Mereka Bilang Ini Belum Pasti
Mereka bilang belum ada keputusan, tapi Bunda sudah menyimpan nomor pondok itu di.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Mereka bilang belum ada keputusan, tapi Bunda sudah menyimpan nomor pondok itu di HP-nya.
Aku melihatnya pagi itu di meja makan.
Bunda sedang membalas pesan sambil duduk di kursi sebelahku. Di hadapannya ada sepiring roti panggang yang belum disentuh, segelas air putih, dan cangkir teh yang uapnya tinggal sedikit. Ayah duduk di ujung meja, membaca sesuatu di tablet sambil sesekali menyeruput kopi.
Rumah masih terlalu pagi untuk terasa ramai.
Suara sendok beradu dengan piring terdengar jelas. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dari balik jendela besar, tukang kebun sedang menyiram tanaman, tapi suara airnya hanya terdengar samar.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku tidak banyak bicara. Sejak malam Bibi Rania datang, aku memang lebih banyak diam. Bukan karena sudah tenang, tapi karena aku tidak tahu harus menaruh marahku di mana.
Bunda meletakkan HP-nya di meja untuk menuang teh lagi. Layarnya masih menyala.
Di sana, aku melihat nama kontak yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ustazah Penerimaan Santri.
Jari-jariku berhenti di sisi gelas.
Bunda sadar aku melihat layar itu. Tangannya cepat-cepat mengambil HP dan membaliknya menghadap meja.
Gerakan kecil itu membuat dadaku makin tidak enak.
“Bunda sudah hubungi pondok?” tanyaku pelan.
Ayah menurunkan tabletnya sedikit.
Bunda tidak langsung menjawab. Ia merapikan sendok di samping piring, padahal sendok itu sudah rapi.
“Bunda cuma tanya-tanya dulu, Nak.”
Cuma tanya-tanya.
Aku mengulang kalimat itu di dalam kepala. Rasanya seperti pintu yang belum dibuka, tapi kuncinya sudah diputar pelan-pelan.
“Katanya belum diputuskan,” kataku.
“Memang belum,” jawab Bunda cepat.
Ayah meletakkan tablet di meja. “Tapi kita harus punya pilihan.”
Aku menoleh kepadanya. “Pilihan untuk siapa?”
Ayah diam sebentar.
“Untuk kebaikan kamu.”
Aku menatap piringku. Nasi goreng yang tadi dibuatkan Mbak Sari masih banyak. Telurnya sudah mulai dingin.
Kalimat itu seharusnya terdengar baik. Untuk kebaikan kamu. Tapi pagi itu, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah diputuskan orang dewasa, lalu dibungkus agar anak tidak terlalu sakit saat menerimanya.
“Kalau Najwa bilang tidak mau?” tanyaku.
Bunda menatap Ayah.
Ayah menjawab, “Kita lihat nanti.”
Aku hampir tertawa, tapi tidak jadi.
Kita lihat nanti.
Bukan iya.
Bukan tidak.
Bukan, kami akan dengarkan kamu dulu.
Hanya kalimat yang membuat pendapatku seperti benda kecil di ujung meja. Ada, tapi tidak cukup penting untuk diangkat.
Aku mendorong piring sedikit menjauh.
“Najwa belum lapar,” kataku.
Bunda memanggilku ketika aku berdiri. “Najwa.”
Aku berhenti.
“Ini bukan hukuman.”
Aku menoleh sedikit. “Kalau bukan hukuman, kenapa rasanya Najwa yang disuruh pergi?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku naik ke kamar tanpa mengambil air, tanpa menoleh lagi.
Di kamar, aku duduk di lantai dekat tempat tidur. Tirai jendela masih setengah terbuka. Cahaya pagi masuk terlalu terang, membuat semua benda terlihat biasa saja. Meja belajar. Rak buku. Lemari. Tas sekolah yang tersandar di kursi.
Semua masih di tempatnya.
Aku melihat meja belajar, tas sekolah, dan lemari bajuku. Semuanya masih di tempatnya. Tapi rasanya orang-orang di bawah sudah mulai menghitung apa saja yang bisa dibawa pergi dari kamar ini.
Siangnya, Bibi Rania datang lagi.
Kali ini, aku tahu ia bukan hanya datang untuk bicara dengan Bunda dan Ayah. Dari cara Bunda mengetuk pintu kamarku lebih pelan dari biasanya, aku merasa ada sesuatu yang memang disiapkan untukku.
Aku tahu dari suara salam Bibi Rania di bawah. Suaranya lembut, tidak tergesa-gesa. Bunda menyambutnya di ruang tamu. Mereka bicara sebentar, tidak selama malam sebelumnya.
Aku tidak turun.
Aku tidak ingin menguping lagi.
Tapi beberapa saat kemudian, Bunda mengetuk pintu kamarku.
“Najwa, Bibi Rania ingin bicara sebentar.”
Aku sedang duduk di meja belajar dengan buku terbuka, tapi tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala.
“Harus?” tanyaku.
Bunda menarik napas. “Sebentar saja.”
Aku turun dengan langkah malas.
Bibi Rania tidak mengajakku bicara di ruang tamu. Ia mengajakku ke teras belakang. Di sana ada kursi rotan, beberapa pot tanaman, dan kolam kecil yang airnya bergerak pelan. Biasanya tempat itu dipakai Bunda kalau ada teman datang. Siang itu, tempat itu terasa terlalu sepi.
Bibi Rania duduk lebih dulu. Aku duduk di kursi seberangnya.
Beberapa detik kami hanya diam.
Bibi Rania menatapku, lalu berkata, “Bibi tahu kamu marah.”
Aku menunduk. “Kalau Bibi tahu, kenapa tetap setuju?”
“Setuju apa?”
“Najwa dimasukin pondok.”
Bibi Rania tidak buru-buru menjawab. Ia memperbaiki ujung jilbabnya yang jatuh di pangkuan.
“Bibi tidak setuju kamu dibuang,” katanya. “Bibi setuju kamu ditolong.”
Aku menggenggam ujung lengan bajuku.
“Tapi rasanya sama saja.”
Bibi Rania diam. Wajahnya tidak marah. Tidak juga tersinggung.
“Mungkin memang rasanya begitu sekarang,” katanya pelan.
Aku menatap lantai teras.
“Bibi tahu Najwa salah,” kataku. “Najwa tahu juga. Tapi kenapa yang harus berubah cuma Najwa?”
Bibi Rania menarik napas panjang. Dari dalam rumah, terdengar suara piring diletakkan di dapur.
“Pertanyaan itu tidak salah,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kalau nanti pondok benar jadi pilihan, bukan berarti rumah ini boleh merasa sudah selesai,” lanjutnya. “Kamu sedang perlu ditolong, Najwa. Tapi rumah ini juga perlu belajar.”
Aku ingin percaya.
Tapi percaya pada orang dewasa terasa sulit. Mereka baru bertanya setelah HP-ku dibuka. Setelah sekolah dihubungi. Setelah pondok mulai dibicarakan.
“Najwa tidak mau jauh,” kataku.
Suara itu keluar lebih kecil dari yang kuinginkan.
Bibi Rania mengangguk pelan. “Bibi dengar.”
Dua kata itu membuat tenggorokanku sakit.
Bibi dengar.
Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana seperti itu justru hampir membuatku menangis.
Tapi sebelum air mataku jatuh, Bunda muncul di balik pintu kaca.
“Sudah?” tanyanya pelan.
Bibi Rania menoleh. “Sebentar lagi.”
Aku menunduk lagi.
Aku tahu Bunda tidak bermaksud mengganggu. Tapi saat melihatnya berdiri di sana, menunggu pembicaraan kami selesai, aku merasa seperti sedang diperiksa. Seolah Bibi Rania akan keluar membawa laporan tentang apakah aku sudah bisa menerima keputusan itu atau belum.
Sore harinya, pondok tidak lagi hanya menjadi nama di layar HP Bunda.
Pondok mulai menjadi daftar.
Aku melihat kertas itu di meja ruang tengah. Bunda mungkin lupa menyimpannya, atau mungkin sengaja meletakkannya di sana supaya aku melihatnya pelan-pelan.
Daftar Perlengkapan Santri Baru.
Di bawahnya ada banyak tulisan.
Gamis harian.
Kerudung putih.
Mukena.
Sandal.
Ember.
Gembok kecil.
Alat mandi.
Buku tulis.
Seprai.
Spidol nama.
Aku membaca semuanya tanpa menyentuh kertas itu.
Aku baru tahu hidup seseorang bisa dicicil lewat daftar barang seperti itu.
Di dapur, Bunda sedang berbicara dengan Mbak Sari tentang makan malam. Suaranya biasa saja. Ayah belum pulang. Rumah berjalan seperti tidak ada yang aneh.
Padahal di atas meja ruang tengah, ada kertas yang membuatku merasa hidupku sedang disiapkan untuk dipindahkan.
Aku masuk ke kamar sebelum Bunda melihatku.
Malamnya, setelah makan, aku menunggu Bunda selesai merapikan meja. Ayah duduk di ruang keluarga, masih dengan laptop terbuka di pangkuannya. Aku berdiri di dekat meja makan, menahan diri agar tidak langsung bicara dengan nada tinggi.
“Bunda,” panggilku.
Bunda menoleh. “Iya?”
“Kasih Najwa waktu.”
Bunda berhenti mengangkat piring.
Ayah menutup laptop pelan.
“Waktu untuk apa?” tanya Ayah.
“Untuk berubah.”
Bunda meletakkan piring kembali ke meja. “Najwa, Bunda sudah kasih waktu.”
Aku menggeleng. “Yang kemarin itu bukan waktu.”
Bunda menatapku.
“Itu aturan,” kataku.
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Aku sendiri kaget karena bisa mengatakannya. Bukan karena aku tidak takut, tapi karena kalimat itu sudah lama sekali duduk di dalam dadaku.
Ayah menatapku cukup lama.
“Aturan itu perlu karena kamu tidak bisa menjaga diri,” katanya.
Aku diam.
Sebagian dari kalimat Ayah benar. Dan bagian yang benar itu membuatku tidak bisa membalas cepat-cepat.
Tapi tetap saja, aku ingin mereka tahu bahwa dijaga dan didengar bukan hal yang sama.
“Najwa bisa coba,” kataku lebih pelan.
Ayah menghela napas. “Masalahnya, ini bukan cuma soal coba-coba.”
“Terus soal apa?”
“Soal masa depan kamu.”
Aku menatap Ayah. “Masa depan Najwa, tapi Najwa cuma disuruh ikut.”
Bunda memejamkan mata sebentar. “Bukan begitu, Nak.”
“Tapi rasanya begitu.”
Tidak ada yang bicara.
Lalu HP Ayah bergetar di meja. Ia melihat layarnya, lalu berdiri.
“Ayah angkat dulu.”
Ayah berjalan ke ruang kerja, tetapi pintunya tidak ditutup rapat. Dari meja makan, aku masih bisa mendengar potongan suaranya.
“Iya, Ustazah.”
Dadaku langsung dingin.
Bunda juga mendengar. Tangannya berhenti di pinggir meja.
Ayah berbicara dengan suara rendah, tapi beberapa kalimat tetap sampai ke telingaku.
“Kalau masuk tengah semester bagaimana?”
“Adaptasinya biasanya berapa lama?”
“HP memang tidak boleh dibawa sama sekali?”
“Kunjungan orang tua jadwalnya kapan?”
Aku menatap Bunda.
Bunda tidak menatap balik.
Pagi tadi mereka bilang belum diputuskan.
Malam itu, Ayah sudah bertanya tentang jadwal kunjungan.
Aku tidak menangis. Tidak marah. Tidak membanting apa pun.
Aku hanya berdiri di dekat meja makan, mendengarkan masa depanku dibicarakan lewat telepon.
Setelah itu, aku naik ke kamar.
Langkahku pelan. Tanganku memegang pagar tangga lebih lama dari biasanya. Di tengah tangga, aku berhenti sebentar dan melihat ruang keluarga di bawah.
Bunda masih berdiri di dekat meja makan.
Ayah masih bicara di ruang kerja.
Rumah kami besar. Lampunya hangat. Lantainya bersih. Semua terlihat cukup. Lebih dari cukup.
Aku berdiri di tangga cukup lama, tidak jadi turun, tidak juga langsung masuk kamar.
Aku membuka pintu kamar.
Lampunya belum kunyalakan. Cahaya dari lorong masuk sedikit, jatuh ke lantai dan ke kursi dekat meja belajar.
Di atas kursi itu, ada kantong belanja berwarna putih.
Aku mendekat pelan.
Tanganku membuka bagian atas kantong itu.
Di dalamnya ada beberapa barang baru yang masih terlipat rapi.
Satu mukena putih.
Beberapa baju polos.
Dan sebuah kerudung putih yang belum pernah kumiliki.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.