Logo Tarbiya Nabawiya Tarbiya Nabawiya Menumbuhkan Generasi dengan Iman dan Adab
← Kembali ke daftar cerita
Kisah Ibu dan Anak 15 menit

Hingga Akhirnya Aku Hanya Meminta Satu Hal

Bunyinya tipis, nyaring sebentar, lalu rumah kembali dipenuhi sunyi yang masih hangat. Jam di dinding dapur menunjukkan pukul 06.12, hari Selasa, awal.

Sebelum Membaca

Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.

tarbiyah keluarga iman

Pagi itu dimulai dari suara sendok kecil yang jatuh ke lantai.

Bunyinya tipis, nyaring sebentar, lalu rumah kembali dipenuhi sunyi yang masih hangat. Jam di dinding dapur menunjukkan pukul 06.12, hari Selasa, awal Februari, di rumah kami yang sederhana di ujung gang kecil dekat persawahan Cileungsi. Hujan semalam masih meninggalkan udara dingin yang menempel di ubin. Dari jendela dapur, aku bisa melihat daun-daun pisang di belakang rumah masih basah, dan cahaya matahari yang malu-malu baru menyentuh ujung pagar.

Di depanku, Yusuf duduk di kursi makannya dengan rambut yang belum rapi, mata yang masih berat, dan bibir yang mulai mengerucut. Baru empat tahun usianya, tapi pagi-pagi begini wajahnya sudah seperti orang yang memikul banyak urusan. Susu hangat di gelas bergambar awan masih utuh. Potongan telur dadar di piringnya disentuh pun belum. Ia hanya menatap sendok yang jatuh tadi, lalu menatapku, seolah-olah pagi ini terlalu cepat datang untuknya.

Aku memungut sendok itu, mencucinya sebentar di bawah air keran, lalu menaruhnya kembali di atas meja.

“Bismillah dulu,” kataku pelan.

Lanjutan Cerita

Lanjutkan membaca dengan tenang.

Tarbiya membuka akses membaca tanpa paksaan. Bila tulisan ini bermanfaat, Ayah Bunda boleh ikut mendukung agar cerita seperti ini terus dirawat.

Dukungan bersifat sukarela. Membaca tetap bisa dilanjutkan.