Di Sekolah Itu, Anakku Tidak Pernah Tak Terlihat
Malam sebelumnya, aku mengabari Bu Rina bahwa Hilwa sudah cukup sehat untuk kembali.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Malam sebelumnya, aku mengabari Bu Rina bahwa Hilwa sudah cukup sehat untuk kembali bersekolah.
Tiga hari ia tidak masuk karena demam. Sejak pagi, suhu tubuhnya sudah normal. Nafsu makannya mulai pulih, dan menjelang sore ia sudah berjalan-jalan di dalam rumah sambil berkali-kali bertanya apakah besok boleh masuk.
Tidak lama setelah pesanku terkirim, Bu Rina membalas.
"Alhamdulillah. Besok saya piket pagi, Bu. Saya tunggu Hilwa di gerbang, ya."
Pagi itu, dari atas motor, aku sudah melihat beliau berdiri di sisi gerbang. Sebuah buku kecil ada di tangannya. Sesekali beliau mencatat sesuatu sambil menyambut anak-anak yang datang.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Begitu aku menghentikan motor, Bu Rina langsung menoleh.
“Hilwa!”
Putriku turun perlahan. Tubuhnya memang sudah membaik, tetapi gerakannya belum selincah biasanya. Satu tangannya memegang tali tas. Tangan yang lain menggenggam ujung bajuku.
Bu Rina berjalan mendekat.
“Alhamdulillah, Hilwa sudah sehat?”
Hilwa mengangguk kecil.
Bu Rina membungkukkan badan agar sejajar dengannya.
“Kelas terasa sepi tanpa Hilwa.”
Aku melihat perubahan itu tepat di depan mataku.
Bahu Hilwa yang semula kaku perlahan mengendur. Genggamannya pada bajuku terlepas. Senyum kecil muncul ketika Bu Rina mengatakan bahwa teman-temannya sudah menunggu.
“Bunda pulang saja,” kata Hilwa.
Beberapa menit sebelumnya, ia masih menggenggam bajuku. Kini ia berjalan menuju kelas tanpa perlu kuantar lagi.
Bu Rina tetap berada di gerbang untuk menyambut murid berikutnya. Namun sebelum Hilwa berbelok menuju kelas, beliau sempat memanggilnya sekali lagi.
“Pelan-pelan jalannya, Hilwa.”
Sekolah itu memang tidak ramai.
Namun pagi itu, aku baru memahami bahwa ketidakhadiran satu anak benar-benar terasa di dalamnya.
Dua bulan sebelumnya, aku tidak memandang sekolah itu dengan cara yang sama.
Pada hari pertama masuk, aku berdiri di depan kelas Hilwa sambil menghitung murid yang duduk di dalamnya.
Hanya sembilan anak.
Bangku-bangku yang tidak terpakai ditumpuk di bagian belakang. Cat di dekat jendela mulai mengelupas. Rak baca di sudut kelas hanya setinggi lutut orang dewasa, berisi beberapa buku cerita yang sampulnya sudah dilapisi selotip.
Hilwa tidak mempermasalahkan semua itu.
Ia duduk di bangku depan, merapikan pensil di atas meja, lalu melambaikan tangan kepadaku sebelum gurunya mulai berbicara.
Justru aku yang merasa ada sesuatu yang kurang.
Sekolah itu hanya berjarak sekitar tujuh menit dari rumah dengan motor. Biayanya masih dapat kami jangkau tanpa mengganggu kebutuhan keluarga. Aku dan suamiku juga tidak perlu mengatur ulang banyak hal untuk mengantar dan menjemput Hilwa.
Itulah alasan kami memilihnya.
Kami sempat mempertimbangkan sekolah lain. Ada yang gedungnya lebih baru, tetapi jaraknya cukup jauh. Ada pula yang programnya terlihat menarik, tetapi biaya masuk dan kegiatan tahunannya membuat kami harus menghitung ulang pengeluaran.
Sekolah negeri dekat rumah itu akhirnya menjadi pilihan yang paling mungkin kami jalani.
Pada awalnya, aku merasa keputusan itu sudah cukup masuk akal.
Sampai orang-orang mulai bertanya.
“Hilwa jadi sekolah di situ, Bun?”
Aku mengangguk.
“Yang murid barunya cuma sedikit itu, ya?”
“Iya.”
“Kenapa nggak coba sekolah dekat perumahan baru? Katanya bagus. Kegiatannya juga banyak.”
Orang yang bertanya tidak selalu bermaksud merendahkan. Beberapa mungkin hanya penasaran. Namun karena aku sendiri mulai ragu, pertanyaan biasa terdengar seperti penilaian.
Di grup warga, sekolah-sekolah lain sering dibicarakan. Ada yang membagikan foto gedung baru, ruang komputer, dan berbagai kegiatan murid.
Sekolah Hilwa hampir tidak pernah disebut.
Lama-lama, ketika ada yang bertanya Hilwa sekolah di mana, aku hanya menjawab, “SD dekat rumah.”
Aku tidak lagi menyebut namanya.
Padahal Hilwa sendiri tidak pernah mengeluh tentang jumlah murid di kelasnya.
Setiap pulang, ia selalu punya cerita.
Tentang Dimas yang salah membawa buku.
Tentang Zahra yang menangis karena pensilnya patah.
Tentang Bu Rina yang menggambar bentuk mulut di papan tulis ketika mengajarkan bunyi huruf.
Namun saat Hilwa bercerita, pikiranku justru sibuk membandingkan.
Sekolah lain punya perpustakaan luas. Sekolah Hilwa hanya memiliki beberapa rak kecil dengan buku terbatas.
Sekolah lain menawarkan banyak kegiatan tambahan. Di sekolah Hilwa, pilihannya hanya pramuka dan menggambar.
Halaman sekolahnya mudah becek setelah hujan. Beberapa mejanya sudah kusam. Cat pada dinding luar mulai pudar.
Kekurangan itu memang nyata.
Karena itu, sebelum semester pertama berjalan separuh, aku mulai mencari informasi tentang sekolah lain. Aku menyimpan nomor bagian pendaftaran dan mencatat perkiraan biayanya.
Rencanaku sederhana. Hilwa akan menyelesaikan kelas satu di sekolah itu. Tahun berikutnya, jika memungkinkan, kami akan memindahkannya.
Suatu malam, suamiku menemukan lembar informasi sekolah yang kusimpan di atas meja.
“Bunda masih kepikiran memindahkan Hilwa?”
Aku sedang melipat seragam. Tanganku berhenti sejenak.
“Bunda takut kita salah pilih.”
Beliau duduk di seberangku.
“Karena sekolahnya sepi?”
“Bukan cuma itu. Fasilitasnya juga terbatas. Bunda takut nanti Hilwa tertinggal.”
Suamiku tidak langsung menyanggah. Beliau pernah melihat sendiri keadaan sekolah itu. Ada alasan yang membuatku tetap khawatir.
“Hilwa pernah bilang nggak suka sekolah di sana?”
“Belum.”
“Pernah takut berangkat?”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kita lihat dulu,” kata beliau. “Jangan buru-buru mengambil keputusan hanya karena orang sering bertanya.”
Aku tidak menjawab.
Di kepalaku, sekolah yang dipilih banyak orang tetap terasa lebih meyakinkan. Kalau begitu banyak keluarga mempercayainya, bukankah pasti ada alasan?
Beberapa hari kemudian, Hilwa demam.
Sejak malam tubuhnya panas. Pagi-pagi sekali, aku dan suamiku membawanya ke klinik. Dokter meminta kami memastikan Hilwa cukup minum, beristirahat, dan dipantau selama beberapa hari.
Setelah sampai di rumah, aku mengirim pesan kepada Bu Rina.
"Assalamu’alaikum, Bu. Hilwa hari ini tidak masuk. Sejak semalam demam. Tadi pagi sudah kami bawa ke klinik."
Aku mengira beliau hanya akan menjawab bahwa pesanku sudah diterima.
Beberapa menit kemudian, balasannya masuk.
"Wa’alaikumussalam, Bu. Semoga Hilwa lekas sembuh. Tugasnya nanti saja, tidak usah dipikirkan dulu. Kemarin Hilwa sudah mulai bisa membaca beberapa kata dengan ‘ng‘ dan ‘ny‘. Kalau sudah masuk, nanti saya bantu ulang lagi pelan-pelan."
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu sekali lagi.
Di rumah, aku tahu Hilwa sedang kesulitan membaca beberapa kata. Ia sering berhenti cukup lama ketika bertemu kata ‘bunga‘, ‘nyamuk‘, atau ‘singa‘.
Namun aku tidak menyangka gurunya mengetahui bagian sekecil itu.
Aku masuk ke kamar.
Hilwa berbaring dengan selimut sampai dada. Wajahnya pucat. Rambut di dekat dahinya basah oleh keringat.
“Bu Rina tanya Hilwa,” kataku.
Matanya yang semula terpejam langsung terbuka.
“Bu Rina bilang apa?”
Aku membacakan pesannya.
Hilwa tersenyum lemah.
“Kemarin Hilwa bisa baca ‘bunga’.”
“Sudah bisa?”
“Awalnya salah.”
“Terus?”
“Bu Rina baca pelan-pelan, terus Hilwa ikut.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Bu Rina mengajari Hilwa sendiri?”
Hilwa mengangguk.
“Teman-teman lagi menulis. Hilwa duduk dekat meja Bu Rina.”
Aku mengusap rambutnya.
Selama ini aku sibuk melihat apa yang tidak dimiliki sekolah itu. Aku hampir tidak pernah bertanya apa yang Hilwa dapatkan di dalam kelasnya.
Pesan Bu Rina tidak membuatku langsung membatalkan rencana pindah. Sekolah itu tetap memiliki keterbatasan yang perlu kami pertimbangkan.
Namun sejak hari itu, aku mulai melihat keadaan Hilwa dengan lebih jujur.
Ia tidak pernah mencari alasan untuk tidak berangkat.
Ia berani mengatakan ketika belum bisa.
Ia tidak pernah pulang dengan takut kepada gurunya.
Barangkali selama ini aku terlalu sibuk melihat sekolah dari luar, sampai lupa memperhatikan bagaimana keadaan anakku setiap kali pulang.
Beberapa hari setelah Hilwa kembali masuk, ia duduk di ruang tengah sambil meraut pensil warna. Serutannya ditampung di atas selembar kertas bekas.
Aku duduk di dekatnya.
“Hilwa, Bunda mau tanya sesuatu.”
Ia menoleh.
“Bukan berarti Hilwa akan pindah, ya.”
“Pindah ke mana?”
“Kalau tahun depan Hilwa sekolah di tempat lain, Hilwa mau nggak?”
Tangannya berhenti meraut.
Ia tidak langsung menjawab. Keningnya sedikit berkerut, seolah-olah sedang memikirkan pertanyaan yang cukup sulit.
“Di sekolah baru, Bu Gurunya sudah tahu nama Hilwa?”
“Belum. Kalau Hilwa sekolah di sana, nanti Bu Gurunya akan mengenal Hilwa.”
Ia kembali diam.
“Kalau Hilwa salah baca, Bu Gurunya marah nggak?”
Pertanyaan itu membuatku tidak segera menjawab.
Aku bisa menunjukkan foto gedung sekolah itu. Aku bisa menjelaskan bahwa perpustakaannya lebih besar dan kegiatannya lebih banyak.
Namun aku tidak tahu bagaimana guru di sana akan memperlakukan Hilwa ketika anakku terbata-bata membaca.
“Bunda belum tahu,” jawabku jujur.
Hilwa menunduk melihat serpihan pensil di atas kertas.
“Hilwa mau sama Bu Rina saja.”
“Karena Bu Rina tahu nama Hilwa?”
Ia mengangguk.
“Bu Rina nggak marah kalau Hilwa belum bisa.”
Aku menarik napas perlahan.
Selama ini aku sibuk mencari sekolah yang dikenal banyak orang.
Hilwa hanya ingin berada di tempat yang mengenalnya, bahkan ketika ia belum bisa.
Malamnya, aku menceritakan percakapan itu kepada suamiku.
Beliau terdiam cukup lama.
“Bunda juga nggak bilang sekolah itu sudah sempurna,” kataku. “Bunda masih khawatir soal fasilitas dan perkembangan belajarnya.”
Suamiku mengangguk.
“Ayah juga masih khawatir.”
Beliau menutup buku catatan pengeluaran yang sedang dibacanya.
“Tapi selama Hilwa nyaman dan berkembang, jangan sampai kita memindahkannya hanya karena Bunda nggak enak ditanya orang.”
Aku menunduk.
Kalimat itu mengenai sesuatu yang selama ini tidak ingin kuakui.
Aku memang memikirkan perkembangan Hilwa.
Namun sebagian dari keinginanku memindahkannya lahir dari rasa malu.
Aku ingin menyebut nama sekolahnya tanpa merasa perlu menjelaskan. Aku ingin ketika orang bertanya, mereka langsung mengangguk, bukan kembali bertanya, “Kenapa di situ?”
Padahal bukan mereka yang akan menjalani hari-hari sekolah Hilwa. Bukan pula mereka yang akan mendampinginya ketika ia masih terbata-bata membaca.
“Menurut Ayah, kita lanjutkan dulu?” tanyaku.
“Kita lihat sampai akhir tahun,” jawab beliau. “Kalau perkembangannya tidak baik atau ada sesuatu yang membuat kita khawatir, baru kita pikirkan lagi. Tapi jangan pindahkan Hilwa hanya supaya nama sekolahnya lebih enak disebut.”
Aku mengangguk.
Keputusan itu tidak menghilangkan seluruh keraguan kami.
Namun kami tidak lagi menghitung berapa banyak orang yang memilih sekolah itu. Kami mulai melihat apakah Hilwa pulang dengan tenang, bertambah kemampuannya, dan tetap senang belajar.
Beberapa minggu kemudian, seorang tetangga kembali bertanya ketika kami berpapasan di depan warung.
“Hilwa masih sekolah di situ, Bun?”
“Iya.”
“Nggak jadi dipindah?”
Dulu aku mungkin akan menjawab panjang. Menjelaskan jaraknya dekat, biayanya terjangkau, atau mengatakan kami masih menunggu keadaan.
Kali itu aku hanya tersenyum.
“Belum. Hilwa nyaman di sana, dan gurunya sudah mengenalnya dengan baik.”
Sekolah itu tetap sederhana. Aku dan suamiku masih harus memperhatikan perkembangan Hilwa dari waktu ke waktu. Bu Rina yang telaten tidak otomatis menghapus semua kekurangan sekolahnya.
Namun aku tidak mau lagi menganggap kehadiran seorang guru yang sabar sebagai sesuatu yang kecil.
Dari kelembutan Rasulullah ﷺ ketika membimbing anak, aku belajar bahwa anak lebih mudah menerima ilmu ketika kesalahannya diperbaiki tanpa direndahkan. Barangkali itulah sebabnya Hilwa berani mencoba lagi setiap kali bacaannya keliru.
Allah menitipkan Hilwa kepada kami, bukan untuk dijadikan jawaban atas gengsi orang lain. Tugas kami adalah memperhatikan pertumbuhannya, tidak tergesa-gesa ketika menilai, dan memohon petunjuk Allah.
Malam itu, Hilwa membuka buku bacaannya di ruang tengah.
Jarinya berhenti pada sebuah kata.
“Nya... muk,” bacanya pelan.
Ia terdiam, lalu mengulanginya.
“Nyamuk.”
Wajahnya langsung cerah.
“Besok Hilwa mau baca ini ke Bu Rina.”
Aku mengangguk.
“Bismillah. Sekali lagi, pelan-pelan.”
Hilwa kembali menunjuk kata itu. Kali ini ia membacanya tanpa berhenti.
Di hadapanku ada seorang anak yang tidak takut salah dan tidak malu mencoba kembali.
Aku bersyukur Allah mempertemukan Hilwa dengan guru yang tidak membuatnya malu ketika belum bisa.
Aku mengusap kepalanya dan berbisik pelan,
“Alhamdulillah.”
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.