Lima Ribu Rupiah yang Tidak Pernah Kudapat
Setiap pagi, sebelum Aqila memakai sepatu, aku selalu membuka kantong kecil di bagian depan tas.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Setiap pagi, sebelum Aqila memakai sepatu, aku selalu membuka kantong kecil di bagian depan tas sekolahnya.
Di sana kusimpan selembar uang lima ribu.
Aqila tetap membawa bekal dan mendapat uang saku secukupnya. Lima ribu itu berbeda. Uang itu tidak perlu dipakai kalau tidak ada keperluan. Aku hanya ingin ia punya cadangan kalau bekalnya tumpah, botol minumnya tertinggal, atau suatu hari ia benar-benar membutuhkan sesuatu.
Kalau uang itu masih ada, aku membiarkannya. Kalau sudah dipakai, aku menggantinya.
“Masih ada, Bunda,” kata Aqila suatu pagi ketika melihatku membuka tasnya.
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
“Bunda cuma ngecek.”
“Aqila belum pernah pakai.”
“Nggak apa-apa. Simpan saja.”
Aqila mengangguk, lalu berlari ke teras.
“Ayah, ayo! Nanti Aqila telat!”
Suamiku sudah menunggu di atas motor. Beliau membantu Aqila memakai helm, kemudian menggantungkan tasnya di bagian depan.
Aku berdiri di ambang pintu sampai motor mereka berbelok di ujung gang.
Setelah itu, aku kembali ke meja makan dan membuka dompet.
Uang belanja tinggal beberapa lembar. Gaji suamiku belum masuk. Jumlahnya masih cukup untuk membeli sayur dan kebutuhan rumah sampai besok, asal tidak ada pengeluaran mendadak.
Aku menghitungnya dua kali.
Sempat terlintas untuk mengambil lima ribu dari tas Aqila. Toh ia membawa bekal. Uang sakunya juga ada. Kemungkinan besar uang itu tidak akan dipakai.
Namun aku mengurungkan niat.
Bagi orang lain, lima ribu itu mungkin hanya uang kecil yang terselip di dalam tas. Bagiku, ia adalah cadangan yang dahulu tidak pernah ada di saku seragamku.
Bukan karena waktu kecil aku menginginkan jumlah yang sama. Aku bahkan tidak pernah berani meminta.
Aku hanya berharap punya sedikit uang agar tidak perlu berbohong bahwa aku tidak lapar.
Ketika kelas empat SD, aku sudah pandai terlihat sibuk saat jam istirahat.
Begitu bel berbunyi, teman-temanku berhamburan keluar. Ada yang berlari ke kantin. Ada yang membuka kotak bekal. Ada pula yang menghitung uang di telapak tangan sambil menentukan jajanan apa yang akan dibeli.
Aku tetap duduk di bangku.
Buku pelajaran kubuka di atas meja. Aku membaca halaman yang sama berkali-kali, meskipun tidak ada satu kalimat pun yang benar-benar kupahami.
Kalau ada yang bertanya, aku akan menjawab, “Mau belajar dulu.”
Kalau diajak ke kantin, aku berkata, “Aku nggak lapar.”
Padahal sejak pelajaran ketiga, perutku sudah berbunyi.
Pernah seorang teman kembali ke kelas sambil membawa dua gorengan. Ia menyodorkan satu kepadaku.
“Ambil saja. Aku beli kebanyakan.”
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Nggak usah. Aku tadi sudah makan.”
Aku mengatakannya sambil tersenyum, seolah tidak ada apa-apa.
Yang paling berat ternyata bukan rasa laparnya. Yang paling berat adalah harus berkata tidak ingin agar tidak ada yang bertanya kenapa tanganku selalu kosong.
Setelah beberapa kali diajak ke kantin, aku mulai pergi ke kamar mandi saat jam istirahat.
Aku tidak benar-benar ingin buang air. Aku hanya membutuhkan tempat yang membuatku tidak perlu menjelaskan apa pun.
Di sana, aku menunggu sampai bel masuk berbunyi.
Lebih dari dua puluh tahun telah berlalu. Namun setiap melihat seorang anak duduk sendiri ketika teman-temannya makan, aku masih teringat meja kayu di kelas itu.
Dulu aku menganggapnya kejadian kecil.
Hanya tidak jajan.
Hanya beberapa kali menahan lapar.
Ternyata yang masih kuingat sampai dewasa bukan cuma perut yang kosong, melainkan rasa malu setiap kali melihat tanganku sendiri tidak membawa apa-apa.
Suatu siang, Aqila pulang lebih diam daripada biasanya.
Ia melepas sepatu di teras, meletakkan tas, lalu duduk di kursi makan tanpa bercerita tentang sekolah seperti yang biasa dilakukannya.
Aku sedang memotong kacang panjang di dapur.
“Capek?” tanyaku.
Aqila menggeleng.
“Ada yang marah sama Aqila?”
Ia kembali menggeleng.
Aku tidak mendesak. Aku melanjutkan memotong sayur sambil menunggu.
Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Bunda tahu Bilqis, kan?”
Aku mencoba mengingat.
“Bilqis yang pernah bikinin bunga dari kertas buat Aqila?”
“Iya. Dia juga paling bagus kalau menggambar.”
“Bilqis kenapa?”
Aqila memainkan ujung jilbab sekolahnya.
“Dia nggak pernah jajan waktu istirahat.”
“Mungkin dia bawa bekal.”
“Nggak.”
“Mungkin sudah sarapan banyak.”
Aqila menggeleng pelan.
“Katanya nggak lapar, Bunda. Tapi dia minum terus. Kalau anak-anak mulai makan, dia sering pergi.”
Pisau di tanganku berhenti.
“Pergi ke mana?”
“Kadang ke dekat perpustakaan. Kadang ke kamar mandi.”
Tenggorokanku mendadak terasa kering.
Kalimat nggak lapar itu terlalu kukenal.
Namun aku juga tahu bahwa aku bisa saja salah. Bilqis mungkin sedang tidak enak badan. Mungkin ia memang tidak suka jajan. Mungkin ada alasan lain yang tidak kami ketahui.
Aku tidak boleh menganggap hidupnya sama dengan masa kecilku hanya karena satu kalimat.
Aku mencuci tangan, lalu duduk di samping Aqila.
“Bilqis pernah minta makanan Aqila?”
“Nggak pernah.”
“Aqila pernah nawarin?”
“Pernah. Tapi dia bilang nggak mau.”
Aku mengangguk.
“Besok kalau Aqila makan, ajak Bilqis duduk bareng. Nggak usah banyak tanya.”
“Kalau dia tetap nggak mau?”
“Jangan dipaksa.”
Aqila menatapku.
“Bunda kasihan sama Bilqis?”
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Bunda cuma nggak mau dia selalu sendirian waktu istirahat.”
Malamnya, setelah Aqila tidur, aku sempat berbagi cerita itu ke suamiku, beberapa menit setelahnya aku masih memikirkannya.
Suamiku sedang membaca pesan di ponselnya. Beliau menoleh ketika melihatku beberapa kali mengubah posisi tidur.
“Bunda belum ngantuk?”
“Belum.”
“Kepikiran Bilqis?”
Aku mengangguk.
“Besok Bunda mau bikin bekal lebih banyak.”
“Buat dimakan bareng?”
“Iya.”
Suamiku meletakkan ponselnya.
“Ayah ngerti Bunda kepikiran. Tapi belum tentu Bilqis sama seperti Bunda dulu.”
Aku terdiam.
Suamiku tahu aku selalu gelisah melihat anak tidak membawa makanan. Beliau juga tahu alasan aku menyimpan uang darurat di tas Aqila, meskipun aku belum pernah menceritakan seluruh kejadian masa kecilku.
“Iya,” kataku. “Bunda juga takut cuma kebawa ingatan sendiri.”
“Coba tanya wali kelasnya dulu. Biar kita nggak salah langkah.”
Aku mengangguk.
“Pelan-pelan saja,” lanjut beliau. “Jangan sampai anaknya malah malu.”
Aku pernah menjadi anak yang menolak makanan meskipun perutku kosong. Bukan karena tidak membutuhkan, melainkan karena tidak ingin dipandang berbeda.
Malam itu aku mengirim pesan kepada wali kelas Aqila.
"Assalamu’alaikum, Bu. Maaf mengganggu. Aqila cerita kalau Bilqis beberapa kali tidak makan saat istirahat. Saya takut kami salah paham. Apa Ibu pernah memperhatikan hal yang sama?"
Tidak lama kemudian, balasan datang.
"Wa’alaikumussalam, Bunda. Terima kasih sudah memberi tahu. Saya juga sempat memperhatikan. Besok saya coba ajak Bilqis ngobrol pelan-pelan. Kalau Aqila ingin mengajaknya makan bersama, silakan, asal jangan sampai Bilqis malu di depan teman-temannya."
Aku membaca balasan itu dua kali.
Aku lega karena tidak perlu menebak keadaan Bilqis sendiri.
Keesokan paginya, aku membuat nasi kepal kecil lebih banyak dari biasanya. Telurnya kupotong menjadi beberapa bagian. Aku juga menambahkan potongan buah yang mudah diambil tanpa harus memakai sendok bergantian.
Semuanya kutaruh dalam satu kotak bekal yang agak besar.
Aku tidak menyiapkan kotak khusus untuk Bilqis. Aku tidak ingin ia merasa sedang diberi bantuan.
Aqila memperhatikan dari meja makan.
“Banyak banget, Bunda.”
“Bunda bikin lebih supaya bisa dimakan bareng.”
“Buat Bilqis?”
“Kalau dia mau.”
Aku menutup kotak bekal, lalu duduk di depan Aqila.
“Nanti Aqila buka saja seperti biasa. Ajak Bilqis duduk bareng. Kalau dia mau ambil, biarkan.”
“Kalau dia nggak mau?”
“Tawari sekali saja. Jangan dipaksa.”
Aqila mengangguk.
Aku kemudian membuka kantong kecil di tasnya. Uang lima ribu itu masih terlipat rapi.
“Aqila belum pernah pakai uang ini,” katanya lagi.
“Nggak apa-apa.”
“Kenapa Bunda tetap taruh?”
Aku merapikan kerah seragamnya.
“Nanti, kalau Aqila sudah lebih besar, Bunda ceritakan.”
Sepulang sekolah, Aqila membawa kotak bekalnya ke dapur.
Aku tidak langsung bertanya. Aku membiarkannya mencuci tangan dan mengganti pakaian terlebih dahulu.
Ketika kotak itu kubuka, masih ada setengah telur dan beberapa potong buah.
“Bekalnya kebanyakan?” tanyaku.
“Bilqis mau makan, tapi sedikit.”
“Dia duduk sama Aqila?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Di bangku dekat jendela kelas. Teman-teman yang lain sudah banyak ke kantin.”
Aku mengangguk.
“Awalnya Bilqis bilang nggak lapar,” lanjut Aqila.
“Aqila bilang apa?”
“Aqila bilang, ‘Nggak apa-apa. Duduk sini saja. Kalau mau ambil, ambil.’”
“Terus?”
“Dia ambil satu nasi. Habis itu ambil lagi.”
Aqila menunjuk isi kotak.
“Dia suka telurnya. Buahnya cuma dimakan satu.”
Aku tersenyum.
Jadi Bilqis suka telur, tetapi tidak terlalu suka buah.
Beberapa hari kemudian, wali kelas kembali menghubungiku. Beliau tidak menceritakan keadaan keluarga Bilqis secara rinci. Aku pun tidak bertanya.
Beliau hanya mengatakan bahwa pihak sekolah sudah berbicara dengan keluarganya dan sedang mencari cara agar Bilqis bisa makan saat istirahat tanpa merasa dibedakan dari teman-temannya.
Aku tidak pernah meminta Aqila mencari tahu keadaan keluarga Bilqis atau membawakan makanan setiap hari. Ia cukup tetap menyapa, mengajak duduk bersama, dan memperlakukannya seperti biasa.
Urusan selebihnya kami serahkan kepada guru dan keluarganya.
Tahun-tahun berlalu.
Aqila tidak lagi memakai seragam merah putih. Tas kecilnya sudah lama diganti dengan ransel hitam yang selalu penuh buku dan berbagai benda yang tidak kukenal.
Suatu sore, ketika kami sedang merapikan lemari, ia menemukan tas lamanya.
Aqila menarik ritsleting kantong depannya yang sudah agak seret.
“Bunda ingat nggak?” katanya sambil tertawa. “Dulu Bunda selalu nyimpen uang lima ribu di sini.”
Aku menoleh.
“Ingat.”
“Padahal Aqila sudah punya uang saku.”
Aku tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, aku merasa siap menceritakannya.
Aku bercerita tentang kelas yang mendadak sepi saat jam istirahat. Tentang halaman buku yang kubaca berkali-kali agar terlihat sibuk. Tentang kamar mandi sekolah yang kujadikan tempat menunggu bel masuk.
Aku juga menceritakan kalimat yang paling sering kuucapkan saat itu.
“Aku nggak lapar.”
Aqila tidak menyela.
Setelah aku selesai, ia memegang tas kecil itu di pangkuannya.
“Jadi selama ini Bunda takut Aqila kelaparan?”
“Bukan cuma itu.”
“Terus?”
Aku menarik napas.
“Bunda takut Aqila malu bilang kalau butuh sesuatu. Takut dianggap merepotkan.”
Aqila terdiam.
Kemudian ia mendekat dan memelukku.
“Aqila nggak pernah harus bohong begitu, Bun,” katanya.
Aku memeluknya lebih erat.
Lima ribu itu tidak mengubah masa laluku. Ia tidak bisa menghapus siang-siang yang kulewati di kamar mandi sekolah sambil menunggu bel masuk.
Namun dari uang kecil itu, Allah mengajariku bahwa anak tidak selalu mampu mengatakan apa yang sedang ia butuhkan. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada pula yang hanya diam, lalu berharap orang dewasa di dekatnya cukup peka untuk melihat.
Aku tidak bisa menjamin Aqila tidak akan pernah merasa lapar, malu, atau kecewa. Aku juga tidak akan selalu tahu apa yang ia simpan di dalam hati.
Aku hanya bisa terus belajar menjadi ibu yang mau mendengar sebelum menilai, mendekat sebelum menasihati, dan menjaga perasaannya ketika ia sedang lemah.
Rasulullah ﷺ telah memberi teladan tentang itu. Beliau tidak meremehkan anak-anak, tidak mempermalukan mereka ketika keliru, dan tidak menganggap kebutuhan mereka sebagai gangguan. Beliau mendekat, mendengar, lalu membimbing dengan kasih sayang.
Dari beliau, aku belajar bahwa menjaga hati anak juga bagian dari mendidiknya.
Selebihnya, Aqila tetap milik Allah.
Aku hanya dititipi untuk memberinya makan ketika lapar, mendengarkannya ketika ingin bicara, mengarahkannya ketika keliru, dan mendoakannya ketika ada hal-hal yang tidak mampu kujangkau.
Karena itu, setiap kali membuka kantong kecil tasnya, diam-diam aku berdoa,
“Ya Allah, jangan biarkan anakku merasa sendirian ketika membutuhkan pertolongan. Ajari Bunda melihat sebelum ia terpaksa bersembunyi. Jadikan Aqila anak yang berani meminta bantuan, sekaligus peka melihat orang lain yang sedang membutuhkannya.”
Sebab pada akhirnya, bukan selembar lima ribu yang akan menjaganya.
Allah-lah sebaik-baik Penjaga.
Dan tugasku bukan memastikan hidupnya selalu mudah. Tugasku adalah terus belajar mengasuhnya dengan iman, membimbingnya dengan adab, dan memperlakukannya sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mencontohkan.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.