Anakku Diminta Berkenalan, lalu Dihakimi di Kolom Komentar
Pada rekaman pertama, ia lupa menyebut nama kelas. Rekaman ketiga berhenti karena suaranya terlalu kecil. Pada rekaman keenam, adiknya tiba-tiba melintas.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Malam itu, Nabila mengulang rekaman videonya sampai sebelas kali.
Pada rekaman pertama, ia lupa menyebut nama kelas. Rekaman ketiga berhenti karena suaranya terlalu kecil. Pada rekaman keenam, adiknya tiba-tiba melintas di belakang sambil membawa mobil-mobilan.
Setiap selesai merekam, Nabila mendekatkan wajahnya ke layar lalu memutar ulang videonya sendiri.
“Yang ini gimana, Bunda?”
Aku yang sedang melipat pakaian di ujung kasur ikut melihat.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Sudah bagus.”
Nabila mengerutkan kening.
“Suaraku aneh nggak?”
“Nggak.”
“Kelihatannya kaku, ya?”
“Namanya juga baru pertama. Nanti lama-lama biasa.”
Nabila baru berusia dua belas tahun dan akan masuk kelas tujuh. Video itu merupakan salah satu tugas dalam rangkaian MPLS. Setiap siswa diminta menyebutkan nama, asal sekolah, serta satu hal yang mereka sukai.
Dalam pesan di grup orang tua, sekolah juga memberi tahu bahwa video-video tersebut akan diunggah bergiliran ke akun media sosial sekolah agar siswa baru dapat saling mengenal.
Aku membaca pengumuman itu. Aku tahu videonya akan dipasang di akun sekolah.
Namun saat itu aku tidak bertanya mengapa perkenalan untuk lingkungan sekolah perlu dilakukan di tempat yang bisa dilihat siapa saja.
Aku mengira, karena kegiatan itu datang dari sekolah, tentu semuanya sudah dipertimbangkan.
Nabila memilih bercerita tentang hobinya menggambar. Sejak kecil, ia memang lebih nyaman menyampaikan sesuatu melalui kertas daripada berbicara di depan banyak orang.
Karena itu, ketika akhirnya ia berani menyelesaikan rekamannya, aku ikut merasa lega.
“Yang ini saja, Bunda,” katanya setelah rekaman kesebelas. “Jangan diulang lagi.”
Aku mengangguk.
Videonya sederhana. Nabila berdiri di depan dinding ruang tamu dengan seragam putih-biru dan jilbab putih yang masih terlihat baru. Kedua tangannya bertaut di depan perut. Pada akhir rekaman, ia tersenyum kecil meski masih tampak gugup.
Malam sebelum hari pertama MPLS, video itu diunggah ke akun sekolah.
Nabila pulang dari hari pertama MPLS dengan langkah pelan.
Ia mengganti pakaian, lalu masuk ke kamar. Buku gambar yang biasanya langsung dibuka sepulang sekolah tetap berada di sudut meja.
Malamnya, ia hanya makan beberapa suap.
“Masakannya nggak enak?” tanyaku.
Nabila menggeleng.
“Kenyang.”
Padahal sejak pulang sekolah, ia belum makan apa-apa.
Ponselnya lebih sering diletakkan dengan layar menghadap ke bawah. Setiap kali terdengar bunyi notifikasi, bahunya menegang. Ia segera memeriksa layar, lalu mematikannya jika melihatku mendekat.
Aku mengira ia hanya gugup menghadapi lingkungan baru.
Keesokan paginya, Nabila berdiri cukup lama di depan seragam yang tergantung di pintu lemari.
“Bunda,” katanya tanpa menatapku, “hari ini aku boleh nggak masuk?”
Aku menghentikan tangan yang sedang memasukkan bekal ke dalam tasnya.
“Kenapa? Sakit?”
“Nggak.”
“Terus?”
Nabila mengangkat bahu.
“Capek aja.”
Aku menyentuh dahinya. Tidak panas.
“Baru hari kedua, Nak. Kalau nggak sakit, tetap berangkat dulu, ya.”
Nabila tidak membantah. Ia mengenakan seragamnya pelan-pelan, lalu berangkat bersama suamiku.
Saat itu aku belum memahami bahwa kata “capek” tidak selalu berarti tubuh anak sedang lelah.
Pesan itu masuk menjelang Isya.
Nomornya tidak kusimpan.
“Assalamu’alaikum, Bu. Maaf menghubungi malam-malam. Saya ibunya Raka, teman sekelas Nabila.”
Aku menjawab salamnya.
Tidak lama kemudian, pesan berikutnya muncul.
“Tadi anak saya menunjukkan sesuatu dari grup WhatsApp kelas. Saya tidak tahu Ibu sudah melihat atau belum. Itu tentang Nabila.”
Dadaku langsung terasa tidak nyaman.
“Tentang apa, Bu?”
Beliau mengirimkan tiga tangkapan layar.
Tangkapan pertama berasal dari kolom komentar video perkenalan Nabila.
“Kok ngomongnya dibuat-buat begitu?”
Di bawahnya ada beberapa balasan dengan emoji tertawa.
Komentar berikutnya berbunyi:
“Besok kalau ketemu, suruh ulangin gaya ngomongnya.”
Pada tangkapan layar yang lain, seseorang mengambil gambar wajah Nabila ketika sedang berkedip. Gambar itu dikirim ke grup WhatsApp kelas dengan tulisan:
“Ekspresi kalau disuruh maju ke depan kelas.”
Beberapa anak membalasnya dengan stiker dan tawa.
Tanganku terasa dingin.
Aku membuka unggahan sekolah. Videonya masih ada. Beberapa komentar baru muncul di bawahnya.
Kalimat pertama yang melintas di kepalaku adalah, “Kenapa Nabila nggak cerita dari kemarin?”
Namun ketika berdiri di depan pintu kamarnya, pertanyaan itu tidak sanggup kuucapkan.
Nabila duduk di atas kasur sambil memeluk lutut. Ponselnya tergeletak dengan layar menghadap ke bawah. Buku gambarnya masih berada di sudut meja, pada posisi yang sama sejak kemarin.
Aku mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka.
“Bunda boleh masuk?”
Nabila mengangguk kecil.
Aku duduk di sisi kasur. Tidak terlalu dekat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Bunda sudah lihat komentarnya.”
Tubuh Nabila langsung menegang.
Ia menunduk lebih dalam.
“Dari siapa?”
“Ibunya Raka menghubungi Bunda.”
Nabila menarik ujung lengan bajunya hingga menutupi sebagian telapak tangan.
“Yang di grup juga?”
“Iya.”
Ia kembali diam.
Aku hampir bertanya mengapa ia menyembunyikannya. Namun ketika melihat jemarinya gemetar, kutelan pertanyaan itu.
“Sejak kapan Nabila tahu?”
“Dari kemarin.”
“Di sekolah ada yang ngomong langsung?”
Nabila mengangguk.
“Waktu aku masuk kelas, ada yang niruin cara aku ngomong.”
Suaranya sangat pelan.
“Ada yang bilang aku sok imut. Terus mereka ketawa.”
Aku menarik napas perlahan.
“Makanya tadi pagi Nabila nggak mau berangkat?”
Nabila kembali mengangguk. Matanya mulai penuh.
Lalu ia bertanya:
“Bunda, aku memang aneh, ya?”
Aku bergeser mendekat. Nabila merapat, lalu memelukku.
“Nggak, Nak,” kataku sambil mengusap punggungnya. “Nabila nggak aneh. Yang mereka lakukan itu salah.”
Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
“Aku cuma ngomong biasa, Bunda.”
“Iya.”
“Aku nggak ganggu mereka.”
“Iya, Nak.”
“Kenapa mereka ketawa?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Bunda juga nggak tahu kenapa mereka sampai begitu. Tapi Bunda tahu Nabila nggak pantas diperlakukan seperti itu.”
Aku membiarkannya menangis sampai napasnya lebih teratur.
Setelah itu, aku menatap ponselnya yang masih tergeletak di atas kasur.
“Bunda boleh lihat chat di HP Nabila sebentar? Bunda simpan buktinya sebelum ada yang menghapus.”
Nabila mengangguk.
Aku mengambil beberapa tangkapan layar tambahan, lalu mengembalikan ponselnya.
“Nabila mau videonya dihapus?”
“Iya.”
“Baik. Besok Nabila istirahat dulu di rumah. Bunda dan Ayah akan ngomong sama sekolah pagi-pagi.”
Nabila mengembuskan napas panjang. Bahunya tidak lagi setegang tadi.
Setelah Nabila tertidur, aku duduk di meja makan bersama suamiku.
Semua tangkapan layar itu sudah kutunjukkan kepada beliau.
“Ayah besok ikut ke sekolah,” katanya.
Aku menatap layar ponsel yang masih menampilkan video Nabila.
“Bunda tahu dari awal videonya bakal diunggah,” kataku. “Tapi Bunda nggak kepikiran kenapa perkenalan anak-anak harus dipasang di akun terbuka.”
Suamiku terdiam sejenak.
“Ayah juga nggak kepikiran.”
“Bunda kira karena dari sekolah, pasti aman.”
“Kita memang terlambat sadar. Tapi besok videonya harus diturunkan dan sekolah harus tahu apa yang terjadi.”
Aku mengangguk.
“Malam ini Bunda temani Nabila dulu. Besok kita ke sekolah bareng.”
Malam itu aku menyesal karena tidak pernah bertanya mengapa tugas perkenalan anak harus dipasang di tempat yang bisa dilihat siapa saja.
Kalau tujuannya hanya agar anak-anak di sekolah saling mengenal, mengapa mereka harus dibawa ke ruang publik?
Pagi berikutnya, aku duduk di samping Nabila.
Ia masih mengenakan pakaian tidur. Ponselnya belum dinyalakan.
“Nak, sebentar lagi Bunda sama Ayah ke sekolah.”
Nabila menatapku.
“Mereka bakal marah sama aku?”
“Nggak. Nabila nggak salah.”
“Terus nanti teman-teman tahu aku ngadu?”
“Bunda akan bilang ke sekolah supaya masalah ini nggak dibahas sambil nyebut nama Nabila di depan kelas. Kalau ada anak yang perlu dipanggil, biar sekolah panggil satu-satu.”
Ia memainkan ujung selimut.
“Aku takut masuk lagi.”
“Wajar kalau Nabila takut.”
Aku menggenggam tangannya.
“Hari ini Nabila di rumah dulu. Setelah Bunda sama Ayah bicara ke sekolah, kita pikirkan bareng kapan Nabila siap masuk lagi.”
Nabila mengangguk.
“Bunda sama Ayah nggak akan maksa?”
“Nggak. Tapi kita juga nggak akan membiarkan Nabila menghadapi ini sendirian.”
Sebelum berangkat, aku mengirimkan tangkapan layar kepada wali kelas dan meminta waktu untuk bertemu.
Aku datang ke sekolah bersama suamiku.
Wali kelas dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan menerima kami di sebuah ruangan dekat kantor guru. Aku menunjukkan kembali komentar di akun sekolah serta percakapan di grup WhatsApp kelas.
“Waktu kami periksa pagi tadi, beberapa komentar sudah tidak terlihat, Bu,” kata wali kelas. “Tapi tangkapan layar yang Ibu kirim sudah kami simpan. Kami juga baru tahu gambar itu disebarkan ke grup kelas.”
“Komentar-komentar itu membuat Nabila takut masuk sekolah,” jawabku. “Di kelas, beberapa anak juga menirukan cara bicaranya.”
Wakil kepala sekolah melihat kembali tangkapan layar di meja.
“Videonya akan kami turunkan hari ini,” katanya. “Anak-anak yang terlibat akan kami panggil. Orang tua mereka juga akan kami hubungi.”
Aku mengangguk, lalu bertanya:
“Kalau tujuan video ini supaya siswa baru saling kenal, kenapa harus diunggah ke akun yang bisa dilihat siapa saja?”
Ruangan itu hening beberapa saat.
“Awalnya kami menganggapnya sebagai dokumentasi kegiatan sekaligus cara agar siswa baru saling mengenal,” jawab wakil kepala sekolah. “Kami tidak memperkirakan komentarnya akan berkembang seperti ini.”
“Tapi akunnya terbuka,” kataku. “Nabila diminta memperkenalkan diri kepada teman-teman sekolahnya, tapi akhirnya dia dinilai oleh orang-orang dari balik layar.”
Aku menjaga suaraku agar tidak meninggi.
“Perkenalan seperti ini sebenarnya bisa dilakukan di kelas. Anak-anak nggak perlu masuk ke kolom komentar hanya untuk saling mengenal.”
Wali kelas menunduk sebentar, lalu mengangguk.
“Kami memahami keberatan Ibu.”
Suamiku kemudian berkata:
“Saya juga tidak ingin masalah ini selesai hanya dengan anak-anak diminta minta maaf. Mereka perlu memahami bahwa mengambil gambar temannya, menjadikannya (gambar meme) bahan tertawaan, lalu menyebarkannya itu salah.”
Beliau berbicara tenang, tetapi tegas.
Aku bertanya bagaimana sekolah akan memastikan Nabila tidak kembali menjadi sasaran ketika masuk kelas.
Wali kelas menawarkan untuk menyambut Nabila ketika datang, menemaninya sampai ke kelas, dan memperhatikan keadaannya selama beberapa hari pertama. Sekolah juga akan memanggil siswa yang terlibat secara terpisah, tanpa menjadikan Nabila bahan pembahasan di depan seluruh kelas.
Wakil kepala sekolah menyampaikan bahwa kegiatan video perkenalan akan dievaluasi.
“Ke depan, video perkenalan siswa tidak akan lagi diunggah ke akun terbuka,” katanya.
Siang itu, video Nabila diturunkan. Komentar-komentar di bawah unggahan ikut hilang dari layar, meski tangkapan layarnya bahkan videonya mungkin sudah telanjur tersimpan di ponsel anak-anak lain.
Setelah pulang, aku dan suamiku menceritakan hasil pertemuan itu kepada Nabila.
“Videonya sudah dihapus?” tanyanya.
“Sudah.”
“Yang di kelas gimana?”
“Anak-anak yang terlibat akan dipanggil satu-satu. Masalah ini nggak akan dibahas sambil nyebut nama Nabila di depan kelas.”
Ia terdiam sejenak.
“Kalau aku masuk lusa, Bu Guru nungguin?”
“Iya. Tapi kalau Nabila belum siap, bilang ke Bunda.”
Nabila berpikir cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Aku coba masuk lusa.”
Pada hari Nabila kembali masuk, wali kelas menunggunya di dekat gerbang lalu menemaninya sampai ke kelas.
Ketika pulang, Nabila tidak langsung masuk kamar seperti biasanya. Ia duduk di meja makan dan membuka tempat bekalnya.
“Bagaimana tadi?” tanyaku.
“Masih deg-degan.”
“Terus?”
“Yang kemarin niruin aku nggak ngomong apa-apa.”
“Bu Guru sempat nemenin Nabila?”
Nabila mengangguk.
“Pas istirahat juga Bu Guru sempat nanya aku baik-baik saja atau nggak.”
Aku tidak bertanya lebih banyak.
“Kalau ada apa-apa lagi, cerita ke Bunda, ya.”
“Iya.”
Beberapa hari kemudian, wali kelas meminta anak-anak duduk berpasangan dan saling bercerita.
Nabila duduk bersama seorang anak perempuan bernama Salwa.
Malamnya, ketika aku sedang memotong sayur di dapur, Nabila datang membawa buku gambarnya.
“Tadi Salwa lihat gambarku,” katanya.
“Terus dia bilang apa?”
“Dia tanya aku pakai pensil warna merek apa.”
Aku tersenyum.
“Dia suka gambar juga?”
“Iya. Besok katanya mau bawa gambarnya.”
Nabila membuka satu halaman. Di sana ada gambar sebuah taman dengan dua anak perempuan duduk di bawah pohon.
“Yang ini tadi aku tunjukkan ke dia.”
“Terus?”
“Ya ngobrol saja.”
“Masih takut?”
Nabila berpikir sebentar.
“Masih sedikit. Tapi kalau kenalannya langsung begitu, nggak terlalu bikin tegang.”
Aku mengangguk.
Nabila hanya menunjukkan gambarnya kepada seorang teman yang duduk di sebelahnya. Dari satu pertanyaan tentang pensil warna, percakapan mereka dimulai.
Malam itu, setelah salat Magrib, Nabila masih duduk di sampingku.
“Bunda,” katanya sambil memainkan ujung mukenanya, “kalau nanti ada yang ngejek lagi, aku harus gimana?”
“Jangan dibalas ngejek.”
“Terus aku diam saja?”
“Nggak. Kalau ada di chat, jangan dibalas dulu. Screenshot, tutup chat-nya, terus cerita ke Bunda, Ayah, atau Bu Guru.”
“Kalau aku marah?”
“Boleh marah. Yang nggak boleh, marahnya bikin kita ikut menyakiti orang.”
Nabila menunduk.
“Kenapa kita nggak boleh balas?”
“Karena Rasulullah mengajarkan kita untuk jaga lisan dan nggak mempermalukan orang. Yang salah tetap harus dihentikan, tapi kita nggak perlu berubah jadi sama kasarnya.”
Ia diam beberapa saat.
“Kita doain mereka juga?”
Pertanyaan itu membuatku menatapnya.
“Iya.”
“Padahal mereka jahat?”
“Kita doakan Allah memperbaiki mereka. Tapi itu bukan berarti yang mereka lakukan jadi benar. Bunda tetap akan jaga Nabila. Anak-anak yang melakukan itu juga tetap harus ditangani sekolah.”
Aku meletakkan tangan di atas kepalanya.
“Sekarang kita minta Allah jaga hati Nabila, jaga lisan kita, dan kasih Nabila keberanian untuk cerita kalau ada yang menyakiti lagi.”
Nabila mengangguk.
Kami mengangkat tangan bersama.
Setelah berdoa, Nabila melipat mukenanya.
Sebelum tidur, kulihat ia memasukkan buku gambar ke dalam tas sekolah.
“Besok mau ditunjukkan ke Salwa?” tanyaku.
“Iya.”
Besok, gambar itu akan dibawa ke kelas.
Tidak untuk diunggah. Cukup untuk ditunjukkan kepada Salwa yang duduk di sebelahnya.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.