Saat Anak Diajarkan Minta THR, Bukan Belajar Syukur
Aku sedang duduk di tepi kasur, membantu anak bungsuku memasang kancing gamisnya yang selalu salah masuk lubang kalau ia terburu-buru. Di ruang tengah,.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Pagi itu dimulai dari suara amplop yang disentuh terlalu sering.
Aku sedang duduk di tepi kasur, membantu anak bungsuku memasang kancing gamisnya yang selalu salah masuk lubang kalau ia terburu-buru. Di ruang tengah, suamiku sedang merapikan peci dan mengecek kunci mobil. Dari dapur, bau opor yang semalam sudah kupanaskan kembali naik pelan bersama aroma bawang goreng dan santan. Rumah masih penuh sisa-sisa kesibukan pagi Idulfitri: sajadah yang belum dilipat, gelas teh yang tinggal setengah, toples nastar yang tutupnya dibiarkan miring, dan plastik baju baru yang belum sempat kubuang.
Di dekat lemari, anak sulungku, Hamzah, berdiri sambil membuka lagi tas kecil yang akan ia bawa.
Ia memeriksa isinya.
Dompet kain.
Tisu.
Satu mobil-mobilan kecil.
Lalu berhenti di ruang kosong yang tersisa.
“Ummi,” katanya, “tas ini muat banyak, kan?”
Lanjutan Cerita
Lanjutkan membaca dengan tenang.
Tarbiya membuka akses membaca tanpa paksaan. Bila tulisan ini bermanfaat, Ayah Bunda boleh ikut mendukung agar cerita seperti ini terus dirawat.
Dukungan bersifat sukarela. Membaca tetap bisa dilanjutkan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Unduh QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Aku menoleh. “Muat banyak buat apa?”
Ia menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Buat masukin amplop.”
Tanganku berhenti di kancing gamis adiknya.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada serakah. Tidak juga dengan wajah yang menuntut. Ia mengatakannya seperti anak yang sedang memastikan hal paling wajar di dunia. Seperti anak yang hendak pergi piknik dan bertanya apakah tasnya cukup besar untuk membawa camilan.
Justru itu yang membuat dadaku turun sedikit.
Karena aku tahu, anak tidak tiba-tiba memikirkan amplop sebagai isi utama sebuah kunjungan keluarga. Ia tidak lahir dengan peta seperti itu di kepalanya. Peta itu pasti digambar pelan-pelan. Oleh suasana. Oleh percakapan. Oleh tradisi yang dianggap lucu. Oleh bisik-bisik orang dewasa yang terlalu sering lewat di dekat telinganya.
Aku menatap Hamzah lebih lama.
“Siapa yang bilang nanti harus siapin tempat buat amplop?”
Ia mengangkat bahu, lalu tersenyum kecil. “Kemarin sepupu bilang, kalau Lebaran itu serunya dapat banyak THR.”
Aku mengangguk pelan.
Di luar, suara takbir dari tv tetangga sebelah masih terdengar sayup, bercampur bunyi motor yang mulai lalu-lalang. Matahari pagi menimpa pagar depan rumah. Cahaya kuning masuk miring ke lantai ruang tamu yang sudah kupel sejak subuh. Semuanya terasa hangat. Penuh syukur. Seharusnya hari itu ringan.
Tapi satu kalimat anakku membuat ada sesuatu yang terasa perlu dibenahi sebelum kami keluar rumah.
Aku menyelesaikan kancing gamis Maryam, lalu berdiri. “Sini sebentar, Hamzah.”
Ia mendekat dengan langkah kecil, masih memegang tasnya.
Aku jongkok supaya sejajar dengannya. Wajahnya segar sekali. Matanya berbinar. Anak usia delapan tahun memang masih mudah sekali menunjukkan antusiasme tanpa lapisan. Dan pagi itu aku bisa melihat dengan jelas: dalam bayangannya, silaturahmi, salim, rumah saudara, dan THR semuanya sudah menjadi satu paket yang sulit dipisahkan.
Itulah yang menakutkan.
“Dengar ya,” kataku lembut, “hari ini kita pergi ke rumah keluarga bukan buat cari amplop.”
Ia menatapku. Belum membantah, tapi juga belum langsung paham.
“Kita pergi karena ini hari raya. Karena kita mau silaturahmi. Karena kita sayang sama keluarga, dan Allah suka kalau kita menyambung hubungan baik.”
Ia diam.
“Kalau nanti ada yang memberi, kita terima dengan sopan dan bilang terima kasih. Tapi kita tidak datang untuk meminta. Tidak mengejar. Tidak menghitung-hitung.”
Hamzah mengangguk kecil, meski aku bisa melihat kalimat itu belum sepenuhnya menetap.
Anak-anak memang begitu. Satu nasihat tidak langsung menjadi keyakinan. Ia harus diulang, dilihat contohnya, lalu dibiarkan menempel sedikit demi sedikit pada hati.
Kami berangkat satu jam kemudian ke rumah ibu mertuaku.
Seperti biasa, rumah itu sudah ramai sejak pagi. Sandal menumpuk di teras. Pintu depan terbuka lebar. Di meja ruang tamu ada sirup merah, kerupuk udang, nastar, kastengel, dan mangkuk besar kacang bawang yang selalu cepat habis karena anak-anak terus lewat dan mencomot. Dari dapur terdengar suara sendok beradu dengan panci. Bau opor, rendang, sambal goreng ati, dan ketupat panas bercampur menjadi aroma yang hanya muncul setahun sekali, tapi selalu bisa membuat hati pulang.
Anak-anak langsung berlarian masuk.
Orang-orang dewasa saling bersalaman.
Suara salam bersahut-sahutan.
Orang tua saling menanyakan kabar.
Ada yang tertawa terlalu keras.
Ada yang sibuk memotret cucu-cucu.
Ada yang duduk di sudut sambil mengupas jeruk.
Aku ikut masuk ke dalam suasana itu, mencium tangan ibu, menyalami kakak-kakak ipar, lalu membantu membawa dua toples tambahan ke meja makan. Semua tampak biasa. Bahkan menyenangkan.
Sampai aku mendengar satu bisikan dari sudut ruang tamu.
“Ayo, salim sama Om itu. Biasanya ngasih.”
Aku menoleh sedikit.
Seorang sepupu sedang membungkuk ke arah anaknya. Suaranya lirih, wajahnya tersenyum, nadanya seperti sedang memberi petunjuk rahasia yang lucu. Anaknya langsung berlari ke arah seorang paman, mencium tangan, lalu berdiri tidak jauh dari sana dengan mata menunggu.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar versi lain.
“Udah ke tante yang di belakang belum? Coba sana.”
Lalu versi yang lebih halus.
“Kalau habis salim jangan langsung pergi, ya.”
Semua terdengar ringan.
Tidak ada yang merasa sedang berbuat sesuatu yang besar.
Tidak ada yang merasa sedang menanam satu cara pandang.
Tapi justru di situlah letak bahayanya.
Aku mulai memperhatikan Hamzah.
Awalnya ia masih biasa. Menyalami yang tua, lalu duduk dekat sepupu-sepupunya. Tapi semakin siang, semakin banyak ia melihat pola yang berulang di sekelilingnya. Anak-anak yang selesai salim lalu kembali dengan tangan menggenggam amplop. Anak-anak yang mulai membandingkan isi. Anak-anak yang berbisik tentang siapa yang “baik” karena memberi lebih banyak. Anak-anak yang masuk ke kamar satu per satu karena katanya “di dalam masih ada yang belum dikunjungi.”
Di usia seperti itu, anak belum tentu paham konsep rusaknya niat. Tapi ia sangat cepat membaca: oh, rupanya begini cara dunia bekerja. Sopan bisa mendatangkan hadiah. Mendekati orang dewasa bisa menghasilkan sesuatu. Berkeliling bukan sekadar silaturahmi, tapi juga peluang.
Siang menjelang, dan aku melihat Hamzah mulai ikut terdorong arus kecil itu.
Ia datang kepadaku saat aku sedang menata piring kotor di dapur.
“Ummi,” bisiknya, “Pakde yang tinggi itu biasanya kasih juga nggak?”
Aku meletakkan piring pelan.
“Kenapa tanya begitu?”
“Soalnya tadi sepupu bilang yang itu belum.”
Belum.
Kata itu begitu kecil, tapi jelas menunjukkan sesuatu di dalam pikirannya sudah mulai menyusun daftar.
Belum salim.
Belum dikasih.
Belum selesai.
Belum lengkap.
Hari raya yang seharusnya penuh syukur pelan-pelan bisa berubah menjadi perburuan kecil yang dibungkus kegembiraan.
Aku menarik napas. Dapur sedang panas. Uap dari panci membuat jilbab bagian leherku sedikit lembap. Di luar, suara tawa anak-anak memantul dari ruang tamu ke teras. Ibu mertuaku sedang memanggil seseorang untuk menambah ketupat. Semua tetap biasa. Tapi di tengah biasa itulah, aku tahu, ibu harus sigap menjaga pintu hati anaknya.
Aku pegang pundak Hamzah.
“Kalau mau salim, salim karena menghormati. Bukan karena mau isi tangan.”
Ia menatapku.
“Kalau Pakde kasih?”
“Kita terima dan bersyukur.”
“Kalau nggak?”
“Kita tetap hormat.”
Ia diam cukup lama. Lalu mengangguk pelan dan pergi lagi. Aku tidak tahu berapa banyak yang masuk. Tapi aku tahu pintu itu harus terus dijaga.
Menjelang sore, ada satu kejadian kecil yang membuat aku benar-benar tersentak.
Beberapa anak duduk melingkar di karpet sambil membuka amplop masing-masing. Mereka menghitung dengan wajah serius, lalu mulai saling membandingkan. Salah satu berkata, “Aku dari Om yang ini segini.” Yang lain menyahut, “Ih, pelit amat.” Ada yang tertawa. Ada yang langsung menimpali nama saudara lain yang lebih dermawan. Lalu aku mendengar Hamzah, anakku sendiri, bertanya,
“Kalau yang di kamar belakang kasih berapa?”
Pertanyaan itu tidak keras.
Tidak kasar.
Tidak terdengar buruk kalau didengar sambil lalu.
Tapi bagiku, itu seperti mendengar satu dahan halus patah.
Karena aku tahu, yang sedang tumbuh bukan cuma rasa senang menerima. Yang sedang tumbuh adalah ukuran baru untuk menilai orang: siapa yang memberi banyak, siapa yang sedikit, siapa yang layak dikejar, siapa yang tidak penting. Dan kalau itu dibiarkan, nanti bukan cuma THR yang diukur begitu. Hubungan pun akan diukur dengan logika yang sama.
Aku tidak menegurnya di depan anak-anak lain. Ada hal-hal yang kalau diluruskan di hadapan banyak orang, yang tersisa pada anak hanya malu, bukan paham.
Jadi aku menunggu.
Setelah waktu Asar, ketika rumah mulai sedikit lengang karena beberapa tamu pindah ke rumah saudara lain, aku mengajak Hamzah ke teras samping. Di sana ada bangku kayu lama, pot bunga melati, dan jemuran lap yang belum diangkat. Angin sore masuk lebih pelan. Cahaya matahari sudah condong. Dari kejauhan terdengar takbir anak-anak kecil dari masjid yang sedang latihan lomba.
Hamzah duduk di sampingku sambil memainkan ujung amplop yang tadi ia terima.
Aku menatap tangan kecil itu cukup lama sebelum mulai bicara.
“Hari ini senang?”
Ia mengangguk cepat. “Senang.”
“Karena ketemu keluarga?”
Ia menjawab lagi, “Iya.”
Lalu setelah jeda sebentar, ia menambahkan dengan jujur, “Sama karena dapat THR.”
Aku mengangguk. Kejujuran anak sering kali terasa menampar, tapi justru itu jalan masuk terbaik untuk mendidik.
“Boleh senang kalau diberi,” kataku. “Itu rezeki dari Allah. Orang yang memberi juga sedang berbagi kebahagiaan. Tapi Ummi mau tanya... tadi waktu salim ke Pakde, Hamzah salim karena hormat atau karena berharap?”
Ia langsung diam.
Anak yang ditanya dengan pelan kadang justru lebih sulit mengelak.
“Aku...” Ia berhenti. “Dua-duanya.”
Aku menunduk sebentar. Ada rasa sedih yang tipis tapi jelas.
Bukan sedih karena anakku buruk.
Bukan.
Tapi sedih karena aku melihat betapa mudahnya niat anak dibentuk oleh kalimat-kalimat kecil yang terus beredar di sekelilingnya.
“Kalau salim jadi supaya dapat,” kataku pelan, “lama-lama hati bisa salah belajar.”
Ia menatapku.
“Bisa salah bagaimana?”
Aku mencari kalimat yang paling sederhana.
“Jadinya kita hormat bukan karena Allah suka, tapi karena kita mau sesuatu. Kita datang ke orang bukan karena sayang, tapi karena berharap. Nanti hati jadi gampang nempel ke pemberian manusia.”
Ia masih diam, mendengarkan.
Aku lanjutkan, “Padahal rezeki itu dari Allah. Orang cuma perantara. Kalau hati dibiasakan selalu melihat tangan manusia, nanti kita gampang kecewa. Gampang membandingkan. Gampang kurang.”
Wajah Hamzah mulai lebih tenang. Tidak sepenuhnya paham, mungkin. Tapi cukup untuk menangkap bahwa ini bukan sekadar soal uang jajan. Ini tentang sesuatu yang lebih dalam di dalam dada.
“Apa salah kalau senang dapat amplop?” tanyanya lagi.
“Tidak salah,” jawabku cepat. “Yang salah kalau kita datang untuk memburu. Yang salah kalau kita kecewa saat tidak diberi. Yang salah kalau kita ukur orang dari isi amplopnya.”
Ia memutar amplop itu di tangannya.
Aku tersenyum tipis. “Ummi lebih senang lihat Hamzah salim dengan wajah bersih, daripada salim sambil pikir nanti dapat berapa.”
Ia tertunduk. “Tadi aku memang mikir begitu.”
Kejujuran itu membuatku ingin memeluknya.
Anak yang jujur tentang isi hatinya masih sangat bisa diarahkan. Justru yang berbahaya adalah saat kebiasaan buruk sudah terlalu lama tumbuh sampai tidak lagi terasa salah.
Malamnya, saat kami pulang, aku tidak langsung menaruh uang THR itu ke tempat simpanannya. Aku justru mengajak anak-anak duduk di ruang tengah setelah mereka berganti baju. Rumah sudah sunyi. Hanya terdengar dengung kipas angin dan suara piring yang masih dicuci suamiku di dapur. Lampu ruang tengah berwarna kuning lembut. Ada rasa lelah yang nyaman setelah seharian berkeliling.
Aku mengambil satu nampan kecil, lalu meletakkan semua amplop di atasnya.
Maryam langsung tersenyum lebar. Hamzah duduk lebih serius.
“Ini semua rezeki dari Allah,” kataku. “Lewat tangan orang-orang yang sayang sama kalian.”
Keduanya mengangguk.
“Tapi sebelum kita hitung, Ummi mau tanya. Hari ini kalian paling senang karena apa?”
Maryam menjawab duluan, “Karena ketemu Uti.”
Hamzah berpikir lebih lama. Lalu pelan berkata, “Karena ramai... sama karena dapat juga.”
Aku tersenyum kecil. “Baik. Jujur itu bagus.”
Lalu malam itu kami membuat satu kebiasaan baru yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.
Aku mengambil dua amplop kosong, lalu berkata, “Dari yang kalian terima hari ini, kita sisihkan sedikit untuk diberikan ke orang lain.”
Hamzah tampak bingung. “Ke siapa?”
“Ke kotak sedekah masjid. Atau nanti kita kasih ke orang yang butuh.”
“Kenapa?”
“Supaya tangan kita tidak cuma belajar menerima.”
Suamiku keluar dari dapur, lalu duduk di dekat kami. Wajahnya lelah, tapi hangat.
“Iya,” katanya. “Kalau terus belajar menunggu diberi, hati bisa kecil. Tapi kalau belajar memberi, hati jadi lapang.”
Hamzah memandangi amplop-amplop itu cukup lama. Lalu ia mengambil satu, membuka isinya, dan dengan gerakan masih ragu-ragu memisahkan beberapa lembar.
Itu bukan jumlah besar.
Sangat kecil, mungkin.
Tapi bagiku malam itu terasa seperti sesuatu yang penting sedang dipindahkan posisinya di dalam batinnya: dari ingin mendapat, pelan-pelan menuju belajar memberi.
Beberapa hari setelah Lebaran, sisa-sisa pola itu masih muncul. Suatu sore Hamzah bertanya, “Kenapa Om yang kemarin nggak kasih?” Di lain waktu ia sempat membandingkan isi THR dari satu rumah ke rumah lain. Aku tidak terkejut. Kebiasaan hati memang tidak lurus dalam sehari.
Tapi sejak kejadian itu, aku dan suami mulai lebih berhati-hati pada kalimat-kalimat kecil.
Kami tidak lagi berkata, “Salim yang manis ya, nanti dikasih.”
Kami menggantinya dengan, “Salim itu adab. Hormati yang lebih tua.”
Kami tidak bertanya, “Dapat berapa?”
Kami menggantinya dengan, “Sudah bilang terima kasih belum?”
Kami tidak membuat daftar siapa yang memberi paling banyak.
Kami justru mengajak anak-anak menyiapkan sesuatu kalau akan berkunjung: sekotak kurma, buah, atau kue sederhana.
Aku masih ingat satu sore, beberapa bulan setelah Lebaran, ketika kami hendak menjenguk bibi yang sakit. Aku sedang membungkus roti dan buah ke dalam tas, lalu Hamzah bertanya, “Ini buat dibawa ke rumah Bibi?”
“Iya.”
Ia mengangguk, lalu tanpa diminta mengambil kartu kecil dan mulai menulis dengan hurufnya yang belum rapi, “Semoga cepat sembuh.”
Aku memandanginya diam-diam dari meja makan.
Di situ aku merasa, barangkali hati anak memang bisa digeser pelan-pelan. Tidak dengan marah besar. Tidak dengan mempermalukan. Tapi dengan terus-menerus menunjukkan arah: bahwa hubungan tidak dibangun dari apa yang bisa diambil, melainkan dari apa yang bisa diberikan dengan ikhlas.
Namun jujur saja, cerita ini juga membuatku memeriksa diriku sendiri.
Sebab sering kali anak belajar meminta bukan hanya dari tradisi keluarga besar, tapi dari cara orang tuanya sendiri membicarakan rezeki. Dari kebiasaan memuji orang karena banyak memberi. Dari ucapan bercanda tentang siapa yang “paling royal.” Dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang terdengar sepele tapi sebenarnya membentuk cara pandang.
Aku pun harus mengoreksi banyak hal.
Cara aku menanggapi hadiah.
Cara aku menyebut orang lain di depan anak.
Cara aku menanamkan makna adab.
Cara aku menghubungkan pemberian manusia dengan sumber rezeki yang sebenarnya.
Karena kalau aku ingin anakku tidak tumbuh dengan mental meminta-minta, maka rumah ini harus lebih dulu berhenti meromantisasi tangan yang menengadah.
Malam itu, beberapa hari setelah semua kunjungan Lebaran selesai, aku berdiri sendirian di dapur. Teko enamel putih masih hangat. Di meja ada sisa kulit bawang dan wadah kue yang belum sempat kubereskan. Rumah sudah tidur. Lampu kuning memantul lembut di ubin yang sedikit kusam.
Aku memikirkan anak-anak yang tadi siang berlarian dari rumah ke rumah sambil menggenggam amplop.
Memikirkan para ibu yang berbisik dengan niat ringan.
Memikirkan para orang dewasa yang tertawa saat anak-anak saling membandingkan isi THR.
Memikirkan betapa mudahnya satu tradisi yang dianggap biasa ternyata sedang menyusun satu orientasi besar di dalam hati kecil.
Dan aku merasa Allah sedang mengajariku satu hal yang sederhana tapi penting:
anak tidak lahir dengan kebiasaan menengadahkan tangan kepada manusia.
Ia diajari.
Ia dibiasakan.
Ia diarahkan.
Maka kalau suatu hari hatinya terlalu akrab berharap dari makhluk, jangan buru-buru salahkan zamannya.
Periksa dulu bisik-bisik kecil yang pernah kita tanam sendiri.
Aku ingin anak-anakku tumbuh dengan rasa syukur yang kenyang.
Bukan dengan hati yang lapar pada apa yang ada di tangan orang.
Aku ingin mereka bisa menerima tanpa rakus.
Bisa berterima kasih tanpa menuntut.
Bisa menghormati tanpa transaksi.
Bisa berbahagia saat diberi, tapi tidak kehilangan wibawa saat tidak diberi.
Karena tangan yang baik bukan tangan yang terlatih meminta.
Melainkan tangan yang tahu caranya menerima dengan adab, lalu suatu hari belajar memberi dengan ikhlas.
Dan kalau Lebaran memang datang untuk mengajarkan kegembiraan, maka aku ingin kegembiraan itu bersih.
Bukan kegembiraan karena berhasil mengumpulkan amplop paling banyak,
tetapi kegembiraan karena hati anak tetap selamat,
tetap tahu bahwa rezeki datang dari Allah,
dan tetap paham bahwa silaturahmi tidak boleh berubah menjadi jalan halus untuk mengemis.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.