Malam Itu Tidak Lagi Biasa
Lampu meja masih menyala. Buku matematika terbuka di samping bantal, persis di halaman yang sejak sore tidak benar-benar kubaca. AC berdengung pelan. Dari.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku bangun karena Bunda duduk di tepi ranjangku dengan HP-ku di tangannya.
Lampu meja masih menyala. Buku matematika terbuka di samping bantal, persis di halaman yang sejak sore tidak benar-benar kubaca. AC berdengung pelan. Dari luar kamar, rumah sudah sunyi. Jam digital di meja menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh.
Butuh beberapa detik sampai mataku benar-benar menangkap wajah Bunda.
Beliau tidak sedang marah dengan cara yang biasa. Tidak menghela napas panjang. Tidak langsung berkata apa-apa. Hanya diam, menatap layar HP-ku, lalu menatapku.
Dadaku langsung jatuh.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Bun...” suaraku serak karena baru bangun. “Itu HP Najwa.”
Bunda tidak menjawab. Jarinya masih berada di sisi layar, seolah baru saja berhenti menggulir.
Aku langsung duduk. Selimut turun ke pangkuan. “Bun, sini.”
Aku mengulurkan tangan, tetapi Bunda menarik HP itu sedikit menjauh.
“Siapa Farel?” tanyanya.
Aku membeku.
Bunda memandangku lebih lama. “Najwa. Siapa Farel?”
“Teman.”
“Teman yang mana?”
“Temannya Nisa.”
“Teman Nisa sampai kirim pesan begini?”
Aku tidak tahu pesan mana yang sudah beliau baca. Itu justru yang membuat kepalaku lebih panas.
Sebelum tertidur, aku masih membalas chat Farel. Obrolan kami melompat dari tugas sekolah ke candaan kecil, lalu ke rencana bertemu lagi sepulang sekolah. Aku ingat menaruh HP di samping bantal saat ruang chat itu masih terbuka, berniat memejamkan mata sebentar sebelum membalas pesan terakhir. Rupanya aku keburu tertidur.
Mungkin Bunda masuk karena lampu meja masih menyala. Mungkin awalnya beliau hanya ingin mematikannya. Lalu pesan baru dari Farel muncul di layar yang belum sempat gelap.
Entah pesan apa yang terlihat lebih dulu.
Entah sejak kapan Bunda mulai membacanya.
“Bunda buka HP Najwa?” tanyaku. Suaraku naik sedikit.
“Jawab dulu pertanyaan Bunda.”
“Najwa bilang, dia teman.”
“Teman tidak bilang, ‘Besok jangan pulang cepat, temani aku dulu.’”
Wajahku terasa panas.
Bunda membacanya dengan suara pelan, tetapi kalimat itu terdengar jauh lebih memalukan ketika keluar dari mulut beliau.
“Bun...”
“Sudah berapa lama?”
Aku tidak menjawab.
“Najwa.”
“Baru beberapa minggu.”
“Pernah ketemu?”
Aku diam lagi.
Bunda menutup mata sebentar. Saat membukanya, sorot matanya berubah. Lebih kecewa daripada terkejut.
“Pernah?”
“Pernah. Tapi ramai-ramai.”
“Di mana?”
Aku menggigit bibir. “Di kafe.”
“Kafe yang mana?”
Aku tidak menjawab.
Bunda bangkit dari ranjang sambil membawa HP-ku. “Ikut Bunda ke ruang depan.”
Aku ikut berdiri. “Bun, HP Najwa...”
“Nanti.”
Nada suara itu membuatku berhenti bicara.
Kami berjalan menuju ruang keluarga. Lampu besar belum dimatikan. Di meja kaca masih ada gelas teh Bunda yang tinggal separuh. Pintu ruang kerja Ayah tertutup, tetapi cahaya dari bawahnya masih terlihat.
Bunda mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
“Ayah perlu lihat ini.”
Tidak sampai satu menit kemudian, Ayah sudah berdiri di ruang keluarga dengan wajah yang sulit kubaca. Beliau menerima HP dari tangan Bunda. Matanya bergerak cepat membaca layar.
Aku berdiri di dekat sofa, memeluk kedua lengan sendiri.
“Duduk,” kata Ayah.
Aku duduk di ujung sofa. Bunda duduk di kursi tunggal, sedikit menjauh dariku. Ayah tetap berdiri.
“Sejak kapan kenal?” tanyanya.
“Beberapa minggu.”
“Dari mana?”
“Temannya Nisa.”
“Pernah pergi sama dia?”
“Enggak berdua.”
“Itu bukan pertanyaan Ayah.”
Aku menelan ludah. “Pernah ketemu. Tapi sama teman-teman lain juga.”
Ayah mengangguk kecil, bukan tanda mengerti. Lebih seperti sedang menahan sesuatu.
“Selama ini kalau bilang masih di sekolah, kamu sebenarnya ke mana?”
Aku diam.
“Nongkrong?”
“Kadang.”
“Berapa kali?”
“Najwa enggak tahu.”
“Tidak tahu, atau tidak mau jawab?”
Aku menunduk.
“Najwa,” suara Bunda pecah lebih dulu. “Jadi selama ini yang kamu bilang tugas, kelompok, di rumah Nisa... banyak yang bohong?”
Aku tidak menjawab.
Bunda tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. “Bunda sudah mulai curiga. Tapi Bunda tetap berusaha percaya.”
“Aku enggak selalu bohong,” kataku pelan.
“Berapa kali?” Ayah memotong. “Berapa kali kamu pulang telat karena mereka?”
Aku meremas ujung kaus tidurku. “Najwa enggak hitung.”
Ayah mengembuskan napas berat.
“Kamu sadar ini tidak benar?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Najwa.”
“Iya.”
“Kalau sadar tidak benar, kenapa diteruskan?”
Aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Ada banyak hal berdesakan di kepala, tetapi tidak ada yang bisa keluar dengan rapi. Yang kupikirkan hanya betapa sering Farel menanyakan hariku, betapa mudahnya aku merasa dicari, dan betapa rumah terasa makin jauh setiap kali aku lebih memilih menunggu balasan chat daripada duduk lama di ruang makan.
Tapi semua itu tidak keluar.
Yang keluar hanya, “Enggak tahu.”
Ayah mengembuskan napas berat.
“Setelah semua yang Ayah dan Bunda berikan, ini balasanmu?”
Aku mengangkat wajah.
Kalimat itu lagi.
Semua yang diberikan. Semua biaya. Semua fasilitas. Semua hal yang selalu disebut saat aku mengecewakan mereka.
Bunda menutup mulutnya dengan tangan. Matanya mulai basah. “Bunda benar-benar tidak habis pikir. Kamu bisa duduk di rumah, makan bersama kami, lalu tetap menyembunyikan semua ini?”
Aku menatap lantai marmer yang mengilap di bawah kaki.
“Ayah kerja dari pagi sampai malam supaya kamu punya hidup baik,” lanjut Ayah. “Bunda urus semuanya. Tapi kamu malah sembunyi-sembunyi begini. Kalau orang tahu, keluarga kita dilihat seperti apa?”
Kalimat terakhir itu membuat dadaku panas.
“Jadi Ayah malu?” tanyaku.
“Apa?”
“Ayah marah karena Najwa salah, atau karena Ayah malu?”
Ruangan mendadak sunyi.
Bunda menatapku. Ayah tidak langsung menjawab.
Aku tahu kalimat itu terdengar kurang ajar. Bahkan setelah mengucapkannya, aku tahu. Tapi rasa malu, takut, dan kesal sejak tadi seperti mencari jalan keluar sekaligus.
“Kamu sedang membalikkan kesalahan?” suara Ayah turun, lebih pelan, tetapi lebih keras rasanya.
“Najwa enggak bilang Najwa benar.”
“Lalu apa maksudmu?”
Aku menahan napas.
“Kalau memang mau tahu, kenapa baru sekarang tanya?”
Bunda mengernyit. “Tanya apa?”
“Kenapa Najwa lebih betah di luar.”
Tidak ada yang menyela.
“Kenapa tiap Najwa bicara, ujungnya selalu nilai, aturan, atau salah Najwa.”
Suaraku mulai bergetar. Aku tidak tahu apakah kalimatku terdengar jelas.
“Najwa tahu bohong itu salah. Najwa tahu ini salah. Tapi di rumah, kadang Najwa capek duluan sebelum mulai cerita.”
Setelah itu, tidak ada yang langsung bicara.
Bunda menunduk. Ayah memandang ke arah lain sebentar, lalu kembali menatapku. Wajah beliau tetap keras, tetapi aku tahu kalimatku tidak lewat begitu saja.
Tetap saja, malam itu bukan malam untuk saling memahami.
Ayah mengambil HP-ku dari meja. “Mulai sekarang, HP ini Ayah pegang.”
Aku menatapnya. “Sampai kapan?”
“Sampai Ayah dan Bunda tahu apa yang harus dilakukan.”
“Najwa perlu buat sekolah.”
“Besok pakai laptop kalau ada tugas. Untuk sekarang, cukup.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Bunda mengusap bawah matanya cepat-cepat. “Mulai besok, pulang sekolah langsung ke rumah. Tidak ada nongkrong. Tidak ke mana-mana tanpa izin jelas.”
Aku menunduk. “Iya.”
“Jangan pakai nada begitu,” kata Ayah.
Aku tidak menjawab.
“Najwa boleh masuk kamar?”
Ayah mengangguk singkat.
Aku berbalik sebelum air mataku benar-benar jatuh di depan mereka. Langkahku cepat menuju kamar, tetapi ketika tangan sudah memegang gagang pintu, suara Ayah terdengar dari ruang keluarga.
“Kita tidak bisa biarkan ini berlanjut.”
Aku berhenti.
Bunda tidak langsung menjawab. Yang terdengar hanya isak kecil yang buru-buru ditahan.
Aku masuk kamar dan menutup pintu pelan.
Malam itu, aku duduk di lantai dekat ranjang cukup lama. Tidak ada HP di tanganku. Tidak ada pesan baru yang bisa kutunggu. Tidak ada apa-apa selain suara AC dan dadaku yang terasa penuh.
Waktu itu aku belum tahu, satu kalimat Ayah di ruang keluarga akan mengubah seluruh hidupku.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.