Hari ketika Aku Tidak Lagi Ditanya
Aku tahu keputusan itu sudah dibuat dari cara Bunda tidak menatapku saat memanggilku ke ruang.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku tahu keputusan itu sudah dibuat dari cara Bunda tidak menatapku saat memanggilku ke ruang keluarga.
Malam itu rumah sudah selesai makan. Mbak Sari sedang membereskan dapur. Suara air mengalir terdengar samar, bercampur dengan dengung pendingin ruangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku sedang di kamar ketika Bunda mengetuk pintu.
Tidak seperti biasanya, ketukannya pelan.
“Najwa,” panggilnya.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku menoleh dari meja belajar. Buku matematikaku terbuka, tapi sejak tadi aku hanya memandangi angka-angkanya tanpa benar-benar membaca.
“Iya, Bun?”
“Turun sebentar, Nak. Ayah mau bicara.”
Dari kalimat itu saja, perutku sudah terasa tidak enak.
Ayah mau bicara.
Biasanya, kalau Ayah hanya ingin menegur, Bunda akan langsung masuk dan bicara di ambang pintu. Tapi malam itu Bunda berdiri di luar kamar, tangannya memegang ujung jilbab, matanya lebih sering melihat lantai daripada menatapku.
Aku tahu sesuatu sudah selesai sebelum aku datang.
Aku turun pelan-pelan.
Ruang keluarga tampak seperti sudah disiapkan dari tadi. Tidak ada bantal sofa yang miring. Tidak ada gelas bekas minum di meja. Lampu di atas meja menyala terang. Di meja kecil ada dua gelas air putih, tisu, dan sebuah map cokelat yang diletakkan di samping HP Ayah. HP itu menghadap ke bawah.
Ayah duduk di sofa tanpa laptop. Jam tangannya sudah dilepas dan diletakkan di meja. Bunda duduk di sisi sofa yang lain, tidak terlalu jauh dariku, tapi juga tidak cukup dekat untuk membuatku merasa aman.
“Duduk,” kata Ayah.
Aku duduk di kursi kecil dekat meja. Tanganku kuletakkan di pangkuan.
Tidak ada yang langsung bicara.
Suara sendok dari dapur terdengar sekali, lalu hilang. Setelah itu rumah menjadi sangat sunyi.
Ayah menarik napas.
“Ayah dan Bunda sudah mempertimbangkan semuanya.”
Aku menatap map cokelat di meja.
Bunda bergerak sedikit, seperti ingin menyela, tapi tidak jadi.
Ayah melanjutkan, “Kami sudah bicara dengan Bibi Rania. Sudah tanya ke pihak pondok juga.”
Aku menelan ludah.
Jadi benar.
Bunda akhirnya menatapku. Matanya tampak lelah.
“Bunda dan Ayah memutuskan,” katanya pelan, “kamu akan mencoba tinggal di pondok.”
Kata mencoba terdengar lembut.
Tapi di telingaku, kata itu tetap berarti aku harus berangkat.
Aku tidak langsung menangis. Aku juga tidak langsung marah. Rasanya seperti tubuhku terlambat memahami sesuatu yang sebenarnya sudah kutebak sejak beberapa hari lalu.
“Berapa lama?” tanyaku.
Bunda membuka bibir, lalu menutupnya lagi.
Ayah menjawab, “Kita lihat nanti.”
Aku menunduk.
Kita lihat nanti.
Kalimat itu lagi.
Dulu, ketika aku bertanya apakah aku boleh menolak, Ayah juga menjawab seperti itu. Sekarang, ketika keputusan sudah disebut, jawabannya tetap sama. Seperti ada pintu yang dibiarkan sedikit terbuka, padahal dari luar sudah dikunci.
“Kalau Najwa tidak mau?” tanyaku.
Ayah mengusap wajahnya pelan. “Kadang yang baik memang tidak selalu enak di awal.”
Aku menatapnya.
Aku tahu kalimat itu terdengar benar.
Tapi malam itu, aku tidak sedang menolak sesuatu hanya karena tidak enak. Aku hanya tidak mau merasa dikeluarkan dari rumah sendiri.
“Berarti tetap harus?” tanyaku.
Bunda menunduk.
Ayah tidak langsung menjawab.
Diam mereka membuat dadaku terasa penuh.
Aku mengangguk pelan, bukan karena setuju, tapi karena mulai paham.
“Bunda bukan mau membuang kamu, Nak,” kata Bunda tiba-tiba.
Suaranya bergetar tipis.
Aku menoleh kepadanya.
“Tapi Bunda sudah beli barang-barangnya.”
Bunda terdiam.
Di mataku langsung muncul kantong putih di atas kursi kamar. Mukena baru. Baju polos. Kerudung putih yang belum pernah kumiliki.
“Bunda cuma tidak mau semuanya mendadak,” katanya.
“Buat Bunda tidak mendadak,” jawabku pelan. “Buat Najwa tetap sakit.”
Bunda memejamkan mata sebentar.
Ayah mengambil gelas air putih, tapi hanya memegangnya. Ia tidak minum.
“Najwa,” katanya, kali ini suaranya lebih rendah. “Ayah dan Bunda tidak mengambil keputusan ini karena benci. Kami takut.”
Aku menatap meja.
“Takut apa?”
“Takut kamu makin jauh.”
Aku ingin bertanya, jauh yang mana. Tapi tenggorokanku terasa penuh.
Aku hanya diam.
Ayah membuka map cokelat di meja. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Aku tidak bisa membaca semuanya dari tempatku duduk, tapi aku melihat logo pondok di bagian atas salah satu halaman.
Ayah melihat kertas di dalam map sebentar sebelum berkata, “Hari Ahad kita berangkat.”
Kata itu jatuh di ruang keluarga seperti sesuatu yang berat.
Berangkat.
Bukan lagi mungkin.
Bukan lagi nanti.
Bukan lagi tanya-tanya.
Aku menggenggam ujung bajuku.
“Ahad ini?” tanyaku.
Bunda mengangguk pelan.
“Tapi sekolah?”
“Sudah diurus,” jawab Ayah.
“Barang-barang?”
“Bunda akan bantu siapkan.”
“Najwa?”
Pertanyaan itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Ayah dan Bunda menatapku.
Aku mengulangnya, lebih pelan. “Najwa kapan disiapkan?”
Tidak ada yang menjawab.
Bunda mengusap sudut matanya. “Bunda akan menemani kamu, Nak.”
Aku ingin percaya kalimat itu. Tapi yang aku butuhkan malam itu bukan hanya ditemani membeli barang atau menulis nama di perlengkapan.
Aku ingin ada yang duduk di sebelahku tanpa membawa map, tanpa membawa tanggal, tanpa memintaku langsung mengerti.
Ayah merapikan kertas-kertas di dalam map. Gerakannya rapi, seperti sedang menyelesaikan urusan kerja. Tapi aku melihat tangannya berhenti sebentar saat menyentuh halaman terakhir.
Mungkin Ayah juga berat. Aku tidak tahu.
Yang kutahu, berat Ayah tidak mengubah arah apa pun.
“Kamu boleh marah,” kata Ayah.
Aku menatapnya.
“Tapi keputusan ini tetap berjalan?”
Ayah diam.
Aku tersenyum kecil. Bukan karena lucu. Hanya karena tidak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa.
“Kalau begitu, marahnya untuk apa?”
Bunda menangis pelan setelah itu.
Tangisnya tidak keras. Hanya air mata yang jatuh tanpa suara. Aku melihatnya, dan bagian kecil dalam diriku ingin mendekat. Ingin memeluk Bunda. Ingin bilang aku juga takut.
Tapi kakiku tetap diam.
Mungkin karena begitu Bunda menangis, aku merasa tidak punya tempat lagi untuk marah.
“Najwa boleh ke kamar?” tanyaku.
Bunda mengangguk.
Ayah menutup map cokelat itu.
Aku berdiri. Lututku terasa lemah, tapi aku berusaha berjalan biasa saja. Melewati sofa. Melewati meja. Melewati gelas air putih yang tidak diminum siapa pun.
Di tangga, aku mendengar Bunda menangis sedikit lebih jelas.
Ayah berkata pelan, “Sudah, Bun.”
Aku berhenti sebentar, tapi tidak menoleh.
Bukan karena aku tidak peduli.
Aku hanya berdiri sebentar di tangga, lalu tetap naik.
Di kamar, kantong belanja putih masih ada di kursi.
Aku menyalakan lampu. Cahaya kuning memenuhi kamar. Semua tampak sama seperti kemarin, tetapi tidak terasa sama.
Aku mendekati meja belajar.
Di sana ada beberapa barang baru yang belum kulihat sebelumnya.
Spidol hitam.
Label kecil.
Beberapa plastik bening.
Bunda mungkin meletakkannya tadi sore saat aku mandi. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk menahan takut sampai tidak sadar.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan memandangi label-label itu lama sekali.
Belum ada namaku di sana.
Belum ada tulisan apa pun.
Tapi aku tahu, besok pagi Bunda akan mulai menulisnya.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.