Senyum yang Menunggu Komentar
Aku baru selesai mengangkat cucian dari teras belakang ketika suara motor kurir berhenti di depan rumah. Raiha lebih dulu berlari ke pintu. Rambutnya.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Paket baju anak itu datang menjelang Zuhur.
Aku baru selesai mengangkat cucian dari teras belakang ketika suara motor kurir berhenti di depan rumah. Raiha lebih dulu berlari ke pintu. Rambutnya masih agak berantakan karena sejak pagi ia bermain kemah-kemahan di ruang tengah dengan selimut tipis dan dua kursi makan.
“Bunda, paket!” serunya.
Aku meletakkan keranjang cucian di dekat mesin cuci, lalu berjalan ke depan. Dari balik pintu, Raiha sudah berdiri sambil berjinjit, seolah paket itu memang ditujukan untuknya.
“Pelan-pelan, Nak. Bunda dulu yang terima.”
Bacaan lanjutan
Lanjutkan cerita ini
Masuk sebentar untuk melanjutkan bacaan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Simpan QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Ia mundur setengah langkah, tapi matanya tetap menempel pada plastik cokelat di tangan kurir.
Paket itu dari Kak Izzah, kakak iparku. Beberapa bulan terakhir, Kak Izzah menitipkan beberapa model baju anak untuk kubantu foto dan promosikan lewat status WhatsApp. Tidak banyak. Hanya beberapa potong gamis kecil, tunik, rok, dan jilbab anak.
Awalnya aku menolak karena merasa tidak pandai berjualan. Tapi Kak Izzah bilang cukup dibantu foto saja.
“Raiha badannya pas buat contoh ukuran delapan tahun,” katanya dulu. “Nggak usah macam-macam. Foto di rumah juga cukup.”
Setahuku, yang melihat statusku hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Karena itu aku merasa aman. Aku lupa, yang paling dekat melihat kebiasaan itu justru Raiha sendiri.
“Bunda, buka sekarang, ya?” tanya Raiha.
“Nanti dulu. Bunda mau salat dulu.”
“Sebentar aja, Bunda. Raiha cuma lihat warnanya.”
Aku tersenyum. “Cuma lihat?”
Ia mengangguk cepat.
Aku mengambil gunting kecil dari laci meja makan. Plastik paket itu kugunting pelan-pelan. Dari dalamnya keluar satu dress warna sage, satu atasan warna susu, dan jilbab kecil dengan pinggir renda.
Mata Raiha langsung berbinar.
“Yang ini Raiha coba, ya, Bunda?”
Aku melihat jam dinding. Masih ada waktu sebelum azan. “Satu saja. Habis itu Bunda salat.”
Raiha memilih dress warna sage. Ia membawanya ke kamar dengan langkah kecil yang cepat. Tidak sampai lima menit, ia keluar lagi. Dress itu sedikit panjang, tapi jatuhnya manis di badannya.
Ia berjalan ke ruang tengah, berdiri di dekat jendela, lalu menghadapku.
“Bunda, fotoin.”
Tanganku masih memegang plastik bekas paket. “Sekarang?”
“Iya. Cahayanya lagi bagus.”
Aku sempat tertawa kecil mendengar kalimat itu. Anak delapan tahun bicara soal cahaya. Pasti ia meniruku.
“Siapa yang ngajarin cahayanya bagus?”
“Bunda.”
Aku mengambil HP dari meja. Layar bagian pojoknya retak halus, bekas jatuh dari sofa beberapa minggu lalu. Raiha sudah berdiri di tempat biasanya, dekat tanaman plastik kecil dan rak buku anak. Ia menarik ujung bajunya, merapikan jilbab kecilnya, lalu tersenyum.
“Begini bagus?”
“Bagus. Dagu sedikit turun, Nak.”
Ia menurunkan dagunya.
“Jangan yang senyumnya kelihatan gigi ya, Bunda.”
Aku menatapnya dari balik layar. “Kenapa?”
“Nanti pipi Raiha besar.”
Kalimat itu lewat begitu saja. Waktu itu aku belum menangkap apa-apa. Aku hanya berkata, “Pipi Raiha memang lucu.”
“Jangan yang itu, Bunda.”
Aku memotret beberapa kali. Setelah itu Raiha langsung berlari mendekat.
“Lihat.”
Aku menunjukkan hasilnya. Ia menggeser layar dengan jarinya sendiri. Satu foto ia tahan agak lama.
“Yang ini bagus buat status.”
Aku tersenyum tanpa banyak berpikir.
“Iya, nanti Bunda kirim ke Tante Izzah.”
“Buat status Bunda juga?”
Aku menatap wajahnya. Ia tampak sungguh-sungguh.
“Bunda salat dulu, ya. Nanti kita lihat lagi.”
Raiha mengangguk, tapi matanya tetap memandangi fotonya di layar.
Hari itu aku mengunggah satu foto Raiha di status. Tidak ada niat apa-apa selain membantu Kak Izzah dan menyimpan kenangan. Aku menulis singkat, “MasyaAllah, anak Bunda.”
Beberapa menit setelah itu, beberapa balasan masuk.
Kak Wafa membalas, “MasyaAllah, cantik sekali Raiha.”
Ibu mertuaku mengirim stiker hati.
Kak Izzah menulis, “Model kecil Tante.”
Aku membaca komentar-komentar itu sambil tersenyum. Raiha duduk di sampingku, bahunya menempel ke lenganku.
“Siapa lagi, Bunda?”
“Itu Nenek.”
“Apa katanya?”
“Stiker hati. Berarti Nenek suka.”
Raiha tersenyum malu. Ia menarik lututnya ke dada, lalu menyandarkan pipinya ke lenganku.
Aku merasa hangat. Ada rasa bangga yang pelan-pelan memenuhi dadaku.
Mungkin karena waktu kecil aku jarang dipuji. Ibuku dulu bukan orang yang mudah memuji. Beliau sayang, tapi hidup kami keras. Nilai bagus dianggap kewajiban. Kamar rapi dianggap biasa. Baju bersih dianggap harus. Aku tahu beliau mencintaiku, hanya saja cinta itu jarang keluar dalam bentuk kalimat.
Maka ketika orang-orang memuji Raiha, ada bagian kecil dalam diriku yang ikut senang.
Seolah pujian untuk Raiha juga membisikkan sesuatu kepadaku.
Kamu ibu yang berhasil.
Aku tidak menyadari bisikan itu waktu itu. Aku hanya merasa bahagia melihat anakku bahagia.
Beberapa hari setelahnya, kebiasaan itu berulang.
Saat kami makan di kedai mi ayam dekat masjid setelah kajian keluarga, Raiha menahan sendoknya.
“Kenapa nggak dimakan?” tanyaku.
“Belum difoto.”
“Mi-nya nanti dingin.”
“Tapi kalau udah diaduk, fotonya nggak bagus.”
Aku menatap mangkuknya. Kuah masih mengepul. Bakso kecil mengambang di pinggir. Sawi hijau menumpuk di atas mi.
“Bunda foto makanannya atau Raiha?”
“Raiha sama makanannya.”
Aku tertawa kecil. “Ya sudah, sekali saja.”
Ia langsung duduk tegak. Tangan kirinya memegang sendok, tangan kanannya merapikan jilbab. Suamiku yang duduk di depanku ikut tersenyum.
“Anak Ayah sudah pintar gaya, ya.”
Raiha menoleh cepat. “Bagus nggak, Ayah?”
“Bagus. Tapi makan dulu. Ayah sudah lapar.”
Aku memotret satu kali. Raiha minta lihat. Setelah yakin fotonya tidak blur, barulah ia mulai makan.
Saat itu aku masih menganggapnya lucu.
Anak-anak sekarang memang akrab dengan kamera. Lagi pula, Raiha tidak meminta mainan mahal. Ia hanya minta difoto. Begitu pikirku.
Namun lama-lama, permintaan itu tidak lagi terasa seperti permintaan anak yang ingin menyimpan kenangan. Ada sesuatu yang berubah, pelan sekali, sampai aku hampir tidak menyadarinya.
Setiap kali memakai baju rapi, Raiha bertanya, “Bunda, foto dulu?”
Setiap kali pergi ke rumah keluarga, ia bertanya, “Bunda, nanti upload nggak?”
Setiap kali aku membuka WhatsApp, ia mendekat.
“Udah ada yang komen?”
Kadang aku menjawab sambil bercanda. “Belum. Mungkin tante-tante lagi sibuk.”
Tapi wajah Raiha langsung berubah.
“Berarti fotonya nggak bagus?”
“Bukan begitu, Nak.”
Ia diam sebentar, lalu bertanya lagi, “Kalau foto Hilya, banyak yang komen?”
Hilya adalah sepupunya. Usianya tujuh tahun. Anaknya lincah, suka tertawa, dan hampir selalu berlari dengan rambut yang sebagian keluar dari ikatannya. Foto-foto Hilya sering diunggah oleh Kak Wafa, ibunya, tanpa banyak diatur. Kadang sedang makan kue, kadang sedang tidur di sofa, kadang sedang memegang kucing tetangga.
Aku pernah melihat Raiha memperhatikan foto Hilya agak lama.
“Kenapa?” tanyaku waktu itu.
“Hilya nggak senyum rapi, tapi tetap banyak yang bilang lucu.”
Aku menjawab ringan, “Karena Hilya memang lucu.”
Raiha menatapku.
“Raiha lucu juga?”
“Tentu.”
Ia mengangguk, tapi matanya belum benar-benar tenang.
Malam itu, setelah Raiha tidur, aku duduk di ruang tengah sambil melipat baju kering. Suamiku baru pulang. Kemejanya masih berbau luar rumah, campuran debu jalan dan parfum yang sudah menipis. Beliau meletakkan tas di kursi makan, lalu duduk di karpet dekatku.
“Raiha sudah tidur?”
“Sudah.”
“Tumben cepat.”
“Capek mungkin.”
Aku ingin bercerita, tapi sempat ragu. Suamiku terlihat lelah. Matanya agak merah.
Namun akhirnya aku berkata juga, “Ayah, Bunda agak kepikiran soal Raiha.”
Beliau menoleh. “Kenapa?”
“Dia sekarang sering nanya komentar orang. Kalau fotonya nggak ada yang komen, dia murung.”
Suamiku mengambil satu kaus kecil dari tumpukan, berusaha membantuku melipat meskipun hasil lipatannya tidak pernah sama ukuran.
“Namanya anak-anak, Bunda. Mungkin cuma senang dipuji.”
“Awalnya Bunda juga pikir begitu.”
“Jangan-jangan Bunda yang terlalu khawatir?”
Aku diam.
Mungkin benar. Mungkin aku terlalu banyak membaca sesuatu yang belum tentu ada. Aku pun tidak ingin menjadi ibu yang semua hal dianggap masalah.
Puncaknya terjadi hari Ahad, di rumah mertuaku.
Keluarga suamiku berkumpul karena ulang tahun kecil Hilya. Tidak ada pesta besar. Hanya nasi kuning, ayam goreng, puding cokelat, dan balon warna kuning yang ditempel seadanya di dinding ruang tengah. Anak-anak berlarian dari ruang tamu ke teras. Para ibu sibuk di dapur. Beberapa orang dewasa duduk di luar sambil membicarakan genteng bocor dan harga bahan bangunan.
Raiha memakai dress warna dusty pink dari Kak Izzah. Sejak pagi ia sudah bertanya beberapa kali apakah bajunya bagus.
“Bagus, Nak.”
“Jilbabnya cocok?”
“Cocok.”
“Kalau difoto dekat balon bagus nggak?”
“Nanti lihat di sana, ya.”
Begitu sampai di rumah Nenek, Raiha langsung menarik tanganku.
“Bunda, foto dulu sebelum ramai.”
Aku masih membawa tas berisi kotak puding. “Sebentar, Bunda taruh ini dulu.”
“Nanti jilbab Raiha miring.”
Aku menatapnya. Anak-anak lain sudah berlarian. Hilya bahkan menyambut kami dengan tangan penuh remah kue, tertawa karena dikejar adiknya. Kaos kakinya tinggal satu.
Tapi Raiha berdiri di sampingku, menjaga bajunya jangan sampai kusut.
“Ya sudah, satu kali.”
Ia berdiri dekat balon. Aku memotret. Lalu satu lagi karena katanya yang pertama matanya terlihat kecil. Lalu satu lagi karena tangannya kurang bagus. Aku mulai lelah, tapi tidak ingin membuatnya malu di depan keluarga.
“Sudah, ya.”
“Lihat dulu, Bunda.”
Aku menunjukkan hasilnya. Ia memilih satu.
“Yang ini aja.”
Sambil menunggu makanan disiapkan, aku mengirim foto itu ke grup keluarga. Beberapa orang melihat, tetapi hanya ibu mertuaku yang membalas dengan stiker hati. Kak Izzah menulis singkat, “MasyaAllah, bajunya cocok.”
Raiha duduk di dekatku dan membaca dua balasan itu. Jarinya pelan-pelan mengusap pinggir layar HP, seperti masih menunggu balasan lain muncul.
“Baru dua?”
“Mungkin yang lain belum lihat.”
Ia mengangguk, tapi berkali-kali melirik HP di tanganku.
Tidak lama setelah makan dan doa bersama, Kak Wafa mengirim foto Hilya ke grup keluarga. Hilya sedang tertawa lebar, pipinya belepotan cokelat, tangannya memegang potongan kue yang hampir jatuh. Fotonya tidak rapi, tapi hidup.
Komentar keluarga berdatangan.
“Hilya ini ada-ada saja.”
“Gemes banget.”
“Tawanya nular.”
“Lucu banget, belepotan begitu.”
Aku membaca sepintas sambil membantu membereskan piring. Raiha berdiri di dekat sofa. Aku pikir ia sedang melihat anak-anak lain bermain. Ternyata matanya mengarah ke HP-ku yang tergeletak di meja.
Lalu aku mendengar Kak Wafa berkata kepada salah satu sepupu dewasa. Tidak keras, hanya obrolan ringan sambil tertawa.
“Foto spontan begini kadang malah lucu, ya. Nggak usah diatur-atur.”
Aku tahu Kak Wafa tidak bermaksud menyindir. Ia bahkan tidak sedang melihat Raiha.
Tapi Raiha mendengar.
Aku melihat tangan kecilnya bergerak ke sisi jilbab. Pelan-pelan ia melepas bros kupu-kupu kecil yang sejak pagi ia banggakan. Bros itu ia genggam di pangkuan, lalu ia duduk di ujung sofa. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya diam.
Aku mendekat.
“Raiha nggak main?”
Ia menggeleng.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Capek?”
Ia mengangguk, terlalu cepat.
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ibu mertuaku memanggilku dari dapur. Ada piring yang harus disusun, ada sisa nasi yang harus dipindahkan, ada kotak makanan yang harus dibagikan. Seperti biasa, rumah yang ramai sering membuat hati anak yang pelan menjadi tidak terdengar.
Di mobil saat pulang, Raiha duduk di belakang. Jalanan sore macet. Suamiku menyetir pelan. Aku menoleh beberapa kali. Raiha menatap keluar jendela sambil menggenggam bros kupu-kupunya.
Lalu ia bertanya, sangat pelan.
“Bunda.”
“Iya, Nak?”
“Raiha kalau foto kebanyakan gaya, ya?”
Aku menoleh penuh.
Suamiku juga melirik dari kaca tengah.
“Siapa bilang begitu?”
“Nggak ada.”
“Tapi kenapa Raiha tanya?”
Ia menunduk.
“Tadi Tante Wafa bilang foto yang nggak diatur-atur lebih lucu.”
Dadaku terasa seperti ada yang menekan.
“Tante Wafa nggak ngomongin Raiha, Nak.”
“Tapi foto Hilya banyak yang bilang lucu.”
Aku ingin buru-buru menenangkan. Kalimat pertama yang keluar dari mulutku adalah kalimat yang paling mudah.
“Raiha cantik kok.”
Raiha diam.
Aku baru sadar, jawaban itu tidak menjawab lukanya.
Ia tidak sedang bertanya apakah wajahnya cantik. Ia sedang bertanya apakah dirinya tetap layak disukai ketika tidak menjadi seperti yang orang lain sukai.
Sampai rumah, Raiha mandi tanpa banyak bicara. Biasanya ia bercerita tentang siapa yang jatuh, siapa yang menangis, siapa yang mengambil kerupuk paling banyak. Malam itu ia hanya menjawab pendek.
Setelah Isya, ia duduk di kasur sambil memeluk bantal kecilnya. Aku duduk di sampingnya. Lampu kamar dibuat redup karena ia bilang matanya capek. Dari luar terdengar suara suamiku menutup pagar dan menggantung kunci di dekat pintu.
HP-ku ada di tangan. Aku sedang menghapus beberapa foto yang blur dari acara tadi. Raiha melirik layar.
“Itu foto Raiha?”
“Iya.”
“Yang itu jangan, Bunda. Tangannya aneh.”
Aku mengangguk pelan, lalu menghapusnya.
Ia diam sebentar.
“Yang tadi Bunda kirim, udah ada yang komen lagi?”
Aku menarik napas pelan.
“Belum, Nak.”
Wajahnya berubah sedikit.
“Kalau foto Hilya banyak.”
Aku meletakkan HP dengan layar menghadap bawah. Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar melihat wajah anakku, bukan hasil fotonya.
“Raiha sedih karena itu?”
Matanya mulai basah, tapi ia berusaha menahannya.
“Bunda...” Suaranya kecil. “Kalau nggak ada yang bilang cantik, berarti Raiha nggak cantik?”
Aku tidak langsung menjawab.
Ada kalimat yang berhenti di tenggorokanku. Ada rasa bersalah yang datang pelan-pelan, bukan seperti suara keras, tapi seperti pintu yang terbuka sedikit demi sedikit.
Aku melihat kembali banyak hal yang selama ini kulewati.
Aku yang selalu berkata, “Aduh cantiknya,” setiap kali Raiha memakai baju baru.
Aku yang lebih sering memuji senyumnya yang rapi daripada sabarnya menunggu.
Aku yang membaca komentar keluarga dengan suara senang di dekat telinganya.
Aku yang merasa bangga ketika orang bilang anakku cantik.
Aku kira Raiha yang sedang belajar mencari nilai dirinya dari komentar orang.
Ternyata aku pun begitu.
Bedanya, Raiha menunggu orang bilang ia cantik. Aku menunggu orang bilang aku berhasil menjadi ibu.
Aku menggeser tubuh lebih dekat. Raiha tidak bergerak. Aku meraih tangannya yang kecil dan hangat.
“Raiha,” kataku pelan, “dengar Bunda, ya.”
Ia menatapku.
“Cantik itu bukan muncul setelah orang komen. Raiha sudah berharga sebelum difoto. Karena Allah yang menciptakan Raiha.”
Air matanya jatuh satu.
“Tapi kalau nggak ada yang suka?”
“Bunda sayang Raiha. Ayah sayang Raiha. Dan Allah tahu Raiha, bahkan saat orang lain tidak melihat.”
Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan.
“Waktu Raiha nggak difoto juga?”
“Iya, Nak. Waktu Raiha nggak difoto juga.”
Ia menunduk.
Aku mengusap punggungnya pelan.
“Bunda juga mau minta maaf.”
Raiha menatapku, bingung.
“Kenapa Bunda minta maaf?”
“Karena Bunda terlalu sering bilang Raiha cantik karena baju, karena foto, karena senyum yang rapi. Padahal Raiha bukan cuma itu.”
Aku menahan napas sebentar.
“Raiha juga anak yang suka bantu. Anak yang mau belajar. Kadang masih kesal, tapi mau dengerin. Raiha bukan cuma yang kelihatan di foto.”
Raiha merangkak mendekat, lalu menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Berarti besok Raiha nggak boleh foto lagi?”
“Boleh. Foto itu boleh. Tapi hati Raiha jangan tinggal di komentar orang.”
Ia diam. Mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Aku memeluknya lebih erat.
“Kita belajar pelan-pelan, ya. Tidak semua yang indah harus dilihat banyak orang. Ada yang cukup kita simpan. Ada yang cukup Allah tahu.”
Malam itu Raiha tidur dengan mata sedikit sembap. Aku tetap duduk di sampingnya beberapa lama, mendengar napasnya yang mulai teratur. HP-ku masih tergeletak di atas kasur, layar menghadap bawah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak ingin membukanya.
Ketika keluar kamar, suamiku sedang duduk di ruang tengah. Beliau menggulung kabel charger yang berantakan di dekat meja. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya langsung menatapku.
“Raiha sudah tidur?”
“Sudah.”
Beliau memperhatikan wajahku.
“Bunda nangis?”
Aku menggeleng, tapi mataku terasa panas.
Beliau diam sebentar, memberi ruang.
Akhirnya aku berkata, “Ayah, Bunda takut selama ini salah.”
“Salah gimana?”
“Bunda pikir cuma foto. Cuma status. Cuma bantu Kak Izzah jualan. Tapi tadi Raiha tanya, kalau nggak ada yang bilang cantik, berarti dia nggak cantik.”
Suamiku menunduk. Tangannya berhenti menggulung kabel.
Aku melanjutkan, “Bunda rasanya seperti... selama ini Bunda menyimpan wajah Raiha di galeri, tapi kurang menyimpan hatinya di perhatian Bunda.”
Beliau menghela napas.
“Maaf ya, Bunda. Kemarin Ayah sempat bilang Bunda terlalu khawatir.”
“Bunda juga baru sadar malam ini.”
Suamiku menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Mungkin Ayah juga salah. Ayah sering pulang bawa bros, baju, sandal. Terus yang Ayah bilang pertama, ‘Anak Ayah cantik.’ Jarang Ayah bilang, ‘MasyaAllah, Raiha sabar nunggu Ayah pulang.’”
Aku menatap beliau. Ada kelelahan di wajahnya, tapi juga kesungguhan.
“Kita harus gimana, Ayah?”
“Pelan-pelan, Bunda. Jangan langsung dilarang semua. Nanti Raiha malah merasa foto itu salah. Tapi kita ubah yang sering kita puji.”
Aku mengangguk.
“Besok Ayah coba lebih perhatiin juga. Bukan cuma kalau Raiha rapi.”
Rumah sudah sepi. Dari kamar, terdengar suara kipas angin kecil. Di meja ruang tengah masih ada remah biskuit yang belum sempat kusapu. Ada bros kupu-kupu Raiha yang tadi ia letakkan di dekat rak buku.
Malam itu aku tidak membuat aturan baru. Aku hanya duduk lebih lama, memandangi HP yang tergeletak, dan sadar bahwa ada kebiasaan kecil di rumah kami yang harus pelan-pelan diubah.
Besok paginya, Raiha bangun sedikit lebih lambat. Matanya masih berat. Ia keluar kamar sambil membawa selimut kecil, lalu duduk di kursi makan.
Aku sedang membuat telur dadar. Minyak di wajan berbunyi pelan. Di meja ada nasi hangat, kecap, dan gelas air putih.
“Bunda,” katanya.
“Iya, Nak?”
“Bros Raiha mana?”
“Di meja kecil dekat kamar. Bunda simpan.”
Ia mengambilnya, lalu memasangnya di sisi kerudung tipis yang biasa ia pakai kalau keluar ke teras. Setelah itu ia datang ke dapur.
“Bunda, bagus?”
Aku hampir menjawab seperti biasa.
Cantik.
Kata itu sudah sampai di lidahku. Tapi aku menahannya sebentar, bukan karena kata itu salah, melainkan karena selama ini kata itu terlalu sering menjadi satu-satunya pintu pujian.
Aku mematikan kompor, lalu menoleh penuh kepadanya.
“Raiha suka brosnya?”
“Iya.”
“Bunda lihat Raiha rapi.”
Ia tersenyum kecil.
“Difoto?”
Tanganku hampir bergerak mencari HP di meja. Kebiasaan memang sering lebih cepat daripada kesadaran.
Tapi aku berhenti.
“Boleh Bunda lihat dulu langsung?”
Raiha mengernyit. “Kan Bunda sudah lihat.”
“Bukan lewat sebentar. Bunda mau lihat benar-benar.”
Ia berdiri diam, sedikit bingung. Aku mendekat, merapikan ujung kerudungnya yang terlipat.
“MasyaAllah, rapi. Tapi yang paling Bunda suka pagi ini, Raiha tadi bangun langsung lipat selimut. Bunda lihat.”
Matanya berubah.
“Bunda lihat?”
“Iya. Bunda lihat.”
Ia menunduk, menahan senyum.
Aku menambahkan pelan, “Allah juga tahu.”
Raiha tidak menjawab. Tapi ia mendekat dan memeluk pinggangku sebentar. Hanya sebentar, karena setelah itu ia bertanya apakah telurnya sudah matang.
Aku tertawa kecil.
“Sudah. Ayo makan.”
Hari-hari setelah itu tidak langsung berubah sempurna.
Raiha masih beberapa kali bertanya, “Ini bagus buat foto?” Ia masih ingin melihat hasil jepretan. Ia masih senang ketika Nenek memuji. Aku pun masih beberapa kali hampir mengunggah fotonya tanpa berpikir panjang.
Tapi sekarang, setiap kali tanganku mengambil HP, aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah Raiha sedang ingin difoto, atau sedang ingin diyakinkan?
Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab. Tapi setidaknya, aku mulai berhenti sebentar sebelum menekan tombol kirim.
Suamiku juga mulai berubah dengan caranya sendiri. Suatu malam, beliau pulang membawa roti cokelat kesukaan Raiha. Biasanya beliau akan berkata, “Ini buat anak Ayah yang cantik.” Tapi malam itu, beliau duduk di samping Raiha yang sedang menyusun pensil warna.
“Raiha tadi bantu Bunda beresin meja?”
Raiha menoleh. “Iya.”
“MasyaAllah. Ayah senang dengarnya.”
“Bunda yang cerita?”
“Iya. Ayah senang karena Raiha mau bantu.”
Raiha tersenyum. Ia mengambil satu potong roti, lalu membaginya menjadi dua.
“Ini buat Ayah.”
Suamiku menatapku sebentar. Aku tahu beliau juga sedang belajar.
Beberapa hari kemudian, Raiha pulang sekolah membawa gambar masjid. Kertasnya agak kusut di pinggir. Warna kubahnya biru tua, dindingnya kuning, dan garis pintunya keluar sedikit dari pola.
Biasanya, aku mungkin langsung mengambil HP.
Bagus, Nak. Bunda foto, ya.
Tapi hari itu aku sedang duduk di lantai ruang tengah, menyortir kaus kaki yang pasangannya entah ke mana. Raiha meletakkan gambar itu di depanku.
“Bunda, lihat.”
Aku menyingkirkan kaus kaki dari pangkuan.
“Ini gambar apa?”
“Masjid.”
“Pintunya besar sekali.”
“Iya.”
“Kenapa dibuat besar?”
Raiha duduk di sebelahku. Lututnya menyentuh lututku.
“Biar orang-orang bisa masuk. Kalau pintunya kecil, nanti susah.”
Aku menatap gambarnya lebih lama. Ada matahari kecil di pojok kertas. Ada tiga anak berdiri di halaman masjid. Salah satunya memakai kerudung warna sage.
“Ini siapa?”
“Raiha.”
“Yang dua lagi?”
“Hilya sama anak kecil yang nggak punya teman.”
Aku tersenyum.
“Raiha ajak masuk masjid?”
“Iya. Biar dia nggak sendirian.”
Ada sesuatu yang hangat bergerak di dadaku. Bukan rasa bangga yang ingin segera kutunjukkan kepada orang lain. Bukan dorongan untuk mengunggah dan menunggu komentar. Hanya rasa syukur yang diam.
Raiha memiringkan kepala.
“Nggak difoto, Bunda?”
Aku melihat HP di meja. Layarnya gelap. Lingkaran status orang-orang mungkin sedang ramai di dalamnya. Komentar-komentar mungkin sedang bergerak di dunia kecil yang sering membuat kita merasa harus terlihat.
Aku menatap Raiha lagi.
“Nanti boleh difoto kalau Raiha mau. Tapi sekarang Bunda mau dengar ceritanya dulu.”
“Cerita gambar?”
“Iya. Bunda mau tahu kenapa Raiha pilih warna biru.”
Ia tersenyum, lalu mulai bercerita. Tentang masjid yang pintunya besar. Tentang anak kecil yang tidak punya teman. Tentang Hilya yang membawa kue. Tentang Raiha yang katanya berdiri di depan pintu supaya semua orang tahu jalan masuknya.
Hari itu, aku tidak mengunggah apa-apa.
Tidak ada yang memberi tanda hati. Tidak ada yang menulis “cantik sekali”. Tidak ada yang berkata aku ibu yang hebat karena anakku menggambar masjid.
Tapi Raiha tertawa kecil ketika aku bertanya kenapa mataharinya dibuat memakai senyum.
Dan entah kenapa, tawa kecil itu terasa lebih utuh daripada semua komentar yang pernah kutunggu.
Sejak hari itu, aku masih memotret Raiha. Aku masih menyimpan wajahnya yang tumbuh, senyumnya yang berubah, tangannya yang makin panjang, dan matanya yang kadang serius seperti orang dewasa kecil.
Tapi tidak semua senyum harus menjadi status. Tidak semua baju baru harus menunggu komentar. Tidak semua momen indah harus dibuktikan kepada orang lain.
Ada momen yang cukup tinggal di rumah. Di antara meja makan yang masih ada remah roti, sajadah yang belum dilipat, pensil warna yang berserakan, dan suara anak yang bercerita tanpa takut dinilai.
Aku ingin Raiha tumbuh dengan hati yang tidak mudah goyah hanya karena tidak dipuji. Hati yang tahu bahwa Allah tetap memperhatikannya, bahkan ketika manusia tidak memberi komentar.
Aku teringat, Rasulullah ﷺ mendidik anak-anak dengan kelembutan yang terasa dekat: dipanggil dengan baik, didengar, disayangi, dan dibuat merasa aman. Mungkin aku pun harus belajar dari sana. Bukan hanya membuat Raiha tampak baik di depan orang, tapi membuat hatinya merasa aman di rumah.
Malam itu, sebelum tidur, Raiha bertanya lagi.
“Bunda, besok kalau Raiha bantu beresin meja, Bunda lihat?”
Aku menarik selimut sampai ke dadanya.
“Bunda lihat, insyaAllah.”
“Kalau Bunda lupa?”
Aku tersenyum, lalu mencium keningnya.
“Bunda akan berusaha ingat. Tapi kalau Bunda terlewat, Allah nggak pernah lupa, Nak.”
Raiha memejamkan mata. Wajahnya tenang.
Aku duduk di sampingnya beberapa lama.
Dalam hati, aku berdoa pelan.
Ya Allah, jangan biarkan anakku mencari harga dirinya dari mata manusia. Jangan biarkan aku menjadikan pujian orang sebagai ukuran keberhasilanku mendidiknya.
Ajari aku melihat anakku dengan lebih utuh.
Bukan hanya saat ia rapi.
Bukan hanya saat fotonya bagus.
Tapi juga saat ia berusaha, saat ia kecewa, saat ia diam, saat ia ingin didengar, dan saat ia melakukan kebaikan kecil yang tidak sempat diketahui siapa pun.
Karena mungkin, di sanalah tarbiyah yang sebenarnya sering dimulai.
Bukan di depan kamera.
Tapi di tempat-tempat sunyi, ketika seorang anak merasa cukup berharga meski tidak sedang dilihat banyak orang.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.
Komentar Ayah Bunda
Ruang berbagi setelah membaca.
Komentar akan langsung tampil setelah dikirim. Tulis dengan tenang dan lembut, terutama saat menanggapi bagian cerita.
Memuat komentar...
Ikut Berkomentar
Masuk untuk ikut berkomentar.
Komentar bisa dibaca tanpa akun. Masuk dengan Google hanya diperlukan saat Ayah Bunda ingin menulis.