Aku Tidak Rusak dalam Semalam
Sebelum semua orang bilang aku makin sulit diatur, rumah itu lebih dulu berhenti benar-benar.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Sebelum semua orang bilang aku makin sulit diatur, rumah itu lebih dulu berhenti benar-benar mendengarku.
Rumah kami tidak pernah tampak berantakan dari luar.
Pagar selalu dicat ulang sebelum benar-benar kusam. Pot tanaman di teras disusun rapi. Ruang tamu hampir selalu wangi, terutama menjelang ada tamu atau teman Ayah datang. Di meja makan, lauk jarang seadanya. Bunda terbiasa memastikan semuanya terlihat cukup.
Kalau orang datang, mereka mungkin akan mengira aku tumbuh di rumah yang hangat.
Mungkin memang hangat, sesekali.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Hanya saja, lama-lama aku merasa rumah kami lebih sibuk terlihat baik-baik saja daripada benar-benar duduk dan mendengar.
Malam itu, misalnya.
Bunda baru saja meletakkan semangkuk sayur di tengah meja. Ayah duduk di kursi ujung sambil membuka pesan masuk di HP. Aku duduk berhadapan dengan Bunda, masih memakai seragam sekolah karena terlalu malas mengganti baju sebelum makan.
“Nilai matematika sudah keluar?” tanya Bunda sambil menuangkan air minum.
“Sudah.”
“Berapa?”
“Delapan puluh delapan.”
Bunda menoleh. “Turun, ya?”
Aku mengambil sendok. “Iya.”
“Yang kemarin sembilan puluh tiga, kan?”
Aku mengangguk.
Ayah mengangkat wajah sebentar dari HP. “Masih bisa dikejar. Jangan terlalu banyak main.”
Aku belum mulai makan, tapi rasanya sudah kenyang.
“Najwa dengar Ayah?”
“Iya, Yah.”
“Besok les tetap, kan?” Bunda menyambung.
“Iya.”
Setelah itu, pembicaraan pindah ke undangan makan malam akhir pekan. Ayah menyebut nama salah satu koleganya. Bunda bilang aku harus ikut karena anak keluarga itu sebaya denganku dan “bagus kalau saling kenal”.
Aku menyendok nasi pelan-pelan.
Tidak ada yang bertanya apakah ulangan matematika kemarin memang lebih sulit, atau kenapa wajahku terlihat murung sejak pulang sekolah. Ketika aku hanya makan separuh lalu minta izin masuk kamar, Bunda cuma mengingatkan, “Jangan lupa nanti cuci muka. Kelihatan kusut.”
“Iya.”
Aku pergi membawa piring sendiri ke dapur.
Di wastafel, air mengalir kecil. Aku mencuci sendok lebih lama daripada biasanya, hanya supaya tidak perlu segera kembali ke ruang tengah.
Dulu aku mengira semua rumah memang seperti itu. Orang tua bertanya soal sekolah, anak menjawab seperlunya, lalu hari selesai.
Sampai suatu siang, aku mendapat nilai bahasa Inggris tertinggi di kelas.
Kertas itu masih hangat ketika guru membagikannya. Teman sebangkuku, Nisa, memukul pelan lenganku sambil tersenyum.
“Naj, traktir.”
Aku tertawa. Rasanya ringan. Seharian itu aku pulang lebih cepat dari biasanya, membawa kertas nilai di map bening supaya tidak terlipat.
Bunda sedang duduk di ruang keluarga saat aku masuk. Laptopnya terbuka, beberapa katalog kain menumpuk di sampingnya.
“Bun,” panggilku.
“Hm?”
Aku meletakkan kertas nilai di meja. “Ini.”
Bunda membacanya, lalu wajahnya langsung berubah cerah. “Seratus?”
Aku mengangguk, tidak bisa menahan senyum.
“Alhamdulillah. Nah, begini. Kalau serius, bisa.”
Aku menunggu sebentar.
Bunda tersenyum sambil meraih HP. “Yang tas kemarin kamu kirim ke Bunda itu masih mau?”
Senyumku mengecil, meski tidak langsung hilang. “Masih.”
“Nanti Bunda transfer. Anggap hadiah.”
“Terima kasih, Bun.”
Aku membawa kertas itu ke kamar setelahnya. Harusnya aku senang. Aku memang senang.
Aku masih senang, tapi tidak lama. Setelah Bunda membahas hadiah, obrolan kami berhenti di situ.
Beberapa minggu kemudian, saat nilai matematikaku turun lagi, Ayah memanggilku ke ruang kerjanya.
Di meja, ada map proyek, buku agenda, dan cangkir kopi yang tinggal separuh. Aku berdiri di dekat pintu karena Ayah tidak mempersilakan duduk.
“Bunda bilang nilaimu menurun.”
“Iya, Yah.”
“Kenapa?”
Aku mengangkat bahu kecil. “Soalnya susah.”
“Yang lain juga dapat soal sama.”
Aku diam.
Ayah menatapku cukup lama. “Ayah sudah siapkan fasilitas. Les ada. Buku ada. Kalau perlu guru tambahan, bilang. Jangan baru serius kalau sudah jelek.”
“Iya.”
“Mulai minggu depan, tambah jadwal belajar malam. Kurangi main HP.”
Aku mengangguk.
Pembicaraan selesai.
Saat keluar dari ruang kerja, aku sempat melihat Bunda berdiri di lorong, seolah menunggu hasil percakapan itu.
“Sudah bicara sama Ayah?” tanyanya.
“Sudah.”
“Ya sudah. Dengarkan.”
Aku mengangguk lagi.
Malam itu aku belajar lebih lama, bukan karena tiba-tiba ingin memperbaiki nilai, tetapi karena tidak ingin dipanggil ke ruang kerja Ayah untuk kedua kalinya.
Mungkin sejak saat itu aku mulai pandai menjawab seperlunya.
Kalau ditanya sekolah, aku bilang baik.
Kalau ditanya ada tugas, aku bilang ada.
Kalau ditanya kenapa diam, aku bilang lelah.
Lama-lama, diam jadi tempat paling aman.
Nisa orang pertama yang menyadarinya.
“Kenapa, Naj? Dari tadi bengong,” katanya suatu sore di kantin sekolah.
Aku mengaduk es teh yang es batunya hampir habis. “Enggak apa-apa.”
“Bohong.”
Aku menatapnya. Ia tidak langsung memberi nasihat. Tidak bilang aku kurang bersyukur. Tidak buru-buru bertanya nilai atau tugas.
Ia hanya menunggu.
Akhirnya aku cerita sedikit. Tidak runtut. Tentang makan malam yang sering terasa seperti laporan. Tentang Bunda yang cepat kecewa kalau hasilku turun. Tentang Ayah yang hampir selalu punya solusi sebelum aku selesai bicara.
Nisa mengangguk-angguk. “Capek, ya?”
Dua kata itu membuat dadaku terasa longgar.
Capek, ya.
Sesederhana itu. Tapi tidak pernah ada yang mengucapkannya di rumah.
Sejak hari itu, aku lebih sering duduk bersama Nisa dan beberapa temannya sepulang sekolah. Awalnya hanya di kantin. Lalu pindah ke kedai minuman dekat gerbang belakang. Kadang cuma setengah jam. Kadang lebih.
Di sana, obrolan terasa ringan. Mereka tertawa keras, saling meminjam lip tint, membahas guru, tugas, video lucu, juga siapa yang sedang dekat dengan siapa. Aku tidak selalu nyaman dengan semua pembicaraan mereka, tetapi aku suka perasaan tidak sedang diukur.
Kalau wajahku kusut, ada yang bertanya kenapa. Kalau aku diam, ada yang menyodorkan kentang goreng sambil bilang, “Makan dulu.”
Pelan-pelan, pulang tepat setelah sekolah mulai terasa terlalu cepat.
Awalnya aku masih mengirim pesan ke Bunda.
"Pulang agak sore, ada tugas."
Lalu pesan itu berubah.
"Masih di sekolah."
Padahal aku sudah duduk di kedai bersama teman-teman.
Setelah beberapa kali aman, kebohongan itu terasa lebih mudah.
Aku tidak langsung merasa bersalah. Atau mungkin aku merasa, tapi sengaja tidak lama-lama memikirkannya.
Beberapa pekan setelah kebiasaan itu mulai terasa biasa, Nisa mengenalkan aku pada Farel.
“Temannya sepupuku,” katanya sambil tersenyum. “Orangnya asyik.”
Kami bertemu sebentar saat teman-teman berkumpul di kafe dekat jalan utama. Farel tidak banyak bicara di awal. Ia hanya sesekali menimpali, lalu tertawa ketika yang lain bercanda. Sebelum pulang, ia meminta akun media sosialku.
Aku sempat ragu. Tapi Nisa menatapku seolah itu hal biasa.
Akhirnya kuberikan.
Malamnya, Farel membalas salah satu unggahanku.
Awalnya cuma tentang lagu yang kupakai di story. Lalu obrolan berlanjut ke sekolah, guru yang menyebalkan, makanan favorit, sampai hal-hal kecil yang bahkan tidak penting.
Besoknya ia bertanya, "Hari ini capek?"
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
Tidak ada yang istimewa dari kalimatnya. Tetapi entah kenapa, aku menunggu pesan berikutnya.
Hari-hari setelah itu, HPku terasa lebih hidup.
Saat Bunda memanggil dari ruang makan, aku sering menjawab, “Sebentar,” padahal sedang mengetik balasan.
Saat Ayah menanyakan jadwal les, aku mengangguk tanpa menatapnya karena layar HPku menyala di bawah meja.
Saat malam makin larut, aku masih tersenyum sendiri di kamar.
Aku mulai sadar obrolan itu terlalu sering. Terlalu lama. Terlalu kutunggu.
Aku tahu itu mulai salah. Tapi saat itu, aku telanjur senang ada seseorang yang mencariku lebih dulu.
Bunda mulai memperhatikan perubahan itu.
“Belakangan HP terus,” katanya suatu malam ketika aku duduk di ruang tengah.
“Lagi lihat tugas.”
“Tugas apa ketawa-ketawa sendiri?”
Aku langsung menahan wajah. “Teman kirim video.”
Bunda menatapku sebentar. “Jangan terlalu banyak yang tidak penting.”
“Iya.”
Aku masuk kamar setelah itu dan menutup pintu lebih pelan dari biasanya.
Di balik pintu, aku membuka HP lagi. Ada pesan baru dari Farel.
"Kamu tadi kenapa? Kok lama balas?"
Aku mengetik cepat.
"Bunda lewat."
Belum sempat kukirim, terdengar langkah kaki berhenti di depan kamarku.
Aku membalikkan HP di atas kasur.
Napas tertahan.
Tidak ada ketukan. Tidak ada panggilan.
Beberapa detik kemudian, langkah itu menjauh.
Malam itu, Bunda belum membuka pintu kamarku.
Tapi untuk pertama kalinya, aku takut beliau akan melakukannya.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.