Kami Mengajarinya Taat, lalu Malu saat Ia Benar-Benar Taat
Dua minggu sebelum acara keluarga itu, Mazin bertanya kepadaku saat aku sedang melipat pakaian di ruang.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Dua minggu sebelum acara keluarga itu, Mazin bertanya kepadaku saat aku sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Mi, kalau Tante Qanita ngajak salaman, Mazin gimana?”
Tanganku berhenti di atas kaus yang belum selesai kulipat.
Tante Qanita adalah anak dari paman kandung suamiku. Artinya, ia sepupu perempuan suamiku, bukan saudari kandungnya dan bukan bibi kandung Mazin. Anak-anak memanggilnya Tante karena usianya jauh di atas mereka dan sejak dulu ia dekat dengan keluarga kami.
Di antara Tante Qanita dan Mazin juga tidak ada hubungan persusuan. Jadi, meskipun dipanggil Tante dan sudah dianggap seperti keluarga dekat, ia tetap bukan mahram bagi Mazin.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” tanyaku.
“Kalau kumpul keluarga, biasanya semua salaman.”
Mazin baru enam belas tahun. Beberapa bulan terakhir, pertanyaannya mulai berubah. Ia tidak lagi hanya membicarakan tugas sekolah, latihan futsal, atau uang saku. Sejak baligh, ia mulai bertanya tentang pandangan, pergaulan, aurat, dan batas antara laki-laki dan perempuan.
Aku meletakkan pakaian yang sedang kulipat.
“Kalau Mazin mau salamannya tanpa berjabat tangan, tetap sapa Tante baik-baik. Jangan diam saja sampai Tante merasa dijauhi.”
Mazin merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menunduk sedikit.
“Kayak begini?”
“Iya.”
“Kalau Tante tersinggung?”
“Jaga cara ngomongnya. Tapi jangan meninggalkan sesuatu yang Mazin yakini benar cuma karena takut orang nggak suka.”
Mazin mengangguk.
Saat itu kalimat tersebut terasa mudah sekali kuucapkan.
Aku belum tahu bahwa ketika waktunya tiba, justru akulah yang paling kesulitan menjalaninya.
Siang itu kami datang ke rumah kakak kandung suamiku untuk menghadiri makan siang keluarga.
Ruang tengah sudah ramai. Anak-anak berlarian di antara kursi. Beberapa laki-laki mengobrol di teras, sementara para perempuan menata lauk dan minuman di atas meja panjang. Dari dapur terdengar bunyi piring bertumpuk dan suara seseorang meminta tambahan sendok.
Begitu melihat kami masuk, Tante Qanita langsung berdiri.
“Ya Allah, Mazin sudah tinggi sekali.”
Ia tersenyum lebar.
Dahulu, ketika aku harus dirawat beberapa hari setelah melahirkan adik Mazin, Tante Qanitalah yang membantu menyuapi dan menidurkannya. Sampai Mazin masuk sekolah dasar, setiap bertemu keluarga besar, ia selalu mencari Tante Qanita lebih dulu.
Karena itu, ketika tangan Tante Qanita terulur seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku tahu sikap Mazin akan terasa berbeda baginya.
Mazin berhenti satu langkah di depan Tante Qanita.
Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada. Ia menundukkan kepala sedikit.
“Maaf, Tante. Sekarang Mazin salamannya kayak gini saja, ya.”
Senyum Tante Qanita tertahan.
“Lho, sama Tante juga?”
Mazin mengangguk kecil.
“Iya, Tante. Maaf, ya.”
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Dari arah meja makan terdengar sebuah sendok jatuh ke lantai.
Lalu salah seorang kerabat tertawa pendek.
“Padahal dulu kalau ketemu Tante Qanita paling dulu minta gendong.”
“Sekarang sudah besar,” sahut yang lain. “Sudah banyak aturan.”
Tante Qanita menarik kembali tangannya.
“Kita ini masih keluarga, Zin.”
“Iya, Tante. Tante tetap keluarga Mazin, kok.”
Jawaban Mazin tidak kasar. Suaranya juga tidak tinggi. Namun, wajahku terasa panas.
Beberapa pasang mata berpindah dari Mazin kepadaku, lalu kepada suamiku. Seolah semua orang sedang menunggu kami menjelaskan apa yang terjadi pada anak yang dahulu begitu mudah memeluk siapa saja.
Aku ingin mengatakan bahwa Mazin tidak sedang menjauh. Aku ingin menjelaskan bahwa panggilan Tante dan kedekatan sejak kecil tidak mengubah batas hubungan mereka.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Aku hanya tersenyum kaku.
“Mazin, tolong taruh tas kita di kamar belakang.”
“Iya, Mi.”
Ia segera membawa tas kami masuk.
Beberapa menit kemudian, aku menyusulnya.
Mazin berdiri di dekat ranjang, merapikan tali tas yang sebenarnya sudah rapi.
“Kenapa tadi nggak bilangnya lebih pelan?” tanyaku.
Ia menoleh.
“Mazin sudah pelan, Mi.”
Aku tahu ia benar.
Tidak ada nada tinggi dalam suaranya. Tidak ada gerakan kasar. Ia juga sudah meminta maaf.
Namun, rasa tidak nyaman dalam diriku masih mencari tempat untuk disalahkan.
“Maksud Ummi, mungkin bisa bilangnya nanti. Jangan waktu semua orang sedang lihat.”
Mazin mengernyit.
“Kalau Tante sudah mengulurkan tangan, Mazin bilangnya kapan?”
Aku terdiam.
Dari ruang tengah terdengar suara tawa. Seseorang menyebut nama Mazin, lalu suara lain menjawab dengan nada yang sengaja direndahkan.
Aku menarik napas.
“Sekarang semua orang jadi membicarakan Mazin.”
Begitu kalimat itu keluar, aku tahu yang sedang bicara bukan pertimbanganku. Itu rasa maluku sendiri.
Mazin menunduk. Jari-jarinya mengusap telapak tangannya.
“Mazin juga nggak enak, Mi.”
Suaranya jauh lebih kecil daripada ketika berbicara kepada Tante Qanita.
“Mazin takut Tante sedih.”
“Kalau begitu, kenapa tetap dilakukan?”
Ia diam sebentar.
“Karena Ummi pernah bilang, kalau Mazin sudah besar, Mazin harus belajar jaga batas.”
Aku memalingkan wajah ke arah pintu.
Aku memang pernah mengatakannya. Bukan hanya sekali.
Aku juga pernah berkata bahwa taat kepada Allah tidak boleh menunggu sampai semua orang memahami kita.
Namun, ketika nasihat itu mulai dilakukan di hadapan keluargaku sendiri, aku justru berharap Mazin mundur sedikit agar aku tidak merasa canggung.
“Mazin nggak mau bikin Ummi sama Abi malu,” lanjutnya. “Tapi kalau yang begini saja Mazin ikut karena takut orang ngomong, nanti kalau ada yang lain gimana, Mi?”
Tidak ada nada menantang dalam suaranya.
Ia terdengar seperti anak yang sedang meminta kepastian. Apakah nasihat orang tuanya sungguh berlaku ketika keadaan menjadi tidak nyaman?
Aku duduk di tepi ranjang.
Baru saat itu kulihat telapak tangannya sedikit basah oleh keringat.
“Kamu takut tadi?”
Mazin mengangguk.
“Takut.”
“Kenapa nggak bilang sama Ummi sebelum masuk?”
“Mazin kira Mazin bisa.”
“Sekarang?”
Ia melihat ke arah pintu kamar.
“Mazin malu keluar lagi.”
Dadaku terasa sesak.
Anak yang tadi terlihat tenang ternyata sedang menahan takutnya sendirian.
Aku menepuk tempat kosong di sampingku.
“Duduk dulu.”
Mazin duduk. Bahunya masih tegang.
Aku tidak punya kalimat yang sempurna. Jadi aku mengusap punggungnya pelan.
“Ummi minta maaf.”
Ia menoleh cepat.
“Tadi Ummi lebih takut sama omongan orang daripada memikirkan beratnya buat Mazin.”
Mazin tidak menjawab, tetapi bahunya perlahan turun.
“Kita keluar lagi sama-sama,” kataku.
Ia memandang pintu beberapa saat, lalu mengangguk.
Ketika kami kembali ke ruang tengah, pembicaraan beberapa orang langsung berhenti.
Mazin duduk di dekat anak-anak yang sedang bermain balok. Ia tidak banyak bicara. Sesekali aku melihatnya melirik ke arah Tante Qanita, lalu segera mengalihkan pandangan.
Beberapa waktu kemudian, Tante Qanita duduk di ujung meja. Gelas tehnya sudah kosong.
Mazin memperhatikannya.
Ia bangkit, mengambil teko, lalu menuangkan teh ke dalam gelas baru. Setelah menambahkan sedikit gula, ia membawanya kepada Tante Qanita.
“Tehnya, Tante.”
Tante Qanita menatap gelas itu, lalu menatap Mazin.
“Kok tahu Tante pakai gula sedikit?”
“Dari dulu Tante minumnya begitu.”
Wajah Tante Qanita sedikit melunak.
“Mazin masih ingat?”
“Iya.”
Tante Qanita menggeser gelas itu lebih dekat.
“Tante kira sekarang Mazin sudah mau menjauh.”
Mazin segera menggeleng.
“Nggak, Tante.”
“Tapi salaman sama Tante sekarang beda.”
Mazin diam sebentar, seperti sedang memilih kata.
“Mazin tetap hormat sama Tante. Mazin cuma sedang belajar jaga batas.”
Tante Qanita mengaduk tehnya perlahan.
“Tante cuma belum biasa.”
“Iya, Tante.”
“Maaf tadi Tante juga kaget.”
Mazin tersenyum kecil.
“Iya, Tante. Maaf tadi bikin kaget.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada perubahan mendadak. Tante Qanita juga belum sepenuhnya memahami.
Namun, ia mulai meminum teh yang dibuatkan Mazin. Mazin kembali duduk bersama anak-anak.
Untuk hari itu, aku tidak mengharapkan lebih.
Menjelang sore, ketika beberapa orang mulai bersiap pulang, salah seorang kerabat berkata kepada suamiku di teras.
“Mazin sekarang begitu, ya. Abinya saja selama ini masih biasa salaman.”
Kalimat itu disampaikan sambil tertawa, tetapi cukup jelas untuk didengar Mazin yang sedang mengangkat kardus minuman dari dekat pintu.
Langkah Mazin sempat melambat.
Namun, ia tidak menoleh kepada suamiku. Ia juga tidak menjawab.
Ia membawa kardus itu ke dapur, lalu kembali membantu membereskan meja.
Malamnya, setelah kami pulang, suamiku masuk ke kamar Mazin.
Aku berdiri di dekat pintu yang sedikit terbuka.
Mazin sedang menyusun buku di atas meja.
“Mazin.”
“Iya, Bi.”
Suamiku duduk di kursi belajar.
“Mazin kecewa sama Abi?”
Mazin berhenti menyusun buku.
“Kenapa?”
“Karena tadi ada yang bilang Abi sendiri belum selalu begitu.”
Mazin menunduk.
“Nggak.”
“Jujur.”
“Mazin nggak kecewa.”
Ia menarik kursi kecil dan duduk berhadapan dengan suamiku.
“Mazin cuma takut bikin Abi sama Ummi susah.”
Suamiku mengusap wajahnya.
“Abi memang belum selalu bisa.”
Beliau diam beberapa saat.
“Tapi Abi nggak boleh menyuruh Mazin ikut kelemahan Abi.”
Mazin mengangkat wajah.
“Abi juga sedang belajar. Mungkin hari ini Abi yang harus belajar dari Mazin.”
“Jangan dari Mazin, Bi.”
“Kenapa?”
“Mazin juga tadi takut.”
Suamiku tersenyum tipis.
“Berarti kita sama-sama takut.”
Mazin ikut tersenyum.
Tidak ada nasihat panjang malam itu.
Suamiku hanya menepuk lututnya, lalu mengajak Mazin salat Isya berjamaah.
Beberapa pekan kemudian, giliran rumah kami menjadi tempat makan malam keluarga.
Tante Qanita datang bersama beberapa kerabat lain. Hubungannya dengan Mazin belum sepenuhnya kembali seperti dahulu, tetapi mereka sudah bisa berbicara tanpa terlalu canggung.
Saat acara selesai, sepupu perempuan suamiku yang lain berdiri di dekat pintu dan mengulurkan tangan kepada beliau.
Tangan suamiku sempat bergerak refleks.
Lalu berhenti.
Beliau merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada dan tersenyum canggung.
“Maaf, Mbak. Sekarang salamannya begini saja, ya. Saya juga sedang belajar pelan-pelan.”
Perempuan itu terlihat terkejut, lalu menarik tangannya.
“Oh, iya.”
Tidak ada yang tertawa.
Suamiku mengambilkan tasnya, kemudian mengantarnya sampai ke teras.
Dari dekat meja makan, aku melihat Mazin menundukkan wajah. Ia tidak tersenyum lebar atau mencari tatapan suamiku. Ia hanya mengangkat beberapa piring kotor dan membawanya ke dapur.
Setelah seluruh tamu pulang, aku menemukan Mazin di depan bak cuci.
Lengan bajunya digulung sampai siku. Kedua tangannya sibuk membersihkan gelas satu per satu.
Aku mengambil kain lap dan berdiri di sampingnya.
“Ummi bantu.”
Mazin menggeser rak gelas agar lebih dekat kepadaku.
Beberapa saat kami bekerja tanpa bicara.
Kemudian ia bertanya pelan,
“Mi, Tante Qanita masih marah sama Mazin?”
“Ummi nggak tahu. Mungkin bukan marah. Mungkin Tante masih belum terbiasa.”
Mazin membilas sebuah gelas.
“Mazin salah nggak?”
Tanganku berhenti.
“Menjaga batasnya nggak salah.”
Aku mengeringkan gelas yang baru diberikannya.
“Tapi Mazin juga harus terus jaga cara. Jangan sampai karena merasa sedang melakukan yang benar, Mazin jadi ketus atau merendahkan orang yang belum melakukan hal yang sama.”
Mazin mengangguk.
“Mazin takut begitu.”
“Takut apa?”
“Takut nanti Mazin malah merasa lebih baik.”
Aku menatap wajahnya.
Tidak ada kebanggaan di sana. Hanya seorang anak enam belas tahun yang sedang berusaha membawa ilmu tanpa membuat orang lain merasa lebih rendah.
“Kalau perasaan itu mulai muncul, ingat siapa yang memberi Mazin hidayah,” kataku. “Bukan karena Mazin lebih hebat. Allah yang memudahkan.”
“Iya, Mi.”
“Dan ingat Rasulullah ﷺ. Kita nggak boleh meninggalkan yang benar, tapi kita juga nggak boleh jadi kasar saat menjaganya.”
Mazin kembali mengangguk.
Ia meletakkan gelas yang sudah dibilas di dekatku. Aku mengeringkannya, lalu menaruhnya di rak.
Dua tangan yang beberapa pekan lalu ia rapatkan agar tidak berjabat tangan kini sibuk membersihkan gelas-gelas bekas keluarga yang sempat membicarakannya.
Saat itulah aku memahami bahwa ujian dalam mendidik anak tidak selalu datang ketika mereka menolak nasihat.
Kadang, ujian datang ketika mereka mulai menjalankannya.
Kami meminta anak-anak mengenal Allah. Kami mengajarkan mereka mengikuti Rasulullah ﷺ. Namun, ketika ketaatan itu mengubah kebiasaan yang selama ini terasa nyaman, orang tualah yang lebih dahulu berhadapan dengan rasa sungkan dan takut dinilai.
Aku pernah khawatir Mazin tumbuh menjadi anak yang keras.
Malam itu aku mulai memahami bahwa teguh dan keras bukanlah hal yang sama.
Anak yang teguh tetap menjaga perintah Allah meski orang lain belum memahami. Anak yang keras merasa dirinya lebih baik, lalu lupa menjaga ucapan dan sikapnya.
Mazin meletakkan gelas terakhir di dekatku.
Aku mengeringkannya, kemudian menaruhnya di rak.
Dalam hati aku berdoa,
"Ya Allah, tetapkan anak kami di jalan-Mu, tetapi jangan biarkan ketaatannya membuat ia merasa lebih suci."
"Ajari kami menjaga batas yang Engkau tetapkan tanpa memutus kasih kepada keluarga."
"Bimbinglah kami mengikuti Rasul-Mu ﷺ. Jadikan kami teguh memegang kebenaran, lembut kepada manusia, dan rendah hati karena menyadari bahwa seluruh hidayah berasal dari-Mu."
Aku tidak lagi berdoa agar Mazin selalu terlihat kuat.
Aku berdoa agar Allah menjaganya ketika ia takut, meluruskan niatnya ketika ia merasa benar, dan melembutkan sikapnya ketika orang lain belum memahami.
Lalu aku sadar, doa itu bukan hanya untuk Mazin.
Doa itu juga untukku dan suamiku.
Sebab anak-anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang menunjukkan jalan menuju Allah.
Mereka juga membutuhkan orang tua yang mau berjalan bersama ketika mengikuti jalan Rasulullah ﷺ membuat langkah mereka terasa tidak mudah.
Kadang, bagian tersulit dalam mendidik anak bukan mengajarkan ketaatan.
Bagian tersulitnya adalah menerima ketika Allah benar-benar menumbuhkan ketaatan itu di dalam diri mereka.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.