Saat Orang Dewasa Mulai Memutuskan
Malam itu, aku mendengar namaku disebut dari ruang tamu sebelum Bunda sempat.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Malam itu, aku mendengar namaku disebut dari ruang tamu sebelum Bunda sempat memanggilku.
Awalnya aku hanya turun untuk mengambil air putih. Tenggorokanku terasa kering setelah terlalu lama diam di kamar. Sejak beberapa hari terakhir, rumah memang seperti itu. Tidak ribut, tetapi juga tidak benar-benar tenang.
Dari tangga, aku melihat ruang tamu sudah lebih rapi daripada biasanya.
Meja kaca dibersihkan sampai memantulkan cahaya lampu gantung. Di atasnya ada tiga botol air mineral kecil, piring berisi kue kering, dan tisu yang dilipat rapi. Sofa besar berwarna krem tampak seperti baru saja dirapikan. Pendingin ruangan menyala lebih dingin dari biasanya.
Kalau tidak tahu apa-apa, orang mungkin mengira rumah kami sedang menunggu tamu biasa.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Tapi aku tahu tidak ada yang biasa malam itu.
Bunda berjalan dari dapur sambil membawa nampan kecil. Jilbabnya lebih rapi daripada biasanya, meski tetap sederhana. Ayah sudah pulang lebih cepat. Ia duduk di sofa dengan kemeja kerja yang belum diganti, tangannya menggenggam HP, tetapi matanya tidak benar-benar melihat layar.
Lalu aku mendengar Bunda berkata pelan, “Nanti kalau Mbak Rania datang, jangan langsung keras dulu. Biar kita dengar pendapat beliau.”
Ayah menghela napas. “Ayah tidak mau ini berlarut-larut.”
“Bunda juga tidak mau.”
Namaku belum disebut, tapi dadaku sudah mengencang.
Aku berdiri beberapa anak tangga di atas lantai ruang tamu, setengah tersembunyi di balik dinding. Gelas yang tadi ingin kuambil terlupakan.
Tidak lama kemudian, bel rumah berbunyi.
Bunda cepat-cepat merapikan ujung jilbabnya, lalu berjalan ke pintu. Dari tempatku berdiri, aku melihat Bibi Rania masuk dengan senyum kecil. Ia memakai gamis warna lembut dan jilbab yang lebih tertutup daripada Bunda. Tangannya membawa kotak kecil, mungkin kue atau buah.
“Assalamu’alaikum,” katanya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Bunda.
Bunda memeluknya sebentar. Tidak lama. Seperti ada sesuatu yang berat di antara mereka sehingga pelukan pun tidak bisa terlalu santai.
“Najwa di kamar?” tanya Bibi Rania setelah duduk.
“Iya,” jawab Bunda. “Dari tadi diam.”
Ayah hanya mengangguk.
Aku turun satu anak tangga lagi, pelan sekali.
Bibi Rania meletakkan tasnya di samping sofa. “Dia tahu Mbak datang?”
“Belum,” kata Bunda.
Ada jeda sebentar.
Lalu Ayah berkata, “Kami sudah benar-benar bingung, Mbak.”
Kalimat itu membuatku berhenti bergerak.
Aku tahu mereka bingung. Aku tahu aku membuat banyak hal menjadi sulit. Tapi mendengar Ayah mengatakannya kepada orang lain membuat rasanya berbeda. Rasanya aneh. Aku berdiri di rumah sendiri, tapi namaku terdengar seperti urusan yang sedang mereka letakkan di meja.
Bunda mulai bicara setelah itu. Suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Sejak kejadian HP itu, kami batasi semuanya. HP tidak kami berikan. Pulang sekolah langsung dijemput. Sekolah juga kami minta bantu awasi. Tapi tetap saja...”
Bunda berhenti.
“Dia masih cari cara,” sambung Ayah.
Bibi Rania tidak langsung menjawab.
“Dia sempat pakai HP temannya?” tanyanya.
Bunda mengangguk. “Iya. Katanya cuma mau lihat pesan. Tapi kan itu tetap saja.”
Ayah menyandarkan punggung ke sofa. “Kalau aturan saja masih dilanggar, kami harus bagaimana lagi?”
Aku menggenggam pegangan tangga.
Di kamar, aku bisa marah sendirian. Tapi mendengar semua itu dari luar membuat marahku berubah bentuk. Pipiku terasa panas. Aku ingin turun dan bilang bahwa aku tidak seburuk yang sedang mereka ceritakan.
Tapi aku juga tidak bisa bilang mereka salah sepenuhnya.
Karena memang aku yang mencari HP Nisa.
Memang aku yang ingin melihat pesan itu.
Memang aku yang belum bisa berhenti berharap dicari.
Bibi Rania mengambil air minum, lalu meletakkannya lagi tanpa sempat minum.
“Mbak paham kalian takut,” katanya pelan. “Tapi selama ini, Najwa pernah diajak duduk tanpa langsung dinasihati?”
Ruang tamu hening.
Bunda menunduk sebentar.
Ayah menjawab lebih dulu, “Kami sudah sering bicara.”
“Bicara, atau menegur?” tanya Bibi Rania. Suaranya tetap lembut.
Ayah tidak langsung menjawab.
Bunda menghela napas. “Mbak, jangan seolah-olah kami tidak sayang. Semua kebutuhannya kami penuhi. Sekolahnya baik. Lesnya ada. Di rumah juga tidak kurang apa-apa.”
“Mbak tidak bilang kalian tidak sayang,” kata Bibi Rania.
Suaranya pelan, tapi justru karena itu terdengar jelas.
“Mbak tahu kalian sayang. Tapi anak kadang tidak cukup hanya dicukupi. Dia juga perlu ditemani sebelum salahnya terlalu jauh.”
Aku menahan napas.
Tanganku yang memegang pegangan tangga terasa makin kencang. Aku tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu membuat mataku panas.
Bunda diam.
Ayah mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat bukan hanya marah, tetapi lelah.
“Jadi menurut Mbak, kami harus bagaimana?” tanyanya.
Bibi Rania menatap Ayah, lalu Bunda.
“Mbak tidak bisa memutuskan untuk kalian. Najwa anak kalian.”
Aku hampir tertawa kecil mendengar kalimat itu. Anak kalian. Tapi malam itu, aku berdiri di tangga seperti orang luar yang sedang menguping pembahasan tentang dirinya sendiri.
Bibi Rania melanjutkan, “Tapi kalau lingkungan di sini sudah terlalu banyak menarik dia, mungkin dia perlu lingkungan baru. Yang lebih menjaga. Yang ritmenya lebih jelas.”
Bunda mengangkat wajah.
Ayah bertanya, “Maksudnya?”
“Ada pondok putri yang Mbak tahu,” jawab Bibi Rania.
Kata itu membuat tanganku dingin.
Pondok.
Aku pernah mendengar kata itu dari teman-teman sekolah. Ada yang bilang pondok itu tempat anak-anak baik menghafal. Ada juga yang bilang pondok itu tempat orang tua mengirim anak yang sudah tidak bisa diatur. Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya, karena aku tidak pernah membayangkan kata itu akan masuk ke ruang tamu rumahku.
Bunda mengusap dahinya. “Pondok?”
“Bukan untuk membuang Najwa,” kata Bibi Rania cepat, seolah tahu ke mana pikiran itu akan pergi. “Pondok bukan tempat pembuangan. Tapi kalau dipilih dengan benar, insya Allah bisa jadi lingkungan yang menolong.”
Ayah langsung bertanya, “Sekolahnya bagaimana? Bisa pindah tengah tahun? Aturannya ketat?”
Bunda menatap Bibi Rania. “Bisa menerima anak seperti Najwa?”
Anak seperti Najwa.
Aku tahu mungkin Bunda tidak bermaksud menyakitiku. Tapi kalimat itu sampai ke telingaku seperti sesuatu yang dingin.
Anak seperti apa?
Anak yang bohong? Anak yang bikin malu? Anak yang sudah terlalu melelahkan untuk dihadapi setiap hari?
Bibi Rania tidak langsung menjawab. “Bun, hati-hati menyebutnya begitu.”
Bunda tersentak kecil.
“Mbak tahu maksudmu bukan merendahkan. Tapi Najwa bukan barang rusak yang perlu dicari tempat perbaikan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku ingin sekali turun. Bukan untuk marah. Bukan untuk membela diri. Hanya ingin melihat apakah Bibi Rania benar-benar sedang mengatakan itu untukku.
Ayah menatap meja. “Kalau begitu, apa gunanya pondok?”
“Bukan bengkel,” jawab Bibi Rania. “Anak tidak dimasukkan lalu keluar dalam keadaan selesai.”
Bunda mengusap ujung matanya.
“Pondok bisa membantu menjaga lingkungan Najwa,” lanjut Bibi Rania. “Tapi rumah juga tetap perlu berubah pelan-pelan. Jangan sampai nanti dia pulang, tapi yang membuat dia berat tetap ada di sini.”
Tidak ada yang bicara beberapa saat.
Aku berdiri di tangga dengan lutut yang mulai terasa lemas.
Tanganku mulai dingin. Lututku terasa lemas.
Ada bagian kecil dari diriku yang tahu Bibi Rania tidak sedang membenciku. Tapi bagian lain di dalam dadaku hanya bisa menangkap satu hal.
Mereka mulai memikirkan cara agar aku dijauhkan dari semuanya.
Bunda akhirnya berdiri.
“Najwa,” panggilnya.
Aku kaget, hampir menumpahkan air mata yang sejak tadi kutahan.
Aku tidak menjawab.
“Najwa, turun sebentar, Nak.”
Aku menarik napas pelan. Lalu turun satu per satu anak tangga, seolah setiap langkah membuat sesuatu di dalam diriku makin jauh dari kamar.
Saat aku masuk ruang tamu, Bibi Rania menatapku dengan lembut.
“Assalamu’alaikum, Najwa.”
“Wa’alaikumussalam,” jawabku pelan.
Bunda menunjuk sofa kecil di sampingnya. “Duduk.”
Aku duduk. Tidak di tengah. Tidak dekat siapa-siapa. Hanya di ujung sofa kecil, dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan.
Ayah berdeham.
“Kami sedang memikirkan yang terbaik untuk kamu,” katanya.
Aku menatap lantai.
Kalimat seperti itu biasanya terdengar baik. Tapi malam itu, aku tahu kalimat itu sedang membawa sesuatu yang tidak ingin kudengar.
Bunda menyambung, “Ini bukan karena Bunda tidak sayang.”
Justru kalimat itu membuat mataku panas.
Bibi Rania memanggilku pelan. “Najwa.”
Aku menoleh sedikit.
“Bibi tidak mau kamu salah paham. Kalau nanti benar ada pembicaraan soal pondok, itu bukan berarti kamu anak buangan.”
Aku menatapnya lebih lama.
“Nanti?” tanyaku.
Bunda menunduk.
Ayah menjawab, “Belum diputuskan. Tapi sedang kami pertimbangkan.”
Aku merasa dadaku seperti ditarik dari dalam.
“Najwa masih bisa di rumah,” kataku pelan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Aku mengangkat wajah. “Najwa bisa berubah.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan aku sendiri tidak tahu perubahan seperti apa yang sedang kujanjikan. Yang kutahu hanya satu: aku tidak ingin dipindahkan.
Bunda mengusap tangannya sendiri. “Bunda tahu kamu bisa berubah. Tapi Bunda takut lingkunganmu sekarang terlalu berat untuk kamu.”
“Aku bisa jauhin mereka.”
Ayah menatapku. “Kamu sudah bilang begitu, tapi tetap mencari cara.”
Aku terdiam.
Kalimat itu benar.
Dan aku benci karena itu benar.
Bibi Rania menatapku dengan lembut. “Najwa, kalau suatu hari kamu memang harus masuk lingkungan baru, jangan pikir itu akhir dari semuanya.”
Aku tidak menjawab.
Yang kudengar tetap hanya satu.
Pondok.
Jauh dari rumah. Jauh dari kamar. Jauh dari semua yang selama ini membuatku sesak, tetapi tetap kukenal.
Malam itu percakapan tidak menghasilkan keputusan. Setidaknya tidak di depanku. Ayah bilang akan mencari informasi dulu. Bunda bilang akan pikirkan lagi. Bibi Rania bilang jangan terburu-buru, tapi jangan juga menunggu sampai semuanya makin sulit.
Aku diizinkan kembali ke kamar.
Aku naik tangga pelan-pelan. Di depan pintu, aku berhenti sebentar dan melihat sekeliling.
Ranjang besar. Meja belajar. Rak buku. Lemari pakaian. Tirai jendela yang selalu Bunda pilihkan warnanya. Semua masih sama.
Tapi malam itu, aku tidur di kamarku sendiri dengan perasaan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, kamar itu terasa seperti tempat yang sebentar lagi harus kutinggalkan.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.