Logo Tarbiya Nabawiya Tarbiya Nabawiya Menumbuhkan Generasi dengan Iman dan Adab
← Kembali ke daftar cerita
Kisah Ayah dan Anak 14 menit

Saat Anak Diajarkan Minta THR, Bukan Belajar Syukur

Aku sedang duduk di tepi kasur, membantu anak bungsuku memasang kancing gamisnya yang selalu salah masuk lubang kalau ia terburu-buru. Di ruang tengah,.

Sebelum Membaca

Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.

tarbiyah keluarga iman

Pagi itu dimulai dari suara amplop yang disentuh terlalu sering.

Aku sedang duduk di tepi kasur, membantu anak bungsuku memasang kancing gamisnya yang selalu salah masuk lubang kalau ia terburu-buru. Di ruang tengah, suamiku sedang merapikan peci dan mengecek kunci mobil. Dari dapur, bau opor yang semalam sudah kupanaskan kembali naik pelan bersama aroma bawang goreng dan santan. Rumah masih penuh sisa-sisa kesibukan pagi Idulfitri: sajadah yang belum dilipat, gelas teh yang tinggal setengah, toples nastar yang tutupnya dibiarkan miring, dan plastik baju baru yang belum sempat kubuang.

Di dekat lemari, anak sulungku, Hamzah, berdiri sambil membuka lagi tas kecil yang akan ia bawa.

Ia memeriksa isinya.
Dompet kain.
Tisu.
Satu mobil-mobilan kecil.
Lalu berhenti di ruang kosong yang tersisa.

“Ummi,” katanya, “tas ini muat banyak, kan?”

Lanjutan Cerita

Lanjutkan membaca dengan tenang.

Tarbiya membuka akses membaca tanpa paksaan. Bila tulisan ini bermanfaat, Ayah Bunda boleh ikut mendukung agar cerita seperti ini terus dirawat.

Dukungan bersifat sukarela. Membaca tetap bisa dilanjutkan.