Saat Dia Mulai Takut ke Masjid
Ia masih shalat. Ia masih mau berwudhu ketika azan terdengar. Ia masih berdiri di atas sajadah kecilnya, meski kadang takbirnya pelan sekali dan tangannya.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Miqdad tidak berhenti ikut ke masjid karena malas shalat.
Ia masih shalat. Ia masih mau berwudhu ketika azan terdengar. Ia masih berdiri di atas sajadah kecilnya, meski kadang takbirnya pelan sekali dan tangannya masih suka naik untuk membetulkan peci.
Tapi entah sejak kapan, pergi ke masjid tidak lagi terasa seperti sesuatu yang membuatnya senang.
Di telinga Miqdad, panggilan itu perlahan terdengar seperti tanda bahwa ia akan dibandingkan lagi dengan Ammar.
Miqdad baru delapan tahun.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Ia masih anak kecil yang kadang pecinya miring setelah rukuk. Kadang salamnya terlalu cepat. Kadang setelah shalat, matanya lebih dulu mencari sandal daripada menunduk lama untuk berzikir.
Namun ia juga anak kecil yang mulai suka mendengar azan.
Dulu, setiap Maghrib hampir masuk, Miqdad sering berdiri di dekat pintu. Tangannya memegang peci hitam kecil yang bentuknya sudah tidak setegak dulu. Ia akan menoleh ke ruang tengah, mencari suamiku.
“Ayah sudah mau ke masjid?”
Biasanya suamiku tersenyum.
“Sebentar lagi. Miqdad sudah wudhu?”
Miqdad mengangguk cepat. Lalu kadang ia berlari lagi ke kamar mandi, karena tiba-tiba ragu apakah tadi kakinya sudah dibasuh dengan benar atau belum.
Aku sering melihat itu sambil menahan senyum.
Ada yang hangat saat melihat anak kecil mulai merasa masjid sebagai bagian dari hidupnya. Bukan karena ia sudah paham semua makna shalat. Bukan karena ia sudah bisa diam panjang seperti orang dewasa. Tapi karena hatinya mulai terpanggil.
Kadang Miqdad pulang membawa cerita sederhana.
“Bunda, tadi imamnya baca surat panjang.”
Atau,
“Bunda, tadi ada kucing lewat dekat tempat sandal.”
Atau,
“Bunda, tadi Miqdad berdiri di samping Ayah.”
Kalimat terakhir biasanya ia ucapkan dengan wajah paling bangga.
Aku tahu suamiku juga senang. Beliau ingin anak laki-laki kami tumbuh dekat dengan masjid. Beliau ingin Miqdad belajar adab. Beliau ingin Miqdad paham bahwa shalat bukan pekerjaan sisa setelah bermain, tetapi panggilan yang harus didahulukan.
Aku memahami itu.
Hanya saja, sedikit demi sedikit, ada yang berubah dari cara beliau membimbing Miqdad.
Awalnya hanya kalimat kecil.
“Lihat Ammar, shalatnya rapi.”
Miqdad menoleh sekilas.
Ammar anak tetangga kami. Usianya tidak jauh dari Miqdad. Ia memang lebih tenang. Kalau berdiri di saf, tangannya rapi. Setelah salam, ia tidak langsung bergerak. Biasanya ia duduk di samping ayahnya sambil menunduk.
Ammar bukan anak yang salah.
Ia tidak pernah mengejek Miqdad. Ia tidak pernah pamer hafalan. Bahkan mungkin ia tidak tahu bahwa namanya mulai sering disebut di rumah kami.
Masalahnya bukan Ammar.
Masalahnya adalah cara nama itu masuk ke telinga Miqdad.
Suatu malam, sepulang dari masjid, suamiku berkata sambil melepas peci.
“Ammar itu kalau selesai shalat nggak langsung cari sandal.”
Miqdad yang sedang menaruh sarung kecilnya di kursi hanya diam.
Malam berikutnya, setelah Isya, kalimat lain terdengar.
“Ammar sudah hafal doa itu. Miqdad belajar juga, ya.”
Kalimatnya tidak keras. Nada suamiku pun tidak marah. Kalau orang lain mendengar, mungkin terasa seperti nasihat biasa.
Tapi aku mulai melihat wajah Miqdad.
Ia tidak membantah. Tidak menangis. Tidak marah.
Ia hanya semakin jarang bercerita.
Dulu, ia pulang dari masjid dengan mata hidup. Ada saja yang ia ceritakan. Tentang imam, tentang sandal, tentang lampu masjid, tentang anak-anak yang berlari kecil di halaman.
Sekarang ia lebih sering langsung masuk rumah, menggantung pecinya, lalu duduk di lantai sambil memainkan mobil-mobilannya.
Aku pernah bertanya pelan, “Tadi shalatnya sama Ayah?”
Miqdad mengangguk.
“Senang?”
Ia mengangkat bahu.
“Biasa aja.”
Jawaban itu membuat dadaku tidak enak.
Anak kecil sering belum mampu menjelaskan isi hatinya. Tapi tubuhnya biasanya jujur. Wajahnya jujur. Diamnya pun kadang lebih jujur daripada kata-kata.
Beberapa hari kemudian, perubahan itu semakin jelas.
Azan Maghrib terdengar dari masjid. Suamiku bangkit dari ruang tengah dan mengambil peci. Biasanya Miqdad ikut berdiri. Tapi sore itu, ia tetap duduk di dekat rak mainan, menyusun balok kayu seperti tidak mendengar apa-apa.
“Miqdad,” panggil suamiku. “Ikut Ayah?”
Miqdad tidak langsung menjawab.
“Capek,” katanya lirih.
Suamiku menatapnya sebentar.
“Ya sudah. Shalat di rumah sama Bunda, ya.”
Miqdad mengangguk.
Malam itu ia memang shalat di rumah. Aku menemaninya. Ia berdiri di sampingku dengan gerakan anak kecilnya. Takbirnya pelan. Bacaannya kadang terdengar, kadang hilang. Setelah salam, ia langsung melipat sajadah kecilnya, seakan ingin cepat selesai dari sesuatu yang dulu ia ceritakan dengan mata berbinar.
Aku tidak memaksanya bicara.
Hari berikutnya, ia kembali menolak ikut.
Alasannya masih sama.
“Capek.”
Besoknya lagi, ia berkata sebelum suamiku sempat bertanya.
“Miqdad shalat di rumah aja.”
Aku mulai paham, ini bukan sekadar capek.
Peci hitam kecilnya tetap tergantung di paku dekat pintu. Sarung kecilnya tetap terlipat di kursi. Tapi tidak ada lagi anak kecil yang menunggu azan sambil bertanya, “Ayah sudah mau ke masjid?”
Suatu malam, saat Isya hampir masuk, suamiku sudah berdiri di dekat pintu. Sarung beliau sudah rapi. Peci sudah terpasang. Dari luar, terdengar suara sandal anak-anak kecil berlari menuju masjid.
Beliau menoleh ke arah Miqdad.
“Miqdad, ikut Ayah ke masjid?”
Miqdad sedang duduk di lantai. Tangannya memegang peci hitam kecil itu. Ia tidak memakainya. Hanya memutar-mutarnya pelan.
Ia menggeleng.
Suamiku mendekat sedikit.
“Kenapa?”
Miqdad menunduk.
Aku yang sedang merapikan gelas di meja makan ikut berhenti.
Beberapa detik rumah kami hening. Hanya suara azan yang mulai terdengar dari masjid.
Lalu Miqdad menjawab dengan suara kecil.
“Di masjid nanti Ayah lihat Ammar lagi.”
Tanganku yang memegang gelas terasa lemas.
Suamiku diam.
Tidak ada kalimat panjang setelah itu. Tidak ada teguran. Tidak ada nasihat. Beliau hanya berdiri beberapa saat, seperti baru mendengar sesuatu yang tidak pernah beliau bayangkan akan keluar dari mulut anaknya sendiri.
“Miqdad,” kata beliau pelan.
Tapi Miqdad sudah menunduk lebih dalam. Jari-jarinya masih memegang peci itu.
Aku tahu suamiku bukan sedang ingin menyakiti anak kami. Aku tahu beliau hanya ingin Miqdad belajar. Mungkin beliau khawatir Miqdad mengganggu jamaah. Mungkin beliau sungkan kepada orang lain kalau Miqdad terlalu banyak bergerak di masjid. Mungkin beliau ingin Miqdad cepat paham bahwa rumah Allah punya adab.
Tapi malam itu, semua niat baik itu bertemu dengan hati anak kecil yang merasa selalu kurang.
Suamiku akhirnya menarik napas.
“Ayah ke masjid dulu. Miqdad shalat sama Bunda, ya.”
Miqdad mengangguk tanpa menatap.
Pintu rumah tertutup pelan.
Aku duduk di samping Miqdad. Tidak langsung bertanya. Tidak langsung menjelaskan bahwa suamiku sayang kepadanya. Tidak langsung membela siapa pun.
Aku hanya menyentuh punggungnya.
“Miqdad mau wudhu dulu?”
Ia mengangguk.
Malam itu Miqdad tetap shalat. Ia berdiri di sampingku. Tapi sepanjang shalat, hatiku seperti tertinggal di kalimatnya tadi.
Di masjid nanti Ayah lihat Ammar lagi.
Setelah shalat, Miqdad tidak banyak bicara. Ia minum air putih, lalu masuk kamar. Peci kecilnya ia letakkan di meja, bukan digantung di dekat pintu seperti biasa.
Aku membiarkannya.
Tidak lama kemudian, suamiku pulang. Langkah beliau terdengar lebih pelan dari biasanya. Beliau membuka pintu, mengucap salam, lalu duduk sebentar di teras sebelum masuk.
Aku keluar membawa segelas air.
Beliau menerimanya, tapi tidak langsung minum.
“Tadi Ayah lihat Ammar,” kata beliau pelan.
Aku menunggu.
Beliau menatap halaman yang mulai sepi.
“Tapi yang Ayah ingat malah Miqdad.”
Aku duduk di samping beliau.
Beberapa saat kami diam.
Lalu beliau berkata lagi, suaranya rendah.
“Ayah cuma ingin dia belajar. Di masjid itu harus ada adabnya. Ayah takut kalau dia kebiasaan main-main.”
Aku mengangguk.
“Bunda tahu.”
Aku benar-benar tahu. Suamiku ayah yang mencintai anaknya. Beliau ingin Miqdad dekat dengan shalat. Beliau ingin anak kami tumbuh baik.
Tapi cinta pun kadang perlu belajar cara berbicara.
“Bunda tahu Ayah ingin Miqdad baik,” kataku pelan. “Bunda juga ingin. Tapi akhir-akhir ini Bunda lihat dia seperti takut salah.”
Suamiku menunduk.
Aku melanjutkan dengan hati-hati.
“Bukan cuma takut ditegur. Takut dibandingkan.”
Beliau tidak menjawab.
Dari dalam kamar, terdengar suara Miqdad memindahkan mainan. Kecil. Biasa. Tapi malam itu suara itu seperti mengingatkan kami bahwa anak-anak bisa tetap bermain meski hatinya sedang menyimpan sesuatu.
“Bunda nggak bilang Miqdad boleh semaunya di masjid,” kataku lagi. “Bunda juga paham, Ayah khawatir dia mengganggu jamaah. Tapi mungkin yang berat buat dia bukan ditegur, Ayah. Yang berat itu merasa setiap belajar, dia kalah dari anak lain.”
Suamiku mengusap wajah.
“Ayah nggak sadar sesering itu.”
“Bunda juga awalnya nggak sadar,” jawabku. “Sampai dia mulai nggak mau ikut.”
Beliau terdiam lama.
Aku tidak menambah kalimat. Kadang orang yang sedang menyesal tidak perlu ditambah banyak nasihat. Ia hanya perlu diberi ruang untuk melihat sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, suamiku masuk ke kamar Miqdad.
Aku berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka.
Miqdad sedang berbaring menghadap dinding. Matanya belum benar-benar tidur.
Suamiku duduk di tepi kasur.
“Miqdad.”
Anak kami tidak langsung menjawab.
“Ayah tadi mikir,” kata beliau. “Ayah kayaknya kebanyakan nyebut Ammar, ya?”
Miqdad pelan-pelan membalik badan.
Ia tidak berkata apa-apa.
Suamiku menunduk, lalu mengusap ujung kasur.
“Ayah minta maaf.”
Miqdad menatap beliau sebentar. Matanya tampak bingung, seperti anak kecil yang belum terbiasa mendengar orang dewasa meminta maaf kepadanya.
“Ayah sebenarnya senang Miqdad mau ikut ke masjid,” lanjut beliau. “Ayah senang waktu Miqdad berdiri di samping Ayah. Ayah senang Miqdad mau belajar shalat. Tapi Ayah malah sering membahas kurangnya Miqdad.”
Miqdad memainkan ujung selimut.
“Kalau Miqdad muter-muter peci lagi?” tanyanya pelan.
“Nanti Ayah ingatkan baik-baik.”
Miqdad diam sebentar. Matanya turun ke selimut.
“Kalau Miqdad belum hafal doa yang Ayah ajarin?”
“Kita belajar sama-sama.”
Ia mengangguk kecil, lalu berbisik, “Kalau habis salam Miqdad lihat sandal?”
Suamiku menghela napas pelan. Lalu beliau tersenyum.
“Berarti Ayah ingatkan, habis salam duduk dulu sebentar. Sandalnya insya Allah nggak ke mana-mana.”
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, bibir Miqdad bergerak sedikit. Belum benar-benar tersenyum lebar. Tapi cukup untuk membuat dadaku hangat.
Malam itu Miqdad belum kembali ke masjid.
Suamiku juga tidak memaksa.
Saat Subuh, beliau tetap membangunkannya dengan lembut. Miqdad masih berat membuka mata. Beliau tidak menjadikan pagi itu sebagai medan baru untuk menekan. Yang beliau jaga pagi itu sederhana dulu: Miqdad bangun, berwudhu, dan shalat tepat waktu di rumah.
Tidak semua harus selesai pagi itu juga.
Setelah shalat, suamiku tidak membahas Ammar. Tidak membahas anak lain.
Beliau hanya bertanya, “Tadi Miqdad sudah baca Al-Fatihah pelan-pelan?”
Miqdad mengangguk.
“Alhamdulillah,” kata beliau. “Besok kita belajar lebih baik lagi.”
Hari-hari berikutnya berjalan pelan.
Miqdad tidak langsung kembali seperti dulu. Kadang ia masih memilih shalat di rumah bersamaku. Kadang ia mengambil pecinya, lalu meletakkannya lagi. Kadang ia bertanya, “Ammar ke masjid nggak?” dengan nada yang berusaha terdengar biasa, padahal aku tahu hatinya sedang memastikan sesuatu.
Suamiku belajar menahan diri.
Itu tidak selalu mudah.
Pernah suatu sore, Miqdad berwudhu terlalu lama karena bermain air. Suamiku hampir menegur dengan keras. Aku melihat rahang beliau mengeras sebentar. Tapi beliau menarik napas, lalu berkata, “Miqdad, airnya cukup. Wudhu itu ibadah, bukan main air. Ayo, Ayah tunggu.”
Miqdad cepat-cepat mematikan keran.
Pernah juga Miqdad salah melipat sarungnya sampai jatuh ke lantai. Biasanya mungkin suamiku akan menyebut nama Ammar. Tapi kali itu beliau hanya berjongkok dan menunjukkan caranya.
“Begini. Dilipat dua dulu. Pelan-pelan.”
Miqdad memperhatikan.
Aku melihat perubahan itu dari jauh. Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi nyata.
Lalu pada suatu Maghrib, Miqdad berdiri di dekat pintu.
Peci hitam kecilnya sudah ia pakai, agak miring sedikit.
Suamiku yang sedang merapikan sarung berhenti.
“Miqdad mau ikut?”
Miqdad mengangguk pelan.
“Tapi Miqdad berdiri samping Ayah, ya.”
Wajah suamiku melembut.
“Iya. Berdiri samping Ayah.”
Miqdad menatap beliau lagi.
“Kalau Miqdad salah, Ayah bisikin aja.”
Suamiku menelan ludah. Aku melihat mata beliau berubah.
“Iya,” jawab beliau. “Ayah bisikin pelan-pelan.”
Mereka berangkat berjalan kaki. Masjid tidak jauh dari rumah kami. Dari depan pintu, aku melihat Miqdad berjalan di sisi suamiku. Langkahnya kecil-kecil. Sesekali ia membetulkan pecinya. Sesekali ia melihat sandal yang ia pakai, seakan memastikan tidak tertukar sebelum sampai.
Aku menunggu di rumah.
Bukan dengan perasaan lega sepenuhnya, karena aku tahu mendidik anak tidak selesai dalam satu malam. Tapi ada doa yang diam-diam tumbuh di dadaku.
Ya Allah, jaga hati anakku saat ia belajar mendekat kepada-Mu.
Sepulang dari masjid, Miqdad masuk rumah dengan wajah lelah. Tapi kali ini ia tidak menunduk.
“Bunda,” katanya sambil melepas sandal. “Tadi Miqdad masih lihat sandal habis salam.”
Aku menoleh ke arah suamiku.
Beliau tersenyum kecil.
“Tapi tadi Miqdad duduk dulu sebentar,” kata beliau. “Lebih lama dari kemarin.”
Miqdad mengangguk cepat, seperti baru ingat bahwa ia punya kabar baik.
“Iya, Bunda. Miqdad duduk dulu. Ayah bisikin.”
Aku tersenyum.
“Alhamdulillah.”
Peci Miqdad masih miring. Sarungnya juga tidak serapi saat berangkat. Tapi wajahnya tidak membawa kalah.
Malam itu, setelah Miqdad tidur, aku melipat sajadah kecilnya. Di dekat pintu, peci hitamnya sudah kembali tergantung di paku. Benda kecil itu tampak biasa saja, tapi bagiku seperti tanda bahwa ada bagian dari hati anakku yang mulai berani pulang.
Aku belajar, anak-anak tidak selalu mundur dari kebaikan karena mereka membenci kebaikan.
Kadang mereka mundur karena jalan menuju kebaikan terasa terlalu penuh ukuran. Terlalu banyak perbandingan. Terlalu sering membuat mereka merasa belum cukup, bahkan saat mereka sedang belajar.
Padahal anak kecil memang belajar dari yang belum rapi. Hari ini masih terburu-buru, besok mulai lebih tenang. Hari ini masih lupa, besok mungkin ingat sedikit lebih lama.
Tugas kami bukan membuat Miqdad terlihat paling baik di mata orang.
Tugas kami adalah menuntunnya agar tetap ingin menjadi baik di hadapan Allah.
Aku teringat, jalan Rasulullah ﷺ dalam membimbing bukanlah jalan yang membuat hati kecil merasa hina saat sedang belajar. Beliau meluruskan, tapi tidak meremukkan hati. Beliau mengajarkan adab, tapi tidak mencabut harapan.
Aku ingin Miqdad mencintai shalat, dan mengenal masjid sebagai tempat hatinya belajar pulang kepada Allah, bukan tempat ia harus menang dari Ammar.
Besok mungkin Miqdad masih akan memainkan pecinya.
Besok mungkin salamnya masih terlalu cepat.
Besok mungkin ia masih menoleh ke sandal sebelum zikirnya selesai.
Tapi insya Allah, kali ini ia tidak berjalan sendirian dalam rasa takut dibandingkan.
Di sampingnya ada suamiku.
Bukan untuk terus mencari kurangnya.
Tapi untuk menggandengnya pelan-pelan menuju Allah.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.