Saat Anak Mulai Terbiasa Bicara Kasar
Aku sedang memotong tempe untuk digoreng. Jam di dapur baru menunjukkan pukul 06.21. Cahaya pagi masuk tipis dari jendela samping, menimpa meja kayu yang.
Sebelum Membaca
Bacaan ini ditulis untuk dibaca pelan-pelan.
Pagi itu dimulai dari satu kata yang membuat tanganku berhenti di atas talenan.
Aku sedang memotong tempe untuk digoreng. Jam di dapur baru menunjukkan pukul 06.21. Cahaya pagi masuk tipis dari jendela samping, menimpa meja kayu yang sudah penuh goresan pisau dan noda kunyit lama. Di kompor, air untuk teh belum benar-benar mendidih. Rumah masih setengah mengantuk. Suamiku sedang bersiap ke kantor, dan dua anakku masih mondar-mandir dengan seragam yang belum lengkap.
Lalu dari ruang tengah terdengar suara Arga, anak sulungku yang kelas dua SD.
“Dasar bego.”
Bunyinya cepat. Ringan. Seperti lelucon.
Lanjutan Cerita
Lanjutkan membaca dengan tenang.
Tarbiya membuka akses membaca tanpa paksaan. Bila tulisan ini bermanfaat, Ayah Bunda boleh ikut mendukung agar cerita seperti ini terus dirawat.
Dukungan bersifat sukarela. Membaca tetap bisa dilanjutkan.
Dukung Tarbiya
Scan QRIS
Setelah mendukung, klik tombol di bawah untuk lanjut membaca.
Membaca dari HP yang sama? Unduh QRIS, lalu pilih gambar dari galeri di aplikasi pembayaran.
Tapi justru itu yang membuat dadaku jatuh sedikit.
Aku menoleh. Di karpet, adiknya, Rafi, langsung diam. Tangan kecilnya masih memegang mobil-mobilan warna merah. Wajahnya belum sampai menangis, hanya berubah seperti anak yang baru saja disentuh sesuatu yang tidak ia kenal, tapi tidak enak.
Aku meletakkan pisau.
“Arga,” panggilku.
Ia menoleh sambil tersenyum kecil, seolah belum merasa ada yang salah. Di usia delapan tahun, ia sudah cukup pandai membaca wajah orang dewasa. Dan pagi itu, mungkin ia baru sadar dari wajahku bahwa kata itu ternyata tidak lewat begitu saja.
“Apa tadi yang Arga bilang?”
Ia ragu sebentar. “Cuma bercanda, Mah.”
Bercanda.
Aku tahu kata itu. Sudah terlalu sering jadi selimut untuk hal-hal yang sebenarnya perlu diluruskan.
Di luar, ada suara motor tetangga menyala. Dari dapur, air di panci mulai berdesis pelan. Bau bawang putih yang tadi kutumis untuk nasi goreng masih menggantung di udara. Semuanya terasa biasa, seperti pagi-pagi lain di rumah kecil kami di Bekasi. Tapi aku tahu, kadang justru di pagi yang paling biasa, sesuatu yang penting diam-diam masuk ke rumah lewat satu kata.
Aku tidak langsung marah.
Dulu mungkin aku akan memotong cepat dengan, “Jangan ngomong begitu!” atau malah menegur keras karena kaget. Tapi beberapa waktu terakhir aku sedang belajar satu hal: kalau kita hanya berhenti di permukaan, anak sering kali cuma belajar takut ketahuan, bukan mengerti kenapa lisannya harus dijaga.
Aku berjalan ke ruang tengah, lalu duduk di tepi karpet.
“Rafi, sini sama Mama,” kataku.
Ia datang pelan, masih memeluk mobilnya. Arga tetap berdiri di tempat, wajahnya mulai tegang. Anak yang baru saja berkata kasar sering tidak selalu tampak menyesal. Kadang ia justru tampak bingung. Seperti seseorang yang melempar batu kecil ke air, lalu terkejut melihat riaknya lebih besar dari dugaannya.
“Kata tadi,” tanyaku pelan pada Arga, “Arga tahu artinya?”
Ia menunduk. “Nggak tahu-tahu banget.”
“Terus tahu dari mana?”
Diam.
Aku menunggu.
“Ada teman yang bilang,” jawabnya akhirnya. “Di sekolah.”
Aku mengangguk pelan. Jawaban itu tidak membuatku lega, tapi membuat gambarnya lebih jelas. Banyak hal di usia sekolah memang masuk lewat teman, lalu menempel dulu di lidah sebelum sempat diperiksa akal dan hati.
Aku menatapnya. “Arga bilang itu ke Rafi karena apa?”
“Karena dia ngambil jalanku,” katanya cepat. “Aku lagi main balapan.”
Rafi langsung membela diri, “Rafi cuma lewat…”
Aku mengangkat tangan sedikit. “Satu-satu.”
Suamiku keluar dari kamar sambil memasang jam tangan. Ia melihat kami bertiga di karpet, lalu menatapku sebentar. Aku mengangguk kecil, memberi tanda bahwa semuanya masih aman. Ia mendekat, mengusap kepala Arga, lalu tetap berdiri diam. Aku bersyukur sekali punya suami yang, dalam momen seperti ini, tidak buru-buru mengambil alih dengan suara besar. Kadang anak lebih butuh dua orang dewasa yang tenang daripada satu orang dewasa yang cepat marah.
Aku kembali menatap Arga.
“Kalau teman bilang sesuatu, terus kedengarannya lucu, belum tentu itu boleh keluar dari mulut kita.”
Ia diam.
Aku tahu kalimat seperti ini tidak selalu langsung masuk. Anak-anak tidak berubah dalam satu nasihat yang rapi. Tapi rumah perlu punya suara yang diulang terus-menerus, sampai akhirnya menjadi bagian dari dinding, udara, dan ingatan mereka.
“Dengar ya,” kataku lebih lembut, “kata-kata itu bukan cuma bunyi. Kata-kata itu bisa ninggalin bekas di hati orang.”
Arga melirik adiknya.
Rafi sudah duduk di pangkuanku sekarang, jemarinya mengelus roda mobil mainannya.
“Kalau Arga marah,” lanjutku, “boleh bilang, ‘Aku kesal.’ Boleh bilang, ‘Jangan ganggu dulu.’ Tapi jangan pakai kata yang kotor atau merendahkan. Allah dengar semua yang keluar dari mulut kita.”
Kalimat terakhir itu membuat wajahnya berubah sedikit. Ada beberapa hal yang tidak langsung dimengerti anak lewat logika, tapi pelan-pelan hidup kalau disambungkan dengan Allah. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menumbuhkan rasa diawasi oleh Dzat yang Maha Lembut.
Pagi itu selesai tanpa ledakan besar. Arga minta maaf pada Rafi, meski nadanya masih setengah malu, setengah terpaksa. Kami sarapan seperti biasa. Nasi goreng, telur ceplok, dan irisan timun. Suamiku berangkat kerja. Aku merapikan meja, mencuci piring, lalu melipat baju sekolah yang kemarin kering. Rutinitas tetap berjalan. Tapi pikiranku tidak benar-benar pindah dari kata itu.
Dasar bego.
Kecil sekali.
Pendek sekali.
Tapi entah kenapa terasa berat.
Mungkin karena aku tahu, masalah besar sering tidak datang dalam bentuk besar. Ia datang sebagai kebiasaan kecil yang dibiarkan lewat terlalu sering.
Siang harinya, setelah menjemput Arga pulang sekolah, aku sengaja tidak langsung membahas lagi. Anak yang baru pulang, lapar, gerah, dan lelah biasanya tidak siap menerima pengarahan panjang. Aku memberinya makan dulu. Sayur bening, tempe goreng, dan sambal yang tentu saja hanya untuk kami orang dewasa. Setelah itu ia mandi, salat zuhur, lalu rebahan sebentar sambil memainkan pensil di meja belajarnya.
Baru selepas asar, ketika suasana rumah lebih tenang, aku mengajaknya duduk di teras belakang.
Di sana hanya ada bangku plastik, pot cabai yang daunnya bolong-bolong dimakan ulat, dan jemuran handuk yang belum sempat kuangkat. Matahari sudah tidak terik. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah dari kebun kecil tetangga. Aku membuatkan teh hangat untuk diriku, dan susu untuk Arga.
Ia duduk sambil menatap halaman sempit yang dipenuhi bayangan pagar.
“Arga,” kataku, “Mama mau tanya lagi. Tadi pagi itu pertama kali bilang kata itu?”
Ia menggeleng.
“Sudah sering dengar?”
“Iya.”
“Sudah pernah bilang juga?”
Ia lama sekali tidak menjawab. Lalu mengangguk kecil.
Di situlah aku merasa seperti seseorang baru saja membuka tirai tipis. Jadi benar, ini bukan sekadar satu kata yang kebetulan lewat. Ia sudah sempat mampir beberapa kali. Sudah sempat terasa akrab di telinga anakku. Hanya aku yang terlambat benar-benar melihat.
“Di sekolah banyak yang ngomong begitu?” tanyaku.
“Banyak.”
“Kamu tahu artinya?”
“Nggak jelas,” katanya jujur. “Tapi kalau ngomong gitu, temen-temen ketawa. Terus kalau marah jadi kayak lebih… kuat.”
Lebih kuat.
Aku menunduk sebentar, memutar ujung cangkir di telapak tangan.
Anak-anak memang sering tidak paham makna sebuah kata, tapi mereka paham efeknya. Mereka tahu kata itu membuat orang lain terkejut. Membuat teman tertawa. Membuat dirinya tampak berani. Dan kadang, bagi anak yang sedang mencari tempat di antara teman-temannya, itu sudah cukup untuk membuat kata tersebut terasa berharga.
Aku menghela napas.
“Arga, yang bikin orang kelihatan kuat itu bukan kata-kata kasar.”
Ia menoleh.
“Yang bikin kuat itu kalau bisa marah tapi tetap jaga lisan. Itu lebih susah.”
Ia diam mendengarkan. Wajahnya belum sepenuhnya lunak, tapi juga tidak menolak. Aku belajar untuk mensyukuri momen-momen ketika anak belum sepenuhnya paham, tapi masih bersedia duduk dan mendengar. Kadang itu saja sudah sangat besar.
Sore itu, setelah ia masuk lagi ke dalam rumah, aku justru memeriksa diriku sendiri.
Bagian ini yang paling tidak nyaman.
Aku ingat beberapa kali beberapa bulan terakhir suamiku mengumpat pelan saat macet. Aku ingat diriku sendiri yang pernah berkata keras di dapur saat gelas pecah, meski bukan kata yang sangat kasar, tapi jelas bukan lisan yang ingin kutanamkan pada anak. Aku ingat obrolan orang dewasa di ruang tamu ketika saudara datang, dan anak-anak lalu lalang tanpa benar-benar kami sadari. Aku juga ingat ada beberapa video pendek yang pernah kutemukan di riwayat tontonan Arga di ponsel ayahnya,video lucu, tapi bahasa para tokohnya serampangan.
Sering kali kita ingin sumber masalah ada jauh di luar rumah. Di sekolah. Di teman. Di internet. Karena itu membuat kita merasa tidak terlalu bersalah.
Padahal kadang pintunya juga ada di dalam rumah sendiri.
Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku membicarakannya dengan suamiku sambil membereskan dapur.
“Sepertinya kita perlu lebih jaga lisan juga,” kataku.
Ia yang sedang mengelap meja mengangguk lama. “Iya. Aku juga kepikiran.”
Rumah kami sunyi. Hanya terdengar dengung kulkas dan suara sendok yang kugeser ke rak. Ada jenis percakapan suami istri yang pelan-pelan mengubah arah rumah, bukan karena isinya spektakuler, tapi karena keduanya mau jujur melihat celah.
“Kita sering kira anak belajar dari nasihat,” kataku lirih. “Padahal seringnya dia belajar dari apa yang dia dengar berulang.”
Suamiku tersenyum tipis, letih, tapi setuju.
Besoknya kami mulai membuat aturan yang sangat sederhana.
Tidak ada kata kotor di rumah.
Kalau marah, pakai kalimat yang jelas.
Kalau kecewa, sebutkan rasa, bukan serangan.
Kalau keceplosan, langsung istighfar dan perbaiki.
Aku menuliskannya di kepalaku dulu sebelum menuliskannya di anak-anak.
Beberapa hari pertama tidak mulus. Arga masih sekali dua kali hampir tergelincir. Satu sore ia berteriak pada Rafi di ruang tengah, lalu menahan satu kata di ujung lidahnya. Aku bisa melihat jelas bagaimana kata itu hampir keluar. Wajahnya menegang, tangannya mengepal, lalu ia menghentakkan kaki dan berkata, “Aku kesel banget!”
Aku justru merasa ingin memeluknya.
Bukan karena kalimat itu indah. Tapi karena itu lebih jujur, lebih bersih, dan lebih bisa dibantu.
“Bagus,” kataku waktu itu. “Kalau kesel, bilang kesel. Bukan pakai kata kotor.”
Ia menatapku sebentar, lalu pergi ke kamar. Aku tidak mengejarnya. Anak kadang juga butuh ruang untuk merasa kalah oleh dirinya sendiri.
Di minggu berikutnya, ada kejadian kecil yang membuatku sadar bahwa perubahan memang sering datang diam-diam.
Aku sedang menjemur pakaian di halaman depan ketika kudengar Rafi menjatuhkan menara balok yang sedang dibuat Arga. Suara balok berhamburan cukup keras. Aku bersiap mendengar satu ledakan kecil. Tapi yang terdengar justru suara Arga, keras namun masih utuh:
“Rafi, jangan gitu. Aku marah.”
Cuma itu.
Tidak ada kata kasar.
Tidak ada hinaan.
Tidak ada label.
Saat itu matahari siang sedang terik, jemuran menampar-nampar angin, dan aku berdiri dengan tangan penuh kaus basah, tapi dadaku mendadak terasa lapang sekali.
Malamnya, sebelum tidur, aku duduk di samping Arga. Lampu kamar redup. Kipas berputar pelan. Dari luar terdengar suara motor lewat dan anjing menggonggong jauh sekali.
“Terima kasih ya,” kataku.
Ia menoleh bingung. “Kenapa?”
“Tadi siang, waktu marah, Arga nggak pakai kata jelek.”
Ia menunduk kecil, tampak malu. “Aku ingat Mama bilang Allah dengar.”
Aku mengusap rambutnya.
Di saat-saat seperti itu, aku merasa pengasuhan bukan tentang menang cepat. Ia tentang mengulang hal yang sama sampai suatu hari anak mengingatnya sendiri, tanpa kita berdiri di sampingnya.
Tetapi aku juga tahu, cerita ini belum selesai.
Anak yang mulai terbiasa bicara kasar tidak berubah hanya karena satu dua percakapan. Lingkungan tetap ada. Teman tetap ada. Layar tetap ada. Godaan untuk terdengar keren atau diterima tetap ada. Maka tugas kami bukan merasa sudah berhasil, melainkan terus menjaga pintu-pintunya.
Lebih selektif pada tontonan.
Lebih peka pada teman dekatnya.
Lebih berhati-hati pada kata-kata kami sendiri.
Lebih cepat meluruskan sebelum yang salah terasa biasa.
Karena yang paling berbahaya bukan satu kata buruk yang terlontar.
Yang paling berbahaya adalah saat hati anak sudah tidak lagi merasa itu buruk.
Dan aku tidak ingin sampai di sana.
Aku ingin anak-anakku tumbuh dengan lisan yang tahu caranya marah tanpa merendahkan.
Tahu caranya kecewa tanpa mengotori mulut.
Tahu bahwa berani bukan berarti kasar.
Tahu bahwa kata-kata yang dijaga adalah tanda hati yang sedang dididik.
Malam itu, setelah semuanya tidur, aku berdiri sebentar di dapur yang akhirnya tenang. Teko enamel putih masih hangat. Di meja ada sisa kulit bawang dari masakan tadi sore. Lampu kuning memantul di ubin yang belum kupel. Rumah kami jauh dari sempurna. Lisanku juga belum selalu seindah yang kuinginkan. Tapi di situ aku merasa Allah sedang mengajariku sesuatu yang sederhana dan penting:
anak tidak lahir membawa kata-kata kotor di lidahnya.
Ia memungutnya dari dunia.
Dan itu berarti, dengan pertolongan Allah, ia juga bisa belajar meletakkannya kembali.
Selesai Membaca
Terima kasih sudah membaca pelan-pelan pelan-pelan.
Semoga cerita ini menjadi jeda kecil untuk melihat rumah dengan hati yang lebih lembut.