Aku Dijaga, tapi Tidak Dipahami
HP-ku dipegang Ayah. Laptop hanya boleh kupakai di ruang tengah. Pulang sekolah harus langsung pulang. Tidak boleh mampir. Tidak boleh ikut teman-teman.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Sejak malam itu, rumah kami tidak lagi sunyi. Rumah kami mulai penuh aturan.
HP-ku dipegang Ayah. Laptop hanya boleh kupakai di ruang tengah. Pulang sekolah harus langsung pulang. Tidak boleh mampir. Tidak boleh ikut teman-teman tanpa izin. Tidak boleh menutup pintu kamar terlalu lama.
Aturan-aturan itu tidak ditempel di dinding. Tapi aku tahu semuanya ada.
Dari cara Bunda mengetuk pintu kamar lebih sering.
Dari cara Ayah bertanya, “Hari ini ke mana saja?” bahkan saat aku baru melepas sepatu.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Dari cara sopir rumah menunggu di depan gerbang sekolah lebih awal daripada biasanya.
Dari cara Bunda memeriksa tasku sambil berkata, “Bunda cuma mau lihat ada buku yang tertinggal atau tidak.”
Aku tahu itu bukan cuma tentang buku.
Hari pertama tanpa HP terasa panjang sekali.
Di kelas, tanganku beberapa kali bergerak ke saku seragam, lalu berhenti karena tidak menemukan apa-apa. Saat jam istirahat, teman-teman duduk di bangku kantin sambil membuka HP masing-masing. Ada yang tertawa melihat video. Ada yang membalas pesan. Ada yang mengambil foto minuman mereka sebelum diminum.
Aku hanya mengaduk es teh dengan sedotan sampai es batunya mengecil.
Nisa duduk di sampingku. “HP kamu masih disita?”
Aku mengangguk.
“Orang rumah masih marah?”
Aku menatap meja kantin yang sedikit lengket. “Kayaknya bukan marah lagi.”
“Terus?”
Aku mengangkat bahu. “Kayak... semuanya jadi diperiksa.”
Nisa tidak langsung menjawab. Ia menatapku sebentar, lalu menyodorkan kentang goreng dari piringnya.
“Makan dulu.”
Dulu kalimat sesederhana itu membuatku lega. Hari itu, justru membuat dadaku makin sesak. Karena aku tahu sebentar lagi aku harus pulang, dan di rumah tidak ada yang bertanya begitu dengan cara yang sama.
Pulang sekolah, sopir sudah berdiri di dekat mobil. Ia tersenyum sopan ketika melihatku.
“Langsung pulang, Non?”
Aku mengangguk.
Biasanya aku tidak terlalu memperhatikan jalan dari sekolah ke rumah. Hari itu, semua terasa terlalu jelas. Kedai minuman dekat gerbang belakang. Toko fotokopi tempat aku pernah beralasan membeli map. Tikungan tempat teman-teman biasa menunggu ojek online.
Mobil melewati semuanya tanpa berhenti.
Di rumah, Bunda sudah menunggu di ruang tengah. Jilbabnya terpasang seadanya, seperti baru dipakai cepat-cepat setelah mendengar mobil masuk halaman. Di meja, ada piring kecil berisi buah potong dan segelas air putih.
“Ganti baju dulu. Nanti makan,” kata Bunda.
“Iya.”
“Di sekolah langsung dijemput Pak Darto?”
“Iya.”
“Tidak mampir?”
Aku menarik napas pelan. “Bunda bisa tanya Pak Darto.”
Wajah Bunda berubah sedikit.
“Bunda tanya kamu.”
“Enggak mampir.”
Bunda mengangguk. “Ya sudah.”
Aku naik ke kamar. Belum sampai lima menit, pintu diketuk.
“Najwa?”
“Iya, Bun?”
“Pintu jangan dikunci.”
Aku menatap gagang pintu yang memang belum kukunci.
“Iya.”
Aku duduk di tepi ranjang setelah itu, masih memakai seragam. Kamar yang dulu terasa seperti satu-satunya tempatku bersembunyi sekarang terasa terlalu mudah dimasuki.
Sore itu, Ayah pulang lebih cepat dari biasanya.
Aku mendengar suara mobilnya masuk garasi saat masih menyelesaikan PR di ruang tengah. Laptop terbuka di meja, tapi layarnya menghadap ke arah sofa tempat Bunda duduk sambil melipat beberapa kain. Entah sengaja atau tidak, posisiku membuat semua orang bisa melihat apa yang sedang kukerjakan.
Ayah masuk sambil melepas jam tangannya.
“Sudah belajar?”
“Lagi, Yah.”
“Bagus.”
Ia duduk di kursi seberangku. Beberapa saat hanya suara ketikan dan kain yang dilipat terdengar.
Lalu Ayah berkata, “Mulai minggu ini, jadwalmu kita rapikan.”
Aku berhenti mengetik.
“Ayah sudah bicara dengan tempat les. Matematika ditambah satu kali. Bahasa Inggris tetap. Pulang sekolah langsung dijemput. Kalau ada tugas kelompok, kerjakan online dari rumah atau temanmu yang datang ke sini.”
Aku menatap layar laptop.
“HP?” tanyaku pelan.
“Belum.”
“Sampai kapan?”
“Sampai Ayah dan Bunda bisa percaya lagi.”
Aku hampir bertanya bagaimana caranya mereka bisa percaya kalau semua hal sekarang dijaga dari awal. Tapi aku tidak jadi.
Ayah melanjutkan, “Ini bukan hukuman. Ini supaya hidupmu kembali rapi.”
Kembali rapi.
Aku menekan kuku ibu jari dengan kuku telunjukku di bawah meja.
Mereka ingin aku terlihat rapi lagi. Pulang tepat waktu. Belajar sesuai jadwal. Tidak membuat khawatir. Tapi tidak ada yang tahu harus diapakan dengan bagian dalam diriku yang masih berantakan.
Tapi aku cuma berkata, “Iya.”
Malamnya, Bunda masuk ke kamarku membawa tumpukan baju yang baru disetrika.
Aku sedang duduk di lantai, merapikan buku pelajaran yang sebenarnya sudah rapi. Sejak HP disita, aku sering mencari sesuatu untuk dikerjakan supaya tidak terlalu merasa kosong.
Bunda meletakkan baju di kursi.
“Bunda boleh duduk?”
Aku mengangguk.
Bunda duduk di tepi ranjang. Wajahnya lelah. Tanpa riasan, tanpa senyum yang biasa ia pakai kalau ada tamu. Untuk sesaat, aku melihat Bunda seperti benar-benar Bunda, bukan orang yang sibuk memastikan semuanya tampak baik.
“Bunda cuma ingin kamu selamat, Naj,” katanya pelan.
Aku diam.
“Bunda takut kamu makin jauh. Kamu masih muda. Kadang belum tahu mana yang bisa menyeret.”
Aku menatap buku di pangkuanku.
Itu salah satu kalimat Bunda yang ingin sekali kupercaya.
Lalu beliau melanjutkan, “Kamu tahu kan, kalau sampai orang lain tahu, mereka bisa bicara macam-macam. Bunda juga yang akan ditanya. Ayah juga. Keluarga kita juga kena.”
Dadaku yang sempat sedikit longgar, pelan-pelan terasa penuh lagi.
Aku mengangguk.
“Bunda ngomong begini karena sayang,” katanya.
“Iya.”
“Kamu jangan bikin Bunda kecewa lagi.”
Aku menahan napas.
Di luar, mungkin kalimat itu terdengar wajar. Tapi bagiku, ia jatuh tepat di tempat yang sudah lama sakit.
Aku ingin bilang bahwa aku juga kecewa pada diriku sendiri. Aku juga takut. Aku tidak sedang minta dibenarkan.
Tapi aku takut semua itu berubah lagi menjadi daftar kesalahan. Jadi aku diam.
Bunda menunggu sebentar. Mungkin berharap aku bicara. Ketika aku tetap diam, beliau berdiri.
“Tidur jangan terlalu malam.”
“Iya, Bun.”
Setelah pintu tertutup, aku berbaring menatap langit-langit kamar.
Tidak ada HP. Tidak ada pesan. Tidak ada suara notifikasi yang dulu sering membuatku menoleh cepat-cepat.
Anehnya, yang paling mengganggu bukan karena aku tidak bisa menghubungi Farel.
Yang paling mengganggu adalah aku masih ingin tahu apakah ia mencariku.
Beberapa hari setelah itu, aku mencoba menjadi anak yang mereka minta.
Pulang tepat waktu. Les tanpa mengeluh. Belajar di ruang tengah. Menjawab pertanyaan Bunda seperlunya. Tidak meminta HP. Tidak membahas Nisa, teman-teman, apalagi Farel.
Rumah menjadi lebih tenang.
Atau mungkin semua orang hanya sama-sama menahan suara.
Di sekolah, Nisa mulai jarang duduk terlalu lama di sampingku. Bukan karena ia menjauh. Aku yang lebih dulu menjaga jarak. Setiap melihatnya membuka HP, dadaku terasa aneh.
Suatu siang, saat jam istirahat hampir selesai, Nisa bertanya pelan, “Kamu mau lihat sesuatu?”
Aku tahu maksudnya bahkan sebelum ia menunjukkan layar.
“Farel nanya kamu,” katanya.
Jantungku bergerak terlalu cepat.
Aku menatap HP di tangannya. Ada nama Farel di layar. Ada beberapa pesan yang belum kubaca. Aku tidak menyentuhnya, tapi mataku sudah lebih dulu mencari kalimat terakhir.
"Kamu beneran nggak bisa kabarin aku?"
Aku menelan ludah.
“Nis,” kataku pelan. “Pinjam sebentar.”
Nisa ragu. “Naj...”
“Sebentar aja.”
Aku tidak berniat bertemu. Tidak berniat kabur. Aku hanya ingin menjawab satu pesan, hanya ingin memastikan bahwa aku belum benar-benar hilang dari kepala seseorang.
Nisa akhirnya menyerahkan HP-nya.
Tanganku gemetar ketika mengetik.
"Aku nggak bisa pegang HP. Jangan chat dulu."
Aku menatap kalimat itu lama. Rasanya terlalu dingin. Terlalu singkat. Terlalu seperti menutup pintu yang bahkan belum benar-benar ingin kututup.
Belum sempat kukirim, bel masuk berbunyi.
Aku buru-buru menghapusnya dan mengembalikan HP Nisa.
“Enggak jadi?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Hari itu seharusnya selesai di sana.
Tapi rupanya tidak.
Sore harinya, Bunda mendapat pesan dari wali kelas.
Katanya, wali kelas mendapat laporan bahwa aku sempat memakai HP teman saat jam istirahat. Sejak kejadian malam itu, Bunda memang sudah beberapa kali menghubungi wali kelas dan meminta bantuan agar aku lebih diperhatikan di sekolah.
Aku baru tahu itu setelah sampai rumah.
Bunda menungguku di ruang tengah. Wajahnya pucat. Ayah belum pulang, tetapi suara beliau sudah terdengar dari telepon yang tersambung di speaker.
“Najwa,” kata Bunda, “kamu pakai HP siapa di sekolah?”
Aku berdiri di dekat pintu. Tas masih menggantung di bahu.
“Nisa.”
“Untuk apa?”
Aku diam.
Dari speaker, suara Ayah terdengar datar. “Jawab.”
“Cuma lihat pesan.”
“Dari siapa?” tanya Bunda.
Aku tidak menjawab.
Bunda menutup mata. Tangannya memegang ujung jilbabnya yang sedikit berantakan.
“Ya Allah, Najwa...”
Suara itu tidak keras. Tapi justru karena tidak keras, aku merasa lebih buruk.
“Ayah sudah bilang jangan ada komunikasi dulu,” kata Ayah dari telepon. “Kenapa masih dicari?”
“Najwa enggak jadi balas.”
“Tapi kamu tetap cari cara.”
Aku menunduk.
Kalimat itu benar.
Dan karena benar, aku tidak punya tenaga untuk melawan.
Malam itu, setelah Ayah pulang, rumah terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.
Tidak ada sidang panjang seperti malam HP-ku terbuka. Tidak ada banyak pertanyaan. Mungkin mereka juga sudah lelah bertanya.
Bunda menangis di kamar. Suaranya tertahan, tapi aku mendengarnya saat lewat menuju dapur mengambil air.
Ayah berdiri lama di dekat jendela ruang tengah, masih memakai kemeja kerja. Lampu taman menyala di luar, memantul di kaca besar yang membuat rumah kami terlihat lebih luas dan lebih kosong.
Aku ingin masuk kamar, tapi langkahku berhenti ketika mendengar Ayah berbicara pelan.
“Kalau begini terus, kita perlu bantuan orang lain.”
Bunda tidak menjawab.
Beberapa saat kemudian, Ayah mengambil HP-nya.
Aku berdiri di balik dinding, tidak berani bergerak.
“Mbak Rania,” suara Ayah terdengar berat. “Maaf ganggu malam-malam.”
Dadaku mengencang.
“Soal yang kemarin pernah Mbak usulkan... mungkin kami perlu bicara.”
Aku menutup mata.
Waktu itu aku belum tahu, bantuan yang mereka cari bukan seseorang untuk mendengarku.
Tapi jalan agar rumah ini tidak lagi terlalu lelah menghadapiku.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.