring. Lalu mengikuti antrean. Lalu mengikuti tempat duduk.
Pagi itu, hampir semua yang kulakukan hanya mengikuti orang lain.
Ketika aku duduk, seorang santri dari meja sebelah menatapku.
“Kamu yang baru datang kemarin, ya?”
Aku mengangguk.
“Dari mana?”
Aku menyebut nama kotaku.
“Oh,” katanya. “Jauh juga.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa setelah itu.
Hana membantu mengalihkan pembicaraan. “Nanti setelah sarapan ada pengarahan santri baru lagi, kan?”
Santri itu mengangguk. “Iya, biasanya di kantor asrama.”
Aku menatap piringku.
Pengarahan lagi.
Berarti masih ada lagi hal yang harus kudengar. Masih ada lagi aturan yang harus kutahu. Masih ada lagi tempat yang harus kuhafal.
Aku menyuapkan nasi pelan-pelan.
Risa duduk di depanku sambil makan lebih cepat.
“Kalau kamu makan pelan banget, nanti kaget sendiri pas bel,” katanya.
Aku belum sempat menjawab ketika suara bel benar-benar berbunyi dari arah depan.
Beberapa anak langsung berdiri. Ada yang cepat-cepat menghabiskan minum. Ada yang membawa piringnya ke tempat cuci. Hana melihat jam di dinding.
“Pengarahan,” katanya. “Habisin sedikit lagi, Wa.”
Aku menatap piringku.
Sarapan belum habis. Kepalaku masih berat. Tanganku masih memegang sendok. Tapi anak-anak lain sudah bergerak seolah pagi ini tidak pernah menunggu siapa pun.
Bel berikutnya berbunyi sebelum aku selesai menghabiskan sarapan.
Anak-anak lain langsung berdiri.
Aku menatap piringku dan berpikir, kalau pagi pertamaku saja seperti ini, bagaimana dengan hari-hari setelahnya?
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.