Sebelum Bunda Bicara
Kak Salma mempersilakanku masuk dengan gerakan tangan yang pelan. Aku melangkah melewati ambang pintu kantor. Lantai di dalam terasa lebih dingin daripada.
Membaca Series
Pondok Bukan Tempat Pembuangan (Musim 1)
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Aku sudah takut mendengar suara Bunda.
Tapi saat telepon itu tersambung, suara pertama yang kudengar bukan suara Bunda.
Kak Salma mempersilakanku masuk dengan gerakan tangan yang pelan. Aku melangkah melewati ambang pintu kantor. Lantai di dalam terasa lebih dingin daripada lantai lorong, mungkin karena kipas kecil di pojok meja terus berputar sejak tadi.
Di atas meja ada buku daftar santri, bolpoin bertali, beberapa kertas yang ditumpuk rapi, dan telepon hitam yang belakangan ini terlalu sering kulihat.
Sekarang benda itu ada dekat sekali.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Terlalu dekat.
“Duduk dulu, Najwa,” kata Kak Salma.
Aku duduk di kursi plastik di depan meja. Kursinya tidak terlalu tinggi. Kakiku menapak lantai, tapi rasanya aku belum benar-benar duduk dengan tenang.
Tanganku kutaruh di pangkuan.
Kosong.
Aku baru ingat buku hafalanku sudah kutinggal di atas kasur. Tadi Hana yang mengingatkan. Aku meletakkannya begitu saja, lalu berjalan ke sini. Sekarang aku tidak membawa apa-apa. Tidak ada buku yang bisa kupegang. Tidak ada sampul yang bisa kutekan dengan ibu jari.
Hanya kedua tanganku sendiri.
Kak Salma membuka buku daftar. Ia mencari baris namaku, lalu melihat nomor wali santri yang tertulis di sebelahnya. Setelah itu ia menarik telepon sedikit ke arahnya.
“Kakak hubungi dulu, ya,” katanya.
Aku mengangguk.
“Iya, Kak.”
Suaraku kecil.
Kak Salma menekan angka satu per satu. Bunyi tombol telepon terdengar pendek-pendek di ruangan yang tidak terlalu besar itu.
Aku menunduk ke lantai.
Ada bekas goresan kecil di dekat kaki meja. Ada satu kertas kecil jatuh di bawah kursi samping. Ada kabel telepon yang melengkung di belakang meja.
Aku melihat semua itu hanya agar tidak terus melihat tangan Kak Salma.
Setelah angka terakhir ditekan, Kak Salma menunggu.
Dari gagang yang dipegang Kak Salma, nada sambung terdengar tipis.
Tut.
Tut.
Tut.
Aku tidak tahu apakah aku ingin suara itu berhenti atau terus berbunyi.
Kalau tidak diangkat, mungkin aku bisa kembali ke kamar. Aku bisa bilang kepada Risa dan Hana bahwa belum tersambung. Aku bisa duduk lagi di ranjang. Membuka buku hafalan. Pura-pura membaca.
Tapi kalau tidak diangkat, mungkin aku juga akan menunggu lebih lama.
Dan menunggu kadang lebih berat daripada menjawab.
Tut.
Kak Salma melihat jam dinding sebentar.
Aku menelan ludah.
Lalu suara di gagang telepon berubah. Nada sambung berhenti.
Kak Salma langsung duduk lebih tegak.
“Assalamu’alaikum, Pak. Ini dari asrama putri.”
Dadaku berhenti sebentar.
Pak.
Bukan Bu.
Kak Salma melanjutkan, “Iya, Pak. Najwa ada jadwal telepon malam ini.”
Aku mengangkat wajah.
Kak Salma mendengarkan sebentar, lalu menatapku. Wajahnya biasa saja. Tidak kaget. Tidak tersenyum berlebihan.
“Ayahmu,” katanya pelan.
Aku menatap gagang telepon.
Sejak sore, semua kalimat di kepalaku menuju Bunda.
Assalamu’alaikum, Bun.
Bunda sehat?
Aku baik.
Najwa kangen.
Aku bahkan belum memikirkan bagaimana kalau yang mengangkat Ayah.
Kak Salma mengulurkan gagang telepon kepadaku.
Aku menerimanya dengan tangan kanan. Gagang itu terasa sedikit dingin. Aku menempelkannya ke telinga, lalu memegang bagian bawahnya dengan tangan kiri, seperti takut benda itu jatuh kalau hanya kupegang dengan satu tangan.
Di seberang sana ada napas sebentar.
Lalu suara Ayah.
“Najwa?”
Aku membuka mulut.
“Assalamu’alaikum, Yah.”
“Wa’alaikumussalam.”
Suara Ayah terdengar sedikit jauh, tapi jelas. Ada suara lain di belakangnya. Entah televisi, entah orang berbicara di rumah, entah suara yang dulu jarang kuperhatikan.
“Najwa?” Ayah mengulang lagi, seperti ingin memastikan.
“Iya, Yah.”
Aku mendengar Ayah menghela napas kecil. Bukan napas berat. Lebih seperti orang yang baru memastikan sambungan telepon benar.
“Sehat?”
“Sehat.”
Jawaban itu keluar cepat.
Tapi tidak sepenuhnya salah.
Aku tidak demam. Aku tidak batuk. Aku makan, shalat, dan mengikuti jadwal.
Sehat.
Setidaknya badanku.
“Makan?” tanya Ayah.
“Makan.”
“Makan yang benar?”
Aku menunduk sedikit, padahal Ayah tidak bisa melihatku.
“Iya.”
Ayah diam sebentar.
“Bagus. Jangan sering ditinggal makan.”
Aku menggenggam gagang telepon lebih erat.
Kalimat itu biasa.
Sangat biasa.
Kalau Ayah mengatakannya di rumah, mungkin aku hanya menjawab sambil lewat. Mungkin aku akan bilang, “Iya, Yah,” lalu masuk kamar. Mungkin aku akan merasa Ayah hanya bertanya karena memang orang tua harus bertanya begitu.
Tapi malam itu, dari kantor asrama, kalimat itu terdengar sedikit berbeda.
Tidak membuatku ingin menangis.
Tapi membuat dadaku bergerak pelan.
“Iya, Yah,” jawabku.
Kak Salma duduk di sisi meja, tidak terlalu dekat. Ia menulis sesuatu di buku daftar, seperti memberi ruang agar aku tidak merasa diawasi. Kadang matanya bergerak ke arah jam dinding. Kadang ia membetulkan posisi kertas.
Ayah bertanya lagi, “Kegiatannya lancar?”
“Lancar.”
“Setoran?”
Aku berhenti sebentar.
Pagi tadi lidahku sempat tersangkut. Siang tadi aku mengulang bagian itu sampai bisa lewat, meski belum lancar benar.
“Masih belajar,” kataku.
Aku sendiri kaget dengan jawabanku.
Ayah juga diam sebentar.
Biasanya, aku akan memilih jawaban yang lebih pendek. Lancar. Bisa. Sudah. Aman. Tapi malam itu, kalimat “masih belajar” keluar sebelum sempat kupotong.
“Ya,” kata Ayah akhirnya. “Pelan-pelan.”
Suara Ayah tetap biasa. Tidak menjadi lembut sekali. Tidak juga dingin.
Hanya dua kata.
Pelan-pelan.
Aku menatap ujung meja.
Di sana ada bekas tinta kecil dekat bolpoin bertali.
Ayah berkata, “Ikuti arahan ustazah, ya.”
“Iya.”
“Jangan bikin pengurus repot, ya.”
Aku hampir tersenyum, sedikit saja.
“Iya, Yah.”
Kalimat itu terdengar seperti Ayah. Pendek. Praktis. Tidak banyak bertanya, tapi tetap seperti sedang menjaga dari jauh.
Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatku kesal.
Malam itu, entah kenapa, aku hanya merasa Ayah memang tidak punya banyak cara lain untuk bertanya apakah aku baik-baik saja.
Ada suara dari seberang sana.
Tidak terlalu jelas.
Seperti suara benda diletakkan di meja. Lalu suara perempuan dari agak jauh.
“Siapa, Yah?”
Tanganku langsung kaku.
Ayah tidak langsung menjawabku. Ia menjauhkan gagang sedikit, tapi suaranya masih terdengar.
“Najwa.”
Ruangan kantor terasa diam.
Padahal kipas kecil masih berputar.
Padahal Kak Salma masih menulis.
Padahal dari luar, kadang terdengar langkah santri lewat di lorong.
Tapi saat Ayah menyebut namaku kepada Bunda, semua suara lain seperti mundur sebentar.
Suara Bunda terdengar lagi, sedikit tidak jelas.
“Najwa?”
Aku tidak tahu apakah Bunda sedang berdiri di dekat meja makan. Atau di dapur. Atau baru keluar dari kamar. Aku tidak tahu apakah tangannya basah karena habis mencuci piring. Aku tidak tahu apakah ia sedang memegang lap atau gelas.
Aku hanya tahu suaranya ada.
Di rumah.
Dan sekarang suara dari rumah itu terdengar lebih dekat dari yang kubayangkan.
Ayah kembali bicara kepadaku.
“Bunda ada.”
Aku tidak menjawab.
Gagang telepon terasa makin berat.
“Mau bicara sama Bunda?” tanya Ayah.
Pertanyaan itu sederhana.
Aku hanya perlu menjawab iya atau tidak.
Tapi di kepalaku, jawabannya tidak sederhana.
Kalau aku bilang tidak, Ayah mungkin akan heran. Bunda mungkin akan mendengar. Aku mungkin akan kembali ke kamar dengan rasa lega sebentar, lalu menyesal lebih lama.
Kalau aku bilang iya, suara Bunda akan benar-benar dekat.
Tidak lagi dari belakang.
Tidak lagi samar.
Tidak lagi bisa kupakai sebagai alasan bahwa aku belum siap.
Aku hampir berkata, “Nanti saja.”
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Tapi aku teringat kursi plastik di depan kantor. Kak Salma yang berkata bahwa kangen dan kesal bisa datang bersamaan. Aku teringat doa setelah Dzuhur. Teringat kertas setelah Ashar. Teringat Risa yang berkata kalau belum bisa bilang semuanya, bilang sedikit juga tidak apa-apa.
Sedikit.
Mungkin aku tidak harus mengatakan semuanya malam ini.
Mungkin aku hanya perlu tidak lari.
“Iya,” kataku pelan.
Ayah diam sebentar.
Lalu suaranya menjauh dari gagang.
“Bun, ini Najwa.”
Ada bunyi kecil dari seberang sana. Seperti piring yang bergeser. Ada langkah. Ada suara televisi yang sangat pelan, lalu seperti dikecilkan.
Aku mendengar Bunda mendekat.
Atau mungkin aku hanya merasa begitu.
Kak Salma menunduk ke buku daftar. Ia tidak menatapku. Tangannya menahan halaman buku agar tidak tertutup. Aku bersyukur untuk itu. Kalau ia menatapku terus, mungkin aku akan merasa harus terlihat siap.
Padahal aku belum siap.
Ayah berkata lagi, suaranya jauh dari gagang, “Ini, Bun.”
Lalu ada suara lain.
Lebih dekat.
Ada gesekan kecil di gagang telepon. Seperti telepon berpindah tangan.
Aku menahan napas.
Bunda belum bicara.
Tapi keheningan setelah gagang itu berpindah tangan sudah cukup membuat mataku terasa panas.
Aku menunduk.
Jangan menangis.
Jangan lama-lama diam.
Salam dulu.
Tanya kabar.
Jangan langsung bilang ingin pulang.
Jangan jawab nggak apa-apa kalau tidak begitu.
Semua kalimat itu muncul lagi, tapi aku tidak tahu mana yang harus kuucapkan dulu.
Lalu suara Bunda masuk.
Pelan.
Sedikit jauh, lalu dekat.
“Najwa?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Tanganku memegang gagang telepon lebih erat.
Aku menunduk lebih dalam. Dadaku terasa penuh.
Bunda memanggil lagi.
Lebih pelan.
“Najwa, Nak?”
Aku masih belum menjawab.
Semua kalimat yang sejak sore kusiapkan tidak ada yang keluar lebih dulu.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.