Hari Pertama setelah Mereka Pulang
Aku baru benar-benar merasa ditinggalkan ketika mobil Ayah sudah tidak terlihat.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku baru benar-benar merasa ditinggalkan ketika mobil Ayah sudah tidak terlihat lagi.
Kak Salma masih berdiri di sampingku sambil memegang gagang koper. Kalimatnya barusan belum hilang dari telingaku.
Pertama kali mondok memang berat. Nanti pelan-pelan terbiasa.
Aku mengangguk waktu itu, tapi sebenarnya aku tidak sedang memikirkan apakah aku akan terbiasa tinggal di pondok.
Aku masih menatap gerbang hijau tua tempat mobil Ayah dan Bunda baru saja menghilang. Tangan yang tadi kupakai untuk membalas lambaian Bunda sudah turun, tapi rasanya masih kaku di sisi tubuhku.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku menunggu sebentar.
Entah menunggu apa.
Mungkin menunggu mobil itu kembali.
Mungkin menunggu Ayah turun lagi dan berkata, “Sudah, kita pulang dulu. Nanti dipikirkan lagi.”
Tapi halaman pondok tetap seperti semula.
Ada beberapa santri berjalan melewati teras kantor sambil membawa kitab. Sandal-sandal tersusun di dekat pintu. Dari bangunan sebelah, terdengar suara beberapa anak membaca bersama-sama. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa tempat ini sudah berjalan jauh sebelum aku datang.
Di dekat kakiku, koper besar berdiri dengan gagang yang masih dipegang Kak Salma. Dua kantong plastik perlengkapan pondok ada di sampingnya. Dari salah satu kantong, gagang ember mandi terlihat menyembul di antara botol sabun dan kotak sandal baru.
Semua barangku sudah turun dari mobil.
Aku yang belum benar-benar turun dari rumah.
“Najwa?”
Aku menoleh.
Kak Salma tersenyum kecil. Bukan senyum yang terlalu cerah. Tapi senyum itu tidak membuatku merasa sedang didorong-dorong.
“Kita bawa barangnya ke asrama dulu, ya,” katanya.
Aku hanya mengangguk.
Kak Salma tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Tidak bilang aku harus kuat. Tidak bilang ini semua untuk kebaikanku. Ia hanya menggeser salah satu kantong plastik agar lebih mudah kubawa, lalu menunjuk jalan kecil di samping kantor.
“Kopernya bisa ditarik pelan-pelan. Jalannya agak tidak rata.”
Aku menunduk melihat paving halaman yang memang beberapa bagiannya sedikit naik. Di rumah, koperku biasanya hanya melewati lantai licin dari kamar ke bagasi mobil. Di sini, roda koper itu berbunyi kasar setiap kali melewati celah paving.
Krekk.
Krekk.
Suara itu mengikuti langkahku.
Kami melewati teras panjang. Di salah satu sisi, ada papan pengumuman berisi jadwal kegiatan dan beberapa kertas yang ditempel dengan selotip. Aku sempat membaca potongan tulisan: piket kamar, jadwal setoran, jadwal kunjungan.
Jadwal kunjungan.
Mataku berhenti sebentar di sana, tapi Kak Salma sudah berjalan lebih dulu.
“Nanti kalau ada yang belum kamu tahu, tanya saja,” katanya sambil menoleh sebentar.
Aku tidak menjawab.
Asrama putri berada di bangunan belakang. Tidak jelek. Tidak juga seperti yang kubayangkan dari cerita orang-orang. Dindingnya bersih, catnya hijau muda, jendelanya terbuka. Di teras depan, beberapa sandal tersusun tidak terlalu rapi. Ada ember kecil di pojok, sapu lidi disandarkan ke dinding, dan jemuran handuk terlihat dari sisi belakang.
Semuanya biasa saja.
Mungkin karena itu rasanya makin aneh.
Tempat ini tidak tampak seperti tempat pembuangan. Tidak tampak menyeramkan. Tidak tampak seperti hukuman.
Tapi aku tetap tidak ingin tinggal di sini.
Kak Salma berhenti di depan salah satu kamar, lalu membuka pintunya.
“Ini kamar kamu.”
Aku berdiri di ambang pintu.
Di dalamnya ada beberapa ranjang tingkat. Sebagian kasur sudah rapi dengan seprai bermotif kecil. Ada mukena tergantung di sisi lemari. Ada tas kain di bawah ranjang. Di dinding dekat pintu, jadwal harian ditempel. Di sudut kamar, ada rak kecil berisi beberapa botol minum.
Udara kamar bercampur bau sabun mandi, minyak telon, dan pakaian yang baru dijemur.
Aku tidak tahu berapa orang yang tidur di sana. Yang kutahu, tidak ada satu pun tempat yang benar-benar kosong dari tanda kehidupan orang lain.
Di rumah, aku punya kamar sendiri. Di sini, tempat tidurku bahkan bersebelahan dengan orang yang belum kukenal.
“Najwa tidur di ranjang bawah ini,” kata Kak Salma sambil menunjuk kasur di dekat jendela. “Lemarinya yang sebelah sini. Tidak besar, jadi nanti barang yang tidak perlu bisa disimpan di koper dulu.”
Aku melihat lemari itu.
Kecil.
Jauh lebih kecil dari lemari di kamarku. Bahkan mungkin lebih kecil dari bagian lemari yang biasa kupakai hanya untuk menggantung seragam sekolah.
Aku ingin mengatakan sesuatu. Ingin bertanya bagaimana mungkin semua barangku cukup di sana.
Tapi aku hanya mengangguk.
Dari luar kamar, dua santri masuk sambil membawa buku. Mereka berhenti ketika melihatku.
“Ini Najwa,” kata Kak Salma. “Santri baru. Mulai hari ini sekamar dengan kalian.”
Anak yang lebih tinggi tersenyum duluan. Jilbabnya rapi, matanya teduh.
“Aku Hana,” katanya. “Kalau butuh apa-apa, bilang aja.”
Yang satu lagi berdiri di belakangnya. Tubuhnya lebih kecil, matanya lebih lincah.
“Aku Risa,” katanya. Lalu matanya turun ke koperku. “Barangmu banyak juga.”
Hana menoleh ke Risa cepat-cepat.
Risa mengangkat bahu. “Aku cuma ngomong.”
Aku menatap koperku.
Barangku memang banyak.
Bahkan setelah Bunda bilang hanya membawa yang perlu, barang-barang itu tetap terasa memenuhi ruang. Di rumah, semua itu biasa saja. Di kamar ini, koperku seperti terlalu besar untuk diletakkan di mana pun.
“Tidak apa-apa,” kata Kak Salma. “Nanti disusun sedikit-sedikit.”
Aku duduk di tepi ranjang yang katanya menjadi tempatku. Kasurnya tidak keras, tapi juga tidak selembut kasurku di rumah. Sepreinya sudah dipasang, warna putih polos dengan garis tipis di tepinya. Di ujung ranjang ada bantal yang masih baru.
Hana membantu membuka koper.
“Kamu mau taruh baju harian di lemari dulu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ia tidak langsung mengambil barangku. Ia menunggu tanganku bergerak lebih dulu. Entah kenapa, itu membuatku sedikit lebih mudah bernapas.
Aku membuka bagian atas koper. Di sana ada beberapa baju polos yang sudah diberi label kecil. Namaku tertulis di sudutnya dengan spidol hitam.
Najwa A.
Bunda yang menulisnya.
Aku tahu dari bentuk huruf N yang sedikit miring ke kanan.
Di bawahnya ada kerudung putih. Mukena putih. Buku tulis. Handuk. Tempat sabun. Semua sudah diberi nama.
Namaku ada di kerudung itu, di mukena itu, di buku itu.
Seolah barang-barangku sudah lebih dulu menerima pondok daripada aku.
“Labelnya rapi,” kata Hana pelan.
Aku menutup sedikit bagian koper. “Bunda yang nulis.”
Hana mengangguk, tidak bertanya lagi.
Risa duduk di ranjang sebelah sambil memperhatikan.
“Kamu dari sekolah umum?” tanyanya.
“Iya.”
“Pindahan tengah semester?”
Aku mengangguk.
“Berarti nanti banyak adaptasi.”
“Risa,” tegur Hana pelan.
“Apa? Memang iya.”
Aku menatap Risa sebentar. Ia tidak terlihat sedang mengejek. Hanya bicara apa adanya. Tapi kata adaptasi itu membuat dadaku terasa sempit.
Aku sudah terlalu sering mendengar orang dewasa memakai kata-kata yang terdengar rapi untuk sesuatu yang sebenarnya menyakitkan. Adaptasi. Mencoba. Demi kebaikan. Lingkungan baru.
Tapi yang merasakannya tetap aku.
Sore itu, aku mengikuti Kak Salma ke kantor asrama untuk menerima penjelasan singkat. Tidak lama. Hanya tentang jadwal harian, tempat makan, kamar mandi, aturan barang, dan kegiatan malam.
“HP disimpan di kantor,” kata Kak Salma. “Untuk santri baru, nanti komunikasi dengan orang tua mengikuti jadwal yang sudah ditentukan pondok.”
Aku menatap meja di depan Kak Salma.
Aku memang sudah tidak membawa HP. HP-ku masih di rumah, mungkin di laci Ayah, mungkin di tempat lain yang tidak kutahu. Tapi mendengar aturan itu tetap membuatku merasa seperti ada pintu lain yang ditutup.
“Kalau ada keperluan mendesak?” tanyaku.
“Bisa sampaikan ke musyrifah kamar atau ustazah piket.”
Aku menatapnya sebentar. “Musyrifah itu apa?”
“Kakak pendamping di kamar,” jawab Kak Salma. “Nanti kamu kenalan juga. Kalau ada apa-apa, bisa bilang ke dia dulu.”
Aku mengangguk.
Musyrifah. Ustazah piket. Jadwal komunikasi. Aturan barang.
Di rumah, hidupku beberapa minggu terakhir memang penuh aturan. Tapi setidaknya aku masih tahu sudut mana yang bisa kupakai untuk diam. Di sini, aku bahkan belum tahu harus duduk di mana kalau ingin diam tanpa terlihat aneh.
Menjelang Maghrib, suara bel berbunyi.
Tidak terlalu keras, tapi semua orang seperti mengerti harus bergerak ke mana. Hana mengambil mukena. Risa merapikan buku di atas ranjang. Santri lain dari kamar sebelah berjalan cepat ke tempat wudhu.
Aku ikut berdiri karena tidak tahu harus apa selain mengikuti.
Di tempat wudhu, anak-anak mengantre. Ada yang bercanda pelan, ada yang mengingatkan temannya agar tidak terlalu lama, ada yang memegang mukena sambil mengantuk. Airnya dingin ketika menyentuh tanganku.
Aku berdiri di belakang Hana.
“Kalau belum hafal tempatnya, ikut aku dulu saja,” katanya.
Aku mengangguk lagi.
Hari itu rasanya aku terlalu banyak mengangguk.
Setelah shalat Maghrib dan pengarahan singkat untuk santri baru, kami makan malam.
Ruang makan pondok tidak seperti ruang makan di rumahku. Tidak ada meja panjang mengilap. Tidak ada kursi empuk. Tidak ada Mbak Sari yang bertanya aku mau lauk apa.
Kami mengambil makan dengan antre. Piring stainless berbunyi ketika ditumpuk. Menu malam itu nasi, sayur bening, tempe, dan sedikit ayam suwir.
Aku membawa piringku ke tempat duduk bersama Hana dan Risa.
“Nanti kalau belum biasa makan cepat, pelan aja,” kata Hana.
“Yang penting jangan kelamaan sampai piringnya diambil piket,” sambung Risa.
Hana menatapnya lagi.
Risa nyengir. “Bercanda.”
Aku menatap tempe di piringku. Di rumah, aku bisa saja tidak makan kalau tidak suka. Mbak Sari akan menawarkan yang lain. Bunda kadang memesan makanan dari luar kalau Ayah pulang membawa tamu atau kalau beliau sedang ingin sesuatu.
Di sini, tidak ada yang bertanya aku ingin apa.
Tapi anehnya, anak-anak lain makan seperti biasa. Ada yang menambah sayur. Ada yang menukar sambal. Ada yang tertawa kecil karena temannya menjatuhkan sendok.
Tidak ada yang tampak merasa hidupnya sedang dihukum.
Mungkin hanya aku yang merasa begitu.
“Kalau tempenya nggak dimakan, buat aku aja,” kata Risa tiba-tiba.
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Tempe,” katanya sambil menunjuk piringku. “Daripada kamu lihat terus.”
Hana menahan senyum.
Aku mendorong tempe itu sedikit ke arah Risa.
Risa mengambilnya dengan senang. “Makasih.”
Untuk pertama kalinya sejak mobil Ayah pergi, aku hampir tersenyum.
Hampir.
Malamnya, setelah Isya dan belajar malam, kami kembali ke kamar. Tubuhku lelah, tapi pikiranku belum mau diam. Kamar asrama terasa lebih penuh saat malam. Ada suara plastik dibuka, suara lemari kecil ditutup, suara anak mencari minyak kayu putih, suara sandal bergeser di lantai.
Hana merapikan buku di bawah bantal.
Risa naik ke ranjang atas sambil membawa botol minum.
“Kalau malam pertama susah tidur, biasa,” kata Hana pelan dari ranjang sebelah.
Aku sedang melipat kerudung putih di pangkuan. “Siapa bilang aku susah tidur?”
Hana tidak tersinggung. Ia hanya tersenyum kecil.
“Tidak ada. Aku dulu begitu.”
Aku menunduk lagi.
Lampu kamar dimatikan beberapa menit setelah itu. Tidak benar-benar gelap, karena cahaya dari lorong masih masuk lewat celah bawah pintu. Kipas angin berputar pelan. Dari ranjang atas, terdengar suara Risa menguap. Dari sisi lain kamar, ada santri yang membaca doa tidur dengan suara hampir tidak terdengar.
Aku berbaring menghadap dinding.
Kasur ini bukan kasurku. Bantal ini bukan bantal yang biasa kupeluk. Langit-langit di atasku juga asing.
Aku ingin mengambil HP, lalu ingat aku tidak punya.
Aku ingin mengunci pintu, lalu sadar pintu kamar ini bukan hanya milikku.
Aku ingin menangis, tapi takut ada yang mendengar.
Di rumah, kalau aku ingin sendirian, aku tinggal menutup pintu.
Di sini, bahkan sedih pun harus pelan-pelan.
Aku menarik selimut sampai dagu, menahan tangis sepelan mungkin, karena di tempat ini bahkan sedih pun tidak bisa kututup sendirian.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.